26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Galungan: Men Brayut dan Anak-anak yang Dituntun Menemukan Dharma

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Lukisan I Gusti Nyoman Lempad. Men Brayut dan Anak - Anaknya yang suka mengganggu. 1930

MANUSIA melahirkan tradisi untuk memenuhi hastratnya dalam memahami dan mengontrol rahasia alam. Kemudian, terlahirlah tradisi ritual Galungan di Bali. Sebuah tradisi yang memberikan pemahaman konsep rasa menjaga, keikhlasan, dan rasa bersyukur kepada alam Sang Pemberi Hidup. Lalu, berkembang sebagai hari perayaan terciptanya alam semesta jagat raya beserta semua isinya. Sampai akhirnya berkembang sebagai perayaan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma) dengan melakukan persembahan pada Sang Pencipta.

Kisah kekalahan Mayadenawa pun diceritakan dari generasi kegenerasi sebagai kekalahan adharma. Lalu, bagaimana dengan semua isi alam semesta ini? Apakah sudah terjaga semua isi alam semesta jagat raya ini?

Jika isi alam semesta tak lagi ada, alam akan mempersembahkan kita sebagai persembahan pada Sang Kehancuran. Penjor-penjor hanya merunduk sedih tertancap pada tanah pertiwi yang gersang. Tanah yang terpasung pada adharma-nya manusia, tetapi tanpa disadari hal itu diyakini sebagai dharma. Sebab, dharma yang dicari selama ini hanya untuk menampik adharma yang disembunyikan.

Ah, berhenti dulu di sini. Kalau kata-kata itu terus dilanjutkan, kita akan terkesan hanya menggurui anak di setiap perayaan Galungan. Anak hanya mendengar rutinitas yang sama dalam dua kali setahun. Sepirit Galungan pun mulai terkikis dan hanya akan meninggalkan ritualnya saja.

Cerita Men Brayut

Oleh sebab itu, di hari raya Galungan, semestinya kita tidak melupakan kisah cerita Men Brayut. Men Brayut yang hidup tidak karuan karena melahirkan delapan belas anak. Namun, di sisi lain, justru Men Brayut dan suaminya mendapatkan pencerahan dharma-nya.

Menjelang hari Galungan, ketika Men Brayut terjaga oleh rasa gatal di seluruh tubuh dan kutu-kutu yang menggerayangi kepalanya, ia perlahan keluar kamar. Sampai di halaman, Men Brayut melihat sesajen. Sesajen yang sudah dipersiapkan oleh suaminya sejak kemarin untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta di hari Galungan.

Men Brayut mengambil sesajen itu dan membawanya ke dapur, tetapi melarang ke enam belas anaknya ikut masuk. Saat itu anaknya berjumlah 17 dan Men Brayut sedang hamil ke-18. Dengan perut hamil besar, Men Brayut menghabiskan sate calon, sate, dan iga goreng bersama anak bungsunya. Hanya anak bungsum sementara 16 anak lain anaknya merengek dan menangis.

Di luar dapur, sambil menangis, enam belas anaknya minta izin masuk dapur. Suaminya terkejut melihat keadaan anak-anaknya. Ia pun memaksa membuka pintu dapur, melabrak istrinya tetapi sang istri tetap asyik makan seolah tidak peduli.

Dengan penuh amarah, Men Brayut dicaci-maki oleh suaminya. “Jika diceraikan pun, siapa yang akan menerimamu? Tampang dan sikapmu kini sudah tidak karuan lagi,” ucap suami Men Brayut.

Usai makan sambil menyirih, Men Brayut membela diri. Maka terjadilah dialog panjang antara Men Brayut dan suaminya. Terjadilah saling menyalahkan antara Men Brayut dan suaminya. Mereka bersikukuh mempertahankan ego yang merasa paling dharma.

Namun, agak lama mereka seakan bertengkar, sampai kemudian dialog lebih banyak diisi percakapan mengenai kesadaran tentang hidup dan kehidupan.

“Dulu, saat muda, aku ahli memasak, ahli menenun bahkan mampu mengerjakan perkerjaan laki-laki dengan baik. Kini, aku tidak bisa melakukan semua itu. Sebab, aku harus melahirkan anak-anak dan tidak mungkin menggugurkannya,” kata Men Brayut dengan nada tinggi.

“Jadi, kau menuduh anak-anak itu yang menyebabkan keluarga kita terpuruk?” sergah suami Men Brayut.

“Siapa bilang seperti itu? Anak-anak itu anugerah. Seluruh kekuatan tenaga kita, taksu kita, bakat kita, di masa muda dulu, kini masuk ke tubuh dan jiwa anak-anak kita. Kita harus mengarahkan mereka agar tenaga, taksu dan bakat mereka dipergunakan dengan baik demi mencapai dharma,” jawab Men Brayut.

Mereka terdiam, merenung. Mereka kemudian menyadari telah memiliki anugerah luar biasa dengan kelahiran anak-anak yang kuat dan sehat di saat kondisi ekonominya terpuruk, di saat tenaga orang tuanya perlahan-lahan mengendur.

Usai pertengkaran itu, Men Brayut dan suaminya mulai bangkit memperbaiki diri dan sikap. Sekolah keluarga pun dibentuk dengan delapan belas murid. Mereka menjadi orangtua sekaligus guru terbaik bagi ke delapan belas anaknya. Mereka mencintai anak-anak yang sekaligus juga murid-murid mereka.

Mereka mulai menelusuri setiap bakat anak-anaknya walaupun mereka berdua tak memiliki kemampuan untuk menjadi pencari bakat yang baik. Tapi, mereka menjadi guru yang memahami gaya belajar anak-anaknya. Bakat anak-anaknya pun terasah dan berkembang dengan sangat menakjubkan.

Kini, anak-anak pasangan Men Brayut dan suaminya tumbuh cantik dan gagah. Anak-anak mereka menjadi anak cerdas, penuh tanggung jawab, dan bekerja dengan tekun sesuai bakat masing-masing. Perekonomian mereka pun bangkit dari keterpurukan. Para tetangga takjub melihat perubahan kuluarga Men Brayut. Keluarga yang dulunya tidak karuan, kini menjadi kuluarga yang sejahtera.

Ketika dharma keluarga dimenangkan, Men Brayut bersama suaminya mencari spirit keabadian dharma dengan jalan budhapaksa. Keduanya dengan sepenuh hati menyepi dan bertapa di bawah pohon kepuh dalam gua. Mereka pun menyatu dengan alam Sang Pemberi Hidup.

Bagaimana dengan Kita?

Itulah kisah pasangan Men Brayut dan suaminya yang memahami peran sebagai orangtua sekaligus guru bagi anak-anaknya sehingga mencapai jalan dharma. Mereka bukan keluarga yang hanya bisa tenggelam pada keterpurukan dan ratapan akibat melahirkan banyak anak, tetapi mengubah kondisi itu menjadi pondasi dasar yang kuat. Lengkaplah sudah kemenangan dharma, maka di hari raya Galungan berikutnya bukan sekadar menjadi sekadar seremonial kemenangan dharma.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apa yang sebenarnya kita maknai di hari raya Galungan ini? Apakah hanya sekadar memperingati kemenangan dharma yang sesungguhnya dimenangkan oleh para leluhur kita atas anugerah Sang Pencipta? (T)

Tags: ceritahari raya galunganMen BrayutPendidikanrenungan
Share462TweetSendShareSend
Previous Post

Permainan Tradisional dalam Parade Budaya HUT Kota Singaraja: Bagus, tapi Anu…

Next Post

HUT Singaraja – Ulang Tahun Kota atau Ulang Tahun Birokrasi?

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

HUT Singaraja - Ulang Tahun Kota atau Ulang Tahun Birokrasi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co