4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Matahari, Krayon Kuning dan Krayon Orange – Dongeng Pendidikan tentang Warna

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

MATAHARI terbangun dari tidurnya karena sudah waktunya menyinari bumi. Matahari memberikan pagi yang cerah kepada makluk hidup. Akan tetapi, Matahari kaget melihat perubahan warna tubuhnya.

”Mengapa tubuhku tidak berwarna putih? Padahal kemarin sudah diwarnai oleh Krayon Putih. Ah, mungkin ini hanya sementara,” pikir Matahari.

Matahari melupakan itu dan tetap menyinari bumi. Apalagi, saat siang, warna tubuhnya kembali putih.

Namun, menjelang sore hari, Matahari semakin terkejut dengan perubahan warna tubuhnya yang semakin jelas kehilangan putihnya. ”Bukankah tadi siang tubuhku masih warna putih? Kok sore ini berubah warna lagi. Apa yang terjadi, ya?” keluh Matahari.

Keesokan harinya, ”Oh, tubuhku kembali berubah warna. Mengapa hanya terjadi di pagi dan sore hari?” ucap Matahari dalam hatinya.

Matahari semakin berpikir dengan keadaan tubuhnya yang berubah warna setiap pagi dan sore hari. Sebab, perubahan warna Matahari terjadi setiap hari. ”Jangan-jangan ada yang mewarnai tubuhku ketika aku tidur malam dan istirahat sore. Apakah mungkin Krayon lain yang juga ikut mewarnaiku?” pikir Matahari.

Dalam lamunan, Matahari mencari kebenaran siapa yang mewarnai dirinya. ”Aku harus menemukan Si Krayon itu karena ia memberikan warna ajaib yang bisa berubah,” janji Matahari.

Menemui Semua Krayon

Matahari pun pergi mencari Si Krayon-krayon untuk bertanya tentang siapa yang mewarnai tubuhnya.

Matahari bertemu Krayon Ungu. ”Krayon Ungu, kamu ya mewarnai tubuhku?” tanya Matahari.

”Bukan aku yang mewarnaimu. Coba lihat tubuhmu! Tidak sesuai dengan warnaku, bukan?” kata Krayon Ungu.

”Ya juga sih, warna tubuhku tidak sesuai dengan warnamu Krayon Ungu,” kata Matahari.

Matahari melanjutkan kembali pejalanannya mencari Krayon yang lain. Kemudian, Matahari bertemu dengan Krayon Hijau. ”Krayon Hijau, apakah kamu datang ke rumah untuk mewarnai tubuhku, saat aku tidur,” tanya Matahari.

”Tidak. Lihat tubuhku ini tidak sama denganmu. Kamu menggangu kerjaku saja,” ucap Krayon Hijau marah-marah.

”Maaf, Krayon Hijau. Aku bukan bermaksud mengganggu pekerjaanmu,” kata Matahari.

”Tahu tidak, aku sudah capek mewarnai semua daun tumbuhan ini. Lihat tubuhku ini semakin pendek. Mana mungkin aku sempat mewarnaimu,” keluh Krayon Hijau dengan nada masih sedikit marah.

”Maaf,” ucap Matahari pergi meninggalkan Krayon Hijau. Matahari begitu lesu melanjutkan perjalanannya mencari Krayon lain.

Kemudian, Matahari duduk termenung memikirkan perubahan warna dalam tubuhnya.

”Matahari, mengapa kamu terlihat sedih? Apa yang terjadi dalam dirimu?”  tanya Krayon Hitam mengagetkan Matahari.

”Aku bingung Krayon Hitam. Aku belum menemukan siapa yang mewarnai tubuhku ini,” keluh Matahari.

”Oh, begitu ya,” kata Krayon Hitam. Krayon Hitam pun mengamati Matahari.

”Coba cari si Krayon Kuning. Warna tubuhmu seperti warna kuning. Mungkin, Krayon Kuning tahu,” kata Krayon Hitam.

Pertengkaran Krayon Kuning dan Krayon Orange

Matahari kembali bersemangat setelah mendengar perkataan Krayon Hitam. Dengan perasaan senang, Matahari bergegas pergi mencari Krayon Kuning.

Di perjalanan, Matahari melihat Kroyon Kuning yang sedang sibuk mewarnai buah pisang untuk member tanda kalau buah itu sudah matang.

”Bagaimana caranya menyampaikan keingintahuanku? Aku takut. Krayon Kuning nanti marah seperti Krayon Hijau,” ucap Matahari dalam pikiran takutnya.

Matahari berpikir lama untuk mengumpulkan keberaniannya. Akhirnya, Matahari memberanikan diri menemui Krayon Kuning. ”Krayon Kuning, Masih sibuk?” tanya Matahari mengegetkan Krayon Kuning.

”Aku sedikit sibuk. Ada apa Matahari?” jawab Krayon Kuning.

”Apa kamu yang mewarnai tubuhku? Aku tidak tahu, mengapa tubuhku berwarna seperti ini?” tanya Matahari.

”Oh itu, ya aku yang mewarnaimu. Kebetulan aku lewat ke rumahmu. Bagaimana, bagus nggak warnanya?” kata Krayon Kuning.

”Ya, bagus warnanya. Warna tubuhku jadinya bisa berubah-ubah,” jawab Matahari senang.

Matahari pun lega dan bahagia sudah menemukan Krayon yang mewarnainya.

Numun, Krayon Orange mendengar percakapan antara Matahari dan Krayon Kuning. Krayon Orange langsung menimpali. ”Itu bukan Krayon Kuning yang mewarnaimu. Aku yang mewarnaimu, Matahari,” teriak Krayon Orange.

Matahari dan Krayon Kuning tersontak keget mendengar teriakan Krayon Orange. Mereka tidak menyadari kalau Krayon Orange telah mendengar percakapan mereka.

”Bagaimana ini Krayon Kuning? Siapa sebenarnya yang mewarnaiku?” tanya Matahari bingung.

”Tenang Matahari. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan Krayon Orange,” jawab Krayon Kuning menyembunyikan amarahnya.

Dengan perasaan kesal, Krayon Kuning mendekati Krayon Orange. ”Apa maksud Krayon Orange? Kamu ngaku-ngaku sudah mewarnai Matahari,” ucap Krayon Kuning marah.

”Ah, Krayon Kuning hanya mengakui pekerjaanku. Coba lihat dengan benar warna matahari itu! Sudah jelas itu warna orange,” kata Krayon Orange marah.

Krayon Kuning tak mau kalah dan tak takut dengan bentakan Krayon Orange.

”Aku sudah lihat dengan jelas. Matahari itu warnanya kuning. Aku yang pagi-pagi mewarnai matahari. Bukan kamu Krayon Orange,” teriak Krayon Kuning.

Terjadilah pertengkaran antara Krayon Kuning dan Krayon Orange. Mereka saling mempertahankan bahwa mereka yang mewarnai Matahari. Krayon Kuning bersekukuh bahwa ia yang mewarnai Matahari. Krayon Orange juga bersekukuh bahwa ia yang mewarnai Matahari.

Mereka saling menembakkan warna. Sampai sore, mereka terus bertengkar sehingga Matahari menjadi pusing melihat pertengkaran itu.

”Berhenti! Kalau tahu begini, aku tak akan pernah ke sini,” teriak Matahari.

Tapi, Krayon Kuning dan Krayon Orange masih tetap bertengkar. Mereka tidak menghiraukan permintaan Matahari. Matahari pun pergi meninggalkan mereka yang masih bertengkar.

Tiba-tiba, Krayon Merah menghampiri mereka. ”Sudah, hentikan pertekaran kalian! Aku sudah lama mencari kalian. Aku tahu penyebab kalian bertengkar,” ucap Krayon Merah.

Mendengar ucapan Krayon Merah, Krayon Kuning dan Krayon Orange menghentikan pertengkarannya.

”Kalian berdua memang benar telah mewarnai Matahari. Tapi, kalian mewarnainya pada waktu yang berbeda,” ucap Krayon Merah.

”Ah, aku tak percaya. Krayon Merah pasti bohong,” ucap Krayon Orange tak terima. Krayon Merah menghela napasnya mendengar bantahan Krayon Orange.

”Kapan Krayon Orange mewarnai Matahari?” tanya Krayon Merah.

”Setiap sore,” jawab Krayon Orange singkat.

”Kalau kamu Krayon Kuning, kapan kamu mewarnai Matahari?” tanya Krayon Merah.

”Aku pagi-pagi mewarnai Matahari,” jawab Krayon Kuning.

”Tapi, aku lihat warna matahari itu warna Orange,” kata Krayon Orange masih tak terima.

”Dengar dulu penjelasanku,” kata Krayon Merah, suaranya meninggi.

”Ya, maaf Krayon Merah,”  ucap mereka bersamaan.

”Memang benar Krayon Kuning pagi-pagi mewarnai matahari. Namun, menjelang siang hari, Krayon Putih yang mewarnai Matahri sehingga warna kuning menjadi warna putih. Kemudian, di sore hari, datang Krayon Orange mewarnai Matahari. Itulah yang membuat Matahari bingung karena warnanya berubah-ubah setiap hari,” terang Krayon Merah.

”Oh, begitu. Sekarang aku paham maksudmu, Krayon Merah,” Kata krayon Orange.

”Baguslah kalau kalian ngerti. Jadi, kalian tidak bertengkar lagi karena masalah ini,” ucap Krayon Merah bahagia.

”Ayo kita minta maaf kepada Matahari karena telah membuat ia bingung,” kata Krayon Kuning menggandeng tangan Krayon Orange.

Asal Mula Krayon Orange

”Tunggu sebentar, jangan pergi dulu!” pinta Krayon Merah menghentikan langkah mereka.

”Ada apa lagi Krayon Merah?” tanya Krayon Orange.

”Aku ingin menyampaikan hal penting yang harus kalian ketahui,” ucap Krayon Merah.

”Hal penting apa lagi yang ingin Krayon Merah sampaikan? Cepat katakan!” ucap Krayon Kuning tak sabar karena ingin cepat menemui Matahari.

”Dahulu, kakekku Krayon Merah bersahabat dengan Kakek Krayon Kuning. Ketika itu, kakek Krayon Merah dan kakek Krayon Kuning menyatukan kekuatannya menciptakan Krayon Orange. Karena itu, aku bahagia bisa menyampaikan semua ini kepada kalian berdua,” kata Krayon Merah.

Mendengar penjelasan Krayon Merah, mereka semakin mengerti dan berjanji menjadi sahabat seperti kakek mereka. Mereka pun pergi menemui Matahari untuk menjelaskan semuanya.

”Kalian sudah tidak bertengkar lagi?” tanya Matahari melihat Krayon Kuning dan Krayon Orange yang terlihat akur.

”Sekarang kami sudah bersahabat,” ucap Krayon Orange.

Krayon Kuning dan Krayon Orange menjelaskan apa yang terjadi dengan perubahan warna matahari akibat mereka berdua. Matahari bahagia mendengar penjelasan Krayon Kuning dan krayon Orange.

Terjadinya Warna Hijau

” Krayon Orange dan Krayon Kuning, coba sekarang warnai aku dong!” pinta Matahari bahagia. Kemudian, Krayon Orange dan Kuning mewarnai matahari.

”Oh, kok tubuhku jadi warna hijau, tapi tidak warna orange dan kuning. Ini bukan warna kesukaanku,” ucap kaget Matahari melihat perubahan tubuhnya.

Krayon Orange dan Krayon Kuning juga terkejut dengan perubahan Matahri. ”Oh, Kok bisa begini Krayon Kuning,” kata Krayon Orange heran.

”Cepat panggil Krayon Putih untuk mewarnaiku! Aku tidak mau Krayon Hijau marah melihat warna hijau di tubuhku. Cepat panggil Krayon Putih,” pinta Matahari.

Mendengar teriakan Matahari, Krayon Orange dan Krayon Kuning sontak kaget dan segera pergi memanggil Krayon Putih. Krayon Putih pun menemui Matahri dan mewarnainya. Matahari kembali senang karena warna hijau di tubuhnya hilang.

Krayon Orange dan Krayon Kuning menyadari kalau mereka mewarnai bersama-sama akan menakuti Matahari. Sebab, Matahari masih takut dengan warna hijau.

Kini, setiap pagi-pagi, Krayon Kuning selalu mewarnai matahari. Dan, setiap sore, Krayon Orange selalu mewarnai Matahari. Matahari senang memiliki warna-warna yang berbeda. Kita pun bisa menikmati Sunrise yang indah di pagi hari dan Sunset yang menakjubkan di sore hari. (T)

Tags: alamdongengPendidikanpendidikan usia dini
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Monolog “Kartini” dan “Guru” pada Malam Sehabis Hujan di SMAN 1 Banjar

Next Post

Ririn Main “Sepi”, Dayu Fortuna “Pidato Gila” – Semangat Pentas Teater Kampus

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post

Ririn Main “Sepi”, Dayu Fortuna “Pidato Gila” - Semangat Pentas Teater Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co