19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filosofi Pantat dan Payudara

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 17, 2019
in Esai
Filosofi Pantat dan Payudara

Foto: Google

Kali ini, mari kita main jujur-jujuran. Untuk laki-laki (mohon maaf untuk yang cewek) mana yang kalian lebih sukai antara pantat dan tetek? (Kalau dak paham, ya, payudara deh, atau buah dada. Wes masih belum paham? Parah lu!)

Lebih suka “benda” yang di depan pantat? Ah, bukan, bukan itu pilihannya. Pilih saja mana yang lebih menarik, tetek atau pantat?

Ha? Suka dua-duanya? Ooh oh pilih salah satu dong jangan dua-duanya. Kan sendiri itu sepi, bertiga itu menyakitkan, lebih baik berdua saja. So, pilih satu ya. Antara dirimu dan pilihanmu.

Dua barang tadi (antara pantat dan tetek) bisa dikatakan adalah “senjata” atau “aset” (pake tanda kutip lho ya) dalam diri seorang wanita setelah senjata utamanya, yak apalagi kalau bukan buah selangkangan.

Tapi bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan wanita, tapi nyatanya banyak lelaki yang mata dan imannya tak kuat dan kalah setelah menyaksikan dua benda tadi (pantat dan tetek). Sama-sama menonjol dan juga bisa membuat “punya” lakilaki itu ikut menonjol.

Dua barang atau bagian tubuh itulah yang sementara ini bisa dilihat secara kasat mata oleh para lelaki sebelum perempuan membuka bajunya dan memperlihatkan “senjata” utamanya. Meski tidak bisa melihat pantat dan tetek secara utuh tanpa balutan kain, namun bentuknya yang menonjol itu rasanya sudah bisa bikin gemuruh hasrat para lelaki.

Semakin menonjol dua benda itu maka akan semakin “mengundang” pula wujud seorang wanita di mata lelaki meski dalam keadaan berbusana.

Entah bagian mana yang bisa membuat wanita bergemuruh hatinya ketika melihat tubuh laki-laki saat dalam keadaan berbusana. Wajahnya? Rasanya tidak juga.

Tapi bagi lakilaki, akan selalu ada dan bahkan ada-ada saja bagian tubuh wanita yang bisa dijadikan bahan perbincangan meskipun mereka (wanita) dalam keadaan berbaju. Entah, mungkin laki-laki lebih mudah tertarik akan bungkusan atau wujud luarnya saja (tubuh) daripada sikap dan isi hatinya atau entah bagaimana, saya tak paham.

Tapi berdasarkan beberapa obrolan dengan kawan-kawan cewek, ternyata mereka para cewek ketika memandang laki-laki, mereka tidak terlalu mengedepankan tampang atau wajahnya. Perkara tampan atau ganteng mungkin sih iya masuk indikator tapi bukan itu yang utama bagi mereka.

Katanya sih ganteng dan jelek tidak sebegitu menjadi pertimbangan untuk menyukai seorang laki-laki bagi cewek. Mereka lebih melihat bagaimana isiannya. Apakah sikapnya baik hati, apa dia pintar atau tidak itu yang menjadi fokus utamanya.

Sementara untuk laki-laki, hmm gimana ya? Selama ini sih yang sering jadi perbincangan di kalangan lelaki ya gak jauh-jauh dari kecantikan dan kemolekan tubuh itu dah. Eloknya sikap dan isi hati tidak begitu menonjol di kalangan perbincangan para lelaki. Di mana ada cewek cantik atau bodynya bohay, maka di situlah cowok-cowok akan ngerasaninya.

Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan yang saya simpulkan dari hasil perbincangan dengan teman itu, nyatanya perempuan selalu menjadi misteri bagi laki-laki. Tidak hanya dalam perkara cinta, perkara nafsu atau hasrat pun demikian, dan malah mungkin itu yang lebih dominan di mata lelaki.

Saya tidak sedang membeberkan betapa mesumnya diri saya ataupun para lelaki, tapi wahai perempuan berhati-hatilah dalam berpakaian. Pakai baju tertutup ala-ala syar’i pun kalian masih bisa jadi bahan perbincangan, apalagi ketika pake baju minim lebih-lebih gak bajuan.

So, suka mana antara pantat sama tetek? Oke deh kamu boleh suka dua-duanya atau suka salah satu tapi jangan sampai tidak suka dua-duanya, sebab kamu masih laki-laki normal kan? Saya harap begitu.

Bagi yang milih dua-duanya saya tanya lagi, mana yang paling anda sukai? Tentu dalam dua pilihan tingkat kesukaan kita pasti akan berbeda. Pasti ada salah satu yang paling disukai. Pertanyaan berikutnya, bila memilih tetek kenapa dan bila memilih pantat kenapa? Apa hanya sekedar suka? Tentu ada alasannya kan.

Bila dibandingkan, bentuk keduanya sama-sama menonjol dan sama-sama ada belahannya. Hanya mungkin ada tambahan pentil di tetek sementara di pantat tidak ada.

Untuk sementara ini, saya lebih memiliki alasan logis untuk memilih menyukai pantat daripada tetek. Bila dipikir lagi, pantat dan tetek adalah sebuah proses evolusi. Saat manusia sedang merangkak dan tidak bisa berjalan (ketika bayi atau masa kanak-kanak), maka yang akan kita lihat pertama adalah bokong atau pantat sebab ketika itu belum tumbuh payudara. Sementara tetek atau payudara akan muncul setelah menusia menginjak masa remajanya.

Jadi pada masa manusia sedang merengkak, mereka hanya akan melihat bokong, lalu ketika lambar laun mereka bisa berjalan mereka tidak lagi melihat bokong atau pantat. Sebagai gantinya, maka tumbuhlah tetek atau payudara. Dengan kata lain, pantat atau bokong adalah sumber hasrat pertama dalam kehidupan, sementara payudara hanyalah penggantinya.

Tetek tidak ada apa-apanya daripada pantat, sebab tetek hanyalah pengganti, pantat atau bokonglah yang utama. Atau dalam bahasa lain, pantatlah yang lebih asli sementara payudara tidak. Sebab pantat secara proses pertumbuhan lebih awal datangnya dan payudara adalah produk evolusi atau pertembuhan.

Jadi mana yang akan dipilih antara tetek dan pantat tentu jawabannya pilih yang asli daripada yang pengganti, yaitu lebih memilih pantat daripada tetek atau payudara.

Gimana? Masuk akal kan alasannya?

Dua benda tadi tentu hanya ada pada perempuan, meski laki-laki juga punya tapi bentuk dan efeknya kan jauh berbeda. Memang perempuan adalah wujud makhluk paling indah di dunia. Banyak misteri tentang dirinya. Tapi bukan berarti perempuan adalah objek pemuas nafsu belaka meski pada kenyataannya memang lebih banyak begitu. Lebih dari itu, perempuan juga merupakan makhluk ciptaan tuhan yang juga harus dihormati, jangan dilecehkan.

Bila menurut anda tulisan ini lebih mengarah pada melecehkan perempuan ya mohon maaf saja, saya hanya mencoba merasionalisasikan apa yang disukai orang-orang. Sebab rasa suka tanpa alasan sama seperti niat tanpa komitmen. Apapun yang kamu suka, pastilah ada alasannya, hanya saja mungkin belum kamu ketahui itu apa.

So, masih memilih menyukai payudara? [T]

Tags: filosofifilsafatPerempuansex
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Pembangunan Ekonomi Inklusif, Pemerataan Kemiskinan, dan Pembangunan Berkelanjutan

Next Post

Magesah, Beda Negaroa Beda Bleleng

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails
Next Post
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Magesah, Beda Negaroa Beda Bleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co