23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Proses Terjadinya Hujan? – Berceritalah Ibu kepada Ratna

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

RATNA duduk termenung di samping jendela memperhatikan rintik-rintik nyanyian hujan jatuh dari langit. Ia terheran akan rintik-rintik hujan.

“Mengapa begitu banyak air jatuh dari langit? Bukankah air adanya di laut, sungai, dan di danau? Apakah langit sedang menangis? Atau nenek yang ada di surga sedang menyiram bunga-bunga taman surga?” Tanya Ratna dalam hati.

Lama ia terdiam, sampai kemudian ia tersenyum sendiri.

“Kalau memang benar nenek sedang menyiram bunga di taman surga, sungguh bahagianya nenekku yang cantik itu di surga,” pikir Ratna.

Ia kemudian melamun.

“Nenek bernyanyi riang menyiram berbagai warna di taman surga seperti waktu nenek masih hidup. Ia sering menanam bunga dan menyiramnya di halaman rumah. Oh, nenek yang cantik, aku menjadi rindu denganmu,” bisik Ratna dalam lamunannya.

Tiba-tiba ibunya datang menghampiri Ratna.

“Ratna sayang, mengapa kamu melamun di jendela memperhatikan hujan?”

Ratna terkejut oleh suara ibunya. “Nggak, Bu, saya tidak melamun, tetapi saya lagi membayangkan senyum nenek yang sedang menyiram bunga di taman surga, hingga airnya jatuh jadi hujan di bumi,” jawab Ratna.

“Ratna-ku sayang, memang benar nenek sedang bahagia menyiram bunga di taman surga, tetapi air siraman bunga taman surga tidak sampai jadi hujan di bumi,” jelas ibunya.

“Oh begitu, ya, Bu. Lalu, hujan itu dari mana Bu?” tanya Ratna bingung.

“Oh, hujan itu dari awan mendung di langit, Sayang.” jawab ibunya.

Namun, Ratna masih bingung dengan perkataan ibunya yang belum ia mengerti. Kok bisa air jatuh dari awan. “Bu, mengapa awan bisa menjutuhkan air hujan?” tanya Ratna bingung.

Ibunya tersenyum bahagia mendengar pertanyaan putri mungilnya. “Ratna, Sayang, awan itu terdiri atas banyak atau berjuta-juta butiran air yang sangat kecil menjadi satu di udara yang mendingin di langit dan dijatuhkan oleh angin hingga turun jadi hujan,” ucap ibunya.

Ratna masih bingung memikirkan butiran air yang ada di awan, sedangkan di langit ia tahu tidak ada danau, sungai, dan laut. Dari mana datangnya tetes airnya?

“Bu, bagaimana bisa ada air di awan sedangkan di langit tidak ada danau dan sungai maupun laut?” tanya Ratna.

Ibunya kembali tersenyum bahagia mendengar pertanyaan anaknya yang begitu kritis. “Sebentar, Sayang, ibu merapikan dapur dulu. Nanti ibu ceritakan sesuatu,” kata ibunya yang sudah selesai memasak.

“Ya Bu, tapi jangan lama-lama,” ucap Ratna yang tak sabar ingin mendengar perjelasan ibunya.

Beberapa saat kemudian. “Sudah siap sayang, mendengar cerita Ibu!” ucap ibunya yang sudah duduk di samping Ratna.

“Sudah, Bu,” jawab Ratna serius.

Ibunya mulai menjelaskan proses terjadinya hujan dengan menceritakan kisah Si Tetes Air dari dongeng “Drip’s Journey”:

***

Di laut, Si Tetes Air dan teman-temannya sedang asyik bermain dengan teman-temannya. Mereka menelusuri lautan yang luas. Si Tetes Air tidak sengaja menemukan cahaya matahari dan medekatinya. Tiba-tiba, tubuh Si Tetes Air terasa hangat dan mulai ringan kemudian menghilang.

“Tubuh kita menguap,” kata Si Tetes Air. Mereka melayang naik ke langit tersedot oleh sinar matahari. Kini, tubuh mereka burubah menjadi udara dingin. Mereka pun saling berpegangan membentuk awan agar tidak terbawa jauh.

“Oh, tubuh kita kembali lagi tetapi semakin dingin. Ayo, pegangan yang kuat,” ucap Si Tetes Air kepada teman-temannya.

Teman-teman Si Tetes Air semakin banyak yang tersedot oleh matahari. Mereka besar dan berat menjadi awan di langit.

“Kalian semua kok jadi ikut menjadi awan,” kata Si Tetes Air.

“Ya, ni, kami tidak kuat menahan panasnya matahari, hingga tubuh kami ringan dan menguap terbang ke atas” kata teman-temannya bergemuruh.

“Ayo, kita bersatu menjadi awan yang besar agar tidak terjatuh,” pinta Si tetes Air. Langit pun menjadi bergemuruh.

Ketika mereka saling berpegangan, datang angin mendorong mereka. Mereka tergerak mendekati pegunungan. Tubuh mereka digoncang angin dan dibenturkan ke pegunungan. Karena tidak kuat lagi saling berbegangan, mereka pun terjatuh ke bumi. Mereka berteriak jatuh pada daun-daun, masuk ke akar pohon, masuk melewati lubang-lubang tanah, dan jatuh ke sungai.

Masih tak sadarkan diri, mereka terbawa oleh arus sungai hingga sampai ke laut.

“Hai Tetes Air, kok baru kelihatan? Ke mana saja kamu pergi?” tanya ikan dan teman-teman Si Tetes Air yang masih berada di lautan. Si Tetes Air belum menyadari kalau ia sudah sampai di rumah yaitu di laut.

“Hai teman, tenyata kita sudah kembali lagi ke rumah,” teriak Si Tetes Air kegirangan.

Semenjak kejadian itu, Si Tetes Air dan teman-temanya menjadi senang dan tidak takut lagi jika terkena sinar matahari. Mereka pun selalu bermain dengan cahaya matahari agar bisa terbang menjadi awan kemudian jatuh menjadi tetesan-tesan hujan dan pulang lagi ke laut.

***

Ratna tersenyum gembira mendengar cerita ibunya.

“Begitulah proses terjadinya hujan, Sayang,” ucap ibunya mengakhiri cerita Si Tetes Air.

“Jadi begitu terjadinya hujan. Si Tetes Air disedot oleh matahari. Si Tetes Air dan teman-temannya menjadi awan. Kemudian, digoyang-goyang dan didorong ke gunung oleh angin. Lalu, terjatuh menjadi rintik-rintik hujan. Hebat Si Tetes Air,” pikir Ratna yang kini sudah paham.

***

Ratna, sebagai anak yang masih menimba pendidikan di PAUD sudah belajar proses terjadinya hujan melalui cerita sederhana. Ia tidak harus rumit mengikuti teori sains, tetapi mudah memahami karena disederhanakan sesuai usia.

Coba seandainya Ratna mendengarkan penjelasan dari ibunya bahwa proses terjadinya hujan, yaitu air di bumi menguap menuju atmosfer membentuk mendung dan terjadilah proses kondensasi. Kemudia, awan mendung semakin membesar terbawa angin ke daerah pegunungan. Lalu, karena butiran-butiran air semakin berat berada di awan mendung, maka jatuh butiran air itu menjadi tetesan-tetesan air hujan.

Jika penjelasannya seperti itu, apa yang ada dalam pikiran Ratna kemudian? Mungkin penjelasan itu akan dilupakan begitu saja, karena penjelasan itu tidak merangsang imajinasi.

Suatu hari, Ibu Nengah memasuki kelas PAUD, terjadilah hujan gerimis.

“Hujan gerimis ya? Oh ya, masih ingat kenapa bisa ada hujan?” tanya Ibu Nengah kepada anak-anak.

“Karena air lautnya disedot sama mataharinya dan jadi awan. Awannya didorong ama anginnya. Awanya nabrak gunung. Airnya jatuh jadi hujan,” ucap salah satu anak.

“Kayak cerita ibu itu ya?” celetuk salah satu anak di kelas.

“Ya, kayak cerita Si Tetes Air yang ibu ceritakan dulu,” jawab Ibu Nengah.

“Ceritakan lagi, Bu!” pinta anak-anak.

Ibu Nengah pun kembali menceritakan Si Tetes Air. Anak-anak selalu senang mendengarkan cerita walaupun cerita yang sama dan sudah didengar berulang-ulang. Sebab, dunia imajinasi anak-anak sangat liar dan mengagumkan yang sering tidak dipahami oleh orang dewasa. (T)

Tags: ceritaPendidikanpendidikan usia dini
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Pura Gaduh, Bukan Tempat Terjadi Kegaduhan

Next Post

Festival Sudah Dibuka, Kecil tapi Megah – Ayo Lanjutkan Perjuangan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Festival Sudah Dibuka, Kecil tapi Megah – Ayo Lanjutkan Perjuangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co