4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Sukaja Hingga Sukrawan – Barisan Kader PDI-P Korban Pilkada di Bali

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi diolah dari berbagai sumber di google

AKHIRNYA DPD PDI-P Bali mengumumkan secara resmi bahwa Dewa Nyoman Sukrawan dipecat dari PDI-P. Ini bukan berita mengejutkan sesungguhnya. Karena jika berpatokan pada tabiat partai itu pada pilkada-pilkada sebelumnya, hampir semua orang, mungkin termasuk Dewa Sukrawan sendiri, sudah menduga bahwa pemecatan itu pasti terjadi.

Sukrawan dipecat tentu saja karena keberanian dia mencalonkan diri sebagai Calon Bupati dalam Pilkada Buleleng 2017 dari jalur perseorangan. Padahal jago resmi PDI-P adalah pasangan Putu Agus Suradnyana dan Nyoman Sutjidra (PASS). Kukuhnya Sukrawan mencalonkan diri berpasangan dengan Dharma Wijaya dianggap sebagai pembangkangan terjadap partai, karena Sukrawan harusnya mengamankan kemenangan PASS, tapi malah mencalonkan diri.

“Dengan mencalonkan diri sebagai Calon Bupati Kabupaten Buleleng dari jalur perseorangan adalah pembangkangan terhadap ketentuan, keputusan dan garis kebijakan Partai, yang merupakan pelanggaran kode etik dan disiplin Partai, dikategorikan sebagai pelanggaran berat,” ujar Ketua DPD PDIP Bali, I Wayan Koster, dalam jumpa pers di Kantor DPD PDIP Bali, Senin 12 Desember 2016 sebagaimana dikutip balipost.com.

Dipecatkan Sukrawan memperpanjang barisan kader banteng yang menjadi korban Pilkada di Bali. Sejak sekitar tahun 2010, hampir pada setiap musim Pilkada, ada saja kader PDI-P yang dipecat. Rata-rata mereka dipecat karena dianggap tak mengikuti pasangan calon kepala daerah yang direkomendasikan partai.

Heboh Sukaja di Pilkada Tabanan 2010    

Kehebohan politik internal PDI-P terjadi pada Pilkada Tabanan, Mei 2010. Saat itu, Wayan Sukaja yang dikenal sebagai kader militan dipecat dari PDI-P. Kisah pemecatan ini bisa dibilang sangat dramatis, bahkan bersambung seperti sinetron, karena Sukaja melakukan gerakan perlawanan.

Sukaja dipecat karena dianggap membelot ke Golkar sebagai calon bupati di Pilkada Tabanan yang diusung Partai Golkar. Padahal, PDI-P punya calon resmi, yakni pasangan Ni Putu Eka Wiryastuti-Komang Gede Sanjaya. Pemecatan itu menyebabkan Sukaja menuai simpati dari sebagian kader PDI-P dan warga Tabanan, bahkan di luar Tabanan. Simpatisannya menilai Sukaja dizolimi oleh partainya sendiri.

Heboh politik internal PDI-P di Pilkada Tabanan 2010 itu dianggap oleh banyak kalangan sebagai blunder politik yang dilakukan PDI-P. Saat itu DPP PDI-P menganulir rekomendasi yang sudah dikeluarkan untuk pasangan Wayan Sukaja-Eka Wiryastuti dan menggantinya dengan rekomendasi jilid kedua atas nama Eka Wiryastuti-Sanjaya. Kenyataan itulah yang membuat Sukaja tak terima, lalu membelot dan mencalonkan diri sebagai calon bupati dari Partai Golkar.

Heboh politik Pilkada Tabanan 2010 tak berakhir meski Pilkada sudah final dengan kemenangan pasangan Eka Wiryastuti-Sanjaya. Sukaja yang kalah melakukan perlawanan secara politik maupun secara hukum. Selain menggugat hasil Pilkada, ia menolak di-PAW dari keanggotaan DPRD Tabanan dan sempat mem-PTUN-kan SK Mendagri terkait PAW itu. Tapi tragisnya, perlawanan Sukaja rontok satu per satu dan justru ia sendiri masuk penjara karena kasus korupsi.

Lebih tragis lagi, pembelotan dan perlawanan Sukaja merambat ke kader-kader lain. Sejumlah kader PDI-P yang dianggap mendukung Sukaja juga dipecat. Salah satunya adalah kader militan dari Tabanan barat, Made Sudana, yang dikenal sebagai soulmate dari Sukaja di PDI-P.

Korban di Pilkada Serentak 2015

Pilkada serentak tahap pertama 2015 kembali jadi ujian bagi PDI-P.  Saat itu, PDI-P juga mengeluarkan sejumlah surat pemecatan terhadap kader-kader terbaiknya.

Di Pilkada Karangasem, PDI-P memecat IGA Mas Sumatri karena menjadi calon bupati melalui NasDem, Hanura, dan PKPI. Padahal pada Pilkada di Bumi Lahar itu PDI-P merekomendasikan pasangan Wayan Sudirta-Made Sumiati.

Hal yang sama juga dilakukan terhadap Made Arjaya di Pilwali Denpasar dan Wayan Sarjana di Pilkada Tabanan. Arjaya dipecat karena menjadi calon yang diusung partai di luar PDI-P dalam Pilwali Denpasar.

Pada Pilwali Denpasar itu PDI-P mengusung IB Rai Dharmawijaya Mantra-I Gusti Ngurah Jayanegara. Sedangkan Made Arjaya yang berpasangan dengan AA Ayu Rai Sunasri diusung Demokrat dan PKS. Pasangan lain saat itu adalah Ketut Resmiasa-IB Batu Agung Antara yang diusung Gerindra dan Hanura.

Wayan Sarjana dipecat juga karena pada Pilkada Tabanan ikut menjadi calon bupati melawan calon incumbent dari PDI-P, Eka Wiryastuti-Sanjaya. Sarjana saat itu berpasangan dengan IB Astawa Merta yang diusung sejumlah partai lain di luar PDI-P.

Dari tiga kader yang dipecat itu, dua kader, Arjaya dan Sarjana, kalah dari pasangan calon PDI-P. Hanya Mas Sumantri yang berhasil mengalahkan calon bupati dari partai yang memecatnya.

Persaingan Internal

Sebagai partai besar yang sudah beberapa kali melewati sejarah kelam politik negeri dan mengalami berbagai cobaan dan rintangan di negeri ini, wajarlah PDI-P punya banyak kader matang – kader yang benar-benar matang atau setengah matang atau pura-pura matang. Makin matang diri dalam politik (termasuk matang secara ekonomi), makin besarlah ambisi politiknya. Maka persaingan di internal partai tak bisa dielakkan.

Apalagi, setelah Orde Baru tumbang dan reformasi dimulai diiringi berubahnya nama PDI menjadi PDI-P, banyak orang berbondong-bondong masuk ke partai lama dengan nama baru itu. PDI-P pun menang besar dalam Pemilu pertama di zaman reformasi.

Pada saat awal-awal kiprah PDI-P di zaman reformasi, terutama di Bali, suasana di tubuh partai tampak aman-aman saja. Euforia kemenangan membuat mereka saling menerima, saling memaklumi, saling berbagi, dan tak banyak protes. Nama-nama calon bupati yang muncul saat itu tak mendatangkan protes keras, apalagi sampai membelot.

Nama-nama seperti Adi Wiryatama di Tabanan, Nengah Arnawa di Bangli, Puspayoga di Denpasar, naik dengan dukungan yang bisa dibilang kompak. Hanya di Buleleng, naiknya nama Sudarmaja Duniaji mendapat pertentangan yang cukup keras hingga berbuntut pada pembelotan kader partai saat pemilihan di DPRD Buleleng.

Setelah partai berjalan sekitar sepuluh tahun, dan era baru pemilihan langsung sedang ngetrend, baru kemudian muncul persaingan ambisi kader di tubuh partai. Kader yang punya uang, bersaing dengan kader yang punya massa. Kader pintar bersaing dengan kader berpengalaman. Kader “keturunan” bersaing dengan kader “lepasan”.

Ditambah lagi penilaian dari sejumlah kader terhadap sikap DPP PDI-P yang kerap dianggap tak obyektif dalam mengeluarkan rekomendasi calon saat Pilkada, makin membuat konflik antarkader menjalar dari tingkat atas hingga tingkat bawah. Banyak kader yang dianggap memenuhi syarat dari berbagai indikator untuk menjadi kepala daerah, justru tak mendapatkan rekomendasi. Demikian pula sebaliknya, kader yang dianggap belum layak justru mendapat rekomendasi hanya karena pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Banyak pengamat menilai dengan sikap “gampang mecat” itu PDI-P dianggap sebagai partai otoriter dan tidak menjungjung demokrasi serta perpedaan pendapat. Namun di sisi lain, banyak yang memaklumi bahwa seperti itulah seharusnya partai politik jika tak ingin hancur. Seperti pepatah lama, duri dalam daging harus dibersihkan agar tak membuat daging jadi busuk.

Yang menarik, sebagian besar kader yang dipecat itu sejauh ini dikenal sebagai kader top di wilayahnya masing-masing. Bahkan banyak kader sudah jadi ikon partai. Sehingga menjadi pertanyaan kemudian, apakah PDI-P akan terus-terusan kehilangan kader top pada setiap Pilkada? Ah, dalam politik, kehilangan dan kedatangan, bukanlah hal penting. Pengurangan dan penambahan kadang bukan soal. Yang penting itu; menang. (T)

Tags: bulelengdenpasarkarangasemPartai PolitikPilkadaPolitiktabanan
Share134TweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Mahasiswa Berlomba jadi Promotor: Belajar Usaha atau Iseng Belaka?

Next Post

Ajeg Rukun “Semeton Bali” dan “Nyama Selam” di Kampung Singaraja

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post

Ajeg Rukun “Semeton Bali” dan “Nyama Selam” di Kampung Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co