2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Proses Terjadinya Hujan? – Berceritalah Ibu kepada Ratna

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

RATNA duduk termenung di samping jendela memperhatikan rintik-rintik nyanyian hujan jatuh dari langit. Ia terheran akan rintik-rintik hujan.

“Mengapa begitu banyak air jatuh dari langit? Bukankah air adanya di laut, sungai, dan di danau? Apakah langit sedang menangis? Atau nenek yang ada di surga sedang menyiram bunga-bunga taman surga?” Tanya Ratna dalam hati.

Lama ia terdiam, sampai kemudian ia tersenyum sendiri.

“Kalau memang benar nenek sedang menyiram bunga di taman surga, sungguh bahagianya nenekku yang cantik itu di surga,” pikir Ratna.

Ia kemudian melamun.

“Nenek bernyanyi riang menyiram berbagai warna di taman surga seperti waktu nenek masih hidup. Ia sering menanam bunga dan menyiramnya di halaman rumah. Oh, nenek yang cantik, aku menjadi rindu denganmu,” bisik Ratna dalam lamunannya.

Tiba-tiba ibunya datang menghampiri Ratna.

“Ratna sayang, mengapa kamu melamun di jendela memperhatikan hujan?”

Ratna terkejut oleh suara ibunya. “Nggak, Bu, saya tidak melamun, tetapi saya lagi membayangkan senyum nenek yang sedang menyiram bunga di taman surga, hingga airnya jatuh jadi hujan di bumi,” jawab Ratna.

“Ratna-ku sayang, memang benar nenek sedang bahagia menyiram bunga di taman surga, tetapi air siraman bunga taman surga tidak sampai jadi hujan di bumi,” jelas ibunya.

“Oh begitu, ya, Bu. Lalu, hujan itu dari mana Bu?” tanya Ratna bingung.

“Oh, hujan itu dari awan mendung di langit, Sayang.” jawab ibunya.

Namun, Ratna masih bingung dengan perkataan ibunya yang belum ia mengerti. Kok bisa air jatuh dari awan. “Bu, mengapa awan bisa menjutuhkan air hujan?” tanya Ratna bingung.

Ibunya tersenyum bahagia mendengar pertanyaan putri mungilnya. “Ratna, Sayang, awan itu terdiri atas banyak atau berjuta-juta butiran air yang sangat kecil menjadi satu di udara yang mendingin di langit dan dijatuhkan oleh angin hingga turun jadi hujan,” ucap ibunya.

Ratna masih bingung memikirkan butiran air yang ada di awan, sedangkan di langit ia tahu tidak ada danau, sungai, dan laut. Dari mana datangnya tetes airnya?

“Bu, bagaimana bisa ada air di awan sedangkan di langit tidak ada danau dan sungai maupun laut?” tanya Ratna.

Ibunya kembali tersenyum bahagia mendengar pertanyaan anaknya yang begitu kritis. “Sebentar, Sayang, ibu merapikan dapur dulu. Nanti ibu ceritakan sesuatu,” kata ibunya yang sudah selesai memasak.

“Ya Bu, tapi jangan lama-lama,” ucap Ratna yang tak sabar ingin mendengar perjelasan ibunya.

Beberapa saat kemudian. “Sudah siap sayang, mendengar cerita Ibu!” ucap ibunya yang sudah duduk di samping Ratna.

“Sudah, Bu,” jawab Ratna serius.

Ibunya mulai menjelaskan proses terjadinya hujan dengan menceritakan kisah Si Tetes Air dari dongeng “Drip’s Journey”:

***

Di laut, Si Tetes Air dan teman-temannya sedang asyik bermain dengan teman-temannya. Mereka menelusuri lautan yang luas. Si Tetes Air tidak sengaja menemukan cahaya matahari dan medekatinya. Tiba-tiba, tubuh Si Tetes Air terasa hangat dan mulai ringan kemudian menghilang.

“Tubuh kita menguap,” kata Si Tetes Air. Mereka melayang naik ke langit tersedot oleh sinar matahari. Kini, tubuh mereka burubah menjadi udara dingin. Mereka pun saling berpegangan membentuk awan agar tidak terbawa jauh.

“Oh, tubuh kita kembali lagi tetapi semakin dingin. Ayo, pegangan yang kuat,” ucap Si Tetes Air kepada teman-temannya.

Teman-teman Si Tetes Air semakin banyak yang tersedot oleh matahari. Mereka besar dan berat menjadi awan di langit.

“Kalian semua kok jadi ikut menjadi awan,” kata Si Tetes Air.

“Ya, ni, kami tidak kuat menahan panasnya matahari, hingga tubuh kami ringan dan menguap terbang ke atas” kata teman-temannya bergemuruh.

“Ayo, kita bersatu menjadi awan yang besar agar tidak terjatuh,” pinta Si tetes Air. Langit pun menjadi bergemuruh.

Ketika mereka saling berpegangan, datang angin mendorong mereka. Mereka tergerak mendekati pegunungan. Tubuh mereka digoncang angin dan dibenturkan ke pegunungan. Karena tidak kuat lagi saling berbegangan, mereka pun terjatuh ke bumi. Mereka berteriak jatuh pada daun-daun, masuk ke akar pohon, masuk melewati lubang-lubang tanah, dan jatuh ke sungai.

Masih tak sadarkan diri, mereka terbawa oleh arus sungai hingga sampai ke laut.

“Hai Tetes Air, kok baru kelihatan? Ke mana saja kamu pergi?” tanya ikan dan teman-teman Si Tetes Air yang masih berada di lautan. Si Tetes Air belum menyadari kalau ia sudah sampai di rumah yaitu di laut.

“Hai teman, tenyata kita sudah kembali lagi ke rumah,” teriak Si Tetes Air kegirangan.

Semenjak kejadian itu, Si Tetes Air dan teman-temanya menjadi senang dan tidak takut lagi jika terkena sinar matahari. Mereka pun selalu bermain dengan cahaya matahari agar bisa terbang menjadi awan kemudian jatuh menjadi tetesan-tesan hujan dan pulang lagi ke laut.

***

Ratna tersenyum gembira mendengar cerita ibunya.

“Begitulah proses terjadinya hujan, Sayang,” ucap ibunya mengakhiri cerita Si Tetes Air.

“Jadi begitu terjadinya hujan. Si Tetes Air disedot oleh matahari. Si Tetes Air dan teman-temannya menjadi awan. Kemudian, digoyang-goyang dan didorong ke gunung oleh angin. Lalu, terjatuh menjadi rintik-rintik hujan. Hebat Si Tetes Air,” pikir Ratna yang kini sudah paham.

***

Ratna, sebagai anak yang masih menimba pendidikan di PAUD sudah belajar proses terjadinya hujan melalui cerita sederhana. Ia tidak harus rumit mengikuti teori sains, tetapi mudah memahami karena disederhanakan sesuai usia.

Coba seandainya Ratna mendengarkan penjelasan dari ibunya bahwa proses terjadinya hujan, yaitu air di bumi menguap menuju atmosfer membentuk mendung dan terjadilah proses kondensasi. Kemudia, awan mendung semakin membesar terbawa angin ke daerah pegunungan. Lalu, karena butiran-butiran air semakin berat berada di awan mendung, maka jatuh butiran air itu menjadi tetesan-tetesan air hujan.

Jika penjelasannya seperti itu, apa yang ada dalam pikiran Ratna kemudian? Mungkin penjelasan itu akan dilupakan begitu saja, karena penjelasan itu tidak merangsang imajinasi.

Suatu hari, Ibu Nengah memasuki kelas PAUD, terjadilah hujan gerimis.

“Hujan gerimis ya? Oh ya, masih ingat kenapa bisa ada hujan?” tanya Ibu Nengah kepada anak-anak.

“Karena air lautnya disedot sama mataharinya dan jadi awan. Awannya didorong ama anginnya. Awanya nabrak gunung. Airnya jatuh jadi hujan,” ucap salah satu anak.

“Kayak cerita ibu itu ya?” celetuk salah satu anak di kelas.

“Ya, kayak cerita Si Tetes Air yang ibu ceritakan dulu,” jawab Ibu Nengah.

“Ceritakan lagi, Bu!” pinta anak-anak.

Ibu Nengah pun kembali menceritakan Si Tetes Air. Anak-anak selalu senang mendengarkan cerita walaupun cerita yang sama dan sudah didengar berulang-ulang. Sebab, dunia imajinasi anak-anak sangat liar dan mengagumkan yang sering tidak dipahami oleh orang dewasa. (T)

Tags: ceritaPendidikanpendidikan usia dini
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Pura Gaduh, Bukan Tempat Terjadi Kegaduhan

Next Post

Festival Sudah Dibuka, Kecil tapi Megah – Ayo Lanjutkan Perjuangan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Festival Sudah Dibuka, Kecil tapi Megah – Ayo Lanjutkan Perjuangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co