23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel Terakhir yang Hilang – Mengenang 2 Tahun Kepergian Seniman I Gde Dharna

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

 

DUA tahun sudah seniman I Gde Dharna tutup usia. Sang maestro menghembuskan nafas terakhirnya 13 September 2015 lalu di RSUD Buleleng, karena penyakit komplikasi yang dideritanya.

Selama dua tahun belakangan, nama besar I Gde Dharna mulai dilupakan. Tetapi karya-karya besarnya, terus diingat.

Karyanya yang paling monumental adalah lagu “Merah Putih”. Lagu itu tercipta pada tahun 1950 silam, dan itu adalah lagu pertama yang mendiang buat.

Begini liriknya: Merah Putih benderan tityange// Berkibaran di langite terang galang// Nika lambang jiwan rakyat Indonesia// Merah berani medasar hati ne suci// Pusaka abdi lan luhur jaya sakti// Merah putih benderan tityange//

Dulu, lagu “Merah Putih” adalah lagu wajib ketiga yang harus dihafal oleh anak sekolah dasar di Bali. Lagu pertama adalah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, kedua Hari Merdeka, ketiga Merah Putih ciptaan mendiang I Gde Dharna.

Pasca reformasi, lagu ini mulai jarang terdengar di ruang kelas. Beberapa musisi kemudian menggubah nadanya. Lagu yang semula memiliki laras selendro, dimainkan dalam nuansa lagu rock maupun punk.

Lagu Merah Putih dalam nuansa rock, pertama kali dimainkan oleh Bintang featuring Bobby SID pada tahun 2011 silam di GOR Bhuana Patra Singaraja. Selang beberapa lama, Superman is Dead bersama Balawan juga memainkannya pada acara Radio Show. Terakhir Nanoe Biroe turut menyanyikannya.

Semua lagu itu sudah pernah didengarkan oleh Dharna. “Saya sudah dengar lagunya. Ternyata pakai musik begitu, enak juga didengar juga ya,” ujar Dharna dalam sebuah perbincangan pada 7 Juli 2015 silam.

Selain lagu Merah Putih, Dharna punya segudang karya lainnya. Sebut saja genjek, jejangeran, gending rare, tembang Pop Bali, hingga Bali Anyar ia tekuni.

Dharna bukan hanya musisi. Dia juga sastrawan. Seniman besar. Sederet penghargaan sudah dia kantongi. Sebut saja penghargaan “Piagam” Dharma Kusuma dan Wija Kusuma. Kata “Piagam” sengaja saya tulis dalam tanda petik. Saya tidak tahu apakah penghargaan itu pada tahun 1980-an sudah berbentuk medali, atau masih berbentuk selembar piagam.

Belum lagi penghargaan Sastra Bali Modern “Rancage” pada tahun 2000. I Gde Dharna juga satu-satunya seniman yang menerima penghargaan Lifetime Achievement pada Buleleng Festival 2013 lalu. Seingat saya itu adalah penghargaan pertama dan terakhir. Hingga kini pada ajang Bulfest, penghargaan serupa tak pernah lagi diberikan.

Karya-karyanya di bidang sastra juga sangat banyak. Sebut saja buku Leak Macelek Bunga; Kumpulan Puisi Bali Modern berjudul “Denpasar Lan Don Pasar”; Kumpulan Puisi Delapan Penyair Buleleng berjudul “Pantai Pantai” (1976); Gita Pahlawan (Perang Jagaraga Dalam Puisi) (1979); Antologi Puisi ASEAN (1983); Buku Kumpulan Puisi “Kaki Langit” (1984); Kumpulan Drama dan Puisi Bahasa Bali, “Kobarang Apine” (1999); dan Antologi Puisi “Tentang Putra Fajar” (2001).

Itu beberapa karya sastra yang berhasil saya catat. Selebihnya, saya yakin masih ada banyak lagi karya-karyanya yang telah dibukukan, maupun belum dibukukan.

Novel Terakhir

Bicara soal karya sastra mendiang I Gde Dharna, sebenarnya ada sebuah karya yang kini berstatus hilang. Karya itu adalah novel berjudul “Bintang Denbukit”. Novel itu ditulis menjelang seniman besar itu tutup usia. Bahkan diduga penyakitnya kala itu kambuh karena terlalu sibuk menyelesaikan novel itu, sehingga jarang tidur dan istirahat.

Novel ini ditulis mendiang sepanjang tahun 2015 lalu. Novel kemudian dirilis pada 16 Agustus 2015. Dicetak apa adanya. Hanya beberapa pekan, sebelum I Gde Dharna tutup usia.

Tepat pada momen tatap muka Pemkab Buleleng dengan para veteran di Buleleng, novel itu diserahkan pada Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana. Momen itu terjadi di Lobi Atiti Wisma Kantor Bupati Buleleng.

Harapan Dharna saat itu novel tersebut dicetak dan diterbitkan oleh Pemkab untuk dibagikan ke sekolah-sekolah.Seingat saya, setelah diterima oleh bupati, buku itu diserahkan kepada seorang staf. Entah siapa, saya sungguh-sungguh lupa. Padahal saat itu saya ada di sana.

Ternyata, novel yang diserahkan itu adalah hasil cetakan satu-satunya. Novel itu kini hilang, tidak ditemukan lagi. Entah diletakkan di mana. Selama dua tahun, buku itu berada di tempat antah berantah. Entah masih berwujud, atau sudah tak berwujud.

Sepengetahuan saya, hingga hari ini novel itu tak kunjung diterbitkan. Seorang teman, Made Adnyana Ole, mantan wartawan Bali Post yang kini mengelola lembaga sastra Komunitas Mahima sempat menanyakan keberadaan novel itu, namun sejumlah pejabat dan staf mengaku tak mengetahuinya.

Hari ini, pada peringatan dua tahun meninggalnya sang maestro I Gde Dharna, saya hanya bisa berharap ada banyak pihak yang lebih peduli lagi dengan karya-karyanya.

Pernah saya membayangkan, Perpustakaan Daerah melakukan cetak ulang pada karya-karya I Gde Dharna pada periode 1970-an hingga 1990-an. Upaya itu jauh lebih penting, ketimbang membeli buku-buku yang tak jelas juntrungnya.

Seorang seniman, apalagi sastrawan dan penulis lagu, monument paling penting bagi mereka adalah bagaimana hasil karya mereka bisa dibukukan, dikoleksi di perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, atau perpustakaan besar milik pemerintah daerah.

Mungkin mereka tak perlu dibuatkan patung atau namanya diukir di prasasti gedung dan dipakai nama jalan. Tapi bagaimana buku mereka bisa memberikan pengaruh baik pada generasi, meski si seniman sudah tak ada.

Tapi itu hanya bayangan semu. Bayangan yang semakin kabur, hingga akhirnya hanya jadi angan semu. (T)

Tags: balibulelenglagunovelsastra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Kuliah Masih Penting Gak Ya? Jawabnya: Oh, Tentu Saja!

Next Post

Romantika Cewek Karaoke dan Lelaki Pelamun #1: Rayuan di Pasar Malam

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Romantika Cewek Karaoke dan Lelaki Pelamun #1: Rayuan di Pasar Malam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co