12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memulihkan Trauma Kultural – Catatan dari Flores Timur

Silvester Petara Hurit by Silvester Petara Hurit
January 28, 2019
in Esai
Memulihkan Trauma Kultural – Catatan dari Flores Timur

Foto Dok. Disparbudkab Flotim.

Hari Jumat tanggal 28 Agustus tahun 1970 adalah hari yang teramat pahit bagi masyarakat adat Lewotala Lewolema Flores Timur NTT.  Rumah adat (korke) yang menjadi pusat kegiatan ritual, sosial dan budaya dibongkar dan dibakar.

Rumah yang mempersatukan masyarakat  5 kampung (Lewotala, Lamatou, Belogili, Kawaliwu dan Leworahang) sekaligus  menjadi tempat dimana hal-hal krusial yang menyangkut kehidupan mereka direncanakan, dimusyawarahkan serta diputuskan dibakar di hadapan mayoritas masyarakat yang mensakralkannya.

Para tetua tak berdaya menyaksikan  anak-anaknya sendiri yang bertindak sebagai aparat keamanan desa (hansip) membongkar  dan membakarnya. Bagaimana mereka  bisa melakukan tindakan membakar rumah adat  yang menjadi jangkar  kehidupan nenek-moyang mereka sejak berabad-abad lampau?  Entah drama macam apa dan siapa aktor-aktor yang ada di balik itu, bagi tetua kampung yang lugu, tak fasih berbahasa Indonesia apalagi tidak bersekolah, tak banyak yang dapat mereka lakukan sebagai bentuk protes atau gugatan.

 Apa yang diajarkan kepada anak-cucunya di sekolah sehingga menyebut tetua kampungnya: setan, kafir dan pemuja berhala? Bangunan yang  dipercaya sebagai tempat suci kini dijauhi, dianggap sebagai rumah berhala, pusat tradisi dan praktek kekafiran. Tetua adat dituduh mendirikan agama baru.  Disiksa berjalan kaki  sejauh 17 KM untuk  membersihkan rumput di halaman kantor camat  selama sebulan tanpa disediakan makan dan minum.

 Ritus dan sejumlah tradisi seperti:  menenun, membuat tato etnik,  meratakan gigi,  melubangkan daun telinga dilarang. Pohon-pohon besar  di situs-situs penting yang berkaitan dengan keyakinan lokal ditebang. Kain dan peralatan tenun dimusnahkan. Rumah-rumah tradisional, lumbung, simbol-simbol serta segala ekspresi budaya seperti:  nyanyian etnik, sastra lisan, musik dan tarian adat  perlahan-lahan hilang dari kehidupan masyarakat.

Tetua adat sebagai pelaku  dan penjaga tradisi dibikin keder dengan sekian tuduhan (fitnah) yang tak mereka pahami. Mereka tidak tahu siapa yang ada dibalik semua itu. Yang terjadi kemudian adalah masyarakat terbelah antara yang menjalankan tradisi adat dan yang melepaskan diri darinya dengan menjalankan secara murni agama formal yang diwajibkan negara.  Ada yang bingung dan atau menjalankan kedua-duanya. Yang menjalankan kedua-duanya, oleh pemeluk teguh agama formal,  dicemooh sebagai plin-plan dan tak punya sikap. Ketegangan tersebut berlangsung sepanjang puluhan tahun  walau tidak mencuat sampai perseteruan fisik.

Momen pemulihan

Tanggal  5-7 Oktober 2018 adalah hari yang bersejarah bagi masyarakat adat Lewolema. Hari dimana mereka boleh merayakan kembali seni, ritus dan atraksi budaya secara kolektif dalam Festival Nubun Tawa. Atraksi panahan massal (leon tenada) sebagai bagian dari ritus membangun rumah adat, tinju tradisional (sadok nonga) yang dilaksanakan sebagai ekspresi sukacita panen, ritus afiliasi anak ke dalam suku/marga (lodo ana) dengan tari dan nyanyian sepanjang malam digelar kembali di Lewolema.

Masyarakat tumpah ruah di jalan. Menari tanpa alas kaki di siang terik. Berpanas-panasan mengikuti sekian pegelaran. Memikul sejumlah perlengkapan, membawa senter mendaki bukit demi menyaksikan sejumlah pertunjukan di malam hari. Festival menjadi ruang pengakuan dan pemulihan hak ekspresi kultural masyarakat.

Perasaan lepas (tanpa beban intimidasi) menyembulkan energi kegembiraan/sukacita. Energi tersebut  bertaut (:bersinergi). Saling menguatkan. Membangkitkan kembali gairah kreativitas masyarakat  serta memberi  ruang bagi keleluasaan berpikir dan bergerak dalam mewujudkan jati diri kolektif-kulturalnya. Kegembiraan dan keleluasaan  menjadi  angin segar yang  memungkinkan masyarakat dapat kembali melihat modal sosial dan budaya, memungut kembali potongan-potongan sejarah serta pengalaman sosialnya termasuk menyembuhkan diri  dari trauma sejarah kultural masa lalunya.

Relevansi festival

Festival sebagai perayaan dan ritus sosial memperlihatkan bagaimana kecerdasan dan kemampuan masyarakat mengorganisir dirinya. Absennya peristiwa budaya yang bersifat kolektif/massal selama ini menghilangkan juga kemampuan bekerjasama dan menyesuaikan diri satu terhadap yang lainnya. Yang muncul selama beberapa dekade terakhir adalah kebingungan, rasa rendah diri, kecurigaan, rasa benar sendiri dan superioritas diri yang sempit akibat  kehadiran yang satu tidak mengakui yang lain dalam ruang egaliter kebudayaan. Klaim kebenaran satu pihak tidak mengakui kebenaran yang dimiliki oleh pihak lain.

Foto: Dok. Disparbudkab Flotim

Festival Nubun Tawa, dalam bahasa Lamaholot bermakna “lahirnya tunas/generasi baru”,   menjadi perayaan atau pesta masyarakat dimana ruang egaliter kebudayaan diciptakan kembali. Masyarakat adat Lewolema yang hampir setengah abad tidak diakui ruang ekspresi kulturalnya dan dilemahkan nilai serta sendi-sendi dasar yang merawat bangunan hidup kolektifnya, melalui festival,  menemukan kembali kekuatan kebersamaan melalui peristiwa-peristiwa kolektif kesenian yang mempersatukan.

Kesenian mempersatukan dan mengobarkan kegembiraan. Jalan untuk merawat kembali kesehatan jiwa dan daya hidup masyarakat. Bahwa mereka bukan kafir, setan dan pemuja berhala. Pun bukan masyarakat gunung yang bodoh dan  primitif. Mereka adalah masyarakat tradisional yang religius. Yang merawat hidup dengan ritus, mantra, doa, nyanyian dan tarian. Yang memeterai dirinya dengan tato etnik dan motif-motif tenun serta pelbagai asesoris  yang merupakan pertunjuk (wahyu)  dari dunia transenden.

Festival membuat mereka menemukan kembali kenyataan dirinya sebagai pemberani (ata breket), prajurit dan satria perang yang handal di masa lalu.  Atraksi panahan massal (leon tenada) dari desa Lamatou misalnya, memperlihatkan kehebatan memanah yang selama ini tidak diapresiasi sebagai ketrampilan kultural masyarakat.

Festival Nubun Tawa yang lahir atas inisiatif Pemerintah Daerah (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Kabupaten Flores Timur bekerjasama dengan Garasi Performance Institute serta sejumlah komunitas seni di Larantuka  menemukan   tempat dan relevansinya di dalam kehidupan masyarakat. Festival bukan terutama pukauan dan kekaguman pada kerja-kerja  artistik pentas-pentas kesenian melainkan lebih pada mempertautkan masyarakat dalam satu spirit perayaan dimana melaluinya mereka menghimpun kembali tenaga kembangkitan, menemukan jati diri kultural dan berkarya membangun masa depannya.

Tags: BudayaFloreskebudayaanNTTrumah adat
Share228TweetSendShareSend
Previous Post

“Bubuh Nasi”, Olahan Nasi Sisa ala Pedesaan di Bali

Next Post

Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Silvester Petara Hurit

Silvester Petara Hurit

Esais, Pengamat Seni Pertunjukan. Tinggal di Lewotala Flores Timur.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co