5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Sukaja Hingga Sukrawan – Barisan Kader PDI-P Korban Pilkada di Bali

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi diolah dari berbagai sumber di google

AKHIRNYA DPD PDI-P Bali mengumumkan secara resmi bahwa Dewa Nyoman Sukrawan dipecat dari PDI-P. Ini bukan berita mengejutkan sesungguhnya. Karena jika berpatokan pada tabiat partai itu pada pilkada-pilkada sebelumnya, hampir semua orang, mungkin termasuk Dewa Sukrawan sendiri, sudah menduga bahwa pemecatan itu pasti terjadi.

Sukrawan dipecat tentu saja karena keberanian dia mencalonkan diri sebagai Calon Bupati dalam Pilkada Buleleng 2017 dari jalur perseorangan. Padahal jago resmi PDI-P adalah pasangan Putu Agus Suradnyana dan Nyoman Sutjidra (PASS). Kukuhnya Sukrawan mencalonkan diri berpasangan dengan Dharma Wijaya dianggap sebagai pembangkangan terjadap partai, karena Sukrawan harusnya mengamankan kemenangan PASS, tapi malah mencalonkan diri.

“Dengan mencalonkan diri sebagai Calon Bupati Kabupaten Buleleng dari jalur perseorangan adalah pembangkangan terhadap ketentuan, keputusan dan garis kebijakan Partai, yang merupakan pelanggaran kode etik dan disiplin Partai, dikategorikan sebagai pelanggaran berat,” ujar Ketua DPD PDIP Bali, I Wayan Koster, dalam jumpa pers di Kantor DPD PDIP Bali, Senin 12 Desember 2016 sebagaimana dikutip balipost.com.

Dipecatkan Sukrawan memperpanjang barisan kader banteng yang menjadi korban Pilkada di Bali. Sejak sekitar tahun 2010, hampir pada setiap musim Pilkada, ada saja kader PDI-P yang dipecat. Rata-rata mereka dipecat karena dianggap tak mengikuti pasangan calon kepala daerah yang direkomendasikan partai.

Heboh Sukaja di Pilkada Tabanan 2010    

Kehebohan politik internal PDI-P terjadi pada Pilkada Tabanan, Mei 2010. Saat itu, Wayan Sukaja yang dikenal sebagai kader militan dipecat dari PDI-P. Kisah pemecatan ini bisa dibilang sangat dramatis, bahkan bersambung seperti sinetron, karena Sukaja melakukan gerakan perlawanan.

Sukaja dipecat karena dianggap membelot ke Golkar sebagai calon bupati di Pilkada Tabanan yang diusung Partai Golkar. Padahal, PDI-P punya calon resmi, yakni pasangan Ni Putu Eka Wiryastuti-Komang Gede Sanjaya. Pemecatan itu menyebabkan Sukaja menuai simpati dari sebagian kader PDI-P dan warga Tabanan, bahkan di luar Tabanan. Simpatisannya menilai Sukaja dizolimi oleh partainya sendiri.

Heboh politik internal PDI-P di Pilkada Tabanan 2010 itu dianggap oleh banyak kalangan sebagai blunder politik yang dilakukan PDI-P. Saat itu DPP PDI-P menganulir rekomendasi yang sudah dikeluarkan untuk pasangan Wayan Sukaja-Eka Wiryastuti dan menggantinya dengan rekomendasi jilid kedua atas nama Eka Wiryastuti-Sanjaya. Kenyataan itulah yang membuat Sukaja tak terima, lalu membelot dan mencalonkan diri sebagai calon bupati dari Partai Golkar.

Heboh politik Pilkada Tabanan 2010 tak berakhir meski Pilkada sudah final dengan kemenangan pasangan Eka Wiryastuti-Sanjaya. Sukaja yang kalah melakukan perlawanan secara politik maupun secara hukum. Selain menggugat hasil Pilkada, ia menolak di-PAW dari keanggotaan DPRD Tabanan dan sempat mem-PTUN-kan SK Mendagri terkait PAW itu. Tapi tragisnya, perlawanan Sukaja rontok satu per satu dan justru ia sendiri masuk penjara karena kasus korupsi.

Lebih tragis lagi, pembelotan dan perlawanan Sukaja merambat ke kader-kader lain. Sejumlah kader PDI-P yang dianggap mendukung Sukaja juga dipecat. Salah satunya adalah kader militan dari Tabanan barat, Made Sudana, yang dikenal sebagai soulmate dari Sukaja di PDI-P.

Korban di Pilkada Serentak 2015

Pilkada serentak tahap pertama 2015 kembali jadi ujian bagi PDI-P.  Saat itu, PDI-P juga mengeluarkan sejumlah surat pemecatan terhadap kader-kader terbaiknya.

Di Pilkada Karangasem, PDI-P memecat IGA Mas Sumatri karena menjadi calon bupati melalui NasDem, Hanura, dan PKPI. Padahal pada Pilkada di Bumi Lahar itu PDI-P merekomendasikan pasangan Wayan Sudirta-Made Sumiati.

Hal yang sama juga dilakukan terhadap Made Arjaya di Pilwali Denpasar dan Wayan Sarjana di Pilkada Tabanan. Arjaya dipecat karena menjadi calon yang diusung partai di luar PDI-P dalam Pilwali Denpasar.

Pada Pilwali Denpasar itu PDI-P mengusung IB Rai Dharmawijaya Mantra-I Gusti Ngurah Jayanegara. Sedangkan Made Arjaya yang berpasangan dengan AA Ayu Rai Sunasri diusung Demokrat dan PKS. Pasangan lain saat itu adalah Ketut Resmiasa-IB Batu Agung Antara yang diusung Gerindra dan Hanura.

Wayan Sarjana dipecat juga karena pada Pilkada Tabanan ikut menjadi calon bupati melawan calon incumbent dari PDI-P, Eka Wiryastuti-Sanjaya. Sarjana saat itu berpasangan dengan IB Astawa Merta yang diusung sejumlah partai lain di luar PDI-P.

Dari tiga kader yang dipecat itu, dua kader, Arjaya dan Sarjana, kalah dari pasangan calon PDI-P. Hanya Mas Sumantri yang berhasil mengalahkan calon bupati dari partai yang memecatnya.

Persaingan Internal

Sebagai partai besar yang sudah beberapa kali melewati sejarah kelam politik negeri dan mengalami berbagai cobaan dan rintangan di negeri ini, wajarlah PDI-P punya banyak kader matang – kader yang benar-benar matang atau setengah matang atau pura-pura matang. Makin matang diri dalam politik (termasuk matang secara ekonomi), makin besarlah ambisi politiknya. Maka persaingan di internal partai tak bisa dielakkan.

Apalagi, setelah Orde Baru tumbang dan reformasi dimulai diiringi berubahnya nama PDI menjadi PDI-P, banyak orang berbondong-bondong masuk ke partai lama dengan nama baru itu. PDI-P pun menang besar dalam Pemilu pertama di zaman reformasi.

Pada saat awal-awal kiprah PDI-P di zaman reformasi, terutama di Bali, suasana di tubuh partai tampak aman-aman saja. Euforia kemenangan membuat mereka saling menerima, saling memaklumi, saling berbagi, dan tak banyak protes. Nama-nama calon bupati yang muncul saat itu tak mendatangkan protes keras, apalagi sampai membelot.

Nama-nama seperti Adi Wiryatama di Tabanan, Nengah Arnawa di Bangli, Puspayoga di Denpasar, naik dengan dukungan yang bisa dibilang kompak. Hanya di Buleleng, naiknya nama Sudarmaja Duniaji mendapat pertentangan yang cukup keras hingga berbuntut pada pembelotan kader partai saat pemilihan di DPRD Buleleng.

Setelah partai berjalan sekitar sepuluh tahun, dan era baru pemilihan langsung sedang ngetrend, baru kemudian muncul persaingan ambisi kader di tubuh partai. Kader yang punya uang, bersaing dengan kader yang punya massa. Kader pintar bersaing dengan kader berpengalaman. Kader “keturunan” bersaing dengan kader “lepasan”.

Ditambah lagi penilaian dari sejumlah kader terhadap sikap DPP PDI-P yang kerap dianggap tak obyektif dalam mengeluarkan rekomendasi calon saat Pilkada, makin membuat konflik antarkader menjalar dari tingkat atas hingga tingkat bawah. Banyak kader yang dianggap memenuhi syarat dari berbagai indikator untuk menjadi kepala daerah, justru tak mendapatkan rekomendasi. Demikian pula sebaliknya, kader yang dianggap belum layak justru mendapat rekomendasi hanya karena pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Banyak pengamat menilai dengan sikap “gampang mecat” itu PDI-P dianggap sebagai partai otoriter dan tidak menjungjung demokrasi serta perpedaan pendapat. Namun di sisi lain, banyak yang memaklumi bahwa seperti itulah seharusnya partai politik jika tak ingin hancur. Seperti pepatah lama, duri dalam daging harus dibersihkan agar tak membuat daging jadi busuk.

Yang menarik, sebagian besar kader yang dipecat itu sejauh ini dikenal sebagai kader top di wilayahnya masing-masing. Bahkan banyak kader sudah jadi ikon partai. Sehingga menjadi pertanyaan kemudian, apakah PDI-P akan terus-terusan kehilangan kader top pada setiap Pilkada? Ah, dalam politik, kehilangan dan kedatangan, bukanlah hal penting. Pengurangan dan penambahan kadang bukan soal. Yang penting itu; menang. (T)

Tags: bulelengdenpasarkarangasemPartai PolitikPilkadaPolitiktabanan
Share134TweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Mahasiswa Berlomba jadi Promotor: Belajar Usaha atau Iseng Belaka?

Next Post

Ajeg Rukun “Semeton Bali” dan “Nyama Selam” di Kampung Singaraja

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post

Ajeg Rukun “Semeton Bali” dan “Nyama Selam” di Kampung Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co