23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Debat Capres itu Hanya Hiburan, Yang Serius Tuntaskan Ogoh-ogoh

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 18, 2019
in Esai
Debat Capres itu Hanya Hiburan, Yang Serius Tuntaskan Ogoh-ogoh

Anakanak muda serius menyelesaikan ogoh-ogoh di sebuah balai banjar di Bali, meski sedang berlangsung debat capres Pemilu 2019 di TV (Foto: dok Surya Hermawan)

Debat calon presiden edisi pertama yang sekaligus menjadi jilid kedua debat secara umum telah terlewati, Minggu 17 Febriari 2019, tadi malam. Layaknya debat pertama tempo hari, hari ini media sosial sudah mulai dipenuhi dengan tanggapan para warganet. Dan, seperti biasa juga, tanggapan itu menjadi lebih beragam karena telah dibubuhi perspektif dan subjektivitas setiap individu.

Masuknya subjektivitas dan perspektif yang berbeda dari setiap warganet itu sekaligus meningkatkan daya tarik bagi debat itu, atau lebih tepatnya situasi pascadebat. Warna debat menjadi bertambah. Ia juga menambah kadar imajinasi dan interpretasi melalui visualisasi kartun atau gambar lain yang memang lebih nyaman ditangkap otak, kendati dalam waktu yang sama agak menjauhkan dari objektivitas keadaan debat, juga fakta lapangan.

Dan, yang paling penting, tanggapan warganet ini membuat keadaan pascadebat menjadi lebih menghibur dibandingkan saat debat itu sendiri, yang mungkin saja dipenuhi ketegangan. Ketegangan yang coba disiasati oleh para penonton dengan melibatkan Tuhan dalam doa dalam hati agar calon yang didukung tidak melakukan blunder.

Hiburan itu hadir melalui konten media sosial yang memberikan peluang untuk menertawakan orang lain. Terutama mereka yang berseberangan. Memberikan kesempatan untuk mengumpat orang lain, dalam hati. Bahkan, juga kesempatan untuk menertawakan diri sendiri karena antusias membela calon yang didukungnya baik dalam posting maupun komentar, sementara di awal Senin tetap harus memulai aktivitas dengan kaki dan tangannya sendiri.

Hal itu sepertinya ditangkap dengan baik oleh sebagian pemuda di Bali. Saat sebagian lainnya bertaruh emosi di depan di layar kaca, mereka lebih memilih untuk datang ke Bale Banjar dan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Pekerjaan itu harus sudah tuntas sebelum tanggal 6 Maret nanti. Bergelut dengan bambu, kertas, kain, lem, kawat, dan kawan-kawannya.

Pikiran mereka sepertinya hanya untuk menyelesaikan ogoh-ogoh, kendati sebagian dari mereka yang datang ke Bale Banjar justru sibuk dengan telepon pintarnya, apalagi sekarang Bale Banjar telah dipasang wifi, di Badung. Tapi, mencoba berpikir positif, setidaknya mereka ada di Bale Banjar sebagai pengembira. Kendati belum diketahui secara pasti sebagai pengembira diri sendiri atau pengembira mereka yang berpeluh bekerja.

Tak ada pembahasan debat calon presiden di Bale Banjar saat debat berlangsung. Mereka sepertinya tak memerlukan informasi tentang itu. Yang ada adalah obrolan tentang kapan baju ogoh-ogoh akan selesai, apa warna ogoh-ogoh, kain apa yang cocok untuk menghias ogoh-ogoh, berapa uang kas yang masih tersisa, kapan bantuan dari pemerintah cair, hingga yang paling serius tentang bagaimana caranya untuk mengurangi jumlah pemuda nampi beres yang datang ke banjar lalu duduk bermain telepon pintar.

Awalnya, itu terlihat mengkhawatirkan karena mereka sepertinya antipati. Setelah ditelusuri dan berkaca pada debat pertama, mereka memang tak antusias saat debat berlangsung. Namun, keesokan harinya, keadaan debat kemarin malam justru menjadi topik hangat, bahkan panas.

Saling mencari dan memperlihatkan posting Instagram dan Facebook yang menunjukkan Ma’ruf Amin yang dikatakan sebagai pelengkap, tentang Sandiaga yang dikatakan menjadi tukang pijat di saat jeda bekerja sembari menghirup asap rokok. Di sana, terjadi berbagai olokan dan umpatan yang justru sangat menghibur. Berbeda dengan saat debat berlangsung yang dipenuhi ketegangan penonton. Itu seperti menghapus lelah dalam proses menyelesaikan ogoh-ogoh.

Hal itu pada akhirnya memunculkan dugaan subjektif bahwa sebagian pemuda itu lebih memilih menangkap debat sebagai hiburan melalui sosial media. Atau substansi debat yang katanya untuk menjabarkan program dan visi-misi itu digeser oleh mereka menjadi tempat menghibur diri. Ini sepertinya adalah ketidakinginan mereka menambah beban pikiran dan perasaan yang telah habis terkuras oleh rutinitas pekerjaan.

Dari sisi lainnya yang lebih serius, artinya, tujuan diadakannya debat tak sampai pada mereka.

Sehingga, dalam hal ini mereka bukan antipati, mereka hanya memilih melihat konteks debat itu dari sudut pandang yang berbeda. Dan, dari perspektif personal, ini adalah manfaat yang diberikan oleh media sosial. Oleh orang-orang kreatif pemilik media sosial itu. Kendati dari sudut pandang lain media sosial ini memang mempertajam segmentasi masyarakat.

Sebuah angan-angan kemudian muncul, mungkinkah debat tidak dilakukan oleh para calon presiden dan atau calon wakil presiden, tetapi dilakukan oleh para stand up comedian yang dikontrak oleh tim sukses masing-masing calon untuk berdebat dengan humur dan candaan.

Bukankah serius tak melulu berarti beresensi dan bercanda tak selalu berarti ngawur?! Bukankah selalu ada jalan ketiga?! Sehingga, mereka yang disebut tadi, selain mendapatkan hiburan yang memang mereka butuhkan, juga mendapatkan esensi debat yang diinginkan oleh KPU, yang diinginkan oleh Negara.

Pada akhirnya, perlu dinanti yang akan terjadi nanti malam di Bale Banjar setelah debat kemarin malam. Apakah “jagung bersatu”, “unicorn”, akan menjadi bahan untuk mengolok-olok, atau beberapa kekeliruan data petahana yang dijadikan alat mengumpat teman, menertawakan teman, atau menertawakan diri sendiri? Jawabannya hanya bisa didapat saat datang ke Bale Banjar nanti malam.

Sehingga, ucapan terima kasih memang perlu diberikan kepada para pemilik media sosial yang telah memberikan ruang hiburan bagi mereka yang meletakkan prioritas warisan leluhurnya,ogoh-ogoh, di atas perdebatan calon presiden kemarin malam. [T]

Tags: balidebat capresogoh-ogohpemilupemudaPilpres
Share61TweetSendShareSend
Previous Post

Sosialisasi Pemilu ke Kaum Millennial: Bukan Surat Suara Warna Apa, tapi Calonnya Siapa!

Next Post

Mimpi Bisnis Yuk! (1) – Bermimpi, Lakukan Kemudian

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mimpi Bisnis Yuk! (1) – Bermimpi, Lakukan Kemudian

Mimpi Bisnis Yuk! (1) - Bermimpi, Lakukan Kemudian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co