24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muka Gua

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 19, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Judul itu bukan bahasa gahol ala-ala. Muka itu wajah, gua itu goa. Artinya wajah yang terlihat seperti goa. Pastinya wajah goa itu terlihat gelap gulita, tidak terang benderang. Tidak ada lilin di sana, apalagi lampu pijar. Listrik belum ada, jadi gelap sekali. Hati-hati!

Bagi mereka yang melihatnya, bisa-bisa tersesat. Apalagi memandang matanya, bisa-bisa tidak tahu jalan pulang. Tapi antara tidak tahu dan tidak mau, sulit dibedakan. Meski keduanya berbeda, keduanya sama-sama tidak pulang.

Ini bukan tentang kecantikan dan ketamvanan. Ini tentang wajah-wajah goa. Sejujurnya, bukan juga tentang wajah yang hitam dan tidak putih merona seperti iklan-iklan. Kalau yang itu, tinggal bermodal beberapa rupiah dan beli sebanyak-banyaknya, usapkan pada wajah, diamkan beberapa menit, bilas, lalu ampelas. Jadilah wajah mulus tak bernoda. Yang lebih gampang lagi, install aplikasi edit foto lalu edit maksimal. Tapi, wajah goa bukan itu. Ini kasus lain.

Wajah goa adalah wajah-wajah yang tidak memahami bahasa. Segala fakta diputarbaliknya, digorengnya, dikukusnya, dibakarnya, sampai jadi abu, sampai jadi debu. Bagi mereka yang mendengarkan, pastilah kebingungan. Mana nyata mana bukan. Segalanya jadi nisbi.

Maaf kata nisbi harus dipakai kali ini, agar terlihat kalau saya adalah Cangak terpelajar. Bagi yang tidak mengerti, nanti tanyakan, akan saya jelaskan. Boleh juga lihat di kamus-kamus. Kata nisbi itu sengaja dipakai, agar pembaca tidak malas membeli kamus. Sekarang banyak yang memakai soroh istilah-istilah begitu. Saya hanya milu-milu.

Dengan demikian wajah saya tidak akan terlihat seperti goa. Malah sebaliknya, akan terlihat benderang karena terpancar segala ilmu yang sudah dipelajari. Banyak bahasa yang diketahui meski tidak mafhum betul. Para pendengar dan pembaca setia akan terkaget-kaget membaca dan mendengar bahasa yang saya gunakan. Sebelum mereka mengerti satu istilah asing yang saya pakai, saya sudah memakai istilah lainnya yang tidak kalah asingnya.

Itulah kekuatan bahasa, dia bias menjadikan yang ngomong terlihat sangat terpelajar, juga sebaliknya. Jika ada yang planga-plongo tidak mengerti, senangnya bukan main. Itu jadi semacam tanda bahwa dia menang dalam satu hal. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang khatam.

Kepada para sepuh yang tua dan tidak mengenyam pendidikan modern, jangan ngomong dengan bahasa gahoolbercampur-campur, apalagi menunjukkan teori-teori sosiologi modern. Menyebut-nyebut nama-nama besar kaum intelektual seperti Jan Nederveen Pieterse dan pendapatnya tentang tiga paradigm utama dalam teorisasi aspek kultural dari globalisasi. Lebih lagi kemudian menjelaskan ketiganya dengan bangga. Bahwa tiga paradigm ituialah tentang perbedaan, persatuan atau pembentukan dari kombinasi kultural global.

Pada gilirannya, jika para sepuh itu kemudian berbicara dalam bahasanya sendiri bukannya tidak mungkin, para sarjana generasi milenial akan terkagok-kagok gelagapan karena tidaks atu pun kata yang dimengerti. Awas saja jika tiba-tiba mereka membalasnya dengan matanjenan saat mereka makan. Atau mengatakan tabik, saat mereka melihat seseorang sedang makan tapi di saat yang sama harus pergi. Bukan telinga yang diserang, tapi langsung ke jantung dan otak pertahanan.

Satu lagi, jangan ketawa ketiwi melihat para sepuh itu tidak mengerti bagaimana mengukur tensi, mengukur panjang dengan penggaris, dan menghitung dengan kalkulator. Saya serius memperingatkan. Sebab, para sepuh itu akan fasih menghitung denyut jantung hanya dengan melihat urat mata orang sakit, terutama warnanya.

Mereka mengukur panjang dengan telapak tangan, lalu menyebut istilah-istilah seperti anyari, aguli, tri adnyana, caturangga, sigrapramana, panca brahma sandi, sangga, astha, dan seterusnya. Mereka menghitung kapan saatnya harus melakukan upacara di Pura tertentu hanya dengan menghitung ruas jari tangannya. Bayangkan ruas-ruas jari dalam satu tangan, harus mewakili lima hari [pancawara], tujuh hari [saptawara], tiga puluh minggu [30 jenis wuku]. Jika mereka terluka dan berdarah, diobatinya dengan ludah, bukan upload-upload dengan caption syedih bercampur bangga.

Para sepuh yang tidak belajar banyak bahasa itu, wajahnya tidak seperti goa. Bahkan wajahnya terlihat polos dan lugu. Mereka jujur seperti bayi. Meski hasil panen tidak selalu bagus, mereka tetap menanam-menanam-menanam. Mereka tetap bersukur-bersukur-bersukur. Mana ada penyesalan dalam benak mereka. Meski kecewa, tapi tidak lantas mengurungkan niatnya untuk menanam-menanam-menanam, bersukur-bersukur-bersukur. Begitu terus, terus begitu.

Selain tidak mengetahui bahasa, ada lagi cirri pemilik wajah goa. Dia adalah yang tidak pernah makan sirih. Begitu konon katanya, jika tidak pernah makan sirih, maka disebutlah berwajah goa. Sudahkah hadirin sekalian makan sirih? Atau malah tidak tahu sirih?

Saya yakin sodara-sodara tahu sirih. Tetapi mengetahui, beda dengan memakan. Memakannya memang tidak mudah bagi yang belum terbiasa. Ketahuilah, memakan sirih itu ada etikanya. Ada juga pelengkap lainnya jika ingin makan sirih. Namanya gambir, pamor, dan jangan lupa buah pinang. Pamor dioles pada daun sirih, isi serpihan gambir, lengkapi dengan potongan buah pinang. Melipatnya pun musti terlihat bagus, tidak hanya asal lipat.

Setelah rapih, lalu kunyah. Gigitlah dengan gigi depan terlebih dahulu, agar daun-daunnya terpotong bagus. Setelah itu kunyah-kunyah lagi agar dekdek. Awalnya akan terasa aneh, kadang juga bias terasa panas. Tenggorokan terasa panas sampai ke telinga. Air liur jadi merah, seperti darah. Setelah dirasakan semuanya hancur, sekarang saatnya memilih, antara mengeluarkan ampasnya atau menelan. Jika tidak percaya, cobalah. Jadi sodara-sodara tidak lagi disebut berwajah goa.

Apa hubungan antara sirih dan wajah goa? Jadi begini, sirih itu dalam bahasa Bali disebut base. Base memiliki hubungan kekerabatan dengan Basa. Basa bias berarti dua, yaitu bumbu dan bahasa. Bumbu dan bahasa sama-sama memiliki rasa. Jadi bagi yang belum pernah makan Base, disamakan dengan belum pernah merasakan rasa. Yang tidak mengetahui rasa, disebut berwajah goa, alias tidak punya perasaan.

Penjelasan belum selesai. Ada lagi ciri-ciri bagi mereka yang disebut berwajah goa. Ciri yang terakhir ini adalah yang paling bias membuat para pembaca dan pendengar manggut-manggut. Mirip kambing ngantuk, tapi saya yakin tidak ada yang mau disebut kambing. Apalagi kambing hitam.

Cirinya yang ketiga adalah, mereka tidak berilmu. Bagi yang tidak berilmu, disebutlah berwajah goa. Wajah goa itu sangat pekat, di dalamnya yang hidup hanya ular. Ular itu siap membelit dan menggigit. Racunnya akan segera menyebar ke seluruh pembuluh darah. Bagi yang telah terlanjur teracuni, mereka akan segera lupa diri. Lupa diri itulah yang bias membuatnya jatuh tidak karuan.

Ular yang bersembunyi padawajah goa itu, tidak mudah ditangkap apalagi dijinakkan. Sebab ular sejenis itu, pastilah ular yang canggih. Ular itu bias menghapalkan berbagai jenis mantra sakti, yang bias membuat targetnya lupa diri dan menyerahkan segalanya tanpa syarat. Ular itu juga bias mengancam korbannya. Jika tidak menuruti keinginannya akan disikat habis sampai ke akar-akarnya.

Di antara semua wajah goa dengan ular di dalamnya, yang paling berbahaya adalah wajah goa yang dihias dengan intan permata, emas, sutra, dan juga mantra-mantra. Disulapnya goa itu menjadi tempat belajar shastra katanya. Yang belajar sungguh-sungguh, tidak ngeh kalau mulut ular selalu menganga.

CANGAK SEBELUMNYA:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati

Sesungguhnya, bagi mereka yang berwajah goa dan tidak mengetahui rasa, jika mendengar ada yang membicarakan shastra, tidak ada kenikmatan dari dalam benaknya. Hatinya akan panas, sebab dibakar oleh karmanya sendiri. Tidak ada ketenteraman dalam hidupnya, karena tidak ada satu pun dilakukannya dengan jujur.

Wahai ikan-ikan, kinilah saatnya memperhatikan wajah-wajah sekitar. Mana wajah goa mana wajah bulan. Tapi hati-hati, karena topeng bias dibeli di mana-mana dengan murah. [T]

Tags: filosofifilsafatrenungansastra
Share38TweetSendShareSend
Previous Post

Bali Architecture Week 2019 Ditutup Pemutaran Film dan Musik Emoni Bali

Next Post

PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co