14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
February 19, 2019
in Esai
PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

Ilustrasi Foto: Dok Anggara Surya

PPL (Program Pengalaman Lapangan) bagi saya adalah pembelajaran sekaligus mengenang masa lalu dan mengenang masa-masa SMA dulu. Mengenang kembali bahagianya bangun pagi, mengenang lagi senangnya berbaris rapi dan mantapnya hidup teratur lagi.

Setelah sekian tahun hidup di masa kuliah, rasa-rasanya memang mudah berkata jika hidup anak kuliahan dan hidup anak SMA memang beda. Kali ini, saya mantap akan berkata hidup SMA perlu kedisiplinan yang lebih tinggi dibanding masa kuliah.

Sebagai informasi, saya melangsungkan PPL di sekolah menengah kejuruan SMK). Namun tetap saja hampir tidak ada perbedaan signifikan dengan sekolah menengah atas (SMA) selain mata pelajaran dan praktek.

Di masa SMA/K kalau kita tak bangun di bawah jam 6 atau 7, sudah pasti akan ditunggu oleh OSIS di depan pintu gerbang. Sedang di masa kuliah, syukur-syukur bisa bangun dibawah jam 7, dibawah jam 8 saja susah. Apalagi dibawah jam 6. Selain itu, tak ada siapa-siapa yang akan menjaga di depan pintu gerbang.

Jikalau apes, biasanya dosen meyuruh keluar dan belajar diluar. Mantap. Jadi kalau ada mahasiswa yang berkata kuliah itu harus disiplin, berarti siswa SMA/K sudah lebih disiplin. Saya sendiri termasuk orang beruntung yang jarang terlambat.

Di masa PPL, barangkali memang apa yang paling penting adalah diri sendiri. Beberapa kali saya merasa ada yang tidak beres dengan apa yang saya pelajari di kampus dengan apa yang terjadi di lapangan.

Selama ini, saya menganggap semua akan berjalan lancar seperti saat saya praktek mengajar di salah satu mata kuliah. Saya pikir siswa akan benar-benar duduk diam tenang dan menjawab segala macam pertanyaan atau setidaknya bisa bertindak seperti saya (kami mahasiswa PPL) saat diajar oleh mahasiswa PPL di masa SMA silam.

Zaman berubah begitu pula siswa. Jadi keluhan-keluhan yang berkata “Aku dulu padahal ngga gitu” atau “Kok siswanya berani-berani sekarang ya?” dan keluhan-keluhan lainnya saya rasa sebaiknya tidak usah dilontarkan. Karena mereka tidak hidup di masa kita.

Maka di sinilah pembelajaran dimulai. Belajar bagaimana mengajar yang benar. Lho memangnya ada mengajar yang salah? Ada. Mengajar sambil berpikir kapan bel berbunyi. Terdengar aneh memang, tapi itulah yang saya alami saat pertama kali mengajar di sini.

Rasa-rasanya memang 40 menit pertama terasa lama sekali. 40 menit kedua terasa jauh lebih lama dan sebelum 40 menit ketiga saya sudah tidak tau apa yang harus saya lakukan karena saya merasa semua materi hari itu sudah saya sampaikan. Selama masa-masa itu, apa yang paling sering muncul di kepala saya adalah “kapan belnya ya?”.

Hahaha, ciri-ciri orang kurang kreatif padahal sejak dulu dosen selalu mengingatkan untuk kreatif kalo jadi guru. Saya jadi malu. Tentu awalnya saya menyalahkan siswa-siswa yang kurang kooperatif dan menyalahkan kenapa jam belajar selama itu. Mulailah muncul pikiran-pikiran ngawur seperti seandainya saya mengajar di kelas itu, seandainya saya mengajar di sekolah itu sampai seandainya sistem negara ini seperti sistem negara itu.

Keluhan-keluhan serupa juga sesekali dilontarkan teman satu sekolah maupun teman satu angkatan. Pada tahap selanjutnya saya mulai mengajar benar-benar dengan keinginan saya sendiri tentunya dengan rencana yang sudah ditentukan sebelumnya. Kelas banyak saya isi dengan cerita masing-masing siswa.

Di sini, barulah siswa-siswa mulai terbuka. Saya mulai belajar bagaimana mendengarkan. Iya, saya belajar mendengarkan. Selama ini di kelas kerap kali saya berkata “Tolong dengarkan saya”, “Tolong hargai saya berbicara di depan”, “Dengarkan kalau saya menjelaskan” dan lain-lainnya.

Siapa yang tahu, jangan-jangan siswa jauh lebih perlu didengarkan saat pembelajaran dimulai. Demikianlah seterusnya. Barangkali apa yang salah selama ini adalah saya sendiri yang cuma ingin didengarkan.

Pembelajaran selanjutnya yang cukup menarik bagi saya justru adalah saat saya memberikan ulangan. Seringkali saya melihat guru-guru di SMA dulu memberikan soal dengan jumlah butir yang banyak dan bisa sampai 3 lembar. Berangkat dari sana, sayapun melakukan hal sama ditambah dengan dua paket yang berbeda. Soal selesai, saya siap memberikan ulangan.

Sayangnya saya bukan guru atau lebih tepatnya sedang tidak bekerja sebagai guru. Saya setengah pengangguran. Ternyata biaya mencetak ulangan tiga lembar dikali 40 cukup membuat saya terdiam. Disinilah saya belajar membuat soal pendek dan memaksa otak saya mau kreatfi dalam menciptakan soal. Tentu saja, tujuan utamanya agar tidak mahal haha.

Sampai sekarang setidaknya saya sudah belajar bangun pagi, belajar tertib, belajar tertib dan belajar membuat soal yang efektif sesuai materi dan tentunya sesuai kantong. Ternyata membuat soalpun perlu menyesuaikan dengan kantomg juga. Ooh, saya lupa. Ada satu yang tetap sama saat siswa menghadapi mahasiswa PPL. Terlepas dari perbedaan jaman dan lain-lain. Yakni goda-menggoda dari siswa. [T]

Tags: mahasiswaPendidikanPPLsekolah
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Muka Gua

Next Post

Ogoh-Ogoh Kreasi Ngurah Vandji di Mengwi: Memaknai Peradaban Air

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Ogoh-Ogoh Kreasi Ngurah Vandji di Mengwi: Memaknai Peradaban Air

Ogoh-Ogoh Kreasi Ngurah Vandji di Mengwi: Memaknai Peradaban Air

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co