6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baper

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 16, 2018
in Esai
Baper

KOPLAK  mengusap peluh di dahinya. Melirik jam tangan di tangan kirinya. Berkali-kali dia melirik jam tangan itu sambil berpikir dan merengut. Ekspresinya terlihat seperti mengandung beban berat.

***

“Bape,karena Bape sudah menjadi ayah terbaik di seluruh dunia, Tiang, ingin sekali memberi hadiah istimewa untuk Bape? Bape boleh pilih. Bape mau hadiah apa?” Koplak terbelalak. Hadiah? Hadiah untuk apa? Dalam rangka apa? Untuk peristiwa apa? Baginya selama tahun 2017 sampai bulan Pebruari 2018 , Koplak merasa belum memiliki prestasi yang patut dibanggakan. Juga tidak ada hal-hal atau pun keputusanya yang cergas, lagas, dan bernas. Lalu, untuk apa anak perempuan semata wayangnya, Ni Luh Putu Kemitir ingin memberikan hadiah.

“Maksudmu, apa?” Koplak menatap Kemitir serius, sambil mengangumi kecantikannya, dan berharap jika waktunya telah tiba, Kemitir akan menemukan seorang lelaki yang diharapkan bisa menjaga Kemitir penuh cinta. Sama seperti cinta Koplak untuk Kemitir. Tulus, lurus.

“Kamu merasa tulus memberi cinta untuk anak perempuanmu?” tanya Pan Balung suatu senja.

“Cintaku pada anak perempuanku tidak tergantikan.”

“Tetapi kamu pamrih. Persis seperti orang-orang politik itu, kerjanya menebar janji. Mereka juga selalu membawa ketulusan, kedamaikan, cinta—kasih yang mereka tebarkan bak seorang dewa yang benar-benar sempurna. Turun ke pasar becek. Makan di warung kaki lima yang biasanya diperuntukkan untuk rakyat. Pulang dari warung dan makan di kaki lima yang hiruk-pikuk di pasar dijamin mereka pasti minum obat mencret.” Pan Balung terbahak-bahak.

“Jangan menghina seperti itu. Kemarin aku ikut rapat di kantor kecamatan. Kata Pak Camat, sebagai aparat pemerintah mulai saat ini entah sampai kapan, kami para Kades disuruh hati-hati berbicara. Hati-hati menyebar info di media sosial. Karena akan ada penerapan pidana terhadap pelaku penghinaan penyelenggara negara?”

“Hah?! Serius?”

“Serius. Pak Camat hanya memberi pengarahan seperti itu. Aturannya belum jelas.Tetapi aparat desa diminta hati-hati.”

“Waduh! Ini berarti kemunduran, Koplak?”

“Kemunduran?”

“Ya.“ Pan Balung berkata serius sambil menatap mata Koplak serius. Pan Balung terlihat sangat serius, Koplak terdiam. Matanya memandang Pan Balung penuh tanda tanya. Dahi Pan Balung berkerut keras. Sampai terlihat dengan jelas potret usia Pan Balung. Tidak biasanya Pan Balung berkerut seperti itu. Biasanya hal-hal remeh selalu jadi bahan tertawaannya. Kali ini Pan Balung serius. Koplak merasa ini pertanda ada sesuatu yang tidak beres merembes sangat dalam ke palung jiwa dan pikirannya.

“Maksudmu, apa? Tidak biasanya kau serius seperti ini. Sepertinya negara dalam kondisi bencana berat saja. Kau jangan menambah ketakutan dan teror.” Koplak berkata datar sambil menenangkan pikiran dan hatinya sendiri.

Pan Balung bagi Koplak adalah penunjuk arah selama dia ikut berpolitik. Walau pun cuma sebagai Kades di desa terpencil yang tidak pernah terjamah koran lokal, apalagi koran nasional. Kalau istilah orang politik tingkat tinggi Pan Balung ibarat penasehat yang mengingatkan Koplak pada Presiden Joko Widodo  yang sejak jadi presiden secara resmi didampingi sembilan orang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Nah, Pan Balung ini namanya Wantimdes spesial, karena Koplak hanya memiliki satu Wantimdes. Kalau Watimpres dibayar, Watimdes “ngayah” dan Pan Balung juga tidak pernah protes tentang jabatan tidak resmi yang disandangnya. Pan Balung juga tidak menuntut eksis atau dilantik dan masuk TV atau koran lokal. Pan Balung melalukannya dengan tulus, ikhlas dan riang. Demi persaabatan demi kemajuan desa Sawut, desa tempat lahir dan kelak kematian Pan Balung.

“Balung, apa yang kau tangkap dari rapat dengan Pak Camat?” Koplak ikut mengeryitkan dahinya.

“Ini berarti negara kita makin mundur Koplak. Jika penerapan pidana itu berlaku. Demokrasi yang telah kita perjuangkan sejak 1998, tidak berarti. omong kosong, mimpi siang bolong. Kebebasan menyampikan aspirasi itu jalan hidup bagi kemajuan sebuah negara, jalan hidup berdemokrasi seharusnya dijamin negara. Harusnya di depan hukum setiap orang memiliki hak sama, baik warga biasa, presiden maupun anggota DPR. Jika pasal penghinaan terhadap penyelenggara negara diterapkan, hal itu bisa mengancam demokrasi karena hal yang harus diingat adalah pada hakikatnya setiap orang di depan hukum sama,”

Koplak terdiam.

Pan Balung sarjana hukum di sebuah universitas ternama di negera ini berkata pelan dan hati-hati. Berharap Koplak paham. Pan Balung berusaha menata diksi bahasa Indonesia sesederhana mungkin, semudah mungkin biar bisa diserap Koplak, “Demokrasi yang sehat itu membutuhkan kritik dan aspirasi masyarakat untuk mengontrol kekuasaan. Kalau penyelenggara negara tidak mau dikritik, siapa yang akan mengingatkan mereka? Siapa yang akan mencaci kerja dan kekuasaan mereka? Karena kekuasaan cenderung membuat seseorang berprilaku korup. Kau bisa hitung, berapa ratus penyelenggara negara yang ditangkap KPK. Bayangkan kebayangan OTT, operasi tangkap tangan. Memalukan! Apa jadinya negara ini kalau orang-orang seperti kita tidak boleh bersuara? Sadar nggak sih mereka, sesungguhnya mereka ada karena kita, rakyat! Mereka bisa dapat fasilitas karena uang dari kita, rakyat!” Pan Balung menggelengkan kepalanya.

“Ya, aku paham.” Koplak berkata serius.

“Dari tadi kau melirik jam terus. Apa kau ada acara? Atau menunggu seseorang?” Pan Balung menatap Koplak. Koplak terdiam. Pan Balung tersenyum,“Jam tanganmu bagus, pasti hadiah dari orang spesial, ya? Sejak kematian istrimu, Ni Luh Wayan Langir. Aku tidak pernah mendengar kau dekat dengan perempuan. Baguslah kalau kau mulai mencoba mencari istri lagi. Minimal untuk teman hidupmu jika kau tua.” Pan Balung tersenyum jenaka lalu pamit pulang, sambil terus menggoda Koplak.

Koplak  menarik nafas. Ingat kata-kata Kemitir.

“Bape harus pakai hadiah ini. Ini jam mahal. Bape jangan baper?”

“Baper?”

“Iya bawa perasaan. Itu uang halal, Kemitir tidak korupsi, tidak juga jual diri.”

“Berat sekali jam ini?”

“Jam mahal, Bape. Buatan luar negeri.” Kemitir tersenyum sambil memeluk ayahnya dan membisikkan harga jam tangan itu. Hampir saja jantung Koplak keluar dari rangkanya. Ada rasa tidak enak memakai jam tangan seharga jutaan. Koplak tidak habis pikir bagaimana nurani orang korupsi itu ya? Apakah mereka tidak enak hati ketika mencuri duit rakyat?

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu dipulangkan pada Kemitir, bocah perempuan yang sudah menjelma jadi gadis cantik itu berkata lugas.

“Bape terlalu baper. Makanya tidak kaya-kaya.” Kemitir tertawa santai Koplak mendelik sampai melorot kaca mata minusnya. Kemitir pun kembali berteriak, “Selamat hari valentine, Bape tercinta. Selamat merayakan imlek juga ya?” Kemitir pun berlalu. Hari Valentine? Memangnya dirinya abg? Koplak membiarkan Kemitir berlalu sambil melirik jam di tangannya. Baper? Koplak benar-benar merasa baper akut! (T)

Denpasar, 10/2/2018

 

Tags: Anti KorupsiKorupsiPolitik
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

First Part of “PlayPlay: Charcoal For Children 2017/2018” was a Success

Next Post

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Ibu dari seorang anak lelaki. Yang mencoba memotret beragam kondisi sosial, budaya, dan politik di Indonesia dengan cara karikatural. Ala orang "Bali".

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Poster  “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co