23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Galungan: Men Brayut dan Anak-anak yang Dituntun Menemukan Dharma

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Lukisan I Gusti Nyoman Lempad. Men Brayut dan Anak - Anaknya yang suka mengganggu. 1930

MANUSIA melahirkan tradisi untuk memenuhi hastratnya dalam memahami dan mengontrol rahasia alam. Kemudian, terlahirlah tradisi ritual Galungan di Bali. Sebuah tradisi yang memberikan pemahaman konsep rasa menjaga, keikhlasan, dan rasa bersyukur kepada alam Sang Pemberi Hidup. Lalu, berkembang sebagai hari perayaan terciptanya alam semesta jagat raya beserta semua isinya. Sampai akhirnya berkembang sebagai perayaan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma) dengan melakukan persembahan pada Sang Pencipta.

Kisah kekalahan Mayadenawa pun diceritakan dari generasi kegenerasi sebagai kekalahan adharma. Lalu, bagaimana dengan semua isi alam semesta ini? Apakah sudah terjaga semua isi alam semesta jagat raya ini?

Jika isi alam semesta tak lagi ada, alam akan mempersembahkan kita sebagai persembahan pada Sang Kehancuran. Penjor-penjor hanya merunduk sedih tertancap pada tanah pertiwi yang gersang. Tanah yang terpasung pada adharma-nya manusia, tetapi tanpa disadari hal itu diyakini sebagai dharma. Sebab, dharma yang dicari selama ini hanya untuk menampik adharma yang disembunyikan.

Ah, berhenti dulu di sini. Kalau kata-kata itu terus dilanjutkan, kita akan terkesan hanya menggurui anak di setiap perayaan Galungan. Anak hanya mendengar rutinitas yang sama dalam dua kali setahun. Sepirit Galungan pun mulai terkikis dan hanya akan meninggalkan ritualnya saja.

Cerita Men Brayut

Oleh sebab itu, di hari raya Galungan, semestinya kita tidak melupakan kisah cerita Men Brayut. Men Brayut yang hidup tidak karuan karena melahirkan delapan belas anak. Namun, di sisi lain, justru Men Brayut dan suaminya mendapatkan pencerahan dharma-nya.

Menjelang hari Galungan, ketika Men Brayut terjaga oleh rasa gatal di seluruh tubuh dan kutu-kutu yang menggerayangi kepalanya, ia perlahan keluar kamar. Sampai di halaman, Men Brayut melihat sesajen. Sesajen yang sudah dipersiapkan oleh suaminya sejak kemarin untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta di hari Galungan.

Men Brayut mengambil sesajen itu dan membawanya ke dapur, tetapi melarang ke enam belas anaknya ikut masuk. Saat itu anaknya berjumlah 17 dan Men Brayut sedang hamil ke-18. Dengan perut hamil besar, Men Brayut menghabiskan sate calon, sate, dan iga goreng bersama anak bungsunya. Hanya anak bungsum sementara 16 anak lain anaknya merengek dan menangis.

Di luar dapur, sambil menangis, enam belas anaknya minta izin masuk dapur. Suaminya terkejut melihat keadaan anak-anaknya. Ia pun memaksa membuka pintu dapur, melabrak istrinya tetapi sang istri tetap asyik makan seolah tidak peduli.

Dengan penuh amarah, Men Brayut dicaci-maki oleh suaminya. “Jika diceraikan pun, siapa yang akan menerimamu? Tampang dan sikapmu kini sudah tidak karuan lagi,” ucap suami Men Brayut.

Usai makan sambil menyirih, Men Brayut membela diri. Maka terjadilah dialog panjang antara Men Brayut dan suaminya. Terjadilah saling menyalahkan antara Men Brayut dan suaminya. Mereka bersikukuh mempertahankan ego yang merasa paling dharma.

Namun, agak lama mereka seakan bertengkar, sampai kemudian dialog lebih banyak diisi percakapan mengenai kesadaran tentang hidup dan kehidupan.

“Dulu, saat muda, aku ahli memasak, ahli menenun bahkan mampu mengerjakan perkerjaan laki-laki dengan baik. Kini, aku tidak bisa melakukan semua itu. Sebab, aku harus melahirkan anak-anak dan tidak mungkin menggugurkannya,” kata Men Brayut dengan nada tinggi.

“Jadi, kau menuduh anak-anak itu yang menyebabkan keluarga kita terpuruk?” sergah suami Men Brayut.

“Siapa bilang seperti itu? Anak-anak itu anugerah. Seluruh kekuatan tenaga kita, taksu kita, bakat kita, di masa muda dulu, kini masuk ke tubuh dan jiwa anak-anak kita. Kita harus mengarahkan mereka agar tenaga, taksu dan bakat mereka dipergunakan dengan baik demi mencapai dharma,” jawab Men Brayut.

Mereka terdiam, merenung. Mereka kemudian menyadari telah memiliki anugerah luar biasa dengan kelahiran anak-anak yang kuat dan sehat di saat kondisi ekonominya terpuruk, di saat tenaga orang tuanya perlahan-lahan mengendur.

Usai pertengkaran itu, Men Brayut dan suaminya mulai bangkit memperbaiki diri dan sikap. Sekolah keluarga pun dibentuk dengan delapan belas murid. Mereka menjadi orangtua sekaligus guru terbaik bagi ke delapan belas anaknya. Mereka mencintai anak-anak yang sekaligus juga murid-murid mereka.

Mereka mulai menelusuri setiap bakat anak-anaknya walaupun mereka berdua tak memiliki kemampuan untuk menjadi pencari bakat yang baik. Tapi, mereka menjadi guru yang memahami gaya belajar anak-anaknya. Bakat anak-anaknya pun terasah dan berkembang dengan sangat menakjubkan.

Kini, anak-anak pasangan Men Brayut dan suaminya tumbuh cantik dan gagah. Anak-anak mereka menjadi anak cerdas, penuh tanggung jawab, dan bekerja dengan tekun sesuai bakat masing-masing. Perekonomian mereka pun bangkit dari keterpurukan. Para tetangga takjub melihat perubahan kuluarga Men Brayut. Keluarga yang dulunya tidak karuan, kini menjadi kuluarga yang sejahtera.

Ketika dharma keluarga dimenangkan, Men Brayut bersama suaminya mencari spirit keabadian dharma dengan jalan budhapaksa. Keduanya dengan sepenuh hati menyepi dan bertapa di bawah pohon kepuh dalam gua. Mereka pun menyatu dengan alam Sang Pemberi Hidup.

Bagaimana dengan Kita?

Itulah kisah pasangan Men Brayut dan suaminya yang memahami peran sebagai orangtua sekaligus guru bagi anak-anaknya sehingga mencapai jalan dharma. Mereka bukan keluarga yang hanya bisa tenggelam pada keterpurukan dan ratapan akibat melahirkan banyak anak, tetapi mengubah kondisi itu menjadi pondasi dasar yang kuat. Lengkaplah sudah kemenangan dharma, maka di hari raya Galungan berikutnya bukan sekadar menjadi sekadar seremonial kemenangan dharma.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apa yang sebenarnya kita maknai di hari raya Galungan ini? Apakah hanya sekadar memperingati kemenangan dharma yang sesungguhnya dimenangkan oleh para leluhur kita atas anugerah Sang Pencipta? (T)

Tags: ceritahari raya galunganMen BrayutPendidikanrenungan
Share462TweetSendShareSend
Previous Post

Permainan Tradisional dalam Parade Budaya HUT Kota Singaraja: Bagus, tapi Anu…

Next Post

HUT Singaraja – Ulang Tahun Kota atau Ulang Tahun Birokrasi?

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post

HUT Singaraja - Ulang Tahun Kota atau Ulang Tahun Birokrasi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co