2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memulihkan Trauma Kultural – Catatan dari Flores Timur

Silvester Petara Hurit by Silvester Petara Hurit
January 28, 2019
in Esai
Memulihkan Trauma Kultural – Catatan dari Flores Timur

Foto Dok. Disparbudkab Flotim.

Hari Jumat tanggal 28 Agustus tahun 1970 adalah hari yang teramat pahit bagi masyarakat adat Lewotala Lewolema Flores Timur NTT.  Rumah adat (korke) yang menjadi pusat kegiatan ritual, sosial dan budaya dibongkar dan dibakar.

Rumah yang mempersatukan masyarakat  5 kampung (Lewotala, Lamatou, Belogili, Kawaliwu dan Leworahang) sekaligus  menjadi tempat dimana hal-hal krusial yang menyangkut kehidupan mereka direncanakan, dimusyawarahkan serta diputuskan dibakar di hadapan mayoritas masyarakat yang mensakralkannya.

Para tetua tak berdaya menyaksikan  anak-anaknya sendiri yang bertindak sebagai aparat keamanan desa (hansip) membongkar  dan membakarnya. Bagaimana mereka  bisa melakukan tindakan membakar rumah adat  yang menjadi jangkar  kehidupan nenek-moyang mereka sejak berabad-abad lampau?  Entah drama macam apa dan siapa aktor-aktor yang ada di balik itu, bagi tetua kampung yang lugu, tak fasih berbahasa Indonesia apalagi tidak bersekolah, tak banyak yang dapat mereka lakukan sebagai bentuk protes atau gugatan.

 Apa yang diajarkan kepada anak-cucunya di sekolah sehingga menyebut tetua kampungnya: setan, kafir dan pemuja berhala? Bangunan yang  dipercaya sebagai tempat suci kini dijauhi, dianggap sebagai rumah berhala, pusat tradisi dan praktek kekafiran. Tetua adat dituduh mendirikan agama baru.  Disiksa berjalan kaki  sejauh 17 KM untuk  membersihkan rumput di halaman kantor camat  selama sebulan tanpa disediakan makan dan minum.

 Ritus dan sejumlah tradisi seperti:  menenun, membuat tato etnik,  meratakan gigi,  melubangkan daun telinga dilarang. Pohon-pohon besar  di situs-situs penting yang berkaitan dengan keyakinan lokal ditebang. Kain dan peralatan tenun dimusnahkan. Rumah-rumah tradisional, lumbung, simbol-simbol serta segala ekspresi budaya seperti:  nyanyian etnik, sastra lisan, musik dan tarian adat  perlahan-lahan hilang dari kehidupan masyarakat.

Tetua adat sebagai pelaku  dan penjaga tradisi dibikin keder dengan sekian tuduhan (fitnah) yang tak mereka pahami. Mereka tidak tahu siapa yang ada dibalik semua itu. Yang terjadi kemudian adalah masyarakat terbelah antara yang menjalankan tradisi adat dan yang melepaskan diri darinya dengan menjalankan secara murni agama formal yang diwajibkan negara.  Ada yang bingung dan atau menjalankan kedua-duanya. Yang menjalankan kedua-duanya, oleh pemeluk teguh agama formal,  dicemooh sebagai plin-plan dan tak punya sikap. Ketegangan tersebut berlangsung sepanjang puluhan tahun  walau tidak mencuat sampai perseteruan fisik.

Momen pemulihan

Tanggal  5-7 Oktober 2018 adalah hari yang bersejarah bagi masyarakat adat Lewolema. Hari dimana mereka boleh merayakan kembali seni, ritus dan atraksi budaya secara kolektif dalam Festival Nubun Tawa. Atraksi panahan massal (leon tenada) sebagai bagian dari ritus membangun rumah adat, tinju tradisional (sadok nonga) yang dilaksanakan sebagai ekspresi sukacita panen, ritus afiliasi anak ke dalam suku/marga (lodo ana) dengan tari dan nyanyian sepanjang malam digelar kembali di Lewolema.

Masyarakat tumpah ruah di jalan. Menari tanpa alas kaki di siang terik. Berpanas-panasan mengikuti sekian pegelaran. Memikul sejumlah perlengkapan, membawa senter mendaki bukit demi menyaksikan sejumlah pertunjukan di malam hari. Festival menjadi ruang pengakuan dan pemulihan hak ekspresi kultural masyarakat.

Perasaan lepas (tanpa beban intimidasi) menyembulkan energi kegembiraan/sukacita. Energi tersebut  bertaut (:bersinergi). Saling menguatkan. Membangkitkan kembali gairah kreativitas masyarakat  serta memberi  ruang bagi keleluasaan berpikir dan bergerak dalam mewujudkan jati diri kolektif-kulturalnya. Kegembiraan dan keleluasaan  menjadi  angin segar yang  memungkinkan masyarakat dapat kembali melihat modal sosial dan budaya, memungut kembali potongan-potongan sejarah serta pengalaman sosialnya termasuk menyembuhkan diri  dari trauma sejarah kultural masa lalunya.

Relevansi festival

Festival sebagai perayaan dan ritus sosial memperlihatkan bagaimana kecerdasan dan kemampuan masyarakat mengorganisir dirinya. Absennya peristiwa budaya yang bersifat kolektif/massal selama ini menghilangkan juga kemampuan bekerjasama dan menyesuaikan diri satu terhadap yang lainnya. Yang muncul selama beberapa dekade terakhir adalah kebingungan, rasa rendah diri, kecurigaan, rasa benar sendiri dan superioritas diri yang sempit akibat  kehadiran yang satu tidak mengakui yang lain dalam ruang egaliter kebudayaan. Klaim kebenaran satu pihak tidak mengakui kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain.

Foto: Dok. Disparbudkab Flotim

Festival Nubun Tawa, dalam bahasa Lamaholot bermakna “lahirnya tunas/generasi baru”,   menjadi perayaan atau pesta masyarakat dimana ruang egaliter kebudayaan diciptakan kembali. Masyarakat adat Lewolema yang hampir setengah abad tidak diakui ruang ekspresi kulturalnya dan dilemahkan nilai serta sendi-sendi dasar yang merawat bangunan hidup kolektifnya, melalui festival,  menemukan kembali kekuatan kebersamaan melalui peristiwa-peristiwa kolektif kesenian yang mempersatukan.

Kesenian mempersatukan dan mengobarkan kegembiraan. Jalan untuk merawat kembali kesehatan jiwa dan daya hidup masyarakat. Bahwa mereka bukan kafir, setan dan pemuja berhala. Pun bukan masyarakat gunung yang bodoh dan  primitif. Mereka adalah masyarakat tradisional yang religius. Yang merawat hidup dengan ritus, mantra, doa, nyanyian dan tarian. Yang memeterai dirinya dengan tato etnik dan motif-motif tenun serta pelbagai asesoris  yang merupakan pertunjuk (wahyu)  dari dunia transenden.

Festival membuat mereka menemukan kembali kenyataan dirinya sebagai pemberani (ata breket), prajurit dan satria perang yang handal di masa lalu.  Atraksi panahan massal (leon tenada) dari desa Lamatou misalnya, memperlihatkan kehebatan memanah yang selama ini tidak diapresiasi sebagai ketrampilan kultural masyarakat.

Festival Nubun Tawa yang lahir atas inisiatif Pemerintah Daerah (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Kabupaten Flores Timur bekerjasama dengan Garasi Performance Institute serta sejumlah komunitas seni di Larantuka  menemukan   tempat dan relevansinya di dalam kehidupan masyarakat. Festival bukan terutama pukauan dan kekaguman pada kerja-kerja  artistik pentas-pentas kesenian melainkan lebih pada mempertautkan masyarakat dalam satu spirit perayaan dimana melaluinya mereka menghimpun kembali tenaga kembangkitan, menemukan jati diri kultural dan berkarya membangun masa depannya.

Tags: BudayaFloreskebudayaanNTTrumah adat
Share228TweetSendShareSend
Previous Post

“Bubuh Nasi”, Olahan Nasi Sisa ala Pedesaan di Bali

Next Post

Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Silvester Petara Hurit

Silvester Petara Hurit

Esais, Pengamat Seni Pertunjukan. Tinggal di Lewotala Flores Timur.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co