2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel Terakhir yang Hilang – Mengenang 2 Tahun Kepergian Seniman I Gde Dharna

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

 

DUA tahun sudah seniman I Gde Dharna tutup usia. Sang maestro menghembuskan nafas terakhirnya 13 September 2015 lalu di RSUD Buleleng, karena penyakit komplikasi yang dideritanya.

Selama dua tahun belakangan, nama besar I Gde Dharna mulai dilupakan. Tetapi karya-karya besarnya, terus diingat.

Karyanya yang paling monumental adalah lagu “Merah Putih”. Lagu itu tercipta pada tahun 1950 silam, dan itu adalah lagu pertama yang mendiang buat.

Begini liriknya: Merah Putih benderan tityange// Berkibaran di langite terang galang// Nika lambang jiwan rakyat Indonesia// Merah berani medasar hati ne suci// Pusaka abdi lan luhur jaya sakti// Merah putih benderan tityange//

Dulu, lagu “Merah Putih” adalah lagu wajib ketiga yang harus dihafal oleh anak sekolah dasar di Bali. Lagu pertama adalah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, kedua Hari Merdeka, ketiga Merah Putih ciptaan mendiang I Gde Dharna.

Pasca reformasi, lagu ini mulai jarang terdengar di ruang kelas. Beberapa musisi kemudian menggubah nadanya. Lagu yang semula memiliki laras selendro, dimainkan dalam nuansa lagu rock maupun punk.

Lagu Merah Putih dalam nuansa rock, pertama kali dimainkan oleh Bintang featuring Bobby SID pada tahun 2011 silam di GOR Bhuana Patra Singaraja. Selang beberapa lama, Superman is Dead bersama Balawan juga memainkannya pada acara Radio Show. Terakhir Nanoe Biroe turut menyanyikannya.

Semua lagu itu sudah pernah didengarkan oleh Dharna. “Saya sudah dengar lagunya. Ternyata pakai musik begitu, enak juga didengar juga ya,” ujar Dharna dalam sebuah perbincangan pada 7 Juli 2015 silam.

Selain lagu Merah Putih, Dharna punya segudang karya lainnya. Sebut saja genjek, jejangeran, gending rare, tembang Pop Bali, hingga Bali Anyar ia tekuni.

Dharna bukan hanya musisi. Dia juga sastrawan. Seniman besar. Sederet penghargaan sudah dia kantongi. Sebut saja penghargaan “Piagam” Dharma Kusuma dan Wija Kusuma. Kata “Piagam” sengaja saya tulis dalam tanda petik. Saya tidak tahu apakah penghargaan itu pada tahun 1980-an sudah berbentuk medali, atau masih berbentuk selembar piagam.

Belum lagi penghargaan Sastra Bali Modern “Rancage” pada tahun 2000. I Gde Dharna juga satu-satunya seniman yang menerima penghargaan Lifetime Achievement pada Buleleng Festival 2013 lalu. Seingat saya itu adalah penghargaan pertama dan terakhir. Hingga kini pada ajang Bulfest, penghargaan serupa tak pernah lagi diberikan.

Karya-karyanya di bidang sastra juga sangat banyak. Sebut saja buku Leak Macelek Bunga; Kumpulan Puisi Bali Modern berjudul “Denpasar Lan Don Pasar”; Kumpulan Puisi Delapan Penyair Buleleng berjudul “Pantai Pantai” (1976); Gita Pahlawan (Perang Jagaraga Dalam Puisi) (1979); Antologi Puisi ASEAN (1983); Buku Kumpulan Puisi “Kaki Langit” (1984); Kumpulan Drama dan Puisi Bahasa Bali, “Kobarang Apine” (1999); dan Antologi Puisi “Tentang Putra Fajar” (2001).

Itu beberapa karya sastra yang berhasil saya catat. Selebihnya, saya yakin masih ada banyak lagi karya-karyanya yang telah dibukukan, maupun belum dibukukan.

Novel Terakhir

Bicara soal karya sastra mendiang I Gde Dharna, sebenarnya ada sebuah karya yang kini berstatus hilang. Karya itu adalah novel berjudul “Bintang Denbukit”. Novel itu ditulis menjelang seniman besar itu tutup usia. Bahkan diduga penyakitnya kala itu kambuh karena terlalu sibuk menyelesaikan novel itu, sehingga jarang tidur dan istirahat.

Novel ini ditulis mendiang sepanjang tahun 2015 lalu. Novel kemudian dirilis pada 16 Agustus 2015. Dicetak apa adanya. Hanya beberapa pekan, sebelum I Gde Dharna tutup usia.

Tepat pada momen tatap muka Pemkab Buleleng dengan para veteran di Buleleng, novel itu diserahkan pada Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana. Momen itu terjadi di Lobi Atiti Wisma Kantor Bupati Buleleng.

Harapan Dharna saat itu novel tersebut dicetak dan diterbitkan oleh Pemkab untuk dibagikan ke sekolah-sekolah.Seingat saya, setelah diterima oleh bupati, buku itu diserahkan kepada seorang staf. Entah siapa, saya sungguh-sungguh lupa. Padahal saat itu saya ada di sana.

Ternyata, novel yang diserahkan itu adalah hasil cetakan satu-satunya. Novel itu kini hilang, tidak ditemukan lagi. Entah diletakkan di mana. Selama dua tahun, buku itu berada di tempat antah berantah. Entah masih berwujud, atau sudah tak berwujud.

Sepengetahuan saya, hingga hari ini novel itu tak kunjung diterbitkan. Seorang teman, Made Adnyana Ole, mantan wartawan Bali Post yang kini mengelola lembaga sastra Komunitas Mahima sempat menanyakan keberadaan novel itu, namun sejumlah pejabat dan staf mengaku tak mengetahuinya.

Hari ini, pada peringatan dua tahun meninggalnya sang maestro I Gde Dharna, saya hanya bisa berharap ada banyak pihak yang lebih peduli lagi dengan karya-karyanya.

Pernah saya membayangkan, Perpustakaan Daerah melakukan cetak ulang pada karya-karya I Gde Dharna pada periode 1970-an hingga 1990-an. Upaya itu jauh lebih penting, ketimbang membeli buku-buku yang tak jelas juntrungnya.

Seorang seniman, apalagi sastrawan dan penulis lagu, monument paling penting bagi mereka adalah bagaimana hasil karya mereka bisa dibukukan, dikoleksi di perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, atau perpustakaan besar milik pemerintah daerah.

Mungkin mereka tak perlu dibuatkan patung atau namanya diukir di prasasti gedung dan dipakai nama jalan. Tapi bagaimana buku mereka bisa memberikan pengaruh baik pada generasi, meski si seniman sudah tak ada.

Tapi itu hanya bayangan semu. Bayangan yang semakin kabur, hingga akhirnya hanya jadi angan semu. (T)

Tags: balibulelenglagunovelsastra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Kuliah Masih Penting Gak Ya? Jawabnya: Oh, Tentu Saja!

Next Post

Romantika Cewek Karaoke dan Lelaki Pelamun #1: Rayuan di Pasar Malam

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

Romantika Cewek Karaoke dan Lelaki Pelamun #1: Rayuan di Pasar Malam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co