15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Matahari, Krayon Kuning dan Krayon Orange – Dongeng Pendidikan tentang Warna

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

MATAHARI terbangun dari tidurnya karena sudah waktunya menyinari bumi. Matahari memberikan pagi yang cerah kepada makluk hidup. Akan tetapi, Matahari kaget melihat perubahan warna tubuhnya.

”Mengapa tubuhku tidak berwarna putih? Padahal kemarin sudah diwarnai oleh Krayon Putih. Ah, mungkin ini hanya sementara,” pikir Matahari.

Matahari melupakan itu dan tetap menyinari bumi. Apalagi, saat siang, warna tubuhnya kembali putih.

Namun, menjelang sore hari, Matahari semakin terkejut dengan perubahan warna tubuhnya yang semakin jelas kehilangan putihnya. ”Bukankah tadi siang tubuhku masih warna putih? Kok sore ini berubah warna lagi. Apa yang terjadi, ya?” keluh Matahari.

Keesokan harinya, ”Oh, tubuhku kembali berubah warna. Mengapa hanya terjadi di pagi dan sore hari?” ucap Matahari dalam hatinya.

Matahari semakin berpikir dengan keadaan tubuhnya yang berubah warna setiap pagi dan sore hari. Sebab, perubahan warna Matahari terjadi setiap hari. ”Jangan-jangan ada yang mewarnai tubuhku ketika aku tidur malam dan istirahat sore. Apakah mungkin Krayon lain yang juga ikut mewarnaiku?” pikir Matahari.

Dalam lamunan, Matahari mencari kebenaran siapa yang mewarnai dirinya. ”Aku harus menemukan Si Krayon itu karena ia memberikan warna ajaib yang bisa berubah,” janji Matahari.

Menemui Semua Krayon

Matahari pun pergi mencari Si Krayon-krayon untuk bertanya tentang siapa yang mewarnai tubuhnya.

Matahari bertemu Krayon Ungu. ”Krayon Ungu, kamu ya mewarnai tubuhku?” tanya Matahari.

”Bukan aku yang mewarnaimu. Coba lihat tubuhmu! Tidak sesuai dengan warnaku, bukan?” kata Krayon Ungu.

”Ya juga sih, warna tubuhku tidak sesuai dengan warnamu Krayon Ungu,” kata Matahari.

Matahari melanjutkan kembali pejalanannya mencari Krayon yang lain. Kemudian, Matahari bertemu dengan Krayon Hijau. ”Krayon Hijau, apakah kamu datang ke rumah untuk mewarnai tubuhku, saat aku tidur,” tanya Matahari.

”Tidak. Lihat tubuhku ini tidak sama denganmu. Kamu menggangu kerjaku saja,” ucap Krayon Hijau marah-marah.

”Maaf, Krayon Hijau. Aku bukan bermaksud mengganggu pekerjaanmu,” kata Matahari.

”Tahu tidak, aku sudah capek mewarnai semua daun tumbuhan ini. Lihat tubuhku ini semakin pendek. Mana mungkin aku sempat mewarnaimu,” keluh Krayon Hijau dengan nada masih sedikit marah.

”Maaf,” ucap Matahari pergi meninggalkan Krayon Hijau. Matahari begitu lesu melanjutkan perjalanannya mencari Krayon lain.

Kemudian, Matahari duduk termenung memikirkan perubahan warna dalam tubuhnya.

”Matahari, mengapa kamu terlihat sedih? Apa yang terjadi dalam dirimu?”  tanya Krayon Hitam mengagetkan Matahari.

”Aku bingung Krayon Hitam. Aku belum menemukan siapa yang mewarnai tubuhku ini,” keluh Matahari.

”Oh, begitu ya,” kata Krayon Hitam. Krayon Hitam pun mengamati Matahari.

”Coba cari si Krayon Kuning. Warna tubuhmu seperti warna kuning. Mungkin, Krayon Kuning tahu,” kata Krayon Hitam.

Pertengkaran Krayon Kuning dan Krayon Orange

Matahari kembali bersemangat setelah mendengar perkataan Krayon Hitam. Dengan perasaan senang, Matahari bergegas pergi mencari Krayon Kuning.

Di perjalanan, Matahari melihat Kroyon Kuning yang sedang sibuk mewarnai buah pisang untuk member tanda kalau buah itu sudah matang.

”Bagaimana caranya menyampaikan keingintahuanku? Aku takut. Krayon Kuning nanti marah seperti Krayon Hijau,” ucap Matahari dalam pikiran takutnya.

Matahari berpikir lama untuk mengumpulkan keberaniannya. Akhirnya, Matahari memberanikan diri menemui Krayon Kuning. ”Krayon Kuning, Masih sibuk?” tanya Matahari mengegetkan Krayon Kuning.

”Aku sedikit sibuk. Ada apa Matahari?” jawab Krayon Kuning.

”Apa kamu yang mewarnai tubuhku? Aku tidak tahu, mengapa tubuhku berwarna seperti ini?” tanya Matahari.

”Oh itu, ya aku yang mewarnaimu. Kebetulan aku lewat ke rumahmu. Bagaimana, bagus nggak warnanya?” kata Krayon Kuning.

”Ya, bagus warnanya. Warna tubuhku jadinya bisa berubah-ubah,” jawab Matahari senang.

Matahari pun lega dan bahagia sudah menemukan Krayon yang mewarnainya.

Numun, Krayon Orange mendengar percakapan antara Matahari dan Krayon Kuning. Krayon Orange langsung menimpali. ”Itu bukan Krayon Kuning yang mewarnaimu. Aku yang mewarnaimu, Matahari,” teriak Krayon Orange.

Matahari dan Krayon Kuning tersontak keget mendengar teriakan Krayon Orange. Mereka tidak menyadari kalau Krayon Orange telah mendengar percakapan mereka.

”Bagaimana ini Krayon Kuning? Siapa sebenarnya yang mewarnaiku?” tanya Matahari bingung.

”Tenang Matahari. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan Krayon Orange,” jawab Krayon Kuning menyembunyikan amarahnya.

Dengan perasaan kesal, Krayon Kuning mendekati Krayon Orange. ”Apa maksud Krayon Orange? Kamu ngaku-ngaku sudah mewarnai Matahari,” ucap Krayon Kuning marah.

”Ah, Krayon Kuning hanya mengakui pekerjaanku. Coba lihat dengan benar warna matahari itu! Sudah jelas itu warna orange,” kata Krayon Orange marah.

Krayon Kuning tak mau kalah dan tak takut dengan bentakan Krayon Orange.

”Aku sudah lihat dengan jelas. Matahari itu warnanya kuning. Aku yang pagi-pagi mewarnai matahari. Bukan kamu Krayon Orange,” teriak Krayon Kuning.

Terjadilah pertengkaran antara Krayon Kuning dan Krayon Orange. Mereka saling mempertahankan bahwa mereka yang mewarnai Matahari. Krayon Kuning bersekukuh bahwa ia yang mewarnai Matahari. Krayon Orange juga bersekukuh bahwa ia yang mewarnai Matahari.

Mereka saling menembakkan warna. Sampai sore, mereka terus bertengkar sehingga Matahari menjadi pusing melihat pertengkaran itu.

”Berhenti! Kalau tahu begini, aku tak akan pernah ke sini,” teriak Matahari.

Tapi, Krayon Kuning dan Krayon Orange masih tetap bertengkar. Mereka tidak menghiraukan permintaan Matahari. Matahari pun pergi meninggalkan mereka yang masih bertengkar.

Tiba-tiba, Krayon Merah menghampiri mereka. ”Sudah, hentikan pertekaran kalian! Aku sudah lama mencari kalian. Aku tahu penyebab kalian bertengkar,” ucap Krayon Merah.

Mendengar ucapan Krayon Merah, Krayon Kuning dan Krayon Orange menghentikan pertengkarannya.

”Kalian berdua memang benar telah mewarnai Matahari. Tapi, kalian mewarnainya pada waktu yang berbeda,” ucap Krayon Merah.

”Ah, aku tak percaya. Krayon Merah pasti bohong,” ucap Krayon Orange tak terima. Krayon Merah menghela napasnya mendengar bantahan Krayon Orange.

”Kapan Krayon Orange mewarnai Matahari?” tanya Krayon Merah.

”Setiap sore,” jawab Krayon Orange singkat.

”Kalau kamu Krayon Kuning, kapan kamu mewarnai Matahari?” tanya Krayon Merah.

”Aku pagi-pagi mewarnai Matahari,” jawab Krayon Kuning.

”Tapi, aku lihat warna matahari itu warna Orange,” kata Krayon Orange masih tak terima.

”Dengar dulu penjelasanku,” kata Krayon Merah, suaranya meninggi.

”Ya, maaf Krayon Merah,”  ucap mereka bersamaan.

”Memang benar Krayon Kuning pagi-pagi mewarnai matahari. Namun, menjelang siang hari, Krayon Putih yang mewarnai Matahri sehingga warna kuning menjadi warna putih. Kemudian, di sore hari, datang Krayon Orange mewarnai Matahari. Itulah yang membuat Matahari bingung karena warnanya berubah-ubah setiap hari,” terang Krayon Merah.

”Oh, begitu. Sekarang aku paham maksudmu, Krayon Merah,” Kata krayon Orange.

”Baguslah kalau kalian ngerti. Jadi, kalian tidak bertengkar lagi karena masalah ini,” ucap Krayon Merah bahagia.

”Ayo kita minta maaf kepada Matahari karena telah membuat ia bingung,” kata Krayon Kuning menggandeng tangan Krayon Orange.

Asal Mula Krayon Orange

”Tunggu sebentar, jangan pergi dulu!” pinta Krayon Merah menghentikan langkah mereka.

”Ada apa lagi Krayon Merah?” tanya Krayon Orange.

”Aku ingin menyampaikan hal penting yang harus kalian ketahui,” ucap Krayon Merah.

”Hal penting apa lagi yang ingin Krayon Merah sampaikan? Cepat katakan!” ucap Krayon Kuning tak sabar karena ingin cepat menemui Matahari.

”Dahulu, kakekku Krayon Merah bersahabat dengan Kakek Krayon Kuning. Ketika itu, kakek Krayon Merah dan kakek Krayon Kuning menyatukan kekuatannya menciptakan Krayon Orange. Karena itu, aku bahagia bisa menyampaikan semua ini kepada kalian berdua,” kata Krayon Merah.

Mendengar penjelasan Krayon Merah, mereka semakin mengerti dan berjanji menjadi sahabat seperti kakek mereka. Mereka pun pergi menemui Matahari untuk menjelaskan semuanya.

”Kalian sudah tidak bertengkar lagi?” tanya Matahari melihat Krayon Kuning dan Krayon Orange yang terlihat akur.

”Sekarang kami sudah bersahabat,” ucap Krayon Orange.

Krayon Kuning dan Krayon Orange menjelaskan apa yang terjadi dengan perubahan warna matahari akibat mereka berdua. Matahari bahagia mendengar penjelasan Krayon Kuning dan krayon Orange.

Terjadinya Warna Hijau

” Krayon Orange dan Krayon Kuning, coba sekarang warnai aku dong!” pinta Matahari bahagia. Kemudian, Krayon Orange dan Kuning mewarnai matahari.

”Oh, kok tubuhku jadi warna hijau, tapi tidak warna orange dan kuning. Ini bukan warna kesukaanku,” ucap kaget Matahari melihat perubahan tubuhnya.

Krayon Orange dan Krayon Kuning juga terkejut dengan perubahan Matahri. ”Oh, Kok bisa begini Krayon Kuning,” kata Krayon Orange heran.

”Cepat panggil Krayon Putih untuk mewarnaiku! Aku tidak mau Krayon Hijau marah melihat warna hijau di tubuhku. Cepat panggil Krayon Putih,” pinta Matahari.

Mendengar teriakan Matahari, Krayon Orange dan Krayon Kuning sontak kaget dan segera pergi memanggil Krayon Putih. Krayon Putih pun menemui Matahri dan mewarnainya. Matahari kembali senang karena warna hijau di tubuhnya hilang.

Krayon Orange dan Krayon Kuning menyadari kalau mereka mewarnai bersama-sama akan menakuti Matahari. Sebab, Matahari masih takut dengan warna hijau.

Kini, setiap pagi-pagi, Krayon Kuning selalu mewarnai matahari. Dan, setiap sore, Krayon Orange selalu mewarnai Matahari. Matahari senang memiliki warna-warna yang berbeda. Kita pun bisa menikmati Sunrise yang indah di pagi hari dan Sunset yang menakjubkan di sore hari. (T)

Tags: alamdongengPendidikanpendidikan usia dini
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Monolog “Kartini” dan “Guru” pada Malam Sehabis Hujan di SMAN 1 Banjar

Next Post

Ririn Main “Sepi”, Dayu Fortuna “Pidato Gila” – Semangat Pentas Teater Kampus

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post

Ririn Main “Sepi”, Dayu Fortuna “Pidato Gila” - Semangat Pentas Teater Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co