14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ah, Kartu Kuning Tidak Kreatif, Cobalah Acungkan Kartu-kartu Ini…

Julio Saputra by Julio Saputra
February 9, 2018
in Esai
Ah, Kartu Kuning Tidak Kreatif, Cobalah Acungkan Kartu-kartu Ini…

Ilustrasi: Juli Sastrawan

HARUS saya akui bahwa Zaadit Taqwa, ketua BEM UI adalah mahasiswa dengan keberanian yang sangat tinggi dan luar biasa. Bagaimana tidak? Ia tanpa rasa takut mengacungkan kartu kuning kepada Presiden RI Joko Widodo tepat setelah Presiden memberikan pidato dalam acara Dies Natalis ke-68 UI di Balairung UI, Depok, pada Jumat, 2 Februari 2018.

Kartu kuning yang diberikan katanya sebagai cara menyampaikan tiga tuntutan, salah satunya adalah tentang kasus gizi buruk di Ashmat, Papua. Pun sebagai peringatan kepada pemerintah bahwa masih banyak hal yang belum diselesaikan dan masih banyak PR pemerintah.

Ini benar-benar keberanian yang sangat pantas diancungi jempol. Bayangkan saja, Zaadit meniup peluit kepada Presiden Jokowi yang di belakangnya berdiri rektor dan para dosen UI. Dibandingkan dengan Zaadit, tentu saya tidak ada apa-apanya. Saya bertatap dengan dosen saja takut, apalagi meniup peluit sambil mengacungkan kartu kuning ke Presiden. Saya ini payah.

Tentu aksi nekat (bagi orang penakut macam saya, ini bisa dikatakan nekat) menuai banyak reaksi dari netizen. Tidak sedikit pula dari kalangan menteri dan pejabat lain yang memberikan komentar, baik itu pro ataupun kontra.

Bahkan Rabu kemarin, program TV Mata Najwa yang dipandu host cantik Najwa Shihab membuat episode khusus membicarakan tentang kasus ini dengan mengundang Zaadit Taqwa sendiri bersama ketua BEM dari 4 universitas ternama lainnya di Indonesia, juga kepala staf kepresidenan RI, Menteri Risetdikti, dan anggota DPR.

Sejak episode “Kartu Kuning Jokowi” tayang Rabu kemarin, banyak teman facebook saya yang mulai kembali memenuhi layar kaca dan beranda saya membicarakan aksi kartu kuning ini dengan Zaadit Taqwa sebagai aktor utama. Ada yang mendukung penuh apa yang dilakukan Zaadit. Ada yang mengecam. Ada yang menganggap biasa saja, seolah-olah tak ada apa-apa.

Ada yang mengganggap aksi ini sebagai aksi yang tidak pantas untuk dilakukan. Ada yang mengganggap wajar. Ada pula yang mengganggap kreatif. Kalau menurut saya secara pribadi, aksi Zaadit malah tidak kreatif sama sekali.

Kita memang sudah tahu bersama kalau kartu kuning dalam permainan sepak bola berarti peringatan. Tapi bukankah kartu kuning sudah biasa di mata kita? Bukankah sudah sangat sering kita melihat kartu kuning? Bukankah kartu kuning terlalu simple?

Lalu di mana letak kreatifnya, Bro? Peluit sama kartu kuning doang mah tidak kreatif sama sekali namanya. Nah, sebelum berbicara lebih jauh, saya ingin menegaskan bahwa saya di sini tidak memihak siapa-siapa. Tidak membela Zaadit, juga tidak membela Presiden. Sah-sah saja toh bersuara atau melakukan aksi bagi saya.

Namun saya tidak mau lagi kalau ada yang memakai cara yang sama dalam menunjukan protes atau peringatan kepada siapapun itu. Daripada memakai kartu kuning, beberapa kartu berikut rasanya lebih pas dalam menyampaikan protes atau peringatan, entah protes kepada dosen yang tak pernah datang ke kelas kepada pegawai TU yang selalu pulang lebih awal dan datang terlambat ketika jam istirahat usai, atau kepada siapapun.

Kartu Yu-Gi-Oh

Nah, bagi kalian yang kids jaman old, pasti sangat mengenal kartu Yu-Gi-Oh. Mengacungkan kartu Yu-Gi-Oh kepada seseorang tentu saja merupakan cara yang lebih kreatif dari kartu kuning yang sudah sering digunakan dalam permainan sepak bola itu.

Oh iya, buat kids jaman now overdosis micin yang tak tahu sama sekali, kartu Yu-Gi-Oh merupakan duel monster yang menggunakan kartu-kartu dengan moster dan kondisi atau efek yang unik dan tersendiri. Kalian yang mau protes bisa mencoba mengacungkan salah satu kartu Yu-Gi-Oh ini, Bro. Tak usah ditimpali dengan peluit karena tidak cocok dengan kartu Yu-Gi-Oh.

Semakin kuat kartu monster yang kalian acungkan, maka semakin besar pula peringatannya. Semakin tinggi level monster dalam kartu yang kalian acungkan, maka semakin tinggi pula tuntutan kalian. Sampai sekarang kartu yang sudah muncul dalam serial “Yu-Gi-Oh: Duel Monster” sudah tak terhitung lagi jumlahnya, mungkin ratusan, mungkin juga ribuan.

Kalian bisa pilih sesuai kebutuhan kalian. Bahkan, ada juga kartu yang jika dikeluarkan langsung membuat penggunanya keluar sebagai pemenang tidak peduli bagaimanapun kondisi dan situasi di arena duel. Hebat bukan? Seharusnya yang bertarung di pilkada Jakarta kemarin menggunakan cara ini juga. Menang bukan lagi perkara susah dengan kartu Yu-Gi-Oh.

Nah. Jika ada yang mengatakan bahwa cara ini konyol, kekenakan-kanakan, ketinggalan jaman atau cara yang cukup bodoh, tak usah dipikirkan, mereka tidak kreatif. Biarkan saja anjing menggongong.

Kartu Digimon

Digimon (Digital Monster) juga tak kalah popular di kalangan kids jaman old. Seri produk fiksi ana-anak buatan Jepang yang pertama kali dirilis tahun 1997 ini bahkan sudah dibuat dalam bentuk anime, manga, aksesoris, permainan kartu, game, dan lain-lain.

Kartu Digimon ini tentu bisa juga digunakan sebagai kartu peringatan bagi siapapun. Masih sama seperti kartu Yu-Gi-Oh di atas, setiap kartu memiliki monster dengan efek atau kemampuan masing-masing. Ada yang kuat. Ada yang kuat sekali. Ada juga yang tingkat Dewa. Tapi Digimon tentu terasa lebih dekat bagi orang-orang karena lebih populer dibandingkan dengan kartu Yu-Gi-Oh.

Saya dulu sampai menonton versi kedua, versi ketiga dan seterusnya. Jujur saja, Digimon lumayan menemani masa-masa kids jaman old macam saya ini. Seandainya Zaadit menggunakan kartu ini dan mengacungkannya kepada Pak Jokowi, bukan tidak mungkin beliau akan tidak paham, kemudian tersenyum sambil tertawa. Sudah tentu dalam hati Pak Jokowi akan bergumam, “Kreatif betul anak ini.” Namun sepertinya rektor dan para dosen UI tetap akan bergumam “Berani sekali orang ini”. Hahahaha.

Kartu Plant vz Zombie

Masih berhubungan dengan kartu, kali ini kartu yang saya sarankan sebagai cara kreatif memberikan peringatan adalah kartu Plant vs Zombie. Tentu banyak di antara kalian yang sudah pernah main game ini, tak terkecuali Zaadit. Bagi kalian yang belum pernah main game satu ini, cobalah segera. Sumpah gamenya seru sekali. Saya sampai sekarang masih memainkannya, meski jarang-jarang karena kesibukan, sesuatu dan lain hal.

Game ini benar-benar sesuatu yang kreatif dan imajinatif. Tak heran pemainnya akan menjadi kecanduan. Para pemain harus menggunakan tanaman untuk menghadapi gerilya zombie yang menyerang pemilik rumah. Sebelum memulai permainan, para pemain sudah disiapka dengan kartu yang berisikan tanaman-tanaman yang juga dengan kemampuan tertentu.

Banyak tanaman yang bisa menyerang serarah dengan baris tempat mereka ditanam, tapi ada juga yang menyerang hingga 3 baris sekaligus. Ada juga tanaman yang menyerang zombie di baris manapun ia berada. Untuk dapat menggunakan kartu tanaman tersebut, para pemain harus membayar dengan matahari yang dikumpulkan.

Harganya pun tentu beragam. Semakin kuat tanaman yang akan ditanam, semakin banyak pula matahari yang harus dibayar. Kartu-kartu tanaman baru selalu muncul di akhir babak. Oh iya, tanamannya pun ada berbagai fungsinya. Ada yang menyerang. Ada yang bertahan.

Nah, kalian bisa menggunakan kartu ini sebagai sebuah peringatan, dan tentu saja yang mendapat peringatan tidak akan tersinggung karena tanaman-tanaman dalam kartu tersebut menurut saya lumayan menggemaskan. Hahahah. Kreatif? Sudah tentu.

Kartu Kamen Raider Ryuki

Siapa di sini yang tak mengenal Kamen Rider atau Kesatria Bertopeng dari Jepang? Tentu kids jaman now overdosis micin tidak tahu. Kamen rider yang terkenal dengan kostumnya yang merupakan bentuk modifikasi dari serangga lumayan mencuri perhatian anak-anak pada masanya. Meski kebanyakan bentuk adalah modifikasi dari serangga, namun banyak juga yang mengambil bentuk lain, Kamen Rider Ryuki misalnya. Kata ‘Ryuki’ sendiri berarti ‘Kesatria Naga” dan bentuk yang diambil memang modfikasi dari seekor naga.

Kamen Rider Ryuki merupakan seri Kamen Rider yang pertama kali menggunkaan kartu sebagai senjata pamungkas. Kartu tersebut digunakan untuk men-summon senjata-senjata khusus sesuai dengan monster yang mereka miliki. Bahkan kartu juga digunakan agar dapat mengeluarkan kemampuan penghabisan akhir.

Nah, ini juga dapat menjadi alternative dalam memberikan peringatan kepada siapapun. Cukup dengan mengacungkan kartu Kamen Raider Ryuki dan jika si penerima peringatan tidak menegrti apa maksud dari kartu itu. Mulailah menjelaskan secara detail dan santai sambil mengutarakan tuntutan atau apapun yang ingin disampaikan.

Itulah beberapa alternatif yang lebih kreatif dari sekedar kartu kuning. Tentu cara-cara di atas dapat dicoba jika kalian benar-benar ingin memberikan peringatan atau tuntutan kepada seseorang. Sekali lagi jika ada yang mengganggap ini konyol, bodoh, tidak berpendidikan, dan lain sebagainya, abaikan saja. Kalian adalah orang yang kreatif dan tidak biasa. Ayo dicoba. (T)

Tags: gamePendidikanpermainan
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Kartu Kuning dan “Copy” Sana “Paste” Sini

Next Post

Film “Sekala-Niskala” Pulang ke Tanah Bali dan Retrospektif Kamila Andini

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Film “Sekala-Niskala” Pulang ke Tanah Bali dan Retrospektif Kamila Andini

Film “Sekala-Niskala” Pulang ke Tanah Bali dan Retrospektif Kamila Andini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co