16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Sukaja Hingga Sukrawan – Barisan Kader PDI-P Korban Pilkada di Bali

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi diolah dari berbagai sumber di google

AKHIRNYA DPD PDI-P Bali mengumumkan secara resmi bahwa Dewa Nyoman Sukrawan dipecat dari PDI-P. Ini bukan berita mengejutkan sesungguhnya. Karena jika berpatokan pada tabiat partai itu pada pilkada-pilkada sebelumnya, hampir semua orang, mungkin termasuk Dewa Sukrawan sendiri, sudah menduga bahwa pemecatan itu pasti terjadi.

Sukrawan dipecat tentu saja karena keberanian dia mencalonkan diri sebagai Calon Bupati dalam Pilkada Buleleng 2017 dari jalur perseorangan. Padahal jago resmi PDI-P adalah pasangan Putu Agus Suradnyana dan Nyoman Sutjidra (PASS). Kukuhnya Sukrawan mencalonkan diri berpasangan dengan Dharma Wijaya dianggap sebagai pembangkangan terjadap partai, karena Sukrawan harusnya mengamankan kemenangan PASS, tapi malah mencalonkan diri.

“Dengan mencalonkan diri sebagai Calon Bupati Kabupaten Buleleng dari jalur perseorangan adalah pembangkangan terhadap ketentuan, keputusan dan garis kebijakan Partai, yang merupakan pelanggaran kode etik dan disiplin Partai, dikategorikan sebagai pelanggaran berat,” ujar Ketua DPD PDIP Bali, I Wayan Koster, dalam jumpa pers di Kantor DPD PDIP Bali, Senin 12 Desember 2016 sebagaimana dikutip balipost.com.

Dipecatkan Sukrawan memperpanjang barisan kader banteng yang menjadi korban Pilkada di Bali. Sejak sekitar tahun 2010, hampir pada setiap musim Pilkada, ada saja kader PDI-P yang dipecat. Rata-rata mereka dipecat karena dianggap tak mengikuti pasangan calon kepala daerah yang direkomendasikan partai.

Heboh Sukaja di Pilkada Tabanan 2010    

Kehebohan politik internal PDI-P terjadi pada Pilkada Tabanan, Mei 2010. Saat itu, Wayan Sukaja yang dikenal sebagai kader militan dipecat dari PDI-P. Kisah pemecatan ini bisa dibilang sangat dramatis, bahkan bersambung seperti sinetron, karena Sukaja melakukan gerakan perlawanan.

Sukaja dipecat karena dianggap membelot ke Golkar sebagai calon bupati di Pilkada Tabanan yang diusung Partai Golkar. Padahal, PDI-P punya calon resmi, yakni pasangan Ni Putu Eka Wiryastuti-Komang Gede Sanjaya. Pemecatan itu menyebabkan Sukaja menuai simpati dari sebagian kader PDI-P dan warga Tabanan, bahkan di luar Tabanan. Simpatisannya menilai Sukaja dizolimi oleh partainya sendiri.

Heboh politik internal PDI-P di Pilkada Tabanan 2010 itu dianggap oleh banyak kalangan sebagai blunder politik yang dilakukan PDI-P. Saat itu DPP PDI-P menganulir rekomendasi yang sudah dikeluarkan untuk pasangan Wayan Sukaja-Eka Wiryastuti dan menggantinya dengan rekomendasi jilid kedua atas nama Eka Wiryastuti-Sanjaya. Kenyataan itulah yang membuat Sukaja tak terima, lalu membelot dan mencalonkan diri sebagai calon bupati dari Partai Golkar.

Heboh politik Pilkada Tabanan 2010 tak berakhir meski Pilkada sudah final dengan kemenangan pasangan Eka Wiryastuti-Sanjaya. Sukaja yang kalah melakukan perlawanan secara politik maupun secara hukum. Selain menggugat hasil Pilkada, ia menolak di-PAW dari keanggotaan DPRD Tabanan dan sempat mem-PTUN-kan SK Mendagri terkait PAW itu. Tapi tragisnya, perlawanan Sukaja rontok satu per satu dan justru ia sendiri masuk penjara karena kasus korupsi.

Lebih tragis lagi, pembelotan dan perlawanan Sukaja merambat ke kader-kader lain. Sejumlah kader PDI-P yang dianggap mendukung Sukaja juga dipecat. Salah satunya adalah kader militan dari Tabanan barat, Made Sudana, yang dikenal sebagai soulmate dari Sukaja di PDI-P.

Korban di Pilkada Serentak 2015

Pilkada serentak tahap pertama 2015 kembali jadi ujian bagi PDI-P.  Saat itu, PDI-P juga mengeluarkan sejumlah surat pemecatan terhadap kader-kader terbaiknya.

Di Pilkada Karangasem, PDI-P memecat IGA Mas Sumatri karena menjadi calon bupati melalui NasDem, Hanura, dan PKPI. Padahal pada Pilkada di Bumi Lahar itu PDI-P merekomendasikan pasangan Wayan Sudirta-Made Sumiati.

Hal yang sama juga dilakukan terhadap Made Arjaya di Pilwali Denpasar dan Wayan Sarjana di Pilkada Tabanan. Arjaya dipecat karena menjadi calon yang diusung partai di luar PDI-P dalam Pilwali Denpasar.

Pada Pilwali Denpasar itu PDI-P mengusung IB Rai Dharmawijaya Mantra-I Gusti Ngurah Jayanegara. Sedangkan Made Arjaya yang berpasangan dengan AA Ayu Rai Sunasri diusung Demokrat dan PKS. Pasangan lain saat itu adalah Ketut Resmiasa-IB Batu Agung Antara yang diusung Gerindra dan Hanura.

Wayan Sarjana dipecat juga karena pada Pilkada Tabanan ikut menjadi calon bupati melawan calon incumbent dari PDI-P, Eka Wiryastuti-Sanjaya. Sarjana saat itu berpasangan dengan IB Astawa Merta yang diusung sejumlah partai lain di luar PDI-P.

Dari tiga kader yang dipecat itu, dua kader, Arjaya dan Sarjana, kalah dari pasangan calon PDI-P. Hanya Mas Sumantri yang berhasil mengalahkan calon bupati dari partai yang memecatnya.

Persaingan Internal

Sebagai partai besar yang sudah beberapa kali melewati sejarah kelam politik negeri dan mengalami berbagai cobaan dan rintangan di negeri ini, wajarlah PDI-P punya banyak kader matang – kader yang benar-benar matang atau setengah matang atau pura-pura matang. Makin matang diri dalam politik (termasuk matang secara ekonomi), makin besarlah ambisi politiknya. Maka persaingan di internal partai tak bisa dielakkan.

Apalagi, setelah Orde Baru tumbang dan reformasi dimulai diiringi berubahnya nama PDI menjadi PDI-P, banyak orang berbondong-bondong masuk ke partai lama dengan nama baru itu. PDI-P pun menang besar dalam Pemilu pertama di zaman reformasi.

Pada saat awal-awal kiprah PDI-P di zaman reformasi, terutama di Bali, suasana di tubuh partai tampak aman-aman saja. Euforia kemenangan membuat mereka saling menerima, saling memaklumi, saling berbagi, dan tak banyak protes. Nama-nama calon bupati yang muncul saat itu tak mendatangkan protes keras, apalagi sampai membelot.

Nama-nama seperti Adi Wiryatama di Tabanan, Nengah Arnawa di Bangli, Puspayoga di Denpasar, naik dengan dukungan yang bisa dibilang kompak. Hanya di Buleleng, naiknya nama Sudarmaja Duniaji mendapat pertentangan yang cukup keras hingga berbuntut pada pembelotan kader partai saat pemilihan di DPRD Buleleng.

Setelah partai berjalan sekitar sepuluh tahun, dan era baru pemilihan langsung sedang ngetrend, baru kemudian muncul persaingan ambisi kader di tubuh partai. Kader yang punya uang, bersaing dengan kader yang punya massa. Kader pintar bersaing dengan kader berpengalaman. Kader “keturunan” bersaing dengan kader “lepasan”.

Ditambah lagi penilaian dari sejumlah kader terhadap sikap DPP PDI-P yang kerap dianggap tak obyektif dalam mengeluarkan rekomendasi calon saat Pilkada, makin membuat konflik antarkader menjalar dari tingkat atas hingga tingkat bawah. Banyak kader yang dianggap memenuhi syarat dari berbagai indikator untuk menjadi kepala daerah, justru tak mendapatkan rekomendasi. Demikian pula sebaliknya, kader yang dianggap belum layak justru mendapat rekomendasi hanya karena pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Banyak pengamat menilai dengan sikap “gampang mecat” itu PDI-P dianggap sebagai partai otoriter dan tidak menjungjung demokrasi serta perpedaan pendapat. Namun di sisi lain, banyak yang memaklumi bahwa seperti itulah seharusnya partai politik jika tak ingin hancur. Seperti pepatah lama, duri dalam daging harus dibersihkan agar tak membuat daging jadi busuk.

Yang menarik, sebagian besar kader yang dipecat itu sejauh ini dikenal sebagai kader top di wilayahnya masing-masing. Bahkan banyak kader sudah jadi ikon partai. Sehingga menjadi pertanyaan kemudian, apakah PDI-P akan terus-terusan kehilangan kader top pada setiap Pilkada? Ah, dalam politik, kehilangan dan kedatangan, bukanlah hal penting. Pengurangan dan penambahan kadang bukan soal. Yang penting itu; menang. (T)

Tags: bulelengdenpasarkarangasemPartai PolitikPilkadaPolitiktabanan
Share134TweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Mahasiswa Berlomba jadi Promotor: Belajar Usaha atau Iseng Belaka?

Next Post

Ajeg Rukun “Semeton Bali” dan “Nyama Selam” di Kampung Singaraja

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post

Ajeg Rukun “Semeton Bali” dan “Nyama Selam” di Kampung Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co