2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi: Membidik Kosong dengan Kosong

I Ketut Sumarta by I Ketut Sumarta
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: FB/Agung Putradhyana

//Manusia, sejatinya, mahluk pendamba sunyi. Setelah jenuh mencerap kenikmatan duniawi, pada puncaknya dia justru butuh bersunyi-sunyi. Bahkan,  banyak penemuan yang berpengaruh besar bagi dunia juga berawal dari keheningan nan sunyi.//

Messi dan Ronaldo yang piawai menggiring bola di lapangan hijau boleh jadi tak pernah menyadari diri mereka masing-masing bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang untuk melakoni Nyepi. Sepak  bola dan  Nyepi sungguh berhakikat amat dekat, memang. Selain keindahan dan kepiawaian para pemain memindahkan potensi kreativitas otak ke kaki, sepak bola, sejatinya, juga menyajikan hakikat manusia yang suntuk, teguh, dan kukuh mengejar kosong.

Nyatanya, kedua pemain sepakbola tenar dunia asal Argentina dan Portugal itu dengan segenap kecerdasan,  kecemerlangan kreativitas, dan penyatuan energi berebut kosong. Kosong dalam permainan sepakbola—yang beberapa dasawarasa belakangan seolah‑olah menjadi ‘agama baru’ dan dapat mempersatukan dunia dengan bahasa tunggal ini—antara lain, berwujud tempat strategis yang kosong maupun bola—yang hakikatnya merupakan bulatan kosong juga.

Begitulah, seorang pemain mengejar bola yang kosong, terkadang juga mengumpankan bola yang kosong tersebut kepada teman satu timnya yang berada di tempat dan posisi kosong. Terkadang seorang pemain berkelit diam‑diam dari kawalan pemain lawan untuk menempati tempat kosong. Dari kosong, seorang pemain sepakbola mencari kosong, lalu berupaya sekuat daya menembus kosong.

Pada puncaknya, sang pemain dengan akumulasi energi dan momentum yang tepat berkonsentrasi penuh memasukkan bola yang kosong tadi ke bagian gawang yang kosong pula. Dengan segenap daya dan kreativitasnya sang pemain mengecoh penjaga gawang—yang juga mengawal tempat kosong. Maka, puncak akhir semua permainan sepakbola ini adalah keberhasilan menyarangkan kosong ke kosong—dan itulah yang dimaknakan sebagai kemenangan nan cemerlang.  Seorang mahayogi,  penekun yoga, pun pada puncaknya memasuki alam  sunya,  sunyi, ning, dan nol dengan sunya pula. Sunya numpak ring taya,  begitu Mpu Tantular menyuratkan dalam kakawin Sutasoma.

Ada perbedaan, memang. Sepakbola menyajikan dunia penuh keriuhan, sementara Nyepi justru menciptakan kesunyian. Di Bali Nyepi bahkan diwujudkan dalam suatu ‘teater religius’ kesunyian yang kolosal: Satu jagat pulau sunyi selama 24 jam nonstop. Selama 24 jam itu juga tak ada gerak kecuali irama prana yang hening, tak ada suara kecuali gema detak batin hening, tak ada nyala api selain gemilang-cemerlang api batin yang tak pernah padam (agni anglayang). Tapi, kontras riuh sepakbola dengan sunyi Nyepi justru menampakkan esensi yang serupa: Sama-sama membidik dan menuju Alam Kosong dengan Kosong.

Bukankah secara naluriah dan alamiah manusia sesungguhnya juga mahluk pendamba sepi, sunyi, damai, ning? Bukankah selalu ada kerinduan manusia agar lepas dari keriuhan untuk selanjutnya menukik dalam kesunyian? Setelah usai berenang dalam keriuhan sebagai mesin ekonomi, manusia lantas merindukan berendam dalam kesunyian, entah dengan berlibur ke pulau yang sepi, entah beristirahat di pegunungan yang tak terjamah hiruk-pikuk kehidupan kota, tiada telepon,  tiada surat kabar, tiada televise, dan aneka hiburan duniawi.

Nyepi, karenanya, kini di Bali menjadi langkah nungkalik, paradoks (arus balik) di tengah era dunia yang mengalami global paradoks. Ketika dunia ramya, riuh-rendah, dengan arus turisme untuk mencari kesunyian dan melepas lelah hingga ke seberang benua, Nyepi justru menjadikan diri sendiri sebagai arena latihan sekaligus pusat semesta untuk berdialog dengan sunyi. Ketika dunia hiruk-pikuk dengan polusi sekaligus ancaman krisis bahan bakar akibat revolusi bidang transportasi, Nyepi justru mengajak manusia menghentikan segala aktivitas, termasuk gerak transportasi sehingga alam semesta jadi hening, jernih, bersih.

Bukankah karya-karya temuan nan langgeng muncul dari keheningan, seperti buah apel yang jatuh dari pohonnya dalam suasana hening lalu menyentakkan Newton sehingga terlahir teori gravitasi yang menumental? Lalu, kenapa Sidharta mesti diperhadapkan dengan pohon boddhi? Dan, makna apakah yang mesti ditangkap ketika nabi-nabi dicatatkan oleh kisah masing-masing mesti berhadapan dengan sunyi diri sendiri-sendiri?

Sungguh nungkalik,  ketika dunia cenderung mengejar kenikmatan dengan berebut ke arah luar diri, Nyepi justru mengajak orang masuk mengenal sang Diri di dalam diri, bukan ke luar. Lebih daripada itu, Nyepi lantas menjadi pentas sekaligus momentum religius untuk menangkap Sunya lewat sepi diri dan alam sehingga tercapai penyatuan jagat alit (bhuwana alit) dengan Jagat Agung (Bhuwana Agung). Penyatuan ini menjadi suatu kerinduan yang tiada putus ingin diraih oleh para pengejar Sunya yang lebih hakiki daripada sekadar berlibur ala tawaran pasar pelancongan, turisme.

Kerinduan demikian secara cerdas dan original dilukiskan dalam kitab Jnanasiddhanta berbahasa Sanskerta dan Jawa Kuna layaknya sebatang bambu yang bergerak-gerak tiada henti karena udara yang ada dalam batangnya rindu-gelisah ingin meretas keluar lewat celah-celah yang membuka. Lewat itulah udara dalam batang pohon bambu ingin menyatu dengan udara yang ada di alam semesta mahaluas yang melingkupinya. Dalam penyatuan itu, semua menjadi  awor, tiada bekas,  tidak dapat dikenali lagi angin yang semula berada dalam kurungan batang bambu. Tetes air hujan yang menetes di tengah samudra tak dapat dikenali lagi karena telah melebur dengan asin air samudra. Air yang mengalir dari sungai-sungai pun tak dapat dipilah-pilah lagi setelah sampai di kedalaman samudra. Di sana identitas sungai jadi tiada, nir.

Mencapai titik penyatuan dengan Sunya itu berarti mencapai titik yang Nir. Inilah titik di mana seseorang berada dalam keadaan pribadi yang Merdeka, Bebas, Mandiri, dan Independen. Mereka yang telah mencapai titik inilah yang mampu berkreasi dan berproduksi optimal yang memenuhi syarat harmoni-komplit antara kebenaran (satyam), kemuliaan (siwam), dan keindahan (sundaram).

Cuma, dalam kerangka jalan mencapai titik penyatuan dengan Sunya yang Nir itu, Bali memilih jalannya sendiri yang teatrikal sekaligus kolosal: Seantero jagat Bali sunyi senyap. Inilah jalan pengheningan untuk mencapai penjernihan (Ning) yang berpencerahan. Ibarat air, setelah habis diubek-ubek selama setahun, diri manusia menjadi keruh. Maka, untuk menjernihkan kembali perlu dilakukan pengheningan. Pengheningan air telaga hanya dapat dilakukan dengan mendiamkan, sehingga dedeg. Memang, untuk dapat diisi kembali maka gelas yang sudah penuh harus dikosongkan terlebih dahulu. Tanpa itu, air yang dituangkan ke dalam gelas tadi akan tumpah.

Itu berarti saat demikian  manusia perlu diam, perlu melakukan pengosongan diri: Menutup telinga dari keriuhan rutinitas yang memekakkan (amati lelanguan) untuk selanjutnya mencerap keheningan detak suara irama batin (kuta mantra, OM); menutup mata dari terang api (amati geni) untuk kemudian dalam pejam menatap dengan cemerlang sinar api diri yang tak pernah padam (agni anglayang); menahan diri dari gerak rutinitas melelahkan (amati karya) untuk terus menukik ke dalam perenungan lewat aliran prana yang tenang layaknya nyala lilin di ruang hampa udara (sudipa ring kulem). Pun, mendiamkan diri dan pikiran dari kebiasaan berlari mengejar nikmat duniawi (amati lelungan) untuk selanjutnya berkonsentrasi mampat-pedat ke titik Ning yang Nir sebagai bentuk pemujaan dengan kepasrahan-penuh-seluruh bunga hati yang tak pernah layu (puspa tan alum).

Setelah melewati tahapan dan proses demikian, maka seseorang akan terlahir menjadi pribadi dengan api diri yang suci. Di Bali sehari setelah Nyepi ini diistilahkan dengan ngembak geni, membuka api suci diri yang baru dan lebih gilang-cemerlang.

Jalan pengheningan demikian dengan cemerlang disuratkan Mpu Kanwa lewat gubahannya, Kakawin Arjuna-wiwaha, layaknya menangkap bayangan rembulan dalam tempayan yang berisi air. Maka, dalam setiap air yang jernih-bersih-suci bayangan sang rembulan akan menampak sedemikian jelas. Demikianlah, Hyang Sunya yang serba Nir itu menyusup ke dalam segenap mahluk: Hanya pada dia yang rajin belajar ilmu kerohanian, sadar pada diri, dan tekun beryogalah Dia akan menampakkan diri-Nya. Demikian, Mpu Kanwa menyuratkan dalam kakawinnya yang oleh para penekun susastra Jawa Kuna disebutkan sebagai karya puncak dari era Jawa Timur ini: sasi wimbha haneng gatha mesi banu/ ndan asing suci nirmmala mesi wulan/ iwa mangkana rakwa kiteng kadadin/ ring angambeki yoga kiteng sakala//.

Dalam rumusan yang lain Dang Hyang Nirartha dalam karya kakawinnya, Nirarthaprakreta, merumuskan jalan pengheningan tersebut sebagai cara menangkap sang Sunya yang Nir: Lewat penjernihan (heneng) hingga benar-benar hening, halus, dan cemerlang/ hingga menyusup ke alam Sunya sebagai alam pikiran yang sempurna/ pada saat itulah pikiran lalu bagaikan telah menyusupi seluruh alam, namun sama sekali tidak diketahui entah dari mana datangnya/ maka, orang yang telah mencapai tingkatan yang demikian itu adalah orang yang telah mencapai hakikat sang Sunya sebagai inti ajaran kerohanian//(ri heneng ikanang ambek tibralit mahening aho/ lengit atisaya sunya jnanasraya ya wekasan/ swayeng umibeki tan ring rat mwang deha tuduhana/ ri pangwakira sang hyang tattwadhyatmika katemu//).

Demikianlah, Nyepi, jadinya, merupakan jalan pengosongan sang Diri yang sudah penuh dan letih digeber setahun penuh oleh berbagai rutinitas aktivitas, kepentingan, pikiran, ambisi, mungkin juga dendam, iri, benci, dan seterusnya. Dengan pengosongan itu, kemudian diri manusia siap menerima isi baru yang lebih segar. Bukankah, sehari-hari orang juga butuh istirahat sejenak untuk kemudian menjadi lebih produktif dan lebih kreatif? Bahkan, bukankah mesin sekalipun juga butuh didiamkan sejenak untuk kemudian difungsikan kembali sehingga bisa memberikan nilai ekonomi berlebih?

Secara praktis keseharian, dengan demikian, pengosongan dan ‘pendiaman’ lewat Nyepi merupakan satu momentum penyiapan diri untuk menjadi pribadi yang lebih jernih, cemerlang, dan berpencerahan sehingga menjadi lebih kreatif, inovatif, dan produktif. Dalam kaitan religius-spiritual, Nyepi menjadi suatu tahapan proses untuk mencapai pembebasan dan pemerdekaan sang Diri untuk mencapai penyatuan dengan Sang Pencipta yang Sunya dan Serba-Nir, yang bahkan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata (luput inangen-angen winarna ya). Sebab, manusia dalam permenungan Hindu adalah Putra Sang Abadi Yang Mahasuci (Amretsya Putra). Karena menjadi Putra Sang Abadi Yang Mahasuci, maka manusia hakikatnya adalah suci. Namun, akibat dikurung oleh maya dan mala serba-duniawi yang berlebihan, maka dia menjadi kotor.

Toh begitu, secara naluriah sesungguhnyalah manusia punya kerinduan untuk kembali pulang ke asalnya, Sang Abadi Yang Mahasuci Maha Ning Nir. Kerinduan itu layaknya keinginan para pemain bola di lapangan hijau nan lapang yang berebut bola yang kosong. Ada kalanya juga meliuk-liuk melewati musuh untuk memilih tempat atau posisi di titik yang kosong. Dan, pada puncaknya, sang pemain bola ingin memasukkan bola yang kosong ke dalam gawang yang kosong.

Cuma, sedemikian sering peluang gagal disarangkan jadi gol oleh sang pemain. Entah karena tak sabar, entah karena tak tenang. Entah juga karena ambisi yang meletup-letup sehingga saat hendak menendang bola yang sudah lengket di kaki, eh malah melenceng. Tapi, tak jarang juga karena membentur mistar gawang. Atau, bahkan karena ditangkap oleh sang penjaga gawang. Malahan tak sedikit kena semprit wasit akibat bermain curang, atau tertangkap basah off side.

Seorang pemain bola yang ingin menciptakan gol—apalagi spektakuler—tak  cukup cuma cerdik, seperti Messi atau Ronaldo. Tapi, juga butuh tenang, tak ambisius, tekun, berketetapan hati, sekaligus jujur. Singkatnya, sang pemain mesti bersih secara mental, tak bercacat di mata wasit. Boleh saja dia belepotan lumpur secara fisik, tapi permainannya mesti tetap bersih.

Dalam konteks spiritual, itu berarti dia mesti berbatin yang jernih dan bersih. Tak terkecuali dia seorang gelandang di pemerintahan, atau cuma seorang pemain belakang di ekonomi, atau malah cuma sayap kiri di sektor informal pedagang kaki lima. Tanpa itu, dunia sepak bola akan berubah jadi dunia tawuran yang barbar karena aneka kecurangan tak kena semprit, main kasar tak diganjar, kerakusan tak dikendalikan.

Dan, ketika kebarbaran ragawi tiba, mungkin saat itu juga manusia mesti berani mengambil langkah paradoksal sehingga tercipta revolusi Kesadaran: menciptakan nyepi pada diri masing-masing sehingga tercipta ruang kosong bagi dialog dengan Sunyi Mahapenuh yang Ning dan Nir itu. (T)

Baca juga: Kenapa Ada Tradisi Nyepi?

Tags: baliHari Raya Nyepisepakbola
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Ruang dan Waktu Sekali Lagi

Next Post

Berbagai Nyepi yang Dirayakan di Bali & Latar Belakangnya

I Ketut Sumarta

I Ketut Sumarta

Pejalan sunyi

Related Posts

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails
Next Post

Berbagai Nyepi yang Dirayakan di Bali & Latar Belakangnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co