23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

5 Fakta Unik Agus Suradnyana & Dewa Sukrawan #Pernik Pilkada Buleleng 2017

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Istimewa

KINI Buleleng punya dua nama beken: Putu Agus Suradnyana dan Dewa Nyoman Sukrawan. Jangan mengaku keren jika tak kenal dua nama itu. Atau, bolehlah tidak kenal. Tapi sungguh keterlaluan jika sama sekali tak pernah mendengar nama dua tokoh kita itu.

Mereka beken bukan saja karena keduanya sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) jadi calon bupati untuk bertarung dalam Pilkada Buleleng, 15 Februari 2017. Lebih karena sejak lima tahun lalu, dua nama itu sudah biasa jadi berita di koran, radio dan TV lokal, serta jadi topik obrolan di media tradisional semacam warung kopi, warung patokan dan poskamling.

Bukan Kebetulan

Tentu bukan sebuah kebetulan dua nama ini kini berada dalam dua sudut yang berseberangan di tengah ring Pilkada. Dewa Sukrawan menjadi calon bupati dari jalur perseorangan, sementara Agus Suradnyana merupakan calon yang diajukan PDI-P. Di Bumi Siobak dan Rujak Plecing ini, dua tokoh kita ini memang punya hubungan pertalian politik yang unik.

Keduanya sejak lama berada dalam satu partai politik bernama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) namun banyak yang bisik-bisik di tengah obrolan tak resmi bahwa keduanya memang jarang cocok. Meski kadang tampak kompak di depan wartawan pada saat-saat tertentu, namun sejumlah wartawan tahu ada “sesuatu yang tersembunyi” di antara dua mata dan hati mereka.

Yang lebih menarik, dua tokoh kita ini seakan-akan ditakdirkan untuk “berhubungan” sekaligus “berseberangan”.  Setidaknya ada 5 fakta unik yang membuktikan Putu Agus Suradnyana dan Dewa Nyoman Sukrawan punya hubungan politik yang layak disebut “semacam takdir” sebelum mereka benar-benar “berhadap-hadapan” dalam Pilkada.

  1. Bersaing Raih Rekomendasi pada Pilkada Buleleng 2012

Setelah Putu Bagiada menjabat sebagai Bupati Buleleng dua periode (2002-2007) dan (2007-2012), Pilkada Buleleng tahun 2012 terbuka tanpa calon bupati petahana (incumbent). Dari PDI-P muncul sejumlah nama yang secara terus terang maupun malu-malu mencitrakan diri melalui berbagai media agar bisa mennggondol rekomendasi dari DPP PDI-P untuk bisa dicalonkan sebagai kepala daerah.

Dari banyak nama yang muncul, tampaknya persaingan mengerucut pada dua nama; Dewa Nyoman Sukrawan dan Putu Agus Suradnyana. Dua tokoh kita itu sama-sama punya kans besar. Sukrawan saat itu sebagai Ketua DPC dan Ketua DPRD Buleleng serta punya “tabungan politik” yang cukup besar di PDI-P. Sukrawan membuktikan diri sebagai kader PDI-P yang punya pendukung militan dengan perolehan suara besar di Dapil-nya dalam setiap hajatan Pemilu Legislatif.

Suradnyana pun bukan tokoh sembarangan. Selain beberapa periode duduk di kursi DPRD Bali dari Dapil Buleleng, ia juga pengurus DPD PDI-P Bali yang cukup disegani. Ia juga membuktikan diri memiliki dukungan massa besar yang juga dibuktikan dengan perolehan suara yang selalu besar untuk mengantarkannya ke kursi DPRD Bali.

Aroma persaingan dua tokoh kita ini di internal PDI-P memang sudah terasa sejak menjelang Pilkada 2012 itu. Namun, pada akhirnya Sukrawan tunduk pada rekomendasi partai yang jatuh kepada Agus Suradnyana. Suradnyana yang berpasangan dengan Nyoman Sutjidra dengan merk PAS saat itu menang dalam Pilkada Buleleng 2012 dengan jumlah suara lebih dari 50 persen.

  1. Tersebutlah Mereka jadi “Calon Wakil Gubernur”

Meski tak ada persaingan di antara mereka dalam perebutan posisi di Pilgub Bali, namun dua tokoh kita ini punya sejarah politik yang penting dalam Pilkada Gubernur (Pilgub) Bali tahun 2013. Jauh sebelum Pilgub Bali ditabuh, nama Putu Agus Suradnyana (yang saat itu sudah menjadi Bupati Buleleng) muncul sebagai bakal calon Wakil Gubernur berpasangan dengan Anak Agung Ngurah Puspayoga yang saat itu hampir dipastikan menjadi calon gubernur.

Bahkan poster bergambar Puspayoga dan Suradnyana dengan merk PAS sempat tayang di media sosial. Munculnya nama Suradnyana sebagai calon wakil gubernur sempat mengundang pro-kontra di kalangan masyarakat Buleleng. Tanggapan “tak enak” bukan saja datang dari warga yang kontra Suradnyana, namun juga datang dari para pendukung Suradnyana.

Namun Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarno Putri konon tak ingin Agus Suradnyana meninggalkan Buleleng. Suradnyana diminta tetap menjadi Bupati di kabupaten kelahiran nenek Megawati itu. Sehingga nama Agus Suradnyana pun hilang dari pembicaraan Pilgub Bali.

Namun, PDI-P tampaknya sangat sulit mencari pengganti Agus Suradnyana untuk dipasangkan dengan Puspayoga. Bahkan hingga beberapa hari menjelang berakhirnya jadwal pendaftaran calon di KPU Bali, PDI-P belum menentukan nama calon yang ditandem dengan Puspayoga.

Dan, tidak diduga, 5 Februari 2013, sehari menjelang berakhirnya pendaftaran calon di KPU Bali, Dewa Nyoman Sukrawan ditetapkan sebagai calon wakil gubernur mendampingi Puspayoga. Nama Dewa Sukrawan muncul sekitar tengah malam, saat rapat DPD PDI-P Bali yang dipimpin langsung Megawati di Gianyar sudah dalam suasana yang amat melelahkan.

Dewa Sukrawan pun saat itu mengaku kaget dan tidak menduga direkomendasikan menjadi wakil gubernur. Ia sendiri pada malam itu sebenarnya sudah pulang dari rapat ketika dalam perjalanan ke Buleleng ditelepon dan diminta berbalik. Beberapa jam setelah itu ia bersama Puspayoga mendaftar ke KPU Bali.

Yang unik, branding PAS yang sebelumnya digadang-gadang untuk pasangan Puspayoga-Suradnyana, tetap dipertahankan. Karena PAS bisa juga jadi akronim Puspayoga-Sukrawan.

  1. Saling Membantu dalam Pilkada

Meski sempat bersaing dalam meraih rekomendasi, Dewa Sukrawan tetap berbesar hati menjadi Ketua Tim Pemenangan Suradnyana-Sutjidra dalam Pilkada Buleleng 2012. Karena saat itu ia memang menjabat sebagai Ketua DPC PDI-P Buleleng. Sebagai kader partai yang loyal, Sukrawan tentu saja berkampanye membantu memenangkan Suradnyana-Sutjidra.

Demikian pula Putu Agus Suradnyana. Meski saat Pilgub Bali 2013 ia bukan sebagai Ketua Tim Pemenangan, namun Agus Suradnyana saat itu ikut membantu lancarnya kampanye untuk kemenangan pasangan Puspayoga-Sukrawan. Tentu saja sebagai Bupati Buleleng, gerakan Agus Suradnyana terbatas, namun selaku tokoh penting di Buleleng ia punya cara sendiri agar tak melanggar aturan untuk bisa membantu memenangkan pasangan Puspayoga-Sukrawan.

Sayangnya, pasangan Puspayoga-Sukrawan saat itu kalah tipis dengan pasangan Mangku Pastika-Sudikerta yang diusung Partai Golkar dkk.

  1. Bertukar Jabatan Ketua DPC dan Bendahara

Putu Agus Suradnyana dan Dewa Sukrawan ternyata punya takdir unik dalam hubungan karir jabatan di PDI-P. Dewa Sukrawan tercatat sebagai Ketua DPC PDI-P Buleleng pada periode 2005-2010 dan periode 2010-2015. Dan pada waktu yang hampir bersamaan Putu Agus Suradnyana menjabat sebagai Bendahara DPD PDI-P Bali.

Setelah jabatan Sukrawan berakhir, ia menggantikan posisi Agus Suradnyana di DPD sebagai bendahara. Sementara Agus Suradnyana terpilih sebagai Ketua DPC PDI-P Buleleng menggantikan Dewa Sukrawan.

Kini setelah Dewa Sukrawan mencalonkan diri sebagai Bupati Buleleng melalui jalur perseorangan, sejumlah berita menyebut ia dipecat dari PDI-P sekaligus dari posisi bendahara. Namun dalam sejumlah berita di media, Dewa Sukrawan mengaku masih sebagai bendahara dan belum dipecat dari PDI-P. Menurut Sukrawan sebagaimana dikutip media, ia mengaku belum menerima surat pemecatan.

  1. Sama-sama Orang Nomor Satu

Bicara soal kader di PDI-P Buleleng lima tahun belakangan, Sukrawan dan Suradnyana bolehlah disebut sebagai sama-sama orang nomor satu. Ini bisa dilihat dari jabatan mereka. Sukrawan pernah menjadi orang nomor satu di legislatif sebagai Ketua DPRD dan Suradnyana kita tahu menjadi Bupati Buleleng.

Meski masing-masing jadi orang nomor satu di legislatif dan ekskutif, dari pengamatan media keduanya jarang tampak bersama-sama saat mereka sama-sama menjabat, baik bersama dalam acara-acara formal pemerintahan maupun dalam acara-acara nonformal.

Jarangnya mereka bersama-sama mungkin sudah jadi tanda awal bahwa kelak mereka akan “benar-benar berseberangan” dalam satu hajatan politik. Dan benar saja, dalam Pilkada Buleleng 2017 ini, keduanya sama-sama jadi calon bupati. Dan hanya ada satu calon yang akan menang. Siapa?  (T)

Tags: bulelengPartai PolitikPilkadaPolitik
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?

Next Post

Organisasi Mahasiswa Berlomba jadi Promotor: Belajar Usaha atau Iseng Belaka?

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post

Organisasi Mahasiswa Berlomba jadi Promotor: Belajar Usaha atau Iseng Belaka?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co