24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Galungan: Men Brayut dan Anak-anak yang Dituntun Menemukan Dharma

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Lukisan I Gusti Nyoman Lempad. Men Brayut dan Anak - Anaknya yang suka mengganggu. 1930

MANUSIA melahirkan tradisi untuk memenuhi hastratnya dalam memahami dan mengontrol rahasia alam. Kemudian, terlahirlah tradisi ritual Galungan di Bali. Sebuah tradisi yang memberikan pemahaman konsep rasa menjaga, keikhlasan, dan rasa bersyukur kepada alam Sang Pemberi Hidup. Lalu, berkembang sebagai hari perayaan terciptanya alam semesta jagat raya beserta semua isinya. Sampai akhirnya berkembang sebagai perayaan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma) dengan melakukan persembahan pada Sang Pencipta.

Kisah kekalahan Mayadenawa pun diceritakan dari generasi kegenerasi sebagai kekalahan adharma. Lalu, bagaimana dengan semua isi alam semesta ini? Apakah sudah terjaga semua isi alam semesta jagat raya ini?

Jika isi alam semesta tak lagi ada, alam akan mempersembahkan kita sebagai persembahan pada Sang Kehancuran. Penjor-penjor hanya merunduk sedih tertancap pada tanah pertiwi yang gersang. Tanah yang terpasung pada adharma-nya manusia, tetapi tanpa disadari hal itu diyakini sebagai dharma. Sebab, dharma yang dicari selama ini hanya untuk menampik adharma yang disembunyikan.

Ah, berhenti dulu di sini. Kalau kata-kata itu terus dilanjutkan, kita akan terkesan hanya menggurui anak di setiap perayaan Galungan. Anak hanya mendengar rutinitas yang sama dalam dua kali setahun. Sepirit Galungan pun mulai terkikis dan hanya akan meninggalkan ritualnya saja.

Cerita Men Brayut

Oleh sebab itu, di hari raya Galungan, semestinya kita tidak melupakan kisah cerita Men Brayut. Men Brayut yang hidup tidak karuan karena melahirkan delapan belas anak. Namun, di sisi lain, justru Men Brayut dan suaminya mendapatkan pencerahan dharma-nya.

Menjelang hari Galungan, ketika Men Brayut terjaga oleh rasa gatal di seluruh tubuh dan kutu-kutu yang menggerayangi kepalanya, ia perlahan keluar kamar. Sampai di halaman, Men Brayut melihat sesajen. Sesajen yang sudah dipersiapkan oleh suaminya sejak kemarin untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta di hari Galungan.

Men Brayut mengambil sesajen itu dan membawanya ke dapur, tetapi melarang ke enam belas anaknya ikut masuk. Saat itu anaknya berjumlah 17 dan Men Brayut sedang hamil ke-18. Dengan perut hamil besar, Men Brayut menghabiskan sate calon, sate, dan iga goreng bersama anak bungsunya. Hanya anak bungsum sementara 16 anak lain anaknya merengek dan menangis.

Di luar dapur, sambil menangis, enam belas anaknya minta izin masuk dapur. Suaminya terkejut melihat keadaan anak-anaknya. Ia pun memaksa membuka pintu dapur, melabrak istrinya tetapi sang istri tetap asyik makan seolah tidak peduli.

Dengan penuh amarah, Men Brayut dicaci-maki oleh suaminya. “Jika diceraikan pun, siapa yang akan menerimamu? Tampang dan sikapmu kini sudah tidak karuan lagi,” ucap suami Men Brayut.

Usai makan sambil menyirih, Men Brayut membela diri. Maka terjadilah dialog panjang antara Men Brayut dan suaminya. Terjadilah saling menyalahkan antara Men Brayut dan suaminya. Mereka bersikukuh mempertahankan ego yang merasa paling dharma.

Namun, agak lama mereka seakan bertengkar, sampai kemudian dialog lebih banyak diisi percakapan mengenai kesadaran tentang hidup dan kehidupan.

“Dulu, saat muda, aku ahli memasak, ahli menenun bahkan mampu mengerjakan perkerjaan laki-laki dengan baik. Kini, aku tidak bisa melakukan semua itu. Sebab, aku harus melahirkan anak-anak dan tidak mungkin menggugurkannya,” kata Men Brayut dengan nada tinggi.

“Jadi, kau menuduh anak-anak itu yang menyebabkan keluarga kita terpuruk?” sergah suami Men Brayut.

“Siapa bilang seperti itu? Anak-anak itu anugerah. Seluruh kekuatan tenaga kita, taksu kita, bakat kita, di masa muda dulu, kini masuk ke tubuh dan jiwa anak-anak kita. Kita harus mengarahkan mereka agar tenaga, taksu dan bakat mereka dipergunakan dengan baik demi mencapai dharma,” jawab Men Brayut.

Mereka terdiam, merenung. Mereka kemudian menyadari telah memiliki anugerah luar biasa dengan kelahiran anak-anak yang kuat dan sehat di saat kondisi ekonominya terpuruk, di saat tenaga orang tuanya perlahan-lahan mengendur.

Usai pertengkaran itu, Men Brayut dan suaminya mulai bangkit memperbaiki diri dan sikap. Sekolah keluarga pun dibentuk dengan delapan belas murid. Mereka menjadi orangtua sekaligus guru terbaik bagi ke delapan belas anaknya. Mereka mencintai anak-anak yang sekaligus juga murid-murid mereka.

Mereka mulai menelusuri setiap bakat anak-anaknya walaupun mereka berdua tak memiliki kemampuan untuk menjadi pencari bakat yang baik. Tapi, mereka menjadi guru yang memahami gaya belajar anak-anaknya. Bakat anak-anaknya pun terasah dan berkembang dengan sangat menakjubkan.

Kini, anak-anak pasangan Men Brayut dan suaminya tumbuh cantik dan gagah. Anak-anak mereka menjadi anak cerdas, penuh tanggung jawab, dan bekerja dengan tekun sesuai bakat masing-masing. Perekonomian mereka pun bangkit dari keterpurukan. Para tetangga takjub melihat perubahan kuluarga Men Brayut. Keluarga yang dulunya tidak karuan, kini menjadi kuluarga yang sejahtera.

Ketika dharma keluarga dimenangkan, Men Brayut bersama suaminya mencari spirit keabadian dharma dengan jalan budhapaksa. Keduanya dengan sepenuh hati menyepi dan bertapa di bawah pohon kepuh dalam gua. Mereka pun menyatu dengan alam Sang Pemberi Hidup.

Bagaimana dengan Kita?

Itulah kisah pasangan Men Brayut dan suaminya yang memahami peran sebagai orangtua sekaligus guru bagi anak-anaknya sehingga mencapai jalan dharma. Mereka bukan keluarga yang hanya bisa tenggelam pada keterpurukan dan ratapan akibat melahirkan banyak anak, tetapi mengubah kondisi itu menjadi pondasi dasar yang kuat. Lengkaplah sudah kemenangan dharma, maka di hari raya Galungan berikutnya bukan sekadar menjadi sekadar seremonial kemenangan dharma.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apa yang sebenarnya kita maknai di hari raya Galungan ini? Apakah hanya sekadar memperingati kemenangan dharma yang sesungguhnya dimenangkan oleh para leluhur kita atas anugerah Sang Pencipta? (T)

Tags: ceritahari raya galunganMen BrayutPendidikanrenungan
Share462TweetSendShareSend
Previous Post

Permainan Tradisional dalam Parade Budaya HUT Kota Singaraja: Bagus, tapi Anu…

Next Post

HUT Singaraja – Ulang Tahun Kota atau Ulang Tahun Birokrasi?

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post

HUT Singaraja - Ulang Tahun Kota atau Ulang Tahun Birokrasi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co