14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lafran Pane, HMI, dan Pahlawan Nasional

Jaswanto by Jaswanto
November 10, 2018
in Esai
Lafran Pane, HMI, dan Pahlawan Nasional

Lafran Pane/wikipedia

5 Februari 1922, di kampung Pangurabaan, Kecamatan Sipirok, yang terletak di kaki gunung Sibualbuali, 38 kilometer ke arah utara dari Padangsidempuan, Ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, anak keenam dari keluarga Sutan Pangurabaan Pane dari istrinya yang pertama, lahirlah seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Lafran Pane.

2 tahun setelah Lafran Pane lahir, sang ibunda meninggal dunia. Lafran Pane mempunya lima saudara kandung, di antaranya adalah: Nyonya Tarib, Sanusi Pane, Arminj Pane (kakak kandung Lafran Pane), Nyonya Bahari Siregar, Nyonya Ali Hanafiyah, Lafran Pane, dan dua orang saudara se ayah yaitu, Nila Kusuma Pane dan Krisna Murti Pane.

Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane, adalah seorang tokoh Partai Indonesia (PARTINDO) di daerah Sumatera Utara. Ia berprofesi sebagai seorang wartawan dan penulis. Selain itu, Sutan Pangurabaan juga seorang pengusaha yang menjabat sebagai Direktur Oto Dinas Pengangkutan (ODP) Sibualbuali yang berdiri tahun 1937 berpusat di kota Sipirok, begitu yang tertulis dalam tulisan Hariqo Wibawa Satria.

Agussalim Sitompul, dalam buku Sejarah Perjuangan Himpunan menuliskan bahwa, Sutan Pangurabaan Pane juga termasuk salah seorang pendiri Muhammadiyah di Sipirok pada 1921. Sedangkan kakek dari Lafran Pane adalah seorang ulama bernama Syekh Badurrahman. Karena tidak mengalami kasih sayang ibu kandung sebagaimana mestinya dan tidak puas dengan asuhan ibu tiri, akhirnya Lafran Pane mengalami hidup penuh derita yang mengakibatkan dirinya mudah dihinggapi penyakit rasa rendah diri lalu menimbulkan suatu kompensasi berupa kenakalan yang luar biasa. Jalan pikirnya susah dimengerti termasuk oleh ayahnya sendiri.

Sebelum Lafran Pane memasuki bangku sekolah atau pesantren secara formal, terlebih dahulu jika keagamaannya sudah diisi dengan belajar “sifat dua puluh”, seperti : Wujud, Qidam, Baqo, Mukholafatuhu Lilhawadis, dst, yang diiringi dengan artinya. Lafrran Pane juga belajar yang dalam bahasa Tapanuli disebut “Alif-Alif”, yakni mempeljari membaca huruf-huruf abjad Alquran, sebagai jenjang untuk dapat membaca Alquran dengan tertib, teratur serta sempurna.

Kedua macam pendidikan atau pelajaran ini diperolehnya dari seorang guru terkenal di kampung Pangurabaan, namanya almarhum Malim Mahasan. Berkat didikan almarhum Malim Mahasan tersebut, Lafran yang masih kecil itu sudah terisi jiwa keagamaannya, dan inilah yang membekali hidupnya secara mendasar dalam masalah bimbingan keagamaan yang sangat prinsipil dalam hidup dan kehidupan seorang manusia.

Situasi perang menyebabkan pendidikan Lafran Pane tidak ada garis lurus yang menjurus. Pendidikan di bangku sekolah dimulai di Pesantren Muhammadiyah (kini namanya Pesantren KH. Ahmad Dahlan) Sipirok, kemudian melanjutkan ke Sekolah Dasar Desa 3 (tiga) tahun, semuanya tidak tamat, lalu pindah ke Sibolga, Ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah, 126 kilometer dari Sipirok.

Di kota ini Lafran masuk sekolah HIS Muhammadiyah. Setelah itu ia kembali lagi ke kampung halamannya Sipirok, masuk Ibtidaiyyah diteruskan ke Wustha. Dari Wustha pindah ke Taman Antara Taman Siswa Sipirok, selanjutnya pindah ke Taman Antara dan Taman Dewasa di Medan.

Pendidikan Lafran Pane memang tidak baik-baik saja. Di Deli, garis kehidupannya semakin merosot, belum tamat dari Taman Siswa sudah dikeluarkan dari sekolah, lantas meninggalkan rumah tempat tinggalnya. Ia pergi ke rumah kakak kandungnya, Nyonya dr. Tarip, dan menjadi petualang di sepanjang jalanan di kota Medan. Tidur tidak menentu, kadang-kadang sudah menggeletak di kaki lima, di emperan toko, sambil menjadi penjual karcis bioskop, main kartu, menjual es lilin sebagai penyambung hidup.

Pada tahun 1937, atas permintaan abang kandungnya Armijn Pane dan Sanusi Pane, Lafran pindah ke Batavia. Di kota yang dulu bernama Sunda Kelapa yang kemudian dirubah oleh Fatahillah menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527 itu—yang oleh pemerintah Belanda diubah menjadi Batavia—Lafran memulai sekolah di kelas 7 (tujuh) HIS Muhammadiyah, menyambung ke Mulo Muhammadiyah, ke AMS Muhammadiyah, kemudian ke Taman Dewasa Raya Jakarta sampai pecah Perang Dunia II.

Desember 1945, ibukota Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Tidak lama berselang, pada tanggal 4 Januari 1946 Presiden dan Wakil Presiden pindah ke Yogyakarta, lantas menjadi ibukota Republik Indonesia. Karena sebab itulah, Sekolah Tinggi Islam (STI) yang semula ada di Jakarta, juga ikut pindah ke Yogyakarta.

Supardi (dkk), dalam buku berjudul Setengah Abad UII: Sejarah Perkembangan Universitas Islam Indonesia, STI sendiri didirikan di Jakarta pada 27 Rajab 1364 H, atau bertepaatan pada tanggal 8 Juli 1945. Sedangkan di Yogyakarta STI secara resmi dibuka pada 10 April 1946 dengan beberapa fakultas di antaranta fakultas Agama, Hukum, Pendidikan dan Ekonomi. Pada tanggal 10 Maret 1948 STI dirubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) sampai sekarang.

Kepindahan STI ke Yogyakarta, berdatanganlah para mahasiswa ke Yogyakarta untuk meneruskan kuliah, salah seorang di antaranya adalah Lafran Pane yang usianya pada waktu itu sudah menginjak 23 tahun. Selain kuliah, untuk memenuhi makan sehar-hari, ia bekerja sebagai Pegawai Negeri Departemen Sosial.

Di STI, perkembangan wawasan intelektual Lafran Pane semakin berkembang. Dosen-dosennya, KH. Abdul Kahar Muzakir (anggota panitia sembilan), Hussein Yahya (pernah menjadi Dekan Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga—sekarang UIN), H.M Rasyidi (Menteri Agama Pertama dalam sejarah republik Indonesia). Lafran Pane sangat tekun membaca berbagai buku tentang agama Islam, sehingga apa yang dipikirkannya sebelum masa kesadarannya, kini telah ia dapatkan dengan pengamatan dan penyelidikan sendiri. Ia bertambah yakin dan mempunyai pendiriannya juga semakin teguh, bahwa Islam merupakan pedoman hidup yang sempurna.

Semasa berkuliah di STI, Lafran Pene menjadi ketua III Senat Mahasiwa STI di samping Janamar Azam dan Amin Syakhir. Di PMY Lafran Pane juga ikut sebagai pengurus mewakili mahasiswa STI. Tidak mengherankan apabila Lafran Pane banyak bergaul dengan mahasiswa dan mengerti seluk-beluk kehidupan mereka sehari-hari.

Pada tanggal 5 Februari 1947, Lafran Pane memprakarsai dan mendirikan organisasi mahasiswa Islam yang dikenal dengan nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan yang berakhir dengan kegagalan. Lafran Pane mengadakan rapat tanpa undangan, yaitu dengan mengadakan pertemuan secara mendadak yang mempergunakan jam kuliah Tafsir. Ketika itu hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan  dengan 5 Februari 1947, disalah satu ruangan kuliah STI di Jalan Setiodiningratan (sekarang Panembahan Senopati), masuklah Lafran Pane yang dalam prakatanya dalam memimpin rapat antara lain mengatakan: “Hari ini adalah pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena persiapan yang diperlukan sudah beres. Yang mau menerima HMI sajalah yang diajak untuk mendirikan HMI, dan yang menentang biarlah terus menentang, toh tanpa mereka organisasi ini bisa berdiri dan berjalan.”

***

Rencana pendirian HMI oleh Lafran Pane dimulai dengan mengumpulkan sejumlah pemuda di daerah Kauman Yogyakarta—hal ini diceritakan oleh Tabrani Rab atas cerita dari Lafran Pane sendiri saat makan pagi di Inderapura Hotel—, kemudian Lafran Pane mulai membicarakan gagasannya tentang pendirian HMI pada November 1946 dengan mengundang para mahasiswa Islam yang ada di Yogyakarta, baik yang ada di Sekolah Tinggi Islam (STI), Sekolah Teknik Tinggi (STT) maupun yang di Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada untuk menghadiri rapat, guna membicarakan maksud pendirian HMI.

Rapat ini dihadiri kurang lebih 30 orang mahasiswa, di antaranya terdapat pengurus PMY dan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Rapat yang sudah berulang kali dilaksanakan belum membawa hasil, karena ditentang oleh PMY—pengurus PMY didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa yang berorientasi paham sosialis, di antaranya Milono Ahmad dan Yosef Simanjutan—dan GPII, bahkan tidak sedikit dari mereka yang tidak hanya menentang, tapi juga mengejek pemikiran Lafran Pane.

Namun demikian, bagaimanapun besarnya tantangan, ejekan, kritikan, baik yang datang dari luar Islam maupun dari dalam, semakin besar juga keinginan Lafran Pane untuk mendirikan HMI. Lafran tidak pantang mundur. Tidak patah semangat. Ia semakin bertambah semangat ketika beberapa mahasiswa STI mendukung ide tersebut.

Dalam buku Sejarah Perjuangan HMI, karya Agussalim Sitompul menuliskan, sebelum menyampaikan pemikirannya kepada rekan-rekan mahasiswa, Lafran Pane mengadakan tukar pikira (diskusi) dengan Prof. Abdul Kahar Muzakkir (Rektor STI saat itu). Prof. Kahar setuju dengan pertimbangan organisasi yang akan didirikan Lafran Pane tidak terlalu mencampuri urusan polik. Peringatan Prof. Kahar cukup beralasan karena situasi politik yang tidak menentu saat itu, apalagi STI secara kelembagaan belum kokoh.

Lafran semakin bersemangat untuk mewujudkan mimpinya, apalagi gagasan tersebut sudah terlanjur tersebar di kalangan mahasiswa STI. Lafran segera menyiapkan Rencana Anggaran Dasar dan nama organisasi yang akan ditawarkan, yakni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Tekad itu semakin kuat. Mulailah ia mencari mahasiswa di luar STI yang mendukung gagasan tersebut. Lafran sering duduk di serambi masjid, terutama di serambi masjid Kauman menjelang shalat jumat. Bilaman ia bertemu dengan mahasiswa yang akan shalat, maka dengan segera Lafran memperkenalkan diri seraya mengajak masuk ke dalam organisasi yang akan dibentuk.

Lafran mengenal hampir seluruh mahasiswa STI, karena di STI Lafran menjabat sebagai Ketua III Senat Mahasiswa STI urusan kemahasiswaan, di samping itu Lafran juga menjadi pengurus PMY seksi STI bersama Amin Syahri dan Suyono.

Setelah mengalami berbagai macam hambatan-hambatan yang cukup berat selama lebih kurang 3 bulan, detik-detik kelahiran organisasi mahasiswa Islam akhirnya datang juga. Lafran Pane berijtihad mencari jalan keluar. Lafran mengatakan: Siapa yang mau menerima berdirinya organisasi mahasiswa Islam ini, itu sajalah yang diajak, dan yang tidak setuju biarlah mereka terus menentang, toh tanpa mereka organisasi itu akan bisa berjalan.

Pada saat itu, adalah hari-hari biasa mahasiswa STI datang sebagaimana biasanya untuk mengikuti kuliah, tanpa diduga dan memang sudah takdir Tuhan, mahasiswa-mahasiswa yang selama ini menentang keras kelahiran STI tidak hadir mengikuti perkuliahan. Pada saat kuliah Tafsir dari Bapak Hussein Yahya, Lafran kemudian meminta izin kepada beliau, mengetahui Lafran selaku Ketua III Senat mahasiswa STI, Hussein Yahya memberikan izin walau beliau sendiri belum mengetahui secara pasti maksud dari pertemuan tersebut, namun beliau tetap berkenan untuk menyaksikan persitiwa tersebut.

Maka dengan tekad yang kuat dan persiapan yang matang, pada hari Rabu Pon 1878, 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947, pukul 16.00 WIB, bertempat di salah satu ruangan kuliah STI, Jalan Setyodiningratan (sekarang Jln Pangeran Senopati No.30), masuklah Lafran Pane, langsung berdiri di depan kelas dan memimpin rapat, dalam prakatanya Lafran mengatakan: Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Islam, karena semua persiapan dan perlengkapan sudah beres.

Begitulah kilas HMI dan Lafran Pane. Terkait dengan latar belakang berdirinya HMI, lain kali akan saya tuliskan.

***

Presiden Joko Widodo, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017, atas jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional kepada Ayahanda Lafran Pane.

Tidak berlebihan saya pikir, ketika pemerintah Indonesia menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional kepada Lafran Pane. Atas jasa-jasanya, pengabdiannya kepada negara ini, sangat pantas Lafran Pane menjadi Pahlawan Nasional.

Saya adalah salah satu mahasiswa yang begitu mengidolakan sosok sederhana dan bersahaja itu. Kebersahajaan itu dapat dibuktikan salah satunya pada Kongres XI HMI di Bogor pada 1974, Lafran menolak untuk dikatakan sebagai satu-satunya pendidiri HMI karena ada beberapa nama lain yang turut andil. Misalnya, Kartono Zarkasy, Dahlan Husein, Siti Zainah, Maisaroh Hilal, Soewali, Yusdi Gozali, dll.

Siti Hadiroh Ahmad, salah satu kerabat Ayahanda Lafran Pane menurutkan, semasa hidupnya Lafran dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja. Hadiroh merupakan teman dekat istri pertama Lafran yang bernama Dewi. Ketika Dewi meninggal dunia, Lafran memanggil Hadiroh. Lafran memberi Hadiroh yang aktif di organisasi Aisyiah, harta peninggalan istrinya berupa pakaian, perhiasan, tas dan Tabanas senilai Rp. 1,1 juta.

Bukti kesederhanaan Lafran Pane lainnya adalah selalu memakai bus kota sebagai alat transportasi. Pernah, ia menunggu bus kota dan ditawari temannya untuk membonceng sepeda motor, Lafran menolak dan memilih untuk tetap menggunakan transfortasi umum.

Terkait jasa-jasa beliau kepada negara ini, silakan Anda mencarinya sendiri, jujur, pada saat saya menulis tulisan ini, hati saya mengharu-biru. Jari-jari saya gemetar. Bahkan saya tidak bisa menuliskan kapan beliau meninggal dunia. Sebab bagi saya, beliau masih tetap hidup dalam sanubari kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam di seluruh Indonesia. Begitu saja. (T)

Tags: HMIpahlawantokoh
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Profil 11 Pahlawan dalam 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah

Next Post

Erupsi Informasi dan Literasi Digital – Catatan dari Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2018

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Erupsi Informasi dan Literasi Digital – Catatan dari Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2018

Erupsi Informasi dan Literasi Digital – Catatan dari Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co