10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Swastyastu, Nama Saya Cangak

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
January 29, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Perkenalkan, nama saya Cangak. Entah siapa yang menamakan begitu. Mungkin bapak, mungkin ibu, atau mungkin orang-orang desa dan kota. Siapa saja yang menamai begitu, saya ucapkan terimakasih. Terus terang saya suka.

Di dalam bahasa Bali, Cangak itu dekat pengucapannya dengan cingak yang artinya melihat. Melihat yang dekat dan yang jauh adalah ciri-ciri kebijaksanaan. Saya dinamakan Cangak, mungkin karena diharapkan untuk mencapai kebijaksanaan.

Nama memang adalah salah satu cara untuk menunjukkan pengharapan, selain sebagai pengakuan. Mencapai kebijaksanaan adalah tujuan hidup, setelah bijaksana kedamaian akan dinikmati oleh ia yang bijaksana. Begitu menurut buku-buku agama yang saya baca dan hayati. Benar atau tidak, itu persoalan lain lagi.

Bukan perkara mudah mencapai kebijaksanaan, apalagi dalam hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahunan. Sebab, itu kebijaksanaan hanya lahir dari tempaan pengalaman hidup. Betul sekali, hidup memang pengalaman.

Di dalamnya ada pengalaman suka, duka, sehat dan sakit. Untuk mengerti bagaimana hidup mengajarkan tetralogi suka-duka-sakit-sehat, maka hari ini saya membiarkan perut tetap kosong. Tujuannya hanya satu, untuk belajar pada tubuh, sejujur apakah dia.

Konon tubuh itu jujur, maka dengan kejujurannya dia menyatakan dirinya lapar, lelah, sakit, dingin, hangat, dan sebagainya. Tetapi percayalah, tubuh tidak sejujur itu.

Tubuh bisa bohong! Cara tubuh berbohong, sangat halus dan sulit dideteksi. Lapisan tubuh yang bisa berbohong itu disebut pikiran. Tidaklah aneh, jika banyak orang yang ditipu pikiran-pikiran sendiri.

Agar bisa mengetahui kejujuran pikiran, maka berjanjilah untuk mengujinya. Karena berjanji kepada diri sendiri, dan diucapkan sendiri, maka dijalani juga sendiri. Janji diri itu disebut brata. Itulah hasil berkontemplasi, merenungi hal-hal yang oleh kebanyakan orang dilupakan, terkecuali oleh calon Cangak suci seperti saya.

Mengosongkan perut tanpa makan dan minum, adalah jalan untuk mempelajari, memahami, dan mengalami penderitaan. Penderitaan itu mestilah dilewati untuk mencapai kebahagian. Jadi dengan begini, saya bisa melihat lebih jelas, dari jarak yang tepat segala hal yang dekat dan yang jauh. Apalagi karena saya adalah Cangak.

Cangak nama burung dengan leher yang panjang. Dengan leher super panjang itu, saya bisa lebih jelas melihat hal-hal yang ada di bawah leher, atau pun di atas kepala. Saking panjangnya, leher itu saya rasakan seperti lorong jalan bebas hambatan.

Di tol leher itu, makanan yang ingin masuk tidak perlu membayar. Itu karena saya tidak lagi perlu uang, sudah saya tinggalkan semua itu. Sungguh. Percayalah!

Jangan tanya mengapa, sebab akan banyak yang bisa diceritakan oleh Cangak terpelajar seperti saya ini. Jadi penjelasannya begini, uang adalah godaan yang mengikat. Jika banyak uang, maka segalanya bisa dibeli, termasuk kewarasan.

Itulah sebabnya, karena saya sedang menanjaki dunia kesunyian yang konon seperti gunung, maka godaan uang harus saya tinggalkan. Beratlah jika kaki melangkah dengan beban super berat.

Bagaimana jika terbang? Ya betul, saya memang bisa terbang, tapi tidak akan saya gunakan untuk mempermudah pendakian gunung itu. Mendaki harus dibayar dengan melangkah, bukan terbang, apalagi terbang-terbangan.

Langkah dihitung mulai dari satu, sampai langkah terakhir ketika sampai di puncak gunung. Kurang lebih seperti menghitung penyesalan bahwa semasa hidup telah memakan banyak sekali ikan-ikan tak berdosa hanya karena dalih perut lapar. Betapa beratnya dosa saya itu.

Sekarang, karena saya sudah tercerahkan, jadi tidak lagi ikan-ikan itu akan saya makan. Kapok. Serius.

Oh iya, “Om Swastyastu”, maaf tadi saya lupa memberi salam. Begitu seharusnya seorang yang terpelajar. Om itu kuta mantra untuk menyebut Tuhan.

Swastyastu berasal dari dua kata, swasti dan astu. Swasti artinya selamat, astu artinya semoga. Ya Tuhan Semoga Selamat. Selamat dari segala jenis ikatan, terutama ikatan suka dan duka. Begitulah arti dan maknanya. Berasal dari mana istilah itu? Sudah saya bilang jangan menanyakan hal-hal seperti itu, sebab semuanya sudah saya pahami betul.

Jadi begini, konon kata swastyastu berasal dari bahasa Sanskerta. Ya bahasa Sanskerta. Bahasanya para dewa. Bahasa itu banyak ditulis-tulis pada kitab-kitab suci, agak suci, sampai pada kitab-kitab yang sangat suci.

Meskipun saya tidak terlalu mengerti, tetap saja bukan halangan, sebab banyak buku-buku terjemahan orang-orang pintar yang bisa dibaca dan dipelajari. Tidak akan ada yang curiga dengan penguasaan bahasa, apalagi penguasaan sastra. Yang penting sudah belajar dari penuturan banyak orang. Sekarang tinggal meneduhkan pandangan mata, dan berbicara lembut. Maka tidak akan ada yang curiga. So what?

Menurut orang banyak, kata swastyastu ternyata disebutkan dalam kakawin Bharatayuddha, yang konon digubah oleh Mpu kenamaan bernama Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Mpu sekaliber itu menulis kata swastyastu, maka wajarlah jika salam itu juga diucapkan oleh orang-orang yang ingin disebut terpelajar.

Saya salah satunya yang terpelajar itu. Lihatlah, raut wajah yang tenang ini. Jika tidak percaya, lihatlah baik-baik pada baliho-baliho. Percayalah, tidak ada lagi keserakahan itu. Paruh ini tidak lagi mematuk daging ikan. Leher ini tidak lagi enak menelannya.

Inilah memang saatnya menjadi pertapa, atau bahasa kerennya sanyasin. Menyepi di hutan dan hanya makan buah-buahan juga sayur-sayuran. Daging sudah tidak boleh, apalagi tuak dan arak, itu minuman bhuta kala. Mana mungkin saya minum yang begitu-begitu, meski memang enak, mantap dan memabukkan.

Salam, sekali lagi, nama saya Cangak. Yang dalam cerita Tantri, menjadi pendeta dan berhenti makan ikan. Saya telah belajar tentang dharma, yang tidak saya pahami. Saya adalah burung yang bisa terbang, mengangkut ikan-ikan untuk diselamatkan dari telaga yang mengering. Tidak baik jika ikan-ikan mati begitu saja karena telaga semakin kering, sempit, pengap, dan bau.

Sekaranglah saatnya pergi mencari telaga lain, yang lebih luas, jernih, dan bening. Siapa ikan yang ingin ikut? (T)

Tags: agamacerita rakyatdongengfilsafatrenungan
Share307TweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Mama Leon dan Bhante Uttamo tentang Keyakinan Dhamma

Next Post

Memangnya Enak jadi Pemimpin?

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails
Next Post
Memangnya Enak jadi Pemimpin?

Memangnya Enak jadi Pemimpin?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co