24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejumlah Kuliah Gratis dari Gunung Agung – Yang Terbaru “Hujan Lapili”

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Esai

Foto koleksi Kardian Narayana

 

KITA di Bali memang sering mendengar istilah-istilah yang berkaitan dengan aktivitas gunung berapi. Tapi yang biasa didengar, misalnya ketika ada berita gunung meletus di luar Bali, adalah istilah-istilah umum, seperti erupsi, lahar, dan magma. Atau istilah yang amat lokal semisal hujan abu, hujan batu dan gempa.

Terus terang, ketika Gunung Agung beraktivitas, keinginantahuan kita menjadi makin besar terhadap istilah-istilah kegunungapian. Apalagi, proses erupsi Gunung Agung cukup lama, dan dalam waktu yang cukup lama itu kita kerap mendengar munculnya istilah-istilah yang mungkin baru pertama kali kita dengar.

Gunung Agung memberi kuliah atau pelajaran bagi kita untuk belajar mengenal istilah sekaligus belajar tentang kegunungapian agar kita selalu waspada dan tahu apa yang harus diperbuat.

Hujan Lapili

Yang paling baru kita dengar dan baca dari media massa adalah istilah Hujan Lapili. Menurut berita, sejumlah wilayah yang dekat dengan Gunung Agung sudah dilanda hujan lapili, semisal wilayah Desa Ban Karangasem. Hujan itu terjadi saat erupsi Gunung Agung, Sabtu sekitar pukul 07.50 WITA.

Dikutip dari sejumlah media, Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, dalam bahasa vulkanologi, lapili atau lapillus disebut juga tefrit atau material yang jatuh dari udara selama selama letusan gunung berapi dengan diameter rata-rata dua hingga 64 milimeter (mm). Hujan lapili sifatnya tidak merusak.

Menurut Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana, bulatan-bulatan kecil abu vulkanis ini bisa terbentuk di kolom erupsi karena kondisi kelembaban dan gaya elektrostatis. Kondisi ini terjadi saat material abu berinteraksi dengan air, termasuk air kawah.

Hujan lapili kerap diasosiasikan dengan letusan freatomagnetik sebuah gunung berapi. Tapi, kelembaban ini juga bisa bersumber pada kondisi meteorologis, misalnya abu yang disemburkan berinteraksi dengan awan hujan. Ketika semua kondisi itu telah terpenuhi, maka kumpulan abu vulkanis tadi berubah bentuk menjadi bulatan-bulatan.

Erupsi Freatik

Istilah yang juga baru didengar adalah erupsi freatik. Istilah ini keluar pada saat Gunung Agung diberitakan meletus Selasa (21/11) pukul 17.05 Wita.
Saat itu, Pusat Vulkanologi dan Badan Mitigasi Geologi (PVMBG), jenis letusan yang terjadi adalah tipe freatik. Di rilis PVMBG dan BNPB dijelaskan letusan ini berbeda dengan letusan magmatik.

Letusan freatik terjadi akibat adanya uap air bertekanan tinggi. Uap air tersebut terbentuk seiring dengan pemanasan air bawah tanah atau air hujan yang meresap ke dalam tanah di dalam kawah kemudian kontak langsung dengan magma. Letusan freatik disertai dengan asap, abu dan material yang ada di dalam kawah.

Letusan freatik sulit diprediksi. Bisa terjadi tiba-tiba dan seringkali tidak ada tanda-tanda adanya peningkatan kegempaan. Beberapa kali gunungapi di Indonesia meletus freatik saat status gunungapi tersebut Waspada (level 2) seperti letusan Gunung Dempo, Gunung Dieng, Gunung Marapi, Gunung Gamalama, Gunung Merapi dan lainnya.

Tinggi letusan freaktik juga bervariasi, bahkan bisa mencapai 3.000 meter tergantung dari kekuatan uap airnya. Jadi letusan freatik gunungapi bukan sesuatu yang aneh jika status gunungapi tersebut di atas normal. Biasanya dampak letusan adalah hujan abu, pasir atau kerikil di sekitar gunung.

“Memang letusan freatik tidak terlalu membahayakan dibandingkan letusan magmatik. Letusan freatik dapat berdiri sendiri tanpa erupsi magmatik. Namun letusan freatik bisa juga menjadi peristiwa yang mengawali episode letusan sebuah gunungapi,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Apa bedanya dengan letusan magmatik?
Letusan magmatik adalah letusan yang disebabkan oleh magma dalam gunungapi. Letusan magmatik ada tanda-tandanya, terukur dan bisa dipelajari ketika akan meletus.

Tremor Non Harmonik

Saat Gunung Agung mulai beraktivitas, sekitar September 2017 warga cukup sering mengalami gempa. Mereka menyebutkan gempa, karena ciri-cirinya sama dengan gempa pada umum. Namun dari berita-berita di media massa kemudian diketahui adanya istilah gempa tremor.

Dari penelusuran di internet diperoleh defisinisi gempa tremor adalah getaran yang terjadi akibat bergeraknya sebuah patahan sedikit demi sedikit. Pada umumnya getaran ini tidak mengakibatkan adanya gerakan yang mendadak, namun tetap membuat bumi bergetar.

Lalu ada istilah Tremor Non Harmonik. Istilah ini cukup sering ditulis di media massa, terutama sekitar September-Oktober ketika Gunung Agung berstatus waspada dan siaga, juga saat berstatus awas.

Dalam sebuah berita di media online, Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana saat itu mengatakan tremor non-harmonik adalah rentetan beberapa gempa vulkanik di mana satu gempa muncul hampir bersamaan dengan gempa lainnya yang belum selesai.

Tremor non-harmonik tersebut secara fisik merefleksikan aliran fluida magmatik yang terdiri dari gas, zat cair dan zat padat. Tidak semua tremor diikuti oleh letusan atau erupsi.
Jika ada tremor non harmonic, tentu ada tremor harmonik. Dijelaskan, tremor harmonik yang terjadi jika aliran fluida magma mengakibatkan bergeraknya conduit atau rongga seperti pipa dan membuat efek resonansi. Tremor harmonik juga tidak selalu diikuti oleh erupsi.

Tentang Lahar yang Cukup Membingungkan

Ketika terjadi air bah dengan warna coklat dan kental di sejumlah sungai, seperti Tukad Unda, Klungkung dan sungai lain di wilayah Karangasem, warga menyebut material yang mengalir itu adalah lahar dingin. Namun kemudian ada menyebut itu bukan lahar dingin, tapi air bercampur abu bekas letusan.

Media sosial pun sempat gaduh karena ternyata air yang bercampur material vukanik bekas letusan itu, termasuk abu vulkanik, itulah yang disebut lahar dingin. Perdebatan di dunia maya sempat berlangsung panjang, bahkan dengan nada-nada saling ejek.

Dari situs ilmugeografi.com dikutip sejumlah penjelasan:.

Lahar Panas adalah lahar yang mengalir tepat saat terjadi letusan gunung api disebut lahar panas. Lahar panas dikenal juga dengan istilah lahar letusan. Lahar tersebut berupa aliran air panas yang tercampur dengan material vulkanik yang dilontarkan dari kepundan gunung. Lahar panas hanya terjadi pada gunung api yang memiliki danau.

Danau gunung api itulah yang sering disebut danau kawah atau kepundan. Suhu dari lahar panas tidak lebih dari titik didih air sehingga tidak meleburkan makhluk hidup yang dilewatinya, meski demikian aliran lahar panas tetap berbahaya. Suhu lahar panas dipengaruhi oleh proses pemanasan air di danah kawah oleh magma di dalam lapisan kulit bumi.

Lahar dingin yaitu aliran air dingin yang tercampur dengan material vulkanik yang terjadi karena hujan lebat setelah gunung api meletus. Lahar dingin disebut juga lahar hujan. Temperatur lahar jenis ini sama dengan temperatur lingkungan di sekelilingnya. Lahar dingin menyebabkan terjadinya proses sedimentasi batuan breksi. Batu breksi tersebut memiliki fragmen atau tekstur subrounded karena terkena derasnya aliran air.

Karena mengalir bersama derasnya air hujan, lahar dingin ini dapat menyebabkan terjadinya bencana banjir lahar. Banjir lahar dingin bisa juga disebut banjir bandang karena mengalirkan material vulkanik berupa lumpur di lereng gunung. Banjir ini disebabkan karena sungai tidak lagi mampu menahan aliran lahar. Kecepatan aliran air yang sangat tinggi hingga mencapai 100 meter per jam..

Lahar Letusan dan Lahar Hujan

Di tengah perdebatan dan ribut soal apakah yang mengalir di Tukad Unda dan tukad lain itu lahar dingin atau air biasa yang bercampur abu (pedebatan yang cukup lucu), ahli vulkanologi Surono dalam sebuah media online, kumparan.com, menjelaskan adanya salah kaprah dalam penyebutan istilah lahar.

Mbah Rono, sapaan akrab Surono, mengatakan bahwa tidak ada istilah lahar panas maupun lahar dingin. Lahar sendiri adalah aliran material vulkanik yang biasanya berupa campuran batu, pasir dan kerikil akibat adanya aliran air yang terjadi di lereng gunung-gunung berapi. Menurutnya, dalam istilah ilmiah, lahar itu hanya ada dua. Lahar letusan dan lahar hujan.

Mantan Kepala Badan Geologi dan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu menjelaskan, lahar letusan adalah lahar campuran antara material padat dan cari yang keluar dari suatu gunung berapi.

“Misalnya gunung api mempunyai kawah, kawahnya berisi air, seperti Kelud. Begitu meletus, airnya terangkat, terlontarkan bercampur dengan material. Terus kemudian tersebar ke semua arah. Itu namanya lahar letusan. Lahar letusan pasti panas,” papar Mbah Rono.

Adapun lahar hujan adalah campuran antara material letusan gunung api, seperti kerikil, kerakal halus, hingga batu-batuan besar ataupun endapan awan panas, dengan air hujan yang kemudian mengalir bergerak mengikuti lereng.

“Itu namanya lahar hujan. Lahar hujan itu bisa panas kalau yang tercampur dengan air hujan adalah endapan awan panas,” jelas Mbah Rono.

“Lahar hujan menjadi dingin kalau endapan yang menjadi lahar yang bercampur dengan air hujan itu bukan endapan awan panas,” imbuhnya lagi. (T)

Catatan: tulisan ini, termasuk narasumbernya, dirangkum dari kutipan-kutipan di berbagai media

Tags: erupsiGunung AgungPendidikan
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Lotring, Magma Kesenian Bali, dari Tepi…

Next Post

Komunitas Cemara Angin Berproses, Sedikit demi Sedikit Menjadi MAS

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Komunitas Cemara Angin Berproses, Sedikit demi Sedikit Menjadi MAS

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co