6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Julio Saputra by Julio Saputra
January 29, 2019
in Khas
Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma di Acara Acara Dhamma Talk Tahun 2019 bertajuk “Keyakinan, Harta Terbaik yang Dimiliki Seseorang"

Langit sore, Sabtu, 26 Januari 2019, terlihat mendung dan murung, tak secerah hari-hari biasanya. Suasana dingin mulai terasa menusuk meski waktu baru menunjukan pukul 17.00 Wita.

Udara semakin dingin dengan hadirnya angin yang bertiup agak kencang akhir-akhir ini. Sebentar lagi akan turun hujan dan orang-orang dengan gampang bisa menebak hal tersebut. Namun begitu, suasana di Ballrom Aston Hotel and Convention Center, Denpasar terasa sangat hangat.

Bukan karena sedang berada di dalam hotel dengan interior yang mewah, tapi karena beberapa gadis cantik, dengan senyum yang manis, berpakaian serba hitam dengan rompi biru Patria yang membuat mereka terlihat gagah, akan menyambut siapa saja yang tiba di depan Ballroom Hotel, entah dengan menaiki lift ataupun eskalator. Kehangatan dan keramahan mereka berikan bagi mereka yang hendak mengikuti acara Dhamma Talk 2019, sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh DPC Patria Denpasar.

Di depan Ballroom, beberapa muda-mudi terlihat sedang bertugas mengurus pembayaran dan penukaran tiket. Sama seperti gadis-gadis tadi, mereka juga terlihat gagah dengan pakaian serba hitam dengan rompi biru Patria. Sementara para peserta dan undangan terlihat elegan dengan setelan kasual yang sebagian besar berwarna putih. Mereka adalah umat Buddhis yang datang dari seluruh pelosok Bali, bahkan juga dari luar Bali, seperti Jakarta dan Semarang. Tentu saja mereka tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengikuti acara tahun ini.


Suguhan lagu dan tari

Ada lebih dari 700 orang yang hadir di acara tesebut. Di dalam Ballroom mereka terlihat menunggu dimulainya acara sambil bercengkrama satu sama lain. Beberapa di antara mereka juga telihat saling menyapa, dan ada juga yang sesekali tertawa karena guyonan atau semacamnya. Mereka semua Nampak bahagia dan tak sabar dengan acara ini. Sampai akhirnya, pembawa acara terdengar memberi aba-aba bahwa acara akan dimulai.

Pertama-tama, hadirin di acara tersebut disuguhkan dengan dua lagu bernuansa cinta kasih, yaitu “Diari Hari Ini” dan “Stand Up for Love” yang dibawakan sangat merdu oleh Kartika Diputra. Hadirin pun terlihat larut dalam alunan lagu sepanjang lagu dinyanyikan. Suara merdu Kartika memang membawa keteduhan. Tak sedikit dari mereka yang mengabadikan suara merdunya melalui ponsel pintar masing-masing.

Tak hanya sampai di sana, hadirin kembali disuguhkan dengan Buddhist Dance yang dibawakan oleh beberapa anggota DPC Patria Denpasar. Gerakan yang lemah gemulai dengan balutan kain berwarna putih merah muda tak kalah menarik dan memikat perhatian hadirin. Hadirin benar-benar kagum dengan bakat dan talenta yang dimiliki pemuda-pemudi Budhhis Bali, Denpasar khususnya.

Barulah, setelah suguhan lagu dan tari, hadirin berdiri sambil bersikap Anjali untuk menyambut para pembicara, yaitu YM. Uttamo Mahatera dan Ibu Erlina Kang Adiguna. Bersama mereka, juga hadir YM. Jayadhammo Thera (Padesabayaka Provinsi Bali), YM. Bhikkhu Dhammaratano (Upa-padesayaka), Saccadhammo Thera, Khemaviro Thera, Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Prov. Bali, Penyelenggara Buddha Kota Denpasar, KBTI (MAGABUDHI, FIB, PATRIA), Dayaka Sabha se-Bali, serta WALUBI Denpasar. Mereka bersama-sama berjalan perlahan memasuki Ballroom Hotel sambil disambut hormat oleh hadirin. Banyak dari hadirin pun terlihat tak dapat menahan rasa bahagianya dengan kehadiran para pembicara kali ini.

Acara Dhamma Talk Tahun 2019 bertajuk “Keyakinan, Harta Terbaik yang Dimiliki Seseorang” itu pun menghadirkan 2 tokoh Buddhis yang sudah dikenal oleh banyak umat di Bali, bahkan di Indonesia. Sebagian besar umat Buddha di Bali tentu sudah tak asing lagi dengan sosok Ibu Erlina Kang Adiguna, atau yang akrab disapa Mama Leon.

Di samping menjadi pengusaha sukses di bidang garmen dengan perusahaan “Mama & Leon” yang dirintisnya, beliau merupakan salah satu tokoh Buddhis Bali yang sejak dulu dikenal aktif melakukan berbagai kegiatan sosial keagamaan dan pengembangan Dhamma di Bali, di luar Bali, bahkan di luar negeri, seperti Myanmar dan sekitarnya.

Beliau juga menjadi penggerak umat di Bali, seperi menjadi penasehat Forum Ibu Buddhis (FIB) Bali, Penasehat Forum Ibu-ibu Buddhis, Ketua Umum Yayasan Kertha Yadnya, Pelindung di Vihara Buddha Sakyamuni, serta Ketua Kehormatan di Vihara Buddha Guna Nusa Dua

Berfoto bersama

Siapa pula yang tak kenal dengan Y.M Uttamo Mahathera? Banyak umat mengenal beliau sebagai seorang Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia yang dikenal tak pernah lelah membina umat dan memberikan ceramah keagamaan di berbagai tempat. Dari tahun 1995, beliau pernah menjadi ketua bhikkhu daerah pembinaan di beberapa provinsi di Indonesia, pernah juga menjadi wakil ketua umum Sangha Theravada Indonesia, dan masih banyak lagi.

Tak hanya itu, pada tahun 2014 beliau juga mendapat penghargaan dari MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) Pembicara yang Kreatif Menciptakan Kisah Baru pada setiap Kesempatan Berbicara kepada Publik. Pada tahun 2016, Sangha Theravada Indonesia menganugerahkan Gelar Penghargaan Dhamma Saddhamma Vicitra Patibhana, dan pada 2017 IPSA (Indonesian Professional Speakers Association) memberikan penghargaan sebagai Certified Public Speaker, Honorary.

Sebelum memasuki acara inti, hadirin dan para undangan harus terpukau dengan parade yang dilakukan oleh 18 orang anggota DPC Patria Denpasar. Dengan setelan putih hitam dan rompi biru patria, mereka bernyanyi bersama membawakan lagu Mars Patria sambil mengibarkan bendera patria dan bendera buddhis. Tepuk tangan yang meriah pun menyambut mereka saat setelah parade selesai disuguhkan dan meneriakan jargon patria “One Spirit, One Dhamma”.

Friska Prisilia, selaku ketua panitia mengatakan tema pada acara Dhamma Talk tahun ini dipilih berdasarkan fenomena yang sedang terjadi akhir-akhir ini yang menunjukan banyak orang melakukan sesuatu tanpa didasari dengan keyakinan yang benar, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan.  

“Dalam kehidupan ini, kita hendaknya mengkondisikan keyakinan kita terhadap hal yang baik dan positif. Keyakinan yang seperti itulah yang baiknya kita terapkan dalam segala aspek kehidupan bermasyarakan saat ini,” ujarnya saat memberikan laporan ketua panitia.

Ia juga mengatakan bahwa memunculkan suatu keyakinan bukanlah hal yang mudah, baik dalam diri sendiri, terlebih lagi kepada orang lain. Keyakinan merupakan suatu yang sangat berharga dalam kehidupan ini karena tanpa keyakinan yang benar, manusia cenderung berjalan hampa, tanpa arah.

“Sungguh merupakan suatu kebahagian bagi kita semua, khususnya kami dari panitia Dhamma Talk 2019 karena berhasil mengundang 2 orang pembicara dengan segudang pengalaman. Saya mengucapkan banyak terima kasih,” tambahnya.

Dengan dimoderatori oleh Ibu Sherli Mirani, kedua pembicara dalam kegiatan tersebut mulai bercerita dan memberikan sudut pandang mereka masing-masing mengenai keyakinan.

Ibu Erlina Kang Adiguna, sebagai pembicara pertama, bercerita tentang Dhamma yang beliau yakini dalam menghadapi sebuah penyakit yang sangat mematikan tepat setelah beliau baru saja mengenal ajaran Dhamma. Tahun 1993, beliau divonis menderita kanker rahim, hampir stadium tiga. Meski sempat diminta untuk melakukan operasi oleh dokter yang memeriksanya, keputusan yang akhirnya beliau ambil cukup membuat kaget dan khawatir banyak orang, juga hadirin kala itu.

“Saya memutuskan untuk tidak mau melakukan pengobatan. Saya tidak mau minum obat, tidak mau dioperasi, tidak mau juga dioperasi. Pokoknya tidak mau. Saya akan menghadapi kenyataan yang saya alami,” kata beliau.

Beliau akhirnya memutuskan untuk melakukan kegiatan pengembangan Dhamma. Beliau berusaha melupakan sakit dan tidak henti-hentinya melakukan kebajikan dan belajar meditasi, serta mempelajari Dhamma, Ajaran Sang Buddha secara lebih mendalam, untuk menguatkan keyakinan bahwa Sang Tri Ratna pasti akan memberikan jalan yang terbaik.

Beliau bercerita akhirnya pada suatu hari beliau memutuskan akan bermeditasi secara kontinyu, terus-menerus selama 40 hari, setiap pagi dan sore hari. Setiap hari beliau membacakan Paritta lengkap. Setelah selesai membacakan Paritta Suci, beliau selalu meminum tiga cangkir air yang dipersembahkan di Altar.

Beliau selalu berdoa,mengucapkan kata-kata yang sama, memohon untuk diberkahi jalan yang terbaik, mengucapkan janji dan tekad. Sampai akhirnya pada tahun 1995, dokter yang memeriksa beliau sebelumnya terheran-heran karena tidak lagi menemukan kanker yang pernah diderita. Beliau divonis sembuh. Ajaib. Tentu saja beliau kaget bercampur bahagia.

“Bukan karena saya minum air, atau karena saya meditasi saya bisa sembuh, tapi karena saya memiliki tekad dan keyakinan yang kuat terhadap Dhamma. Saya tidak pernah berhenti. Saya terus berusaha mengamalkan Dhamma, melakukan kebaikan. Sebenarnya penyakit itu tidak disembuhkan dengan begitu gampang, namun Dhamma ini memberikan saya kekuatan. Uang tidak bisa menyembuhkan penyakit, biarpun kemo dis mati ya mati. Namun Dhamma ini benar-benar menjadi obat mental bagi saya. Saya bisa mengikis kesombongan saya, dan saya harus membuat diri saya lebih lembut,” ujar beliau.

Kanker yang diderita ternyata bukan yang terakhir. Setelah itu, beliau sempat divonis kembali menderita kanker payudara hamper stadium tiga dan kembali beliau dianjurkan untuk mengambil operasi dan kemoterapi dengan biaya sebesar Rp.1.2 Milliar. Namun keyakinan dan tekad beliau mengabdi kepada Dhamma tidak goyah hanya karena itu.

Beliau tetap tidak mau mengambil operasi ataupun kemoterapi. Uang sejumlah Rp. 1,2 Milliar tersebut beliau bawa ke Myanmar dan didanakan di berbagai tempat di sana. Uang tersebut habis untuk berdana. Di sana beliau kembali melakukan meditasi, tak pernah menyerah dan tak pernah berhenti meyakini Dhamma. Ya, kanker itu lenyap.

“Kami sebagai murid beliau benar-benar mendapat teladan dari beliau. Sikap pantang menyerah sangat patut diteladani oleh kita semua,” ujar Ibu Sherlie selaku moderator.

Bhante Uttamo, selaku pembicara kedua, membenarkan apa yang dikatakan oleh Ibu Erlina sebelumnya. Beliau sempat bertemu dengan Ibu Erlina semasa sakit, dan juga sempat kaget saat melihat Ibu Erlina sembuh dari penyakit kanker.

“Apa yang dikatakan oleh Ibu Erlina ini bukan mengarang bebas, tapi memang begitu adanya. Itu yang beliau alami,” ujar Bhante Uttamo.

Berbeda dengan Ibu Erlina, Bhante Uttamo lebih bercerita tentang arti keyakinan Dhamma di kehidupan ini jika dibandingkan dengan harta duniawi. Beliau menyampaikan keyakinan Dhamma adalah harta yang lebih besar dari apa yang kita ketahui sekarang. Dengan cara yang kreatif, cerita-cerita beliau kerap kali mengundang riuh tawa hadirin. Misalnya saat beliau membandingkan harta duniawi dengan harta yang dimiliki para bhikkhu.

“Harta itu tidak dibawa mati, tapi tidak punya harta, ya setengah mati juga. Kenapa demikian suadara? Karena harta itu relatif ya. Apa yang dikatakan sebagai harta berbeda dengan apa yang dikatakan bhikkhu sebagai harta. Di dalam Dhamma harta yang paling rendah itu ya bikhu. Jangan dikira para bhikkhu tak punya harta. Bhikkhu itu punya harta. Hartanya apa? Jubah. Ini kalau jubah ya dijemur aja ditungguin. Lho kenapa? Karena kadang-kadang ketika jubah kita masih basah serangga-serangga itu nempel, dan kalau gigit-gigit jadi lubang. Jadi harus ditungguin. Tidur itu ya bawa jubahnya itu. Jangan sampai diambil tetangga,” ujar beliau sambil diikuti oleh riuh tawa hadirin.

Beliau melanjutkan kembali cerita tentang harta duniawi, bahwa harta dunia itu tidak penting, yang lebih penting adalah hidup sehat. Beliau mengatakan keuntungan tertinggi dalam hidup ini adalah saat kita tidak sakit, alias sehat. Pada saat meninggal dunia pun, harta lagi-lagi tidak berarti apa-apa.

“Saudara-sudara sudah pernah lihat di Cargo (Rumah Duka Kertha Semadi), orang yang hidupnya mewah dulu pakai high heels, ketika meninggal, sepatu high heelsnya itu diganti sepatu kets biasa. Itu kalau keluarganya masih oke. Kadang-kadang sepatu Bruce Lee itu lho. Dulu pakai bedak dan lispstick yang mahal-mahal bermerk-merk itu, di rumah duka dikasi bedak umum sama make up jenazah itu. Lipsticknya ya lipstick umum itu yang dipakai jenazah sebelumnya.” Hadirin pun kembali riuh tertawa.

“Saya pernah tanya ahli rias jenazah, kamu ngerias jenazah ini seneng apa susah? Seneng katanya. Kenapa? Soalnya yang dirias ndak pernah protes. Saya kasi lipsticknya tetangga kemarin ya mau. Saya kasi bedak yang jelek-jelek ya mau. Sisirnya sudah ompong tiga ya mau. Padahal itu bos besar lho. Ya tetep mau.” Lanjut beliau yang kembali mengundang riuh tawa hadirin.

Terima kasih Mama Leon dan Bhante Uttamo

Inti dari apa yang disampaikan beliau adalah harta tidak penting, namun yang paling penting adalah keyakinan untuk melakukan kebajikan dan Dhamma. Beliau mengatakan bahwa saat seseorang meninggal, ia akan berjalan sendirian. Semua harta, semua teman, semua keluarga, akan ditinggal. Tetapi kebajikan tidak pernah meninggalkan siapapun, dan kebajikan itu sering bersama, hanya saja kita yang tidak menyadarinya.  Buah kebajikan hanya kita yang akan memiliki, dan buah kebajikan juga akan dinikmati di kehidupan yang akan datang.

“Saudara-saduara, lakukanlah perbuatan baik, isi tabungan karma baik dengan melakukan kebajikan. Maka nanti kita bisa senantiasa memetik buah kebajikan itu, menarik tabungan kebajikan itu. Kita harus mengisi kehidupan kita dengan kebajikan. Berbuat baik, berpikir baik, berkata baik, akan membuat hidup kita lebih sehat, lebih bahagia, dan kalaupun mati, kita sudah meninggaklan seluruh harta, teman kita, dan keluarga kita, tetapi kebaikan tetap terbawa sampai kelahiran-kelahiran selanjutnya. Sesuai tema kita hari ini, bahwa keyakinan adalah harta terbaik seseorang, keyakinan terhadap Dhamma akan mendorong kita untuk mengamalkan Dhamma, yang membuat kita bahagia di kehidupan ini juga kehidupan yang akan datang. Contoh bahagia di kehidupan ini adalah Ibu Erlina tadi dengan kesehatannya. Jauh lebih muda di usianya yang ke-75,” kata beliau di akhir sharing Dhammanya sebagai penutup.

Hadirin bertepuk tangan dengan meriah. Dengan dipimpin oleh moderator, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab hadirin peserta acara bersama kedua pembicara tadi, kemudian dilanjutkan dengan penutup.

Fernaldi Hanggara, atau yang akrab disapa Aldi, selaku ketua DPC Patria Denpasar juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara tersebut, khususnya kepada donatur.

“Sacara pribadi saya ingin mengucapkan rasa bangga dan terima kasih sebesar-besarnya kepada rekan-rekan panitia Dhamma Talk 2019 dan juga kepada para pengisi acara yang sedari awal sudah berproses. Meski begitu, tentu saja acara ini tidak luput dari kesalahan, apabila terdapat kekurangan atau kesalahan yang disengaja ataupun tidak, kami minta maaf,” ujarnya.

Ia juga berharap seluruh hadirin dapat menikmati acara tersebut dan memetik pelajaran yang berharga. (T)

Tags: BuddhismeBudhacerita
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Memulihkan Trauma Kultural – Catatan dari Flores Timur

Next Post

Swastyastu, Nama Saya Cangak

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Swastyastu, Nama Saya Cangak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co