2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Muka Gua

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 19, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Judul itu bukan bahasa gahol ala-ala. Muka itu wajah, gua itu goa. Artinya wajah yang terlihat seperti goa. Pastinya wajah goa itu terlihat gelap gulita, tidak terang benderang. Tidak ada lilin di sana, apalagi lampu pijar. Listrik belum ada, jadi gelap sekali. Hati-hati!

Bagi mereka yang melihatnya, bisa-bisa tersesat. Apalagi memandang matanya, bisa-bisa tidak tahu jalan pulang. Tapi antara tidak tahu dan tidak mau, sulit dibedakan. Meski keduanya berbeda, keduanya sama-sama tidak pulang.

Ini bukan tentang kecantikan dan ketamvanan. Ini tentang wajah-wajah goa. Sejujurnya, bukan juga tentang wajah yang hitam dan tidak putih merona seperti iklan-iklan. Kalau yang itu, tinggal bermodal beberapa rupiah dan beli sebanyak-banyaknya, usapkan pada wajah, diamkan beberapa menit, bilas, lalu ampelas. Jadilah wajah mulus tak bernoda. Yang lebih gampang lagi, install aplikasi edit foto lalu edit maksimal. Tapi, wajah goa bukan itu. Ini kasus lain.

Wajah goa adalah wajah-wajah yang tidak memahami bahasa. Segala fakta diputarbaliknya, digorengnya, dikukusnya, dibakarnya, sampai jadi abu, sampai jadi debu. Bagi mereka yang mendengarkan, pastilah kebingungan. Mana nyata mana bukan. Segalanya jadi nisbi.

Maaf kata nisbi harus dipakai kali ini, agar terlihat kalau saya adalah Cangak terpelajar. Bagi yang tidak mengerti, nanti tanyakan, akan saya jelaskan. Boleh juga lihat di kamus-kamus. Kata nisbi itu sengaja dipakai, agar pembaca tidak malas membeli kamus. Sekarang banyak yang memakai soroh istilah-istilah begitu. Saya hanya milu-milu.

Dengan demikian wajah saya tidak akan terlihat seperti goa. Malah sebaliknya, akan terlihat benderang karena terpancar segala ilmu yang sudah dipelajari. Banyak bahasa yang diketahui meski tidak mafhum betul. Para pendengar dan pembaca setia akan terkaget-kaget membaca dan mendengar bahasa yang saya gunakan. Sebelum mereka mengerti satu istilah asing yang saya pakai, saya sudah memakai istilah lainnya yang tidak kalah asingnya.

Itulah kekuatan bahasa, dia bias menjadikan yang ngomong terlihat sangat terpelajar, juga sebaliknya. Jika ada yang planga-plongo tidak mengerti, senangnya bukan main. Itu jadi semacam tanda bahwa dia menang dalam satu hal. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang khatam.

Kepada para sepuh yang tua dan tidak mengenyam pendidikan modern, jangan ngomong dengan bahasa gahoolbercampur-campur, apalagi menunjukkan teori-teori sosiologi modern. Menyebut-nyebut nama-nama besar kaum intelektual seperti Jan Nederveen Pieterse dan pendapatnya tentang tiga paradigm utama dalam teorisasi aspek kultural dari globalisasi. Lebih lagi kemudian menjelaskan ketiganya dengan bangga. Bahwa tiga paradigm ituialah tentang perbedaan, persatuan atau pembentukan dari kombinasi kultural global.

Pada gilirannya, jika para sepuh itu kemudian berbicara dalam bahasanya sendiri bukannya tidak mungkin, para sarjana generasi milenial akan terkagok-kagok gelagapan karena tidaks atu pun kata yang dimengerti. Awas saja jika tiba-tiba mereka membalasnya dengan matanjenan saat mereka makan. Atau mengatakan tabik, saat mereka melihat seseorang sedang makan tapi di saat yang sama harus pergi. Bukan telinga yang diserang, tapi langsung ke jantung dan otak pertahanan.

Satu lagi, jangan ketawa ketiwi melihat para sepuh itu tidak mengerti bagaimana mengukur tensi, mengukur panjang dengan penggaris, dan menghitung dengan kalkulator. Saya serius memperingatkan. Sebab, para sepuh itu akan fasih menghitung denyut jantung hanya dengan melihat urat mata orang sakit, terutama warnanya.

Mereka mengukur panjang dengan telapak tangan, lalu menyebut istilah-istilah seperti anyari, aguli, tri adnyana, caturangga, sigrapramana, panca brahma sandi, sangga, astha, dan seterusnya. Mereka menghitung kapan saatnya harus melakukan upacara di Pura tertentu hanya dengan menghitung ruas jari tangannya. Bayangkan ruas-ruas jari dalam satu tangan, harus mewakili lima hari [pancawara], tujuh hari [saptawara], tiga puluh minggu [30 jenis wuku]. Jika mereka terluka dan berdarah, diobatinya dengan ludah, bukan upload-upload dengan caption syedih bercampur bangga.

Para sepuh yang tidak belajar banyak bahasa itu, wajahnya tidak seperti goa. Bahkan wajahnya terlihat polos dan lugu. Mereka jujur seperti bayi. Meski hasil panen tidak selalu bagus, mereka tetap menanam-menanam-menanam. Mereka tetap bersukur-bersukur-bersukur. Mana ada penyesalan dalam benak mereka. Meski kecewa, tapi tidak lantas mengurungkan niatnya untuk menanam-menanam-menanam, bersukur-bersukur-bersukur. Begitu terus, terus begitu.

Selain tidak mengetahui bahasa, ada lagi cirri pemilik wajah goa. Dia adalah yang tidak pernah makan sirih. Begitu konon katanya, jika tidak pernah makan sirih, maka disebutlah berwajah goa. Sudahkah hadirin sekalian makan sirih? Atau malah tidak tahu sirih?

Saya yakin sodara-sodara tahu sirih. Tetapi mengetahui, beda dengan memakan. Memakannya memang tidak mudah bagi yang belum terbiasa. Ketahuilah, memakan sirih itu ada etikanya. Ada juga pelengkap lainnya jika ingin makan sirih. Namanya gambir, pamor, dan jangan lupa buah pinang. Pamor dioles pada daun sirih, isi serpihan gambir, lengkapi dengan potongan buah pinang. Melipatnya pun musti terlihat bagus, tidak hanya asal lipat.

Setelah rapih, lalu kunyah. Gigitlah dengan gigi depan terlebih dahulu, agar daun-daunnya terpotong bagus. Setelah itu kunyah-kunyah lagi agar dekdek. Awalnya akan terasa aneh, kadang juga bias terasa panas. Tenggorokan terasa panas sampai ke telinga. Air liur jadi merah, seperti darah. Setelah dirasakan semuanya hancur, sekarang saatnya memilih, antara mengeluarkan ampasnya atau menelan. Jika tidak percaya, cobalah. Jadi sodara-sodara tidak lagi disebut berwajah goa.

Apa hubungan antara sirih dan wajah goa? Jadi begini, sirih itu dalam bahasa Bali disebut base. Base memiliki hubungan kekerabatan dengan Basa. Basa bias berarti dua, yaitu bumbu dan bahasa. Bumbu dan bahasa sama-sama memiliki rasa. Jadi bagi yang belum pernah makan Base, disamakan dengan belum pernah merasakan rasa. Yang tidak mengetahui rasa, disebut berwajah goa, alias tidak punya perasaan.

Penjelasan belum selesai. Ada lagi ciri-ciri bagi mereka yang disebut berwajah goa. Ciri yang terakhir ini adalah yang paling bias membuat para pembaca dan pendengar manggut-manggut. Mirip kambing ngantuk, tapi saya yakin tidak ada yang mau disebut kambing. Apalagi kambing hitam.

Cirinya yang ketiga adalah, mereka tidak berilmu. Bagi yang tidak berilmu, disebutlah berwajah goa. Wajah goa itu sangat pekat, di dalamnya yang hidup hanya ular. Ular itu siap membelit dan menggigit. Racunnya akan segera menyebar ke seluruh pembuluh darah. Bagi yang telah terlanjur teracuni, mereka akan segera lupa diri. Lupa diri itulah yang bias membuatnya jatuh tidak karuan.

Ular yang bersembunyi padawajah goa itu, tidak mudah ditangkap apalagi dijinakkan. Sebab ular sejenis itu, pastilah ular yang canggih. Ular itu bias menghapalkan berbagai jenis mantra sakti, yang bias membuat targetnya lupa diri dan menyerahkan segalanya tanpa syarat. Ular itu juga bias mengancam korbannya. Jika tidak menuruti keinginannya akan disikat habis sampai ke akar-akarnya.

Di antara semua wajah goa dengan ular di dalamnya, yang paling berbahaya adalah wajah goa yang dihias dengan intan permata, emas, sutra, dan juga mantra-mantra. Disulapnya goa itu menjadi tempat belajar shastra katanya. Yang belajar sungguh-sungguh, tidak ngeh kalau mulut ular selalu menganga.

CANGAK SEBELUMNYA:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati

Sesungguhnya, bagi mereka yang berwajah goa dan tidak mengetahui rasa, jika mendengar ada yang membicarakan shastra, tidak ada kenikmatan dari dalam benaknya. Hatinya akan panas, sebab dibakar oleh karmanya sendiri. Tidak ada ketenteraman dalam hidupnya, karena tidak ada satu pun dilakukannya dengan jujur.

Wahai ikan-ikan, kinilah saatnya memperhatikan wajah-wajah sekitar. Mana wajah goa mana wajah bulan. Tapi hati-hati, karena topeng bias dibeli di mana-mana dengan murah. [T]

Tags: filosofifilsafatrenungansastra
Share38TweetSendShareSend
Previous Post

Bali Architecture Week 2019 Ditutup Pemutaran Film dan Musik Emoni Bali

Next Post

PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

PPL: Ketika Mengajar adalah Belajar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co