23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kuta: Dari Tempo Doeloe Hingga ke Mimpi “Kuta International Art Biennale”

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Esai

Kuta tempo dulu. /Foto: Google Iamges

 

VENEZIA (Italy), Beijing (Tiongkok), Sanghai (Tiongkok), Shenzhen (Tiongkok), Singapura (Singapore) Gwangju (Korea), Jeju (Korea), Jogya, Makasar, Jakarta (Indonesia), Yokohama (Jepang), Kampala (Uganda), Luanda (Angola), Kaunas (Lithuania), Colombo (Srilangka), Getho (Haiti), Havana (Kuba), Lyon (Prancis), Montevideo (Uruguay), Moskow (Rusia), Riwaq (Palestina), Sydney (Australia), Cerveira (Portugal), Curtiba (Brazil), adalah sebagian nama-nama kota di dunia yang menyelenggarakan perhelatan seni rupa akbar, baik biennale atau triennale.

Sebagai warga Bali, tentu saya berkeinginan salah satu nama kota di Bali, tercantum juga dalam direktori kegiatan seni dunia. Sebab, nama Bali cukup tersohor di dunia internasional, di bidang seni budaya dan kepariwisataan, sejak dulu kala.

Di Bali, memang ada perhelatan dua tahunan yang bertajuk Balinale, tapi ini merupakan festival film, bukan senirupa. Ubud, sudah punya agenda tetap Ubud Writers and Readers Festival yang diawali sejak 2002. Sudah 15 tahun acara berkumpulnya para intelektual, pembaca dan penulis itu terselenggara.

Sanur Festival yang sudah berusia 12 tahun juga sudah melaju dengan program-programnya yang apik. 2015, Nusa Penida mulai menggelar Festival Nusa Penida. Kuta Carnival juga sudah ada untuk meramaikan kepariwisataan Kuta. Pesta Kesenian Bali (PKB) sudah berusia 39 tahun. Namun di PKB, ruang untuk kesenian modern masih agak terbatas. Nusa Dua, yang didukung Kementerian Pariwisata dan Bank Mandiri, punya acara Pesona Mandiri Nusa Dua Fiesta.

Yang mutakhir, perhelatan Bali Mandira Nawa Natya dan Bali Mandara Mahalango mulai memberi ruang pada kesenian pop dan seni kontemporer. Menurut Prof. Made Bandem selaku kurator, Bali Mahalango memberikan kesempatan kesenian populer 60 persen, dan kesenian klasik dan kotemporer masing-masing 20 persen.

Untuk pagelaran Bali Nawanatya formatnya kesenian kotemporer 60 persen, sedangkan kesenian populer dan kesenian klasik masing-masing 20 persen. Harus kita syukuri, semua kegiatan kesenian itu berjalan dengan apa adanya seperti sekarang ini. Kendati begitu, saya pingin memimpikan Kuta sebagai tempat penyelenggaraan International Art Biennale, seperti kota-kota dunia lainnya.

Kuta, Sejak Beberapa Abad Lalu

Kuta, adalah nama yang mendunia, sejak dulu kala. Baik sebagai tujuan wisata – maupun sebagai tempat dinamika pertumbuhan sejarah dan kebudayaan. Jauh sebelum Mads Lange datang ke Bali, sudah banyak sejarah terukir di pantai Kuta. Mads Lange, pria kelahiran Denmark 18 Septembet 1807 ini, hadir ke Kuta pada tahun 1834. Pialang perdagangan raja-raja Bali dengan dunia internasional ini, sempat diberi kekuasaan Raja Kesiman untuk melakukan ekspor rempah-rempah. Selanjutnya, Kuta menjadi salah satu pusat perdagangan yang cukup ramai.

Jauh sebelumnya, pada 1336 Masehi, Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit, sudah mendarat di pantai ini. Tepatnya di Tuban. Apakah nama Tuban yang mirip dengan sebuah kota/pelabuhan kecil di Jawa Timur ini menandai penguasaan Mahapatih Gajah Mada pada pelabuhan tempat ia mendarat? Tentu para ahli sejarah punya jawabannya.

Tahun 1597 adalah kedatangan orang Eropa pertama di pantai Kuta. Dia adalah pelaut asal Belanda, Cornelius de Houtman. Pria kelahiran Gouda, Holland Selatan, Belanda, 2 April 1565 ini berlabuh di Bali pada 26 Februari 1597. Cornelius de Houtman lantas bertemu dengan raja-raja Bali dan melakukan perdagangan merica.

Sejak kedatangan Cornelius de Houtman ke Indonesia, ia dianggap sebagai penemu jalur pelayaran dari Eropa ke Indonesia, dan juga perintis perdagangan rempah-rempah bagi kerajaan Belanda.

Selanjutnya, Mads Lange mendarat di Kuta 1834. Seperti kita ketahui, kepiawaian Mads Lange dalam berdagang tak hanya membuat Kuta menjadi pusat perdagangan, ia juga dipercaya oleh raja Bali menjadi syahbandar Kuta. Barangkali, itulah awal Kuta sebagai tempat perdagangan internasional paska Cornelius de Houtman. Dinamika perdagangan, tentu tak terlepas dengan alat bayar, mata uang. Uang kepeng, menjadi alat bayar pada era ini. Artinya, bisa dipastikan adanya kehadiran entis Tionghoa di pusat perdagangan Kuta saat itu.

Selain uang kepeng sebagai alat bayar dan bukti sejarah, keberadaan vihara Dharmayana juga merupakan bukti sejarah. Wihara yang berdiri sekitar 1876 M atau 42 tahun setelah kehadiran Mads Lange, juga memperkuat bukti sejarah tentang dinamika perdagangan internasional di Kuta pada jaman itu. Vihara yang pernah dikunjungi Dalai Lama pada tahun 1982 ini berada di pojok antara Jalan Blambangan dan Jalan Padri Kuta, masuk wilayah Banjar Temacun, Kuta. Menurut catatan sejarah, arsitek vihara Dharmayana adalah Tan Hu Cin Jin.

Sumber Google

Puputan Badung dan Babi Ekspres

Selanjutnya, perang Puputan Badung pada 20 September 1906 menjadi duka tersendiri bagi kita semua. Peristiwa ini juga memalukan Belanda di dunia internasional. Sebab, peperangan tersebut tidak seimbang dari segi persenjataan. Selain itu, H.H. van Kol seorang anggota parlemen, politikus, sekaligus penulis liberal Belanda, yang pada tahun 1911 mengunjungi Pulau Bali dan sempat pula mengunjungi Badung, termasuk Denpasar dan sekitarnya melakukan survey atas kejadian yang memilukan itu.

Kesimpulan Van Kol, masalah kapal “Sri Kumala” yang terdampar di Sanur, memang merupakan suatu sengketa yang dicari-cari oleh pemerintah Hindia Belanda, sebagai sebuah alasan untuk dapat menerapkan politik imperialisnya di kerajaan-kerajaan Bali.

Sebagai penebusan rasa bersalah pihak Belanda, mereka mulai mempromosikan kepariwisataan Bali melalui perusahaan pelayarannya pada tahun 1914. Adalah KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) nama perusahaan tersebut. KPM membuka kantor di Singapore, dan jalur pelayaran dari Indonesia lewat Singaraja-Bali ke Penang dan Singapore.

Usaha pelayaran ini yang utama adalah ekspor hewan konsumsi, termasuk eksport babi dari Bali ke Singapura. Maka, paket kepariwisataan ini juga acap disebut ‘babi ekspres’. Dengan dibukanya pelayaran ini, semakin banyak wisatawan yang mulai datang ke Bali yang eksotik. Kepariwisataan Bali kian marak di tahun 30 an.

Pada era itu, banyak intelektual, peneliti, dan seniman/budayawan Eropa yang merupakan wisatawan ke Bali. Antara lain ; Walter Spies, Rudolph Bonnet, Beryl de Zoete, Miguel Covarubias, Charlie Chaplin, Ktut Tantri, Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres , Wijnand Otto Jan Nieuwenkamp, Bob Koke, Louise Garret, Collin McPhee, Margaret Mead, Gregory Bateson, dan lain sebagainya .

Mereka, kebanyakan berkesenian atau membuat buku tentang Bali. Seperti Miguel Covarubias misalnya, bersama Walter Spies ia menulis buku Dance and Drama in Bali. Ia juga menulis Island of Bali. Di era 1930 an, konstruksi kebudayaan Bali dimulai oleh intelektual Eropa/Amerika yang datang ke Bali.

Surfing Pertama di Bali

Adalah Bob Koke dan Garrett Oliver bisa dikata membuka awal kepariwisataan Kuta di tahun 1930 an. Mereka datang ke Bali pada tahun 1936. Saat itu, mereka menginap di Bali Hotel Jl. Veteran – Denpasar. Bali Hotel adalah sarana akomodasi milik KPM. Muriel Stuart Walker atau yang lebih dikenal dengan nama Ktut Tantri, memperkenalkan mereka pada keindahan pantai Kuta.

Ktut Tantri adalah seorang penyiar dan penulis buku Revolt in Paradise (Revolusi Nusa Damai). Ia tak hanya seorang wartawan, tapi juga ikut dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan Belanda dan Jepang.

Selain itu, ketertarikan mereka pada ‘paradise island’ Bali, barangkali karena info dari Charlie Chaplin yang datang ke Bali pada tahun 1932. Karena memang, Garret Oliver adalah istri penulis skenario di Hollywood yang ternama pada jaman itu, yakni Oliver H.P. Garrett. Potographer Bob Koke, juga merupakan teman Charlie Chaplin. Pada tahun 1936 itu, Bob Koke dan Louise Garret, mempublikasi buku Our Hotel in Bali. Bob dan Louise lantas mendirikan Kuta Beach Hotel (sekarang Inna Kuta Beach Hotel). Ini merupakan hotel wisata pertama di sepanjang pantai selatan Bali. Pada tahun 1941, Bob Koke menikahi Louise.

Bob Koke, saat itu bekerja di departemen produksi di MGM, tugas pertamanya adalah pergi ke Hawaii sebagai asisten direktur King Vidor pada film Bird of Paradise tahun 1932, dibintangi oleh Dolores Del Rio.

Disinilah, di pantai Waikiki, pertama kalinya Koke mengenal olahraga selancar (surfing), dan dia menyukainya. Sementara Bob Koke asyik berselancar, Louise duduk di pantai sambil menggambar rencana untuk hotel mereka. Kelak, ketika Bob dan Louise datang ke Bali lewat Singapura, mereka juga membawa papan surfing. Bob, bisa dikata sebagai ‘bapak surfing’ di Bali. Dialah orang pertama yang memperkenalkan surfing di Bali.

Sumber: Google

Maestro Lotring

Lebih lanjut, kepariwisataan Bali dan Kuta khususnya terus berkembang. Kemajuan pariwisata juga diikuti oleh kemajuan seni budaya. Dan kebudayaan yang berkembang di Kuta, mengarah ke budaya pop. Kendatipun demikian, kesenian tradisi tetap juga terjaga.

Adalah Wayan Lotring dari banjar Tegal Kuta (1898-1983) yang menjaganya. Lotring sangat dihormati dan disebut-sebut sebagai salah satu kekuatan kreatif dan pengaruh besar di balik perkembangan gamelan Bali abad ke-20.

Upaya Lotring mengembangkan palégongan, kebyar, gendér wayang, dan angklung, tak terlepas dari keakrabannya dengan Collin McPhee, seorang komposer, pianis, dan penulis berkebangsaan Kanada.

Selain sebagai seorang penabuh yang luar biasa, Lotring juga dikenal sebagai juru gendér dan juru kendang, dan kemahirannya dalam menguasai pelbagai bentuk tarian nandir, gandrung dan légong. Selain itu, Ia juga dikenal sebagai seorang penyanyi wirama kakawin dan seorang pecinta sastra Bali. Karena kepiawaian Lotring dalam kesenian tradisional Bali, baik sebagai komposer tabuh maupun dalam bidang tari, para pakar seni dunia internasional memberinya julukan ‘jarum emas murni’.

Ia memang banyak melakukan pembaharuan dalam komposisi musik Bali. Pria kelahiran Banjar Tegal-Kuta ini terkenal dengan kreatifitasnya yang berani bereksperimen di luar pakem yang berlaku pada zamannya. Musik yang ia buat tidak lagi semata untuk keperluan keagamaan, namun digarap dengan kesadaran kompositoris.

Lotring adalah sosok seniman yang memperkenalkan ragam gamelan palegongan Layar Samah, yang kelak dikenal begitu masyur di Bali. Pergaulannya dengan seniman manca negara seperti Collin Mcphee, banyak memberi inspirasi bagi pembaharuan seni musik dunia. Tahun 1932 adalah perjumpaan Lotring dan Collin Mcphee. Sejak saat itu, kedua komposer handal ini saling tukar dan berbagi pengetahuan.

Seirama dengan pertumbuhan kepariwisataan Desa Kuta, Lotring memberi warna bagi pertumbuhan kesenian tradisi, khususnya; tabuh, tari, dan sastra. Lotring memang seniman multi talent. Sekitar tahun 1906, Lotring belajar Tari Nandir di Puri Blahbatuh, Nandir ini kelak berkembang menjadi Legong. Ia juga belajar tari dan tabuh palegongan bersama Anak Agung Rai Perit, Dewa Ketut Belacing dari puri Paang Sukawati, dan pada Anak Agung Bagus Jelantik dari Saba, pada tahun 1917.

Tahun 1920, Lotring mendirikan sekaa palegongan di Kuta. Di sini dia menjadi ketua sekaa, yang kemudian melahirkan penari generasi pertama, seperti Ni Numbreg (Condong), Ni Wayan Dasni dan Ni Wayan Kinceg untuk Legong. Kinceg kelak menjadi istri Lotring. Pernikahan Lotring dan Kinceg, dikaruniai seorang putri yakni Ni Wayan Noni. Tahun 1926, sekaa pelegongan Kuta ini diundang pentas ke Keraton Solo.

Karena itulah tari Legong lantas dikenal dengan sebutan Legong Keraton. Di Solo, dia sempat mengajarkan gending Goak Macok, namun sepulang dari Solo Lotring malah terkenang-kenang pada gaya menabuh orang Jawa di Keraton, lalu lahirlah Gonteng Jawa/Solo.

Masih banyak lagi karya yang diciptakan oleh maestro asal Kuta ini. Saat itu, nama Lotring memang identik dengan kegemilangan kesenian Bali tradisional di Kuta. Selanjutnya, Lotring banyak mengajar seni tabuh dan tari ke pelosok-pelosok desa yang ada di seluruh Bali. Ia mendedikasikan hidupnya untuk seni budaya Bali. Sang Maestro ini tak hanya melatih palegongan, tapi juga angklung, gender wayang, bahkan juga pajogedan, gandrung, hingga kekebyaran. Lotring, memang ‘jarum emas murni’ yang lahir dari pesisir Bali, Kuta.

Dari Kuta ke Nusa Dua

Industri pariwisata Bali terus berkembang. Daerah-daerah wisata seperti Ubud, Sanur, Kuta, Lovina, dan lain-lain mulai tumbuh menjadi tempat tujuan wisata yang didatangi para wisatawan mancanegara. Para peneliti, seniman, budayawan, dari berbagai negara kian banyak berdatangan. Kebudayaan Bali pun ikut berkembang seiring dengan tumbuhnya industri pariwisata. Tahun.1960-1970 an, Kuta kian ramai dikunjungi wisatawan manca negara. Kaum ‘hippies’ adalah model wisatawan pada era itu.

Hippies semula merupakan gerakan gaya hidup pemuda yang muncul di Amerika Serikat selama pertengahan 1960-an dan menyebar ke negara lain di seluruh dunia, tak terkecuali Bali. Trend gaya hidup ini berpengaruh besar pada beberapa sendi kebudayaan. Antara lain musik populer, film, televisi, sastra, dan berbagai bidang seni lainnya. Budaya kontemporer, diawali dari sini. Pada zaman itu, pemerintah Amerika agak kehilangan kepercayaan dari masyarakatnya, generasi muda melakukan perlawanan dengan caranya dengan penuh kebebasan.

Dari fenomena tersebut, Kuta tak luput menjadi tujuan kunjungan bagi kaum hippies manca negara. Sebab, pada jaman itu, Kuta juga merupakan sorga bagi mereka untuk menikmati kebebasan dengan cara mereka. Industri kepariwisataan Bali kian terbangun. Para seniman dari manca negara maupun dari berbagai daerah yang ada di Indonesia, mulai berdatangan ke Bali untuk mencari inspirasi dan berkarya. Perupa seperti Affandi, Hendra Gunawan, Dullah, Sudjojono, Srihadi, dan masih banyak lagi – mereka sering berkarya ke Bali. Kepariwisataan Bali agak terganggu sedikit karena gejolak politik 1965. Tapi, segera pulih.

Pemerintah mulai merencanakan pembangunan resort kelas dunia di atas tanah 350 hektar di kawasan Nusa Dua, kecamatan Kuta Selatan. Perencanaan dan proses pembangunan resor ini dimulai awal tahun 1970- an, diawali dengan kajian komprehensif dengan menggunakan tenaga ahli dari SCETO Perancis. Kuta lantas berkembang ke arah Selatan dan Utara. Hotel pertama yang dibangun dikawasan Nusa Dua ini adalah Nusa Dua Beach Hotel. Pembangunan hotel ini di awali 1983.

Masa Emas 1980-an

Memasuki era 80 an, bisa dibilang era kegemilangan industri pariwisata. Seniman Kuta yang menjadi icon kepariwisataan Kuta saat itu adalah kartunis Tony Tantra. Produk kaosnya menjadi ‘trade mark’ kepariwisataan Kuta, sebelum kehadiran Joger. Joger berdiri 19 Januari 1981, namun masih berada di bilangan Jl. Sulawesi-Denpasar. Joger mulai pindah ke Kuta 7 Juli 1987. Dunia pop art kian jelas menjadi identitas Kuta. Seniman Zeggie dan Chu Sin Setiadikara juga mewarnai ‘gebyar t-shirt’ pada jaman itu. Kadek Jango dan BogBog-nya, hadir kemudian.

Di kegemerlapan kehidupan malam Kuta yang memabukkan, komunitas perupa/peminum seperti Wahyu Wijaya, Salim, Si Hong, Tut Ar, Marten Sitepu, Arifin, Uut Bambang Sugeng, Ricky Karamoy, Bambang Wiwoho, A.Pandi, Anwar Djuliadi, Doglas, Herry Yahya, Welldo dan kawan-kawan, juga mewarnai pertumbuhan seni di Kuta. Para pemusik seperti David Bowie, Mick Jagger, The Police, Chik Corea, Harley Angel, Armada Racun, Lolot Band, Sawong Jabo, Iwan Fals, melengkapi dinamika kebudayaan Kuta.

Di era ini, Hugh Mabbett menulis buku In Praise of Kuta. Dalam buku yg informatif itu, Mabbet banyak menyarankan pembangunan akomodasi di Kuta. Mabbet sangat memuji keberadaan kepariwisataan Kuta. Pada bukunya ia menulis ; “Kuta telah tumbuh dengan sangat baik, dengan hanya sedikit intervensi dari pemerintah atau bisnis besar. Ini adalah resor do-it-yourself, dibuat oleh pengusaha perorangan, bukan oleh perusahaan”.

Mungkin untuk masa itu, Mabbet ada benarnya. Tapi perkembangan Kuta selanjutnya adalah hal yang berbeda dengan yang ia amati saat itu. Kuta berkembang pesat dengan keterlibatan kapital-kapital raksasa. Itu sah, dan merupakan konsekuensi dari pertumbuhan bisnis global.

Seirama dengan pertumbuhan/kapitalisasi kepariwisataan Kuta, Maestro senirupa Nyoman Nuarta ‘menerobos’ dengan gagasan genial. Ia menggagas karya seni yang spektakuler di tengah-tengah hiruk pikuk pembangunan phisik kecamatan Kuta yang sporadis. Ya, karya patung Garuda Wisnu – mencuat sendiri ditengah-tengah pembangunan kepariwisataan Kuta yang begitu pesat.

Mimpi: Kuta International Art Biennale

Tentu, kita berharap pertumbuhan industri pariwisata juga diikuti pertumbuhan pembangunan kebudayaan yang esensinya juga pembangunan karakter, pembangunan peradaban. Sejenak, terbersit suatu gagasan yang mungkin amat sulit untuk dilaksanakan ; Kuta International Art Biennale. Yang menjadi pertanyaan saya, jika ini terlaksana, apakah ini merupakan bagian dari pembangunan kebudayaan?

Saya lantas teringat pada sebuah kata; Nawa Cita. Suatu program yang indah, dan digagas untuk menunjukkan prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Antara lain; meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.

Selain itu, juga membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Tapi siapa yang mesti melaksanakannya? Cericit burung pagi itu, membangunkan saya dari tidur. Ah…ternyata aku hanya bermimpi soal Kuta International Art Biennale. Dan tak ada satu kuasa pun yang bisa melarangku untuk bermimpi. (T/data dan foto dari berbagai sumber)

Tags: baliBudayaKutaPariwisatasejarah
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Mencegah Generasi Koruptor dengan “Pokemon”

Next Post

Bersiap Mendengar Indonesia dari Antrabez, “Anak Terali Besi” Lapas Kerobokan

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post

Bersiap Mendengar Indonesia dari Antrabez, “Anak Terali Besi” Lapas Kerobokan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co