16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Sukaja Hingga Sukrawan – Barisan Kader PDI-P Korban Pilkada di Bali

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi diolah dari berbagai sumber di google

AKHIRNYA DPD PDI-P Bali mengumumkan secara resmi bahwa Dewa Nyoman Sukrawan dipecat dari PDI-P. Ini bukan berita mengejutkan sesungguhnya. Karena jika berpatokan pada tabiat partai itu pada pilkada-pilkada sebelumnya, hampir semua orang, mungkin termasuk Dewa Sukrawan sendiri, sudah menduga bahwa pemecatan itu pasti terjadi.

Sukrawan dipecat tentu saja karena keberanian dia mencalonkan diri sebagai Calon Bupati dalam Pilkada Buleleng 2017 dari jalur perseorangan. Padahal jago resmi PDI-P adalah pasangan Putu Agus Suradnyana dan Nyoman Sutjidra (PASS). Kukuhnya Sukrawan mencalonkan diri berpasangan dengan Dharma Wijaya dianggap sebagai pembangkangan terjadap partai, karena Sukrawan harusnya mengamankan kemenangan PASS, tapi malah mencalonkan diri.

“Dengan mencalonkan diri sebagai Calon Bupati Kabupaten Buleleng dari jalur perseorangan adalah pembangkangan terhadap ketentuan, keputusan dan garis kebijakan Partai, yang merupakan pelanggaran kode etik dan disiplin Partai, dikategorikan sebagai pelanggaran berat,” ujar Ketua DPD PDIP Bali, I Wayan Koster, dalam jumpa pers di Kantor DPD PDIP Bali, Senin 12 Desember 2016 sebagaimana dikutip balipost.com.

Dipecatkan Sukrawan memperpanjang barisan kader banteng yang menjadi korban Pilkada di Bali. Sejak sekitar tahun 2010, hampir pada setiap musim Pilkada, ada saja kader PDI-P yang dipecat. Rata-rata mereka dipecat karena dianggap tak mengikuti pasangan calon kepala daerah yang direkomendasikan partai.

Heboh Sukaja di Pilkada Tabanan 2010    

Kehebohan politik internal PDI-P terjadi pada Pilkada Tabanan, Mei 2010. Saat itu, Wayan Sukaja yang dikenal sebagai kader militan dipecat dari PDI-P. Kisah pemecatan ini bisa dibilang sangat dramatis, bahkan bersambung seperti sinetron, karena Sukaja melakukan gerakan perlawanan.

Sukaja dipecat karena dianggap membelot ke Golkar sebagai calon bupati di Pilkada Tabanan yang diusung Partai Golkar. Padahal, PDI-P punya calon resmi, yakni pasangan Ni Putu Eka Wiryastuti-Komang Gede Sanjaya. Pemecatan itu menyebabkan Sukaja menuai simpati dari sebagian kader PDI-P dan warga Tabanan, bahkan di luar Tabanan. Simpatisannya menilai Sukaja dizolimi oleh partainya sendiri.

Heboh politik internal PDI-P di Pilkada Tabanan 2010 itu dianggap oleh banyak kalangan sebagai blunder politik yang dilakukan PDI-P. Saat itu DPP PDI-P menganulir rekomendasi yang sudah dikeluarkan untuk pasangan Wayan Sukaja-Eka Wiryastuti dan menggantinya dengan rekomendasi jilid kedua atas nama Eka Wiryastuti-Sanjaya. Kenyataan itulah yang membuat Sukaja tak terima, lalu membelot dan mencalonkan diri sebagai calon bupati dari Partai Golkar.

Heboh politik Pilkada Tabanan 2010 tak berakhir meski Pilkada sudah final dengan kemenangan pasangan Eka Wiryastuti-Sanjaya. Sukaja yang kalah melakukan perlawanan secara politik maupun secara hukum. Selain menggugat hasil Pilkada, ia menolak di-PAW dari keanggotaan DPRD Tabanan dan sempat mem-PTUN-kan SK Mendagri terkait PAW itu. Tapi tragisnya, perlawanan Sukaja rontok satu per satu dan justru ia sendiri masuk penjara karena kasus korupsi.

Lebih tragis lagi, pembelotan dan perlawanan Sukaja merambat ke kader-kader lain. Sejumlah kader PDI-P yang dianggap mendukung Sukaja juga dipecat. Salah satunya adalah kader militan dari Tabanan barat, Made Sudana, yang dikenal sebagai soulmate dari Sukaja di PDI-P.

Korban di Pilkada Serentak 2015

Pilkada serentak tahap pertama 2015 kembali jadi ujian bagi PDI-P.  Saat itu, PDI-P juga mengeluarkan sejumlah surat pemecatan terhadap kader-kader terbaiknya.

Di Pilkada Karangasem, PDI-P memecat IGA Mas Sumatri karena menjadi calon bupati melalui NasDem, Hanura, dan PKPI. Padahal pada Pilkada di Bumi Lahar itu PDI-P merekomendasikan pasangan Wayan Sudirta-Made Sumiati.

Hal yang sama juga dilakukan terhadap Made Arjaya di Pilwali Denpasar dan Wayan Sarjana di Pilkada Tabanan. Arjaya dipecat karena menjadi calon yang diusung partai di luar PDI-P dalam Pilwali Denpasar.

Pada Pilwali Denpasar itu PDI-P mengusung IB Rai Dharmawijaya Mantra-I Gusti Ngurah Jayanegara. Sedangkan Made Arjaya yang berpasangan dengan AA Ayu Rai Sunasri diusung Demokrat dan PKS. Pasangan lain saat itu adalah Ketut Resmiasa-IB Batu Agung Antara yang diusung Gerindra dan Hanura.

Wayan Sarjana dipecat juga karena pada Pilkada Tabanan ikut menjadi calon bupati melawan calon incumbent dari PDI-P, Eka Wiryastuti-Sanjaya. Sarjana saat itu berpasangan dengan IB Astawa Merta yang diusung sejumlah partai lain di luar PDI-P.

Dari tiga kader yang dipecat itu, dua kader, Arjaya dan Sarjana, kalah dari pasangan calon PDI-P. Hanya Mas Sumantri yang berhasil mengalahkan calon bupati dari partai yang memecatnya.

Persaingan Internal

Sebagai partai besar yang sudah beberapa kali melewati sejarah kelam politik negeri dan mengalami berbagai cobaan dan rintangan di negeri ini, wajarlah PDI-P punya banyak kader matang – kader yang benar-benar matang atau setengah matang atau pura-pura matang. Makin matang diri dalam politik (termasuk matang secara ekonomi), makin besarlah ambisi politiknya. Maka persaingan di internal partai tak bisa dielakkan.

Apalagi, setelah Orde Baru tumbang dan reformasi dimulai diiringi berubahnya nama PDI menjadi PDI-P, banyak orang berbondong-bondong masuk ke partai lama dengan nama baru itu. PDI-P pun menang besar dalam Pemilu pertama di zaman reformasi.

Pada saat awal-awal kiprah PDI-P di zaman reformasi, terutama di Bali, suasana di tubuh partai tampak aman-aman saja. Euforia kemenangan membuat mereka saling menerima, saling memaklumi, saling berbagi, dan tak banyak protes. Nama-nama calon bupati yang muncul saat itu tak mendatangkan protes keras, apalagi sampai membelot.

Nama-nama seperti Adi Wiryatama di Tabanan, Nengah Arnawa di Bangli, Puspayoga di Denpasar, naik dengan dukungan yang bisa dibilang kompak. Hanya di Buleleng, naiknya nama Sudarmaja Duniaji mendapat pertentangan yang cukup keras hingga berbuntut pada pembelotan kader partai saat pemilihan di DPRD Buleleng.

Setelah partai berjalan sekitar sepuluh tahun, dan era baru pemilihan langsung sedang ngetrend, baru kemudian muncul persaingan ambisi kader di tubuh partai. Kader yang punya uang, bersaing dengan kader yang punya massa. Kader pintar bersaing dengan kader berpengalaman. Kader “keturunan” bersaing dengan kader “lepasan”.

Ditambah lagi penilaian dari sejumlah kader terhadap sikap DPP PDI-P yang kerap dianggap tak obyektif dalam mengeluarkan rekomendasi calon saat Pilkada, makin membuat konflik antarkader menjalar dari tingkat atas hingga tingkat bawah. Banyak kader yang dianggap memenuhi syarat dari berbagai indikator untuk menjadi kepala daerah, justru tak mendapatkan rekomendasi. Demikian pula sebaliknya, kader yang dianggap belum layak justru mendapat rekomendasi hanya karena pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Banyak pengamat menilai dengan sikap “gampang mecat” itu PDI-P dianggap sebagai partai otoriter dan tidak menjungjung demokrasi serta perpedaan pendapat. Namun di sisi lain, banyak yang memaklumi bahwa seperti itulah seharusnya partai politik jika tak ingin hancur. Seperti pepatah lama, duri dalam daging harus dibersihkan agar tak membuat daging jadi busuk.

Yang menarik, sebagian besar kader yang dipecat itu sejauh ini dikenal sebagai kader top di wilayahnya masing-masing. Bahkan banyak kader sudah jadi ikon partai. Sehingga menjadi pertanyaan kemudian, apakah PDI-P akan terus-terusan kehilangan kader top pada setiap Pilkada? Ah, dalam politik, kehilangan dan kedatangan, bukanlah hal penting. Pengurangan dan penambahan kadang bukan soal. Yang penting itu; menang. (T)

Tags: bulelengdenpasarkarangasemPartai PolitikPilkadaPolitiktabanan
Share134TweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Mahasiswa Berlomba jadi Promotor: Belajar Usaha atau Iseng Belaka?

Next Post

Ajeg Rukun “Semeton Bali” dan “Nyama Selam” di Kampung Singaraja

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post

Ajeg Rukun “Semeton Bali” dan “Nyama Selam” di Kampung Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co