22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memulihkan Trauma Kultural – Catatan dari Flores Timur

Silvester Petara Hurit by Silvester Petara Hurit
January 28, 2019
in Esai
Memulihkan Trauma Kultural – Catatan dari Flores Timur

Foto Dok. Disparbudkab Flotim.

Hari Jumat tanggal 28 Agustus tahun 1970 adalah hari yang teramat pahit bagi masyarakat adat Lewotala Lewolema Flores Timur NTT.  Rumah adat (korke) yang menjadi pusat kegiatan ritual, sosial dan budaya dibongkar dan dibakar.

Rumah yang mempersatukan masyarakat  5 kampung (Lewotala, Lamatou, Belogili, Kawaliwu dan Leworahang) sekaligus  menjadi tempat dimana hal-hal krusial yang menyangkut kehidupan mereka direncanakan, dimusyawarahkan serta diputuskan dibakar di hadapan mayoritas masyarakat yang mensakralkannya.

Para tetua tak berdaya menyaksikan  anak-anaknya sendiri yang bertindak sebagai aparat keamanan desa (hansip) membongkar  dan membakarnya. Bagaimana mereka  bisa melakukan tindakan membakar rumah adat  yang menjadi jangkar  kehidupan nenek-moyang mereka sejak berabad-abad lampau?  Entah drama macam apa dan siapa aktor-aktor yang ada di balik itu, bagi tetua kampung yang lugu, tak fasih berbahasa Indonesia apalagi tidak bersekolah, tak banyak yang dapat mereka lakukan sebagai bentuk protes atau gugatan.

 Apa yang diajarkan kepada anak-cucunya di sekolah sehingga menyebut tetua kampungnya: setan, kafir dan pemuja berhala? Bangunan yang  dipercaya sebagai tempat suci kini dijauhi, dianggap sebagai rumah berhala, pusat tradisi dan praktek kekafiran. Tetua adat dituduh mendirikan agama baru.  Disiksa berjalan kaki  sejauh 17 KM untuk  membersihkan rumput di halaman kantor camat  selama sebulan tanpa disediakan makan dan minum.

 Ritus dan sejumlah tradisi seperti:  menenun, membuat tato etnik,  meratakan gigi,  melubangkan daun telinga dilarang. Pohon-pohon besar  di situs-situs penting yang berkaitan dengan keyakinan lokal ditebang. Kain dan peralatan tenun dimusnahkan. Rumah-rumah tradisional, lumbung, simbol-simbol serta segala ekspresi budaya seperti:  nyanyian etnik, sastra lisan, musik dan tarian adat  perlahan-lahan hilang dari kehidupan masyarakat.

Tetua adat sebagai pelaku  dan penjaga tradisi dibikin keder dengan sekian tuduhan (fitnah) yang tak mereka pahami. Mereka tidak tahu siapa yang ada dibalik semua itu. Yang terjadi kemudian adalah masyarakat terbelah antara yang menjalankan tradisi adat dan yang melepaskan diri darinya dengan menjalankan secara murni agama formal yang diwajibkan negara.  Ada yang bingung dan atau menjalankan kedua-duanya. Yang menjalankan kedua-duanya, oleh pemeluk teguh agama formal,  dicemooh sebagai plin-plan dan tak punya sikap. Ketegangan tersebut berlangsung sepanjang puluhan tahun  walau tidak mencuat sampai perseteruan fisik.

Momen pemulihan

Tanggal  5-7 Oktober 2018 adalah hari yang bersejarah bagi masyarakat adat Lewolema. Hari dimana mereka boleh merayakan kembali seni, ritus dan atraksi budaya secara kolektif dalam Festival Nubun Tawa. Atraksi panahan massal (leon tenada) sebagai bagian dari ritus membangun rumah adat, tinju tradisional (sadok nonga) yang dilaksanakan sebagai ekspresi sukacita panen, ritus afiliasi anak ke dalam suku/marga (lodo ana) dengan tari dan nyanyian sepanjang malam digelar kembali di Lewolema.

Masyarakat tumpah ruah di jalan. Menari tanpa alas kaki di siang terik. Berpanas-panasan mengikuti sekian pegelaran. Memikul sejumlah perlengkapan, membawa senter mendaki bukit demi menyaksikan sejumlah pertunjukan di malam hari. Festival menjadi ruang pengakuan dan pemulihan hak ekspresi kultural masyarakat.

Perasaan lepas (tanpa beban intimidasi) menyembulkan energi kegembiraan/sukacita. Energi tersebut  bertaut (:bersinergi). Saling menguatkan. Membangkitkan kembali gairah kreativitas masyarakat  serta memberi  ruang bagi keleluasaan berpikir dan bergerak dalam mewujudkan jati diri kolektif-kulturalnya. Kegembiraan dan keleluasaan  menjadi  angin segar yang  memungkinkan masyarakat dapat kembali melihat modal sosial dan budaya, memungut kembali potongan-potongan sejarah serta pengalaman sosialnya termasuk menyembuhkan diri  dari trauma sejarah kultural masa lalunya.

Relevansi festival

Festival sebagai perayaan dan ritus sosial memperlihatkan bagaimana kecerdasan dan kemampuan masyarakat mengorganisir dirinya. Absennya peristiwa budaya yang bersifat kolektif/massal selama ini menghilangkan juga kemampuan bekerjasama dan menyesuaikan diri satu terhadap yang lainnya. Yang muncul selama beberapa dekade terakhir adalah kebingungan, rasa rendah diri, kecurigaan, rasa benar sendiri dan superioritas diri yang sempit akibat  kehadiran yang satu tidak mengakui yang lain dalam ruang egaliter kebudayaan. Klaim kebenaran satu pihak tidak mengakui kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain.

Foto: Dok. Disparbudkab Flotim

Festival Nubun Tawa, dalam bahasa Lamaholot bermakna “lahirnya tunas/generasi baru”,   menjadi perayaan atau pesta masyarakat dimana ruang egaliter kebudayaan diciptakan kembali. Masyarakat adat Lewolema yang hampir setengah abad tidak diakui ruang ekspresi kulturalnya dan dilemahkan nilai serta sendi-sendi dasar yang merawat bangunan hidup kolektifnya, melalui festival,  menemukan kembali kekuatan kebersamaan melalui peristiwa-peristiwa kolektif kesenian yang mempersatukan.

Kesenian mempersatukan dan mengobarkan kegembiraan. Jalan untuk merawat kembali kesehatan jiwa dan daya hidup masyarakat. Bahwa mereka bukan kafir, setan dan pemuja berhala. Pun bukan masyarakat gunung yang bodoh dan  primitif. Mereka adalah masyarakat tradisional yang religius. Yang merawat hidup dengan ritus, mantra, doa, nyanyian dan tarian. Yang memeterai dirinya dengan tato etnik dan motif-motif tenun serta pelbagai asesoris  yang merupakan pertunjuk (wahyu)  dari dunia transenden.

Festival membuat mereka menemukan kembali kenyataan dirinya sebagai pemberani (ata breket), prajurit dan satria perang yang handal di masa lalu.  Atraksi panahan massal (leon tenada) dari desa Lamatou misalnya, memperlihatkan kehebatan memanah yang selama ini tidak diapresiasi sebagai ketrampilan kultural masyarakat.

Festival Nubun Tawa yang lahir atas inisiatif Pemerintah Daerah (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Kabupaten Flores Timur bekerjasama dengan Garasi Performance Institute serta sejumlah komunitas seni di Larantuka  menemukan   tempat dan relevansinya di dalam kehidupan masyarakat. Festival bukan terutama pukauan dan kekaguman pada kerja-kerja  artistik pentas-pentas kesenian melainkan lebih pada mempertautkan masyarakat dalam satu spirit perayaan dimana melaluinya mereka menghimpun kembali tenaga kembangkitan, menemukan jati diri kultural dan berkarya membangun masa depannya.

Tags: BudayaFloreskebudayaanNTTrumah adat
Share228TweetSendShareSend
Previous Post

“Bubuh Nasi”, Olahan Nasi Sisa ala Pedesaan di Bali

Next Post

Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Silvester Petara Hurit

Silvester Petara Hurit

Esais, Pengamat Seni Pertunjukan. Tinggal di Lewotala Flores Timur.

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co