22 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dokter dan Sepotong Filsafat

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
February 22, 2019
in Esai
Dokter dan Sepotong Filsafat

Foto diambil dari buku "Merayakan Ingatan" (Mahima, 2019).

“In order to cure the human body, it is necessary to have a knowledge of the whole of things”

Hippocrates  (460-377SM),  dalam  untaian  kata-katanya  yang  begitu  bersahaja,  telah membangunkan kesadaran kita dari lelap tidur dini hari yang dingin akan spirit komunal yang memeluk hangat. Ia tak hanya mengajak dokter untuk kembali memahami tubuh manusia yang utuh akan fisik (body), pikiran (mind) dan jiwa (soul), juga menegaskan keniscayaan akan prinsip-prinsip dasar penghormatan terhadap semesta alam dan hidup itu sendiri.

Seakan-akan Hippocrates yang visioner telah meramalkan ilmu kedokteran yang kian mutakhir di masa depan bukan hanya kemudian potensial menceraikan dokter dengan sejawatnya sendiri, juga memisahkan mereka dengan pasien dari hubungan yang seharusnya begitu dekat macam anak kunci dengan gemboknya. Serupa dengan musisi-musisi  adiluhung  masyur  yang  lahir  berkat  gubahan-gubahan  fenomenalnya  maka takkan pernah ada dokter yang hebat bila tak ada pasien yang  rumit, oleh karenanya filosofi “pasien adalah guru bagi dokter” menjadi begitu faktual.

Kita, dokter, atau siapa saja, dapat menjadi besar dan dimuliakan berkat cara-cara yang sangat sederhan, yaitu kerendahan hati dan welas asih. Kembali pada makna rangkaian kata-kata  sederhana  sang  mahaguru  Hippocrates,  maka  bekerja  menjadi  dokter, melayani  semesta  insani kita  patut  merunduk  serendah-rendahnya  pada  hasil  dan imbalan  dan  sebaliknya  menggapai  setinggi-tingginya  pada  intelegensia,  nurani serta kebijaksanaan. 

Hippocrates  mungkin  dongeng  bagi  kita,  namun  ia  abadi  karena kesetiaannya  pada  pelayanan.  Untaian-untaian  emas  filsafat  bajik  seperti  ini  boleh bertebaran di belahan  bumi mana saja dan hidup di zaman  apa saja, namun ia abadi untuk dianut.

Coba kita lihat kemudian, seorang wanita perkasa yang boleh kita sebut sebagai “dokter  untuk  kaum  papa”,  Bunda  Theresa,  telah  mendedikasikan  seluruh hidupnya  untuk  kemanusiaan.  Ia  melayani  orang-orang  miskin  sakit  dan  kotor  di sepanjang  jalanan  Kota  Kalkuta,  India  yang  kumuh,  mengangkut  ke  rumah penampungan, memandikan, menyuapi makan, memberikan obat, menyembuhkan atau menjadikan kematian mereka lebih terhormat.

Maka tak berlebih lalu Bunda Theresa  dimuliakan dengan hadiah Nobel Perdamaian tahun 1979 lalu diabadikan sebagai orang  suci (santa) oleh Paus Fransiskus.

Jika Bunda Theresa pernah mengucapkan  kata-kata yang  sangat tersohor bahwa ujung dari cinta kasih adalah pelayanan, maka  betapa bersyukurnya  kita sebagai dokter yang berada pada ujung cinta kasih itu. Tak  perlu  menjemput  ke  jalanan  kumuh  memberi  pelayanan  untuk  kaum  papa,  namun  profesi  mulia  ini  telah  begitu  mendekatkan  kita  dengan  nilai-nilai  humanisme. 

Lalu terperciklah api-api pertanyaan yang agak mengagetkan karena panasnya, “Kapan kita  terakhir kali memeluk seorang pasien dengan hati yang dalam?”, atau “Pernahkah kita  menggratiskan biaya berobat seorang pasien tak mampu?’, atau “Bersediakah kita hadir  kembali  saat  seorang  pasien  yang  kita  rawat  dalam  keadaan  sangat  kritis?”.

Masih  banyak pertanyaan yang begitu mengusik nurani bila mata hati kita sebagai dokter telah  terbuka.  Pertanyaan-pertanyaan  ini  seharusnya  kita  jawab  dengan  heroik  demi  meneruskan api spirit kemanusiaan dan kebangsaan seorang dr. Sutomo, dr. Wahidin Sudirohusodo  dan  dr.  Cipto  Mangun  Kusumo.  Kenapa?  Karena  mereka  menampik  kebersamaan  dengan  Kompeni yang  perlente,  namun  patriotik  merangkul  melayani  bangsanya  yang  kumal. 

Dari  sinilah  sebetulnya  nilai-nilai  profesionalisme  seorang  dokter   telah   diikrarkan.   Seharusnya   kita   sujud,   menyelami   kembali   spirit  profesionalisme  yang  telah  ditanamkan  oleh  pendahulu  dokter  pejuang  itu,  demi  menggerus  lebur  berbagai isu  kelam  yang  menodai  kemuliaan  profesi ini seperti  isu  gratifikasi,  sindikasi  atau  fraud. 

Sepertinya  kita  takkan  menang  melawan  isu-isu  ini  hanya dengan bicara dan kata-kata. Maka marilah bekerja, bekerja dan bekerja. Kode  etik  profesi  dan  Standar  Operasional  Prosedur  (SOP)  telah  memandu  kita  bekerja,  namun dengan sedikit filsafat maka kita akan dapat menyusuri sungai jernih dan sejuk  kerendah  hatian,  dan ia  akan  melindungi  kita. 

Lebih  dari  cukup dokter  telah  belajar  mendalami sel, fungsi organ, mekanisme penyakit, modalitas terapi up to date, metode  pembedahan  canggih  sampai  pada   peluang  sel  punca  di  masa  depan.   Kenapa  tak  sedikit saja kita mencoba filsafat? 

Filsafat telah  ditulis  sejak awal ilmu  pengetahuan  untuk  kemudian  dapat  menunutun  manusia  kelak  menggunakan  sains  dan  teknologi  tidak hanya dengan benar, juga dengan bijak. Kita pasti akan meyakini, filsafatlah yang telah  membawa  Dr.  dr.  Lie  Dharmawan  SpB  SpBTKV  pada  hakikat  nilai  seorang pelayan.  Lalu  mengabdikan  separuh  hidupnya  pada  RS  Kapal  yang  berkeliling Nusantara untuk melayani sesama dalam spirit pluralisme.

Masih banyak panutan yang  kita, dokter-dokter Indonesia ini dapat ikuti untuk mempertahankan kemuliaan profesi  ini. Dalam perspektif tradisi lokal Hindu Bali, ada satu keyakinan yang disebut dengan Hukum Karmapala,  ini selaras dengan konsep fisika modern  yang  kita kenal dengan  prinsip-prinsip  kekekalan  energi. 

Dalam  ilmu  fisika,  hukum  kekekalan  energi  menyatakan bahwa jumlah energi dari sebuah sistem tertutup itu tidak berubah, ia akan  tetap  sama.  Energi  tersebut  tidak  dapat  diciptakan  maupun  dimusnahkan,  namun  ia  dapat  berubah  dari  satu  bentuk  energi  ke  bentuk  energi  yang  lain. (Hukum  I  Termodinamika) Maka, yakinilah setiap senyum atau pelukan tulus dokter akan dapat  menjadi  energi  penyembuhan  untuk  pasien-pasien  yang  dirawat. 

Dalam  perspektif  falsafah jenius lokal Karmapala, kita bahkan dikagetkan dengan fakta dinamika energi  yang sulit diterima namun niscaya kebenarannya. Hukum ini menyebutkan setiap orang,  kualitas  hidupnya,  nasib  atau  takdirnya,  ditentukannya  sendiri,  tak  sedikitpun  dipengaruhi  orang  lain!  Lalu,  apakah  senyuman,  pelukan  dan  pelayanan  terbaik  kita  untuk  pasien  takkan  mempengaruhi  nasib  kesehatan  mereka?  Betul,  tidak!  Wow!

Bagaimana  bisa?  Ya  bisa,  begitulah  hukum  obyektif  maha  adil  itu  bekerja.  Persis  seperti, karena Arjuna atau Srikandi kah Begawan Bisma gugur ? Dalam kisah drama  marcapada ya, namun dalam kontemplasi filsafat ini, sesepuh Keluarga Barata ini gugur  mutlak  karena  hutangnya  yang  telah  menyia-nyiakan  Dewi  Amba  dalam  sebuah  sayembara.

Itulah kenapa Mahatma Gandhi saat ditembak terbunuh oleh seorang militan  Hindu seketika memaafkan pembunuhnya, karena ia meyakini itu adalah kematian atas  takdirnya  sendiri.  Tapi jangan  buru-buru  menarik  senyuman,  pelukan  dan  pelayanan  terbaik kita, justru diperkuat lagi karena semakin jelas semua yang kita lakukan adalah  untuk kemuliaan kita sendiri dan kesembuhan pasien mungkin adalah dampaknya.

Jadi  kita akan senantiasa berikhtiar berusaha yang terbaik untuk pasien sebagai bagian dari  profesionalitas kerja lalu selalu menanamkan kesadaran pasien dan keluarganya bahwa  kita tetap memohon yang di atas. Seperti cerita orang tua kita, petani yang hebat adalah  mereka  yang  menanam  bibit  dengan  baik  lalu  merawatnya  dengan  baik  tanpa  mengikatkan  diri dari hasilnya,  maka mereka bebas dan bahagia. 

Begitulah  kira-kira kebahagiaan  Dr.  dr.  Lie  Dharmawan  SpB  SpBTKV  yang  tunduk  setia  pada  tugas sebagai pelayan dan bebas dari ikatan pamrih. Ia secara alamiah tetap mendekatkan diri dengan masyarakat yang memang di mana seorang dokter harus berada. Berada dekat di sana  hanya  dengan  menjalankan  tugas-tugas  alamiahnya  sebagai  pelayan  rakyat.

Mengakhiri  tulisan  ini,  masih  sangat  relevan  gagasan  seorang  Mahatma  Gandhi, jangankan mengubah dunia, mengubah satu orang pun belum tentu kita mampu, kalau begitu ubahlah diri sendiri menuju kebaikan, jika setiap orang mau melakukannya maka dunia dengan sendirinya akan menjadi lebih baik. [T]

Tags: dokterfilsafatkemanusiaankesehatan
Share118TweetSendShareSend
Previous Post

Megibung Rebung di Desa Pedawa

Next Post

Manusia di Antara Binatang dan Tanaman

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Manusia di Antara Binatang dan Tanaman

Manusia di Antara Binatang dan Tanaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co