2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Galungan: Perayaan “Eling” Melawan “Lupeng”

Sugi Lanus by Sugi Lanus
November 9, 2021
in Esai
Hari Galungan: Perayaan “Eling” Melawan “Lupeng”

Ilustrasi foto: Eka Yasa

GEGURITAN Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), menuturkan bahwa tradisi Galungan ditegakkan oleh Dalem Sri Aji Jayasunu. Tidak disebutkan Raja Jaya Sunu ini berperang dengan Mayadanawa.

Naskah ini mengatakan bahwa Mayadanawa adalah raja yang memerintah sebelum Sri Aji Jayasunu. Dalam pemerintahan Mayadanawa situasi keagamaan tidak mendapat perhatian. Wabah menyebar, rakyat dan raja berumur pendek. Banyak tempat suci rebah dan rusak.

Tentang munculnya tokoh Sri Aji Jayasunu disebut seperti ini:

Saget wenten satrya mijil/Mapalemah ring Pujungan/Maparab Jaya Kesunu/Yukti Ida tuna harta/Kakedehin/Manda ledang ngamong jagat (Seorang wangsa Kesatria, berkedudukan di Pujungan,  bernama Sri Aji Jayasunu, sekalipun miskin harta-benda tapi diharapkan bersedia memimpin kerajaan).

Setelah didaulat menjadi raja, karena merasa takut (jejeh kayune kalintang) memikul tanggungjawab, namun ia ingin menjalankan tanggungjawab tersebut dengan sungguh-sungguh, maka sebelum mulai memerintah ia bertapa (masamadhi/madewa sraya). Dalam tapanya turun Dewi Durgha yang meminta Jayasunu mengembalikan ajaran Gama Tirtha, disini dijelaskan pula bahwa pendahulu Raja Jayasunu tidak perhatian pada kehidupan keagamaan:

Kertha wara Hyang Bhetara/Awanan kene cening/Pangulune tanpa yasa/Kabeh kahyangane rubuh/Duka Sanghyang Tri Wisesa/Krana gering/Ngarusak sadesa-desa. (Atas kehendak Hyang Batera/sebab begini situasinya anakku/(pemimpin) Yang sebelumnya tiada memperhatikan kesejahteraan/banyak tempat ibadah roboh/Duka Sanghyang Tri Wisesa/itu sebab penyakit/merusak-mewabah ke seluruh desa-desa.

Jaya Sunu matur sembah/Mangde kayowanan urip/Sajadma ring Bali rahayu/Sidha mamangguh rahayu/Arsa ledang Dewi Durgha/Manuduhin/Ngawaliyang gama tirtha. (Jaya Sunu menghaturkan sembah/Agar kehidupan manusia/Seluruh umat di Bali selamat/Terpenuhi mendapat keselamatan/Dengan senang hati Dewi Durgha/Memberi petunjuk/Mengembalikan Agama Tirtha).

Dalam karya geguritan yang merupakan interpretasi atas sejarah perayaan tradisi Galungan ini disebutkan bahwa kemelaratan Bali terjadi selama kurun waktu 200 tahun, sebelum masa pemerintahan  Dalem Jaya Sunu. Usia raja-raja pendek (Asing madeg cendek yusa), pulau Bali ditimpa huru-hara (Gumi Bali haro hara).

Bali dalam kedukaan yang mencekam, dimana-mana wabah membawa kematian (Gering tumpur ngawe pejah). Naskah ini tidak menyebut pertentangan agama atau paham yang menjadi sumber kemelaratan, juga tidak menyebut peperangan antar Jaya Sunu dan Mayadanawa. Naskah ini bahkan tidak menyebut kata atau istilah Hindu, tapi gama Tirtha.

Setelah Raja Jaya Sunu mengadakan kembali upacara Gama Tirtha seperti petunjuk Dewi Durgha (Bhetara Gori) maka aman dan tentramlah Bali (Wireh manut tata gama/Kadi ling Bhetara Gori/Tingkah jadma nering Bali/Nenten wenten ngawe ribut/Paras-paros sarpa naya/Saling asah saling asih/Sami tinut/Satitah sang ngawa jagat), ini beda dengan banyaknya wabah penyakit seperti dulu saat Maya Danawa memimpin Kerajaan Bali (Gering tumpur kadi nguni/Ripadeg Maya Danawa/Ngawisesa Jagat Bali).

Hanya sekali saja nama Mayadanawa disebut, selanjutnya jika ditelusuri lebih dalam, dalam karya ini peringatan Galungan muncul bukan sebagai upacara memperingati sebuah kemenangan peperangan. Penegasan dalam naskah ini bahwa Bali rusak, kena wabah, huru-hara, semua dikarenakan oleh “lupa pada Agama Tirtha yang diwariskan oleh beliau yang sudah wafat Empu Kuturan” (Wireh lali gama Tirtha/Kapikolih/Ri lina Empu Kuturan).

Disini juga dibahas akar kata Galungan: Teges kruna magalungan/Ga ika ngaran tunggal/Lungan ngaran maprawerthi (Arti kata Magalungan/Ga itu berarti Tunggal/Lungan berarti maprawerthi). Maprawerthi berarti akar kata wrtti berarti: Cara hidup, kelakuan, khususnya kelakuan bermoral.

Wrtti juga berarti: Bagan atau garis besar. Juga berarti: Sumbu atau lampu. (Lihat Old Javanese-English Dictionary II, P.J. Zoetmulder). Bisa ditarik pengertian dari sini bahwa Galungan, dengan demikian, bisa diartikan: Menjadi tunggal dengan kelakuan bermoral, sesuai garis besar (Gama Tirtha), tunggal dengan Sang Sumbu Cahaya.

Kembalinya Dalem Sri Aji Jayasunu melaksanakan Gama Tirtha, yang sempat dilupakan 200 tahun oleh para raja sebelum (leluhur beliau juga), ini yang menjadi perayaan Galungan. Naskah yang terhitung cukup baru ini sangat menggugah, dari sini ada penegasan bawa bahwa Galungan bukan peringatan terhadap kemenangan perang Raja Jayasunu (atau Batara Indera) melawan Mayadanawa, tapi Galungan adalah sebuah perayaan eling (ingat) melawan lupeng (lupa). (T)

Tags: balihari raya galunganupacara
Share278TweetSendShareSend
Previous Post

Memaknai Galungan, Benarkah Kita Sudah Menang?

Next Post

Pose Penguasa Bali Tempo Doeloe: “Injak Anak Buah” – Kini Langsung “Sepak Rakyat”?

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Pose Penguasa Bali Tempo Doeloe: “Injak Anak Buah” – Kini Langsung “Sepak Rakyat”?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co