12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Proses Terjadinya Hujan? – Berceritalah Ibu kepada Ratna

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

RATNA duduk termenung di samping jendela memperhatikan rintik-rintik nyanyian hujan jatuh dari langit. Ia terheran akan rintik-rintik hujan.

“Mengapa begitu banyak air jatuh dari langit? Bukankah air adanya di laut, sungai, dan di danau? Apakah langit sedang menangis? Atau nenek yang ada di surga sedang menyiram bunga-bunga taman surga?” Tanya Ratna dalam hati.

Lama ia terdiam, sampai kemudian ia tersenyum sendiri.

“Kalau memang benar nenek sedang menyiram bunga di taman surga, sungguh bahagianya nenekku yang cantik itu di surga,” pikir Ratna.

Ia kemudian melamun.

“Nenek bernyanyi riang menyiram berbagai warna di taman surga seperti waktu nenek masih hidup. Ia sering menanam bunga dan menyiramnya di halaman rumah. Oh, nenek yang cantik, aku menjadi rindu denganmu,” bisik Ratna dalam lamunannya.

Tiba-tiba ibunya datang menghampiri Ratna.

“Ratna sayang, mengapa kamu melamun di jendela memperhatikan hujan?”

Ratna terkejut oleh suara ibunya. “Nggak, Bu, saya tidak melamun, tetapi saya lagi membayangkan senyum nenek yang sedang menyiram bunga di taman surga, hingga airnya jatuh jadi hujan di bumi,” jawab Ratna.

“Ratna-ku sayang, memang benar nenek sedang bahagia menyiram bunga di taman surga, tetapi air siraman bunga taman surga tidak sampai jadi hujan di bumi,” jelas ibunya.

“Oh begitu, ya, Bu. Lalu, hujan itu dari mana Bu?” tanya Ratna bingung.

“Oh, hujan itu dari awan mendung di langit, Sayang.” jawab ibunya.

Namun, Ratna masih bingung dengan perkataan ibunya yang belum ia mengerti. Kok bisa air jatuh dari awan. “Bu, mengapa awan bisa menjutuhkan air hujan?” tanya Ratna bingung.

Ibunya tersenyum bahagia mendengar pertanyaan putri mungilnya. “Ratna, Sayang, awan itu terdiri atas banyak atau berjuta-juta butiran air yang sangat kecil menjadi satu di udara yang mendingin di langit dan dijatuhkan oleh angin hingga turun jadi hujan,” ucap ibunya.

Ratna masih bingung memikirkan butiran air yang ada di awan, sedangkan di langit ia tahu tidak ada danau, sungai, dan laut. Dari mana datangnya tetes airnya?

“Bu, bagaimana bisa ada air di awan sedangkan di langit tidak ada danau dan sungai maupun laut?” tanya Ratna.

Ibunya kembali tersenyum bahagia mendengar pertanyaan anaknya yang begitu kritis. “Sebentar, Sayang, ibu merapikan dapur dulu. Nanti ibu ceritakan sesuatu,” kata ibunya yang sudah selesai memasak.

“Ya Bu, tapi jangan lama-lama,” ucap Ratna yang tak sabar ingin mendengar perjelasan ibunya.

Beberapa saat kemudian. “Sudah siap sayang, mendengar cerita Ibu!” ucap ibunya yang sudah duduk di samping Ratna.

“Sudah, Bu,” jawab Ratna serius.

Ibunya mulai menjelaskan proses terjadinya hujan dengan menceritakan kisah Si Tetes Air dari dongeng “Drip’s Journey”:

***

Di laut, Si Tetes Air dan teman-temannya sedang asyik bermain dengan teman-temannya. Mereka menelusuri lautan yang luas. Si Tetes Air tidak sengaja menemukan cahaya matahari dan medekatinya. Tiba-tiba, tubuh Si Tetes Air terasa hangat dan mulai ringan kemudian menghilang.

“Tubuh kita menguap,” kata Si Tetes Air. Mereka melayang naik ke langit tersedot oleh sinar matahari. Kini, tubuh mereka burubah menjadi udara dingin. Mereka pun saling berpegangan membentuk awan agar tidak terbawa jauh.

“Oh, tubuh kita kembali lagi tetapi semakin dingin. Ayo, pegangan yang kuat,” ucap Si Tetes Air kepada teman-temannya.

Teman-teman Si Tetes Air semakin banyak yang tersedot oleh matahari. Mereka besar dan berat menjadi awan di langit.

“Kalian semua kok jadi ikut menjadi awan,” kata Si Tetes Air.

“Ya, ni, kami tidak kuat menahan panasnya matahari, hingga tubuh kami ringan dan menguap terbang ke atas” kata teman-temannya bergemuruh.

“Ayo, kita bersatu menjadi awan yang besar agar tidak terjatuh,” pinta Si tetes Air. Langit pun menjadi bergemuruh.

Ketika mereka saling berpegangan, datang angin mendorong mereka. Mereka tergerak mendekati pegunungan. Tubuh mereka digoncang angin dan dibenturkan ke pegunungan. Karena tidak kuat lagi saling berbegangan, mereka pun terjatuh ke bumi. Mereka berteriak jatuh pada daun-daun, masuk ke akar pohon, masuk melewati lubang-lubang tanah, dan jatuh ke sungai.

Masih tak sadarkan diri, mereka terbawa oleh arus sungai hingga sampai ke laut.

“Hai Tetes Air, kok baru kelihatan? Ke mana saja kamu pergi?” tanya ikan dan teman-teman Si Tetes Air yang masih berada di lautan. Si Tetes Air belum menyadari kalau ia sudah sampai di rumah yaitu di laut.

“Hai teman, tenyata kita sudah kembali lagi ke rumah,” teriak Si Tetes Air kegirangan.

Semenjak kejadian itu, Si Tetes Air dan teman-temanya menjadi senang dan tidak takut lagi jika terkena sinar matahari. Mereka pun selalu bermain dengan cahaya matahari agar bisa terbang menjadi awan kemudian jatuh menjadi tetesan-tesan hujan dan pulang lagi ke laut.

***

Ratna tersenyum gembira mendengar cerita ibunya.

“Begitulah proses terjadinya hujan, Sayang,” ucap ibunya mengakhiri cerita Si Tetes Air.

“Jadi begitu terjadinya hujan. Si Tetes Air disedot oleh matahari. Si Tetes Air dan teman-temannya menjadi awan. Kemudian, digoyang-goyang dan didorong ke gunung oleh angin. Lalu, terjatuh menjadi rintik-rintik hujan. Hebat Si Tetes Air,” pikir Ratna yang kini sudah paham.

***

Ratna, sebagai anak yang masih menimba pendidikan di PAUD sudah belajar proses terjadinya hujan melalui cerita sederhana. Ia tidak harus rumit mengikuti teori sains, tetapi mudah memahami karena disederhanakan sesuai usia.

Coba seandainya Ratna mendengarkan penjelasan dari ibunya bahwa proses terjadinya hujan, yaitu air di bumi menguap menuju atmosfer membentuk mendung dan terjadilah proses kondensasi. Kemudia, awan mendung semakin membesar terbawa angin ke daerah pegunungan. Lalu, karena butiran-butiran air semakin berat berada di awan mendung, maka jatuh butiran air itu menjadi tetesan-tetesan air hujan.

Jika penjelasannya seperti itu, apa yang ada dalam pikiran Ratna kemudian? Mungkin penjelasan itu akan dilupakan begitu saja, karena penjelasan itu tidak merangsang imajinasi.

Suatu hari, Ibu Nengah memasuki kelas PAUD, terjadilah hujan gerimis.

“Hujan gerimis ya? Oh ya, masih ingat kenapa bisa ada hujan?” tanya Ibu Nengah kepada anak-anak.

“Karena air lautnya disedot sama mataharinya dan jadi awan. Awannya didorong ama anginnya. Awanya nabrak gunung. Airnya jatuh jadi hujan,” ucap salah satu anak.

“Kayak cerita ibu itu ya?” celetuk salah satu anak di kelas.

“Ya, kayak cerita Si Tetes Air yang ibu ceritakan dulu,” jawab Ibu Nengah.

“Ceritakan lagi, Bu!” pinta anak-anak.

Ibu Nengah pun kembali menceritakan Si Tetes Air. Anak-anak selalu senang mendengarkan cerita walaupun cerita yang sama dan sudah didengar berulang-ulang. Sebab, dunia imajinasi anak-anak sangat liar dan mengagumkan yang sering tidak dipahami oleh orang dewasa. (T)

Tags: ceritaPendidikanpendidikan usia dini
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Pura Gaduh, Bukan Tempat Terjadi Kegaduhan

Next Post

Festival Sudah Dibuka, Kecil tapi Megah – Ayo Lanjutkan Perjuangan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post

Festival Sudah Dibuka, Kecil tapi Megah – Ayo Lanjutkan Perjuangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co