Wayan Redika, Magic Finger, 2008, Oil on Canvas, 90x150 cm

 

Diriku Adalah Sekarung Kata-Kata

Kau suka warna biru
karena warna biru adalah alas
bagi puisi-puisi yang kau tulis
setiap pagi.

Katamu sudah lama kau tidak membuka
pintu bagi puisi-puisi.

Beberapa hari yang lalu
Kau lebih suka pada uang daripada kenangan
akhirnya kau sadar dan melihat dirimu
dicermin yang retak.

“Diriku adalah sekarung kata-kata?”, Katamu.

Wajahmu menjadi pucat seperti salju yang turun
di negeri jauh. Dan hatimu memanas seperti cuaca
hari ini.

Lamongan, 2016

 

Selembar Daun Terakhir

Daun-daun di tubuhku mengering, dan jatuh
satu persatu meski masih musim semi.
Senja dan pagi tak pernah menengokku
dari jendala. Atau menemaniku minum kopi
dan menulis puisi: tentangmu.

Kulit di tubuhku mengelupas seperti sebatang pohon
di musim panas. Berdiri sendiri di tepi jalan yang rusak.
Orang-orang menertawaiku, barangkali aku ini badut
yang disewa anak-anak di pesta ulang tahun. Kulitku
masih mengelupas, perih namun tidak berdarah.

Kadang aku bersyukur Tuhan tidak memberiku
setetespun air mata. Sehingga aku tidak pernah bisa
menangisi setiap kabar duka yang datang
bersama pagi di halaman depan surat kabar. Atau
melihat kabarmu barusan di sebuah foto bersama
orang asing. Aku yakin itu pilihanmu.

Aku masih sebatang pohon di tepi jalan, yang merana
ditingkahi musim dan dipaksa melepaskan. Selembar
daun terakhir baru saja gugur, seiring fotomu
bersanding dengan pria asing.

Lalu aku mengerti kenapa luka dan ngilu di dada diciptakan.

Lamongan, 2016

 

Sebuah Foto di Meja Tengah

Tanaman yang merambat di pagar
mengering. Bunga-bunganya layu.
Warnanya pucat mirip penderita anemia.

Gemericik air di malam hari, yang terdengar
dari sungai tak bernama. Tiba-tiba sunyi.
Kemana perginya?

Burung-burung di sangkar kepalanya merunduk
seakan mengheninkan cipta. Apakah ada obituari?
Hari ini minggu, tidak cocok bagi kabar kematian
duduk tertawa dan berlama lama. Bukankah begitu?

Aku melangkah ke meja tengah, dan kulihat
sebuah foto terpampang. Tubuhku menjadi lemas.

Lamongan, 2016

 

Musim Gugur

Pagar tua yang kusam dan sulur-sulur melati,
mereka bergandengan tangan. Ratusan bahkan
ribuan rambut jatuh di lantai tukang cukur
bagai daun yang gugur.

Kemudian aku termenung sambil melihat
dua pohon palem di tepi jalan. Keduanya diam
barangkali hening adalah bahasa ibu mereka. Tidak
sengaja dua helai daun gugur
tebujur di kaki pohon itu.

Lalu aku teringat cinta yang gugur.
daun yang gugur. Lalu,
rambut yang gugur.

Kemudian aku akan bertanya pada musim gugur.

“Kenapa Tuhan menciptakanmu?”

Jalanan, langit, tukang cukur, dua pohon palem,
dan dua orang laki-laki yang sedang merokok
didepanku. Sama sekali acuh, karena aku hanya
bertanya di dalam hati.

“Suka-suka Ku anak muda!”, Barangkali begitu
Tuhan menjawab pertanyaanku tadi.

Lamongan, 2016

 

Bellinzona

Rumput-rumput telah menguning, dan
hujan seperti kalimat selamat tinggal
tak pernah lagi terdengar kabar
kedatangannya.

Menghilang dan hanya menyisakan
lengking-lengking kenangan.

Lalu aku menatap tembok-tembok tua
yang terjal berdiri di sepanjang jalan
menuju kota tua di Bellinzona. Aku sempat
ingin mencarimu kesana.

Namun hujan yang datang di kotaku
mengatakan kau tidak ada disana
hanya ada rintih-rintih ngilu di tempat itu.

Semuanya tidak lagi hijau disana
begitu juga denganmu.
kau telah memelihara lupa
di sudut-sudut kepalamu.

Dan aku adalah perihal asing
di tubuhmu.

Lamongan, 2016

 

Tuntutan

:untuk Nafsiahku

Perempuan-perempuan menuntut laki-laki
untuk bercerita.

“Kenapa engkau menaruh hati padaku?”

Laki-laki itu tercekat, namun isi kepalanya
berlarian bagai anak kecil yang melihat
tukang bakso di sore hari. Kenapa aku mencintaimu?

Barangkali karena kau adalah perempuan dan
Aku, laki-laki yang hanya berkawan lampu kamar
dan buku-buku cerita di malam hari. Karena itu
aku mencintaimu.

Lamongan, 2016

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY