22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang 13 Tahun Munir Dibunuh – Catatan Seorang Wartawan

Heyder Affan by Heyder Affan
February 2, 2018
in Esai

Poster Peringatan 13 Tahun Pembunuhan Munir

 

TIBA-TIBA aku teringat mendiang Munir, ketika mobilku melaju kencang di atas tol Bintaro, pertengahan bulan Ramadhan beberapa tahun silam. Rasa kehilangan itu tiba-tiba menguasai tubuh, menggantikan panorama indah biru langit Jakarta sore itu…

Adalah istriku yang membuka “pintu kesedihan” tersebut. Di atas mobil, dia bertanya: siapa penceramah pada buka bersama di komplek tempat kami tinggal, Sabtu kemarin? (Kami baru saja pindah rumah, dan setelah sekian tahun, inilah pertama kalinya aku duduk tenang, mendengarkan sebuah khotbah…).

Aku pun membuka pembicaraan. Kujelaskan, pengkhotbah itu adalah Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Hidayatullah. Dan, “ceramahnya bagus ya, nggak menggurui..”

Istriku mengiyakan, dan entah kenapa kemudian tiba-tiba aku berkata lirih seraya mataku mulai berkaca-kaca, “ah, aku jadi ingat Munir..”

Pikiran ini muncul seketika, dan suasana di dalam mobil itu pun menjadi haru. Musik Cranberries — ode to my family — yang mengalun dari tape mobilku, semakin menggenapkan suasana miris itu, dan berubah menjadi mirip musik kematian. Kami sempat terdiam beberapa detik — rupanya perasaan yang sama juga muncul di benak istriku. (Anakku yang duduk di belakang juga diam seribu bahasa).

Wajah tirus Munir, rambut yang kemerahan, tubuh yang ringkih, kemudian membayang sekelebat. Kemudian, kepingan-kepingan memori seperti berputar kembali. Dan muncullah potongan percakapan — yang samar-samar kuingat — antara diriku dengan mendiang, sekian tahun silam, sebelum racun itu membunuhnya…

“Kita ikut berdosa, kalau hadir dan mendengarkan khotbah (Jumat) yang isinya cuma menghujat, mengajak bermusuhan…” Kalimat ini dia utarakan, setengah berkelakar, kepada segelintir wartawan, yang biasa ngepos di Kantor YLBHI, Jakarta. (Saat itu, dia dipercaya memimpin LSM itu). Aku ada di sana saat itu. Saya tidak menimpali kalimatnya, tetapi kalimat itulah yang masih kuingat sampai sekarang.

Sebuah mesjid kecil tidak jauh dari kami berdiri kami, memang tengah menyuarakan suara pengkhotbah melalui pengeras suara. “Ayo Fan sholat,” ajaknya seraya tertawa. Walau aku agak malas, kami akhirnya menuju mesjid itu, tetapi di saat-saat ketika khotbah itu segera berakhir.

***

SAYA mengetahui sosok Munir, jauh sebelum dia dikenal sebagai pegiat HAM yang dikenal vokal dan berani. (“Saya juga pernah merasa ketakutan, Fan,” ujarnya setelah mendirikan organisasi Kontras, tahun 1998).

Saya dan Munir berasal dari tempat kuliah yang sama, di kota Malang, Jawa Timur, walau beda fakultas. Saat itu dia aktif di organisasi ekstra serta intra kampus, sementara aku sejak awal terbenam di dunia pers mahasiswa.Tapi saya tak pernah mengenalnya, dan kita jarang bertemu saat itu.

“Kupikir kau dulu juga dari Fakultas Hukum,” tanya mendiang kepadaku, beberapa bulan sebelum dia hendak terbang ke Belanda.

Namun nama Munir mulai kudengar setelah dia bergelut sebagai pegiat aktivis LBH Surabaya dalam menangani kasus Marsinah, aktivis buruh yang dibunuh tahun 1993.

Saat itu aku masih berstatus mahasiswa, dan kasus Marsinah menjadi santapan kami dalam diskusi-diskusi, yang terkadang melibatkan pula pegiat LBH di kota Malang…

Diantaranya yang samar-samar kuingat, adalah momen ketika Munir serta beberapa aktivis LBH Malang, menemani advokat senior Adnan Buyung Nasution — yang tengah kampanye keliling Indonesia ‘menentang’ rezim Orde Baru (tahun 1993?) –, diskusi di kampus Universitas Brawijaya.

Saya ikut di rombongan ini, termasuk saat Buyung diajak ke kantor LBH (di Jalan Mayjen Panjaitan) Malang, yang sempit. Yang kuingat, di sini aku mendapatkan poster yang kemudian menjadi melegenda ‘Tanah Untuk Rakyat’…

***

DUA tahun sebelum Suharto jatuh, aku menjadi wartawan harian lokal di Denpasar, Bali. Hanya tiga bulan di kota itu, aku kemudian ditugaskan ke Jakarta, awal 1997 — dengan spesialisasi liputan di dunia LSM, pengadilan, serta Partai Golkar. Pada tahun inilah, seingatku, aku berkenalan dengan Munir, yang kala itu dipromosikan bertugas di YLBHI Jakarta.

Dan Munir bukanlah tipikal pegiat yang menjaga jarak dengan media. Dengan segala keterbatasan, dia mau berbagi informasi, walau tidak untuk ditulis. Bersama sejumlah wartawan yang biasa meliput di LBH, saya bisa seenaknya nyelonong masuk ke ruangan kerjanya, untuk sekedar berkelakar, atau menanyakan latar sebuah kasus.

“Ayo masuk ke ruangan, aku punya informasi penting nih…” Di dalam ruangan kerjanya, di salah-satu pojok gedung YLBHI di Jalan Diponegoro, kami pun saling berbagi informasi.

Seingatku aku saat itu lebih banyak mendengar, dalam percakapan yang sebagian besar dipenuhi seloroh itu. Munir memang bukanlah tipe serius..

Dan suhu politik yang memanas pada tahun-tahun itu, membuat jarak kami makin dekat. Peristiwa penculikan aktivis politik, pengungkapan kerusuhan Mei ’98, disusul pendirian lembaga Kontras, adalah peristiwa-peristiwa yang membuat saya acap bersua “si rambut merah” — julukan bernada seloroh yang ditahbiskan kepadanya, selain panggilan akrab “Cak Munir”…

***

SEKALI waktu, aku mewawancarai Munir, tetapi bukan dalam kapasitas dia sebagai pengamat, yang menganalisa sesuatu dengan jarak yang jauh. Pertengahan tahun 2001, aku tengah menyiapkan program seri radio tentang dampak serangan 11 September terhadap komunitas keturunan Arab di Indonesia. Munir kuwawancarai sebagai salah-seorang keturunan Arab yang memilih aktivitas LSM sebagai profesinya.

Yang menarik dari jawabannya, tatkala dia kutanya tentang sikapnya tentang isu pembauran. “Sikap sebagian keturunan Arab yang menikah dengan sesama keturunan Arab, itu cerminan feodalisme, kalau didasari karena kesucian darah,” katanya tegas.

Seperti diketahui, istri Munir, Suci (juga pegiat LBH di divisi perburuhan), yang dikenalnya saat aktif di LBH Surabaya, bukanlah keturunan Arab.

***

PESAN pendek itu masuk ke telepon selulerku, pada sebuah siang, bulan September 2004. Saya setengah kaget, syok, tidak percaya kematian itu begitu cepat menjemputnya.

Saya kontak orang-orang terdekatnya, dan semua membenarkan berita kematian Munir, yang diiringi kesedihan, berikut nada amarah di baliknya.

Saya masih ingat, Susilo Bambang Yudoyono (saat itu masih calon presiden) di depan wartawan di Hotel Mandarin menghentikan sebentar diskusinya, dan mengucapkan bela sungkawa.

Teman sekantorku tak kuasa menahan tangis,” Cak Munir sudah tiada,” dan bertanya-tanya apa penyebab kematiannya. Adakah dia dibunuh? Siapa yang tega melakukan ini semua? Mengapa?

Deretan pertanyaan seperti ini diutarakan orang-orang yang paham atas resiko profesi yang menjadi pilihan Munir. (“Saya sudah terbiasa hidup dalam ancaman, ya, dijalani saja,” katanya suatu saat, dengan tetap tersenyum.

Dia saat itu masih mengendarai sepeda motor, dari rumahnya di kawasan Cipinang ke kantornya di Jalan Diponegoro).

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, seperti diketahui, baru terjawab sekian tahun kemudian — walaupun semua orang tahu, pada akhirnya, betapa sulitnya mengungkap siapa aktor di balik semua tindakan keji ini.

Tetapi bagiku, rasa kehilangan itu belum juga beranjak. “Rasa kehilangan itu tiba-tiba menguasai tubuh, menggantikan panorama indah biru langit Jakarta sore itu…” (***/T)

Tags: hak azasiHAMkenanganMunirrenunganwartawan
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

“Si Gug” Jango Pramartha Bicara Sosok Ikonik Dunia Kartun Indonesia

Next Post

Pentas SMAN 1 Negara: Cak-Jegog dari Bali Barat

Heyder Affan

Heyder Affan

Penyuka jalan-jalan, penikmat sastra, dan gila bola. Tulisannya bisa dilihat secara lengkap di heyderaffan.blogspot.com

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Pentas SMAN 1 Negara: Cak-Jegog dari Bali Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co