12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ah, Kartu Kuning Tidak Kreatif, Cobalah Acungkan Kartu-kartu Ini…

Julio Saputra by Julio Saputra
February 9, 2018
in Esai
Ah, Kartu Kuning Tidak Kreatif, Cobalah Acungkan Kartu-kartu Ini…

Ilustrasi: Juli Sastrawan

HARUS saya akui bahwa Zaadit Taqwa, ketua BEM UI adalah mahasiswa dengan keberanian yang sangat tinggi dan luar biasa. Bagaimana tidak? Ia tanpa rasa takut mengacungkan kartu kuning kepada Presiden RI Joko Widodo tepat setelah Presiden memberikan pidato dalam acara Dies Natalis ke-68 UI di Balairung UI, Depok, pada Jumat, 2 Februari 2018.

Kartu kuning yang diberikan katanya sebagai cara menyampaikan tiga tuntutan, salah satunya adalah tentang kasus gizi buruk di Ashmat, Papua. Pun sebagai peringatan kepada pemerintah bahwa masih banyak hal yang belum diselesaikan dan masih banyak PR pemerintah.

Ini benar-benar keberanian yang sangat pantas diancungi jempol. Bayangkan saja, Zaadit meniup peluit kepada Presiden Jokowi yang di belakangnya berdiri rektor dan para dosen UI. Dibandingkan dengan Zaadit, tentu saya tidak ada apa-apanya. Saya bertatap dengan dosen saja takut, apalagi meniup peluit sambil mengacungkan kartu kuning ke Presiden. Saya ini payah.

Tentu aksi nekat (bagi orang penakut macam saya, ini bisa dikatakan nekat) menuai banyak reaksi dari netizen. Tidak sedikit pula dari kalangan menteri dan pejabat lain yang memberikan komentar, baik itu pro ataupun kontra.

Bahkan Rabu kemarin, program TV Mata Najwa yang dipandu host cantik Najwa Shihab membuat episode khusus membicarakan tentang kasus ini dengan mengundang Zaadit Taqwa sendiri bersama ketua BEM dari 4 universitas ternama lainnya di Indonesia, juga kepala staf kepresidenan RI, Menteri Risetdikti, dan anggota DPR.

Sejak episode “Kartu Kuning Jokowi” tayang Rabu kemarin, banyak teman facebook saya yang mulai kembali memenuhi layar kaca dan beranda saya membicarakan aksi kartu kuning ini dengan Zaadit Taqwa sebagai aktor utama. Ada yang mendukung penuh apa yang dilakukan Zaadit. Ada yang mengecam. Ada yang menganggap biasa saja, seolah-olah tak ada apa-apa.

Ada yang mengganggap aksi ini sebagai aksi yang tidak pantas untuk dilakukan. Ada yang mengganggap wajar. Ada pula yang mengganggap kreatif. Kalau menurut saya secara pribadi, aksi Zaadit malah tidak kreatif sama sekali.

Kita memang sudah tahu bersama kalau kartu kuning dalam permainan sepak bola berarti peringatan. Tapi bukankah kartu kuning sudah biasa di mata kita? Bukankah sudah sangat sering kita melihat kartu kuning? Bukankah kartu kuning terlalu simple?

Lalu di mana letak kreatifnya, Bro? Peluit sama kartu kuning doang mah tidak kreatif sama sekali namanya. Nah, sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menegaskan bahwa saya di sini tidak memihak siapa-siapa. Tidak membela Zaadit, juga tidak membela Presiden. Sah-sah saja toh bersuara atau melakukan aksi bagi saya.

Namun saya tidak mau lagi kalau ada yang memakai cara yang sama dalam menunjukan protes atau peringatan kepada siapapun itu. Daripada memakai kartu kuning, beberapa kartu berikut rasanya lebih pas dalam menyampaikan protes atau peringatan, entah protes kepada dosen yang tak pernah datang ke kelas kepada pegawai TU yang selalu pulang lebih awal dan datang terlambat ketika jam istirahat usai, atau kepada siapapun.

Kartu Yu-Gi-Oh

Nah, bagi kalian yang kids jaman old, pasti sangat mengenal kartu Yu-Gi-Oh. Mengacungkan kartu Yu-Gi-Oh kepada seseorang tentu saja merupakan cara yang lebih kreatif dari kartu kuning yang sudah sering digunakan dalam permainan sepak bola itu.

Oh iya, buat kids jaman now overdosis micin yang tak tahu sama sekali, kartu Yu-Gi-Oh merupakan duel monster yang menggunakan kartu-kartu dengan moster dan kondisi atau efek yang unik dan tersendiri. Kalian yang mau protes bisa mencoba mengacungkan salah satu kartu Yu-Gi-Oh ini, Bro. Tak usah ditimpali dengan peluit karena tidak cocok dengan kartu Yu-Gi-Oh.

Semakin kuat kartu monster yang kalian acungkan, maka semakin besar pula peringatannya. Semakin tinggi level monster dalam kartu yang kalian acungkan, maka semakin tinggi pula tuntutan kalian. Sampai sekarang kartu yang sudah muncul dalam serial “Yu-Gi-Oh: Duel Monster” sudah tak terhitung lagi jumlahnya, mungkin ratusan, mungkin juga ribuan.

Kalian bisa pilih sesuai kebutuhan kalian. Bahkan, ada juga kartu yang jika dikeluarkan langsung membuat penggunanya keluar sebagai pemenang tidak peduli bagaimanapun kondisi dan situasi di arena duel. Hebat bukan? Seharusnya yang bertarung di pilkada Jakarta kemarin menggunakan cara ini juga. Menang bukan lagi perkara susah dengan kartu Yu-Gi-Oh.

Nah. Jika ada yang mengatakan bahwa cara ini konyol, kekenakan-kanakan, ketinggalan jaman atau cara yang cukup bodoh, tak usah dipikirkan, mereka tidak kreatif. Biarkan saja anjing menggongong.

Kartu Digimon

Digimon (Digital Monster) juga tak kalah popular di kalangan kids jaman old. Seri produk fiksi ana-anak buatan Jepang yang pertama kali dirilis tahun 1997 ini bahkan sudah dibuat dalam bentuk anime, manga, aksesoris, permainan kartu, game, dan lain-lain.

Kartu Digimon ini tentu bisa juga digunakan sebagai kartu peringatan bagi siapapun. Masih sama seperti kartu Yu-Gi-Oh di atas, setiap kartu memiliki monster dengan efek atau kemampuan masing-masing. Ada yang kuat. Ada yang kuat sekali. Ada juga yang tingkat Dewa. Tapi Digimon tentu terasa lebih dekat bagi orang-orang karena lebih populer dibandingkan dengan kartu Yu-Gi-Oh.

Saya dulu sampai menonton versi kedua, versi ketiga dan seterusnya. Jujur saja, Digimon lumayan menemani masa-masa kids jaman old macam saya ini. Seandainya Zaadit menggunakan kartu ini dan mengacungkannya kepada Pak Jokowi, bukan tidak mungkin beliau akan tidak paham, kemudian tersenyum sambil tertawa. Sudah tentu dalam hati Pak Jokowi akan bergumam, “Kreatif betul anak ini.” Namun sepertinya rektor dan para dosen UI tetap akan bergumam “Berani sekali orang ini”. Hahahaha.

Kartu Plant vz Zombie

Masih berhubungan dengan kartu, kali ini kartu yang saya sarankan sebagai cara kreatif memberikan peringatan adalah kartu Plant vs Zombie. Tentu banyak di antara kalian yang sudah pernah main game ini, tak terkecuali Zaadit. Bagi kalian yang belum pernah main game satu ini, cobalah segera. Sumpah gamenya seru sekali. Saya sampai sekarang masih memainkannya, meski jarang-jarang karena kesibukan, sesuatu dan lain hal.

Game ini benar-benar sesuatu yang kreatif dan imajinatif. Tak heran pemainnya akan menjadi kecanduan. Para pemain harus menggunakan tanaman untuk menghadapi gerilya zombie yang menyerang pemilik rumah. Sebelum memulai permainan, para pemain sudah disiapka dengan kartu yang berisikan tanaman-tanaman yang juga dengan kemampuan tertentu.

Banyak tanaman yang bisa menyerang serarah dengan baris tempat mereka ditanam, tapi ada juga yang menyerang hingga 3 baris sekaligus. Ada juga tanaman yang menyerang zombie di baris manapun ia berada. Untuk dapat menggunakan kartu tanaman tersebut, para pemain harus membayar dengan matahari yang dikumpulkan.

Harganya pun tentu beragam. Semakin kuat tanaman yang akan ditanam, semakin banyak pula matahari yang harus dibayar. Kartu-kartu tanaman baru selalu muncul di akhir babak. Oh iya, tanamannya pun ada berbagai fungsinya. Ada yang menyerang. Ada yang bertahan.

Nah, kalian bisa menggunakan kartu ini sebagai sebuah peringatan, dan tentu saja yang mendapat peringatan tidak akan tersinggung karena tanaman-tanaman dalam kartu tersebut menurut saya lumayan menggemaskan. Hahahah. Kreatif? Sudah tentu.

Kartu Kamen Raider Ryuki

Siapa di sini yang tak mengenal Kamen Rider atau Kesatria Bertopeng dari Jepang? Tentu kids jaman now overdosis micin tidak tahu. Kamen rider yang terkenal dengan kostumnya yang merupakan bentuk modifikasi dari serangga lumayan mencuri perhatian anak-anak pada masanya. Meski kebanyakan bentuk adalah modifikasi dari serangga, namun banyak juga yang mengambil bentuk lain, Kamen Rider Ryuki misalnya. Kata ‘Ryuki’ sendiri berarti ‘Kesatria Naga” dan bentuk yang diambil memang modfikasi dari seekor naga.

Kamen Rider Ryuki merupakan seri Kamen Rider yang pertama kali menggunkaan kartu sebagai senjata pamungkas. Kartu tersebut digunakan untuk men-summon senjata-senjata khusus sesuai dengan monster yang mereka miliki. Bahkan kartu juga digunakan agar dapat mengeluarkan kemampuan penghabisan akhir.

Nah, ini juga dapat menjadi alternative dalam memberikan peringatan kepada siapapun. Cukup dengan mengacungkan kartu Kamen Raider Ryuki dan jika si penerima peringatan tidak menegrti apa maksud dari kartu itu. Mulailah menjelaskan secara detail dan santai sambil mengutarakan tuntutan atau apapun yang ingin disampaikan.

Itulah beberapa alternatif yang lebih kreatif dari sekedar kartu kuning. Tentu cara-cara di atas dapat dicoba jika kalian benar-benar ingin memberikan peringatan atau tuntutan kepada seseorang. Sekali lagi jika ada yang mengganggap ini konyol, bodoh, tidak berpendidikan, dan lain sebagainya, abaikan saja. Kalian adalah orang yang kreatif dan tidak biasa. Ayo dicoba. (T)

Tags: gamePendidikanpermainan
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Kartu Kuning dan “Copy” Sana “Paste” Sini

Next Post

Film “Sekala-Niskala” Pulang ke Tanah Bali dan Retrospektif Kamila Andini

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Film “Sekala-Niskala” Pulang ke Tanah Bali dan Retrospektif Kamila Andini

Film “Sekala-Niskala” Pulang ke Tanah Bali dan Retrospektif Kamila Andini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co