14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Matahari, Krayon Kuning dan Krayon Orange – Dongeng Pendidikan tentang Warna

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

MATAHARI terbangun dari tidurnya karena sudah waktunya menyinari bumi. Matahari memberikan pagi yang cerah kepada makluk hidup. Akan tetapi, Matahari kaget melihat perubahan warna tubuhnya.

”Mengapa tubuhku tidak berwarna putih? Padahal kemarin sudah diwarnai oleh Krayon Putih. Ah, mungkin ini hanya sementara,” pikir Matahari.

Matahari melupakan itu dan tetap menyinari bumi. Apalagi, saat siang, warna tubuhnya kembali putih.

Namun, menjelang sore hari, Matahari semakin terkejut dengan perubahan warna tubuhnya yang semakin jelas kehilangan putihnya. ”Bukankah tadi siang tubuhku masih warna putih? Kok sore ini berubah warna lagi. Apa yang terjadi, ya?” keluh Matahari.

Keesokan harinya, ”Oh, tubuhku kembali berubah warna. Mengapa hanya terjadi di pagi dan sore hari?” ucap Matahari dalam hatinya.

Matahari semakin berpikir dengan keadaan tubuhnya yang berubah warna setiap pagi dan sore hari. Sebab, perubahan warna Matahari terjadi setiap hari. ”Jangan-jangan ada yang mewarnai tubuhku ketika aku tidur malam dan istirahat sore. Apakah mungkin Krayon lain yang juga ikut mewarnaiku?” pikir Matahari.

Dalam lamunan, Matahari mencari kebenaran siapa yang mewarnai dirinya. ”Aku harus menemukan Si Krayon itu karena ia memberikan warna ajaib yang bisa berubah,” janji Matahari.

Menemui Semua Krayon

Matahari pun pergi mencari Si Krayon-krayon untuk bertanya tentang siapa yang mewarnai tubuhnya.

Matahari bertemu Krayon Ungu. ”Krayon Ungu, kamu ya mewarnai tubuhku?” tanya Matahari.

”Bukan aku yang mewarnaimu. Coba lihat tubuhmu! Tidak sesuai dengan warnaku, bukan?” kata Krayon Ungu.

”Ya juga sih, warna tubuhku tidak sesuai dengan warnamu Krayon Ungu,” kata Matahari.

Matahari melanjutkan kembali pejalanannya mencari Krayon yang lain. Kemudian, Matahari bertemu dengan Krayon Hijau. ”Krayon Hijau, apakah kamu datang ke rumah untuk mewarnai tubuhku, saat aku tidur,” tanya Matahari.

”Tidak. Lihat tubuhku ini tidak sama denganmu. Kamu menggangu kerjaku saja,” ucap Krayon Hijau marah-marah.

”Maaf, Krayon Hijau. Aku bukan bermaksud mengganggu pekerjaanmu,” kata Matahari.

”Tahu tidak, aku sudah capek mewarnai semua daun tumbuhan ini. Lihat tubuhku ini semakin pendek. Mana mungkin aku sempat mewarnaimu,” keluh Krayon Hijau dengan nada masih sedikit marah.

”Maaf,” ucap Matahari pergi meninggalkan Krayon Hijau. Matahari begitu lesu melanjutkan perjalanannya mencari Krayon lain.

Kemudian, Matahari duduk termenung memikirkan perubahan warna dalam tubuhnya.

”Matahari, mengapa kamu terlihat sedih? Apa yang terjadi dalam dirimu?”  tanya Krayon Hitam mengagetkan Matahari.

”Aku bingung Krayon Hitam. Aku belum menemukan siapa yang mewarnai tubuhku ini,” keluh Matahari.

”Oh, begitu ya,” kata Krayon Hitam. Krayon Hitam pun mengamati Matahari.

”Coba cari si Krayon Kuning. Warna tubuhmu seperti warna kuning. Mungkin, Krayon Kuning tahu,” kata Krayon Hitam.

Pertengkaran Krayon Kuning dan Krayon Orange

Matahari kembali bersemangat setelah mendengar perkataan Krayon Hitam. Dengan perasaan senang, Matahari bergegas pergi mencari Krayon Kuning.

Di perjalanan, Matahari melihat Kroyon Kuning yang sedang sibuk mewarnai buah pisang untuk member tanda kalau buah itu sudah matang.

”Bagaimana caranya menyampaikan keingintahuanku? Aku takut. Krayon Kuning nanti marah seperti Krayon Hijau,” ucap Matahari dalam pikiran takutnya.

Matahari berpikir lama untuk mengumpulkan keberaniannya. Akhirnya, Matahari memberanikan diri menemui Krayon Kuning. ”Krayon Kuning, Masih sibuk?” tanya Matahari mengegetkan Krayon Kuning.

”Aku sedikit sibuk. Ada apa Matahari?” jawab Krayon Kuning.

”Apa kamu yang mewarnai tubuhku? Aku tidak tahu, mengapa tubuhku berwarna seperti ini?” tanya Matahari.

”Oh itu, ya aku yang mewarnaimu. Kebetulan aku lewat ke rumahmu. Bagaimana, bagus nggak warnanya?” kata Krayon Kuning.

”Ya, bagus warnanya. Warna tubuhku jadinya bisa berubah-ubah,” jawab Matahari senang.

Matahari pun lega dan bahagia sudah menemukan Krayon yang mewarnainya.

Numun, Krayon Orange mendengar percakapan antara Matahari dan Krayon Kuning. Krayon Orange langsung menimpali. ”Itu bukan Krayon Kuning yang mewarnaimu. Aku yang mewarnaimu, Matahari,” teriak Krayon Orange.

Matahari dan Krayon Kuning tersontak keget mendengar teriakan Krayon Orange. Mereka tidak menyadari kalau Krayon Orange telah mendengar percakapan mereka.

”Bagaimana ini Krayon Kuning? Siapa sebenarnya yang mewarnaiku?” tanya Matahari bingung.

”Tenang Matahari. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan Krayon Orange,” jawab Krayon Kuning menyembunyikan amarahnya.

Dengan perasaan kesal, Krayon Kuning mendekati Krayon Orange. ”Apa maksud Krayon Orange? Kamu ngaku-ngaku sudah mewarnai Matahari,” ucap Krayon Kuning marah.

”Ah, Krayon Kuning hanya mengakui pekerjaanku. Coba lihat dengan benar warna matahari itu! Sudah jelas itu warna orange,” kata Krayon Orange marah.

Krayon Kuning tak mau kalah dan tak takut dengan bentakan Krayon Orange.

”Aku sudah lihat dengan jelas. Matahari itu warnanya kuning. Aku yang pagi-pagi mewarnai matahari. Bukan kamu Krayon Orange,” teriak Krayon Kuning.

Terjadilah pertengkaran antara Krayon Kuning dan Krayon Orange. Mereka saling mempertahankan bahwa mereka yang mewarnai Matahari. Krayon Kuning bersekukuh bahwa ia yang mewarnai Matahari. Krayon Orange juga bersekukuh bahwa ia yang mewarnai Matahari.

Mereka saling menembakkan warna. Sampai sore, mereka terus bertengkar sehingga Matahari menjadi pusing melihat pertengkaran itu.

”Berhenti! Kalau tahu begini, aku tak akan pernah ke sini,” teriak Matahari.

Tapi, Krayon Kuning dan Krayon Orange masih tetap bertengkar. Mereka tidak menghiraukan permintaan Matahari. Matahari pun pergi meninggalkan mereka yang masih bertengkar.

Tiba-tiba, Krayon Merah menghampiri mereka. ”Sudah, hentikan pertekaran kalian! Aku sudah lama mencari kalian. Aku tahu penyebab kalian bertengkar,” ucap Krayon Merah.

Mendengar ucapan Krayon Merah, Krayon Kuning dan Krayon Orange menghentikan pertengkarannya.

”Kalian berdua memang benar telah mewarnai Matahari. Tapi, kalian mewarnainya pada waktu yang berbeda,” ucap Krayon Merah.

”Ah, aku tak percaya. Krayon Merah pasti bohong,” ucap Krayon Orange tak terima. Krayon Merah menghela napasnya mendengar bantahan Krayon Orange.

”Kapan Krayon Orange mewarnai Matahari?” tanya Krayon Merah.

”Setiap sore,” jawab Krayon Orange singkat.

”Kalau kamu Krayon Kuning, kapan kamu mewarnai Matahari?” tanya Krayon Merah.

”Aku pagi-pagi mewarnai Matahari,” jawab Krayon Kuning.

”Tapi, aku lihat warna matahari itu warna Orange,” kata Krayon Orange masih tak terima.

”Dengar dulu penjelasanku,” kata Krayon Merah, suaranya meninggi.

”Ya, maaf Krayon Merah,”  ucap mereka bersamaan.

”Memang benar Krayon Kuning pagi-pagi mewarnai matahari. Namun, menjelang siang hari, Krayon Putih yang mewarnai Matahri sehingga warna kuning menjadi warna putih. Kemudian, di sore hari, datang Krayon Orange mewarnai Matahari. Itulah yang membuat Matahari bingung karena warnanya berubah-ubah setiap hari,” terang Krayon Merah.

”Oh, begitu. Sekarang aku paham maksudmu, Krayon Merah,” Kata krayon Orange.

”Baguslah kalau kalian ngerti. Jadi, kalian tidak bertengkar lagi karena masalah ini,” ucap Krayon Merah bahagia.

”Ayo kita minta maaf kepada Matahari karena telah membuat ia bingung,” kata Krayon Kuning menggandeng tangan Krayon Orange.

Asal Mula Krayon Orange

”Tunggu sebentar, jangan pergi dulu!” pinta Krayon Merah menghentikan langkah mereka.

”Ada apa lagi Krayon Merah?” tanya Krayon Orange.

”Aku ingin menyampaikan hal penting yang harus kalian ketahui,” ucap Krayon Merah.

”Hal penting apa lagi yang ingin Krayon Merah sampaikan? Cepat katakan!” ucap Krayon Kuning tak sabar karena ingin cepat menemui Matahari.

”Dahulu, kakekku Krayon Merah bersahabat dengan Kakek Krayon Kuning. Ketika itu, kakek Krayon Merah dan kakek Krayon Kuning menyatukan kekuatannya menciptakan Krayon Orange. Karena itu, aku bahagia bisa menyampaikan semua ini kepada kalian berdua,” kata Krayon Merah.

Mendengar penjelasan Krayon Merah, mereka semakin mengerti dan berjanji menjadi sahabat seperti kakek mereka. Mereka pun pergi menemui Matahari untuk menjelaskan semuanya.

”Kalian sudah tidak bertengkar lagi?” tanya Matahari melihat Krayon Kuning dan Krayon Orange yang terlihat akur.

”Sekarang kami sudah bersahabat,” ucap Krayon Orange.

Krayon Kuning dan Krayon Orange menjelaskan apa yang terjadi dengan perubahan warna matahari akibat mereka berdua. Matahari bahagia mendengar penjelasan Krayon Kuning dan krayon Orange.

Terjadinya Warna Hijau

” Krayon Orange dan Krayon Kuning, coba sekarang warnai aku dong!” pinta Matahari bahagia. Kemudian, Krayon Orange dan Kuning mewarnai matahari.

”Oh, kok tubuhku jadi warna hijau, tapi tidak warna orange dan kuning. Ini bukan warna kesukaanku,” ucap kaget Matahari melihat perubahan tubuhnya.

Krayon Orange dan Krayon Kuning juga terkejut dengan perubahan Matahri. ”Oh, Kok bisa begini Krayon Kuning,” kata Krayon Orange heran.

”Cepat panggil Krayon Putih untuk mewarnaiku! Aku tidak mau Krayon Hijau marah melihat warna hijau di tubuhku. Cepat panggil Krayon Putih,” pinta Matahari.

Mendengar teriakan Matahari, Krayon Orange dan Krayon Kuning sontak kaget dan segera pergi memanggil Krayon Putih. Krayon Putih pun menemui Matahri dan mewarnainya. Matahari kembali senang karena warna hijau di tubuhnya hilang.

Krayon Orange dan Krayon Kuning menyadari kalau mereka mewarnai bersama-sama akan menakuti Matahari. Sebab, Matahari masih takut dengan warna hijau.

Kini, setiap pagi-pagi, Krayon Kuning selalu mewarnai matahari. Dan, setiap sore, Krayon Orange selalu mewarnai Matahari. Matahari senang memiliki warna-warna yang berbeda. Kita pun bisa menikmati Sunrise yang indah di pagi hari dan Sunset yang menakjubkan di sore hari. (T)

Tags: alamdongengPendidikanpendidikan usia dini
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Monolog “Kartini” dan “Guru” pada Malam Sehabis Hujan di SMAN 1 Banjar

Next Post

Ririn Main “Sepi”, Dayu Fortuna “Pidato Gila” – Semangat Pentas Teater Kampus

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post

Ririn Main “Sepi”, Dayu Fortuna “Pidato Gila” - Semangat Pentas Teater Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co