3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Proses Terjadinya Hujan? – Berceritalah Ibu kepada Ratna

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

RATNA duduk termenung di samping jendela memperhatikan rintik-rintik nyanyian hujan jatuh dari langit. Ia terheran akan rintik-rintik hujan.

“Mengapa begitu banyak air jatuh dari langit? Bukankah air adanya di laut, sungai, dan di danau? Apakah langit sedang menangis? Atau nenek yang ada di surga sedang menyiram bunga-bunga taman surga?” Tanya Ratna dalam hati.

Lama ia terdiam, sampai kemudian ia tersenyum sendiri.

“Kalau memang benar nenek sedang menyiram bunga di taman surga, sungguh bahagianya nenekku yang cantik itu di surga,” pikir Ratna.

Ia kemudian melamun.

“Nenek bernyanyi riang menyiram berbagai warna di taman surga seperti waktu nenek masih hidup. Ia sering menanam bunga dan menyiramnya di halaman rumah. Oh, nenek yang cantik, aku menjadi rindu denganmu,” bisik Ratna dalam lamunannya.

Tiba-tiba ibunya datang menghampiri Ratna.

“Ratna sayang, mengapa kamu melamun di jendela memperhatikan hujan?”

Ratna terkejut oleh suara ibunya. “Nggak, Bu, saya tidak melamun, tetapi saya lagi membayangkan senyum nenek yang sedang menyiram bunga di taman surga, hingga airnya jatuh jadi hujan di bumi,” jawab Ratna.

“Ratna-ku sayang, memang benar nenek sedang bahagia menyiram bunga di taman surga, tetapi air siraman bunga taman surga tidak sampai jadi hujan di bumi,” jelas ibunya.

“Oh begitu, ya, Bu. Lalu, hujan itu dari mana Bu?” tanya Ratna bingung.

“Oh, hujan itu dari awan mendung di langit, Sayang.” jawab ibunya.

Namun, Ratna masih bingung dengan perkataan ibunya yang belum ia mengerti. Kok bisa air jatuh dari awan. “Bu, mengapa awan bisa menjutuhkan air hujan?” tanya Ratna bingung.

Ibunya tersenyum bahagia mendengar pertanyaan putri mungilnya. “Ratna, Sayang, awan itu terdiri atas banyak atau berjuta-juta butiran air yang sangat kecil menjadi satu di udara yang mendingin di langit dan dijatuhkan oleh angin hingga turun jadi hujan,” ucap ibunya.

Ratna masih bingung memikirkan butiran air yang ada di awan, sedangkan di langit ia tahu tidak ada danau, sungai, dan laut. Dari mana datangnya tetes airnya?

“Bu, bagaimana bisa ada air di awan sedangkan di langit tidak ada danau dan sungai maupun laut?” tanya Ratna.

Ibunya kembali tersenyum bahagia mendengar pertanyaan anaknya yang begitu kritis. “Sebentar, Sayang, ibu merapikan dapur dulu. Nanti ibu ceritakan sesuatu,” kata ibunya yang sudah selesai memasak.

“Ya Bu, tapi jangan lama-lama,” ucap Ratna yang tak sabar ingin mendengar perjelasan ibunya.

Beberapa saat kemudian. “Sudah siap sayang, mendengar cerita Ibu!” ucap ibunya yang sudah duduk di samping Ratna.

“Sudah, Bu,” jawab Ratna serius.

Ibunya mulai menjelaskan proses terjadinya hujan dengan menceritakan kisah Si Tetes Air dari dongeng “Drip’s Journey”:

***

Di laut, Si Tetes Air dan teman-temannya sedang asyik bermain dengan teman-temannya. Mereka menelusuri lautan yang luas. Si Tetes Air tidak sengaja menemukan cahaya matahari dan medekatinya. Tiba-tiba, tubuh Si Tetes Air terasa hangat dan mulai ringan kemudian menghilang.

“Tubuh kita menguap,” kata Si Tetes Air. Mereka melayang naik ke langit tersedot oleh sinar matahari. Kini, tubuh mereka burubah menjadi udara dingin. Mereka pun saling berpegangan membentuk awan agar tidak terbawa jauh.

“Oh, tubuh kita kembali lagi tetapi semakin dingin. Ayo, pegangan yang kuat,” ucap Si Tetes Air kepada teman-temannya.

Teman-teman Si Tetes Air semakin banyak yang tersedot oleh matahari. Mereka besar dan berat menjadi awan di langit.

“Kalian semua kok jadi ikut menjadi awan,” kata Si Tetes Air.

“Ya, ni, kami tidak kuat menahan panasnya matahari, hingga tubuh kami ringan dan menguap terbang ke atas” kata teman-temannya bergemuruh.

“Ayo, kita bersatu menjadi awan yang besar agar tidak terjatuh,” pinta Si tetes Air. Langit pun menjadi bergemuruh.

Ketika mereka saling berpegangan, datang angin mendorong mereka. Mereka tergerak mendekati pegunungan. Tubuh mereka digoncang angin dan dibenturkan ke pegunungan. Karena tidak kuat lagi saling berbegangan, mereka pun terjatuh ke bumi. Mereka berteriak jatuh pada daun-daun, masuk ke akar pohon, masuk melewati lubang-lubang tanah, dan jatuh ke sungai.

Masih tak sadarkan diri, mereka terbawa oleh arus sungai hingga sampai ke laut.

“Hai Tetes Air, kok baru kelihatan? Ke mana saja kamu pergi?” tanya ikan dan teman-teman Si Tetes Air yang masih berada di lautan. Si Tetes Air belum menyadari kalau ia sudah sampai di rumah yaitu di laut.

“Hai teman, tenyata kita sudah kembali lagi ke rumah,” teriak Si Tetes Air kegirangan.

Semenjak kejadian itu, Si Tetes Air dan teman-temanya menjadi senang dan tidak takut lagi jika terkena sinar matahari. Mereka pun selalu bermain dengan cahaya matahari agar bisa terbang menjadi awan kemudian jatuh menjadi tetesan-tesan hujan dan pulang lagi ke laut.

***

Ratna tersenyum gembira mendengar cerita ibunya.

“Begitulah proses terjadinya hujan, Sayang,” ucap ibunya mengakhiri cerita Si Tetes Air.

“Jadi begitu terjadinya hujan. Si Tetes Air disedot oleh matahari. Si Tetes Air dan teman-temannya menjadi awan. Kemudian, digoyang-goyang dan didorong ke gunung oleh angin. Lalu, terjatuh menjadi rintik-rintik hujan. Hebat Si Tetes Air,” pikir Ratna yang kini sudah paham.

***

Ratna, sebagai anak yang masih menimba pendidikan di PAUD sudah belajar proses terjadinya hujan melalui cerita sederhana. Ia tidak harus rumit mengikuti teori sains, tetapi mudah memahami karena disederhanakan sesuai usia.

Coba seandainya Ratna mendengarkan penjelasan dari ibunya bahwa proses terjadinya hujan, yaitu air di bumi menguap menuju atmosfer membentuk mendung dan terjadilah proses kondensasi. Kemudia, awan mendung semakin membesar terbawa angin ke daerah pegunungan. Lalu, karena butiran-butiran air semakin berat berada di awan mendung, maka jatuh butiran air itu menjadi tetesan-tetesan air hujan.

Jika penjelasannya seperti itu, apa yang ada dalam pikiran Ratna kemudian? Mungkin penjelasan itu akan dilupakan begitu saja, karena penjelasan itu tidak merangsang imajinasi.

Suatu hari, Ibu Nengah memasuki kelas PAUD, terjadilah hujan gerimis.

“Hujan gerimis ya? Oh ya, masih ingat kenapa bisa ada hujan?” tanya Ibu Nengah kepada anak-anak.

“Karena air lautnya disedot sama mataharinya dan jadi awan. Awannya didorong ama anginnya. Awanya nabrak gunung. Airnya jatuh jadi hujan,” ucap salah satu anak.

“Kayak cerita ibu itu ya?” celetuk salah satu anak di kelas.

“Ya, kayak cerita Si Tetes Air yang ibu ceritakan dulu,” jawab Ibu Nengah.

“Ceritakan lagi, Bu!” pinta anak-anak.

Ibu Nengah pun kembali menceritakan Si Tetes Air. Anak-anak selalu senang mendengarkan cerita walaupun cerita yang sama dan sudah didengar berulang-ulang. Sebab, dunia imajinasi anak-anak sangat liar dan mengagumkan yang sering tidak dipahami oleh orang dewasa. (T)

Tags: ceritaPendidikanpendidikan usia dini
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Pura Gaduh, Bukan Tempat Terjadi Kegaduhan

Next Post

Festival Sudah Dibuka, Kecil tapi Megah – Ayo Lanjutkan Perjuangan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post

Festival Sudah Dibuka, Kecil tapi Megah – Ayo Lanjutkan Perjuangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co