3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dokter dan Sepotong Filsafat

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
February 22, 2019
in Esai
Dokter dan Sepotong Filsafat

Foto diambil dari buku "Merayakan Ingatan" (Mahima, 2019).

“In order to cure the human body, it is necessary to have a knowledge of the whole of things”

Hippocrates  (460-377SM),  dalam  untaian  kata-katanya  yang  begitu  bersahaja,  telah membangunkan kesadaran kita dari lelap tidur dini hari yang dingin akan spirit komunal yang memeluk hangat. Ia tak hanya mengajak dokter untuk kembali memahami tubuh manusia yang utuh akan fisik (body), pikiran (mind) dan jiwa (soul), juga menegaskan keniscayaan akan prinsip-prinsip dasar penghormatan terhadap semesta alam dan hidup itu sendiri.

Seakan-akan Hippocrates yang visioner telah meramalkan ilmu kedokteran yang kian mutakhir di masa depan bukan hanya kemudian potensial menceraikan dokter dengan sejawatnya sendiri, juga memisahkan mereka dengan pasien dari hubungan yang seharusnya begitu dekat macam anak kunci dengan gemboknya. Serupa dengan musisi-musisi  adiluhung  masyur  yang  lahir  berkat  gubahan-gubahan  fenomenalnya  maka takkan pernah ada dokter yang hebat bila tak ada pasien yang  rumit, oleh karenanya filosofi “pasien adalah guru bagi dokter” menjadi begitu faktual.

Kita, dokter, atau siapa saja, dapat menjadi besar dan dimuliakan berkat cara-cara yang sangat sederhan, yaitu kerendahan hati dan welas asih. Kembali pada makna rangkaian kata-kata  sederhana  sang  mahaguru  Hippocrates,  maka  bekerja  menjadi  dokter, melayani  semesta  insani kita  patut  merunduk  serendah-rendahnya  pada  hasil  dan imbalan  dan  sebaliknya  menggapai  setinggi-tingginya  pada  intelegensia,  nurani serta kebijaksanaan. 

Hippocrates  mungkin  dongeng  bagi  kita,  namun  ia  abadi  karena kesetiaannya  pada  pelayanan.  Untaian-untaian  emas  filsafat  bajik  seperti  ini  boleh bertebaran di belahan  bumi mana saja dan hidup di zaman  apa saja, namun ia abadi untuk dianut.

Coba kita lihat kemudian, seorang wanita perkasa yang boleh kita sebut sebagai “dokter  untuk  kaum  papa”,  Bunda  Theresa,  telah  mendedikasikan  seluruh hidupnya  untuk  kemanusiaan.  Ia  melayani  orang-orang  miskin  sakit  dan  kotor  di sepanjang  jalanan  Kota  Kalkuta,  India  yang  kumuh,  mengangkut  ke  rumah penampungan, memandikan, menyuapi makan, memberikan obat, menyembuhkan atau menjadikan kematian mereka lebih terhormat.

Maka tak berlebih lalu Bunda Theresa  dimuliakan dengan hadiah Nobel Perdamaian tahun 1979 lalu diabadikan sebagai orang  suci (santa) oleh Paus Fransiskus.

Jika Bunda Theresa pernah mengucapkan  kata-kata yang  sangat tersohor bahwa ujung dari cinta kasih adalah pelayanan, maka  betapa bersyukurnya  kita sebagai dokter yang berada pada ujung cinta kasih itu. Tak  perlu  menjemput  ke  jalanan  kumuh  memberi  pelayanan  untuk  kaum  papa,  namun  profesi  mulia  ini  telah  begitu  mendekatkan  kita  dengan  nilai-nilai  humanisme. 

Lalu terperciklah api-api pertanyaan yang agak mengagetkan karena panasnya, “Kapan kita  terakhir kali memeluk seorang pasien dengan hati yang dalam?”, atau “Pernahkah kita  menggratiskan biaya berobat seorang pasien tak mampu?’, atau “Bersediakah kita hadir  kembali  saat  seorang  pasien  yang  kita  rawat  dalam  keadaan  sangat  kritis?”.

Masih  banyak pertanyaan yang begitu mengusik nurani bila mata hati kita sebagai dokter telah  terbuka.  Pertanyaan-pertanyaan  ini  seharusnya  kita  jawab  dengan  heroik  demi  meneruskan api spirit kemanusiaan dan kebangsaan seorang dr. Sutomo, dr. Wahidin Sudirohusodo  dan  dr.  Cipto  Mangun  Kusumo.  Kenapa?  Karena  mereka  menampik  kebersamaan  dengan  Kompeni yang  perlente,  namun  patriotik  merangkul  melayani  bangsanya  yang  kumal. 

Dari  sinilah  sebetulnya  nilai-nilai  profesionalisme  seorang  dokter   telah   diikrarkan.   Seharusnya   kita   sujud,   menyelami   kembali   spirit  profesionalisme  yang  telah  ditanamkan  oleh  pendahulu  dokter  pejuang  itu,  demi  menggerus  lebur  berbagai isu  kelam  yang  menodai  kemuliaan  profesi ini seperti  isu  gratifikasi,  sindikasi  atau  fraud. 

Sepertinya  kita  takkan  menang  melawan  isu-isu  ini  hanya dengan bicara dan kata-kata. Maka marilah bekerja, bekerja dan bekerja. Kode  etik  profesi  dan  Standar  Operasional  Prosedur  (SOP)  telah  memandu  kita  bekerja,  namun dengan sedikit filsafat maka kita akan dapat menyusuri sungai jernih dan sejuk  kerendah  hatian,  dan ia  akan  melindungi  kita. 

Lebih  dari  cukup dokter  telah  belajar  mendalami sel, fungsi organ, mekanisme penyakit, modalitas terapi up to date, metode  pembedahan  canggih  sampai  pada   peluang  sel  punca  di  masa  depan.   Kenapa  tak  sedikit saja kita mencoba filsafat? 

Filsafat telah  ditulis  sejak awal ilmu  pengetahuan  untuk  kemudian  dapat  menunutun  manusia  kelak  menggunakan  sains  dan  teknologi  tidak hanya dengan benar, juga dengan bijak. Kita pasti akan meyakini, filsafatlah yang telah  membawa  Dr.  dr.  Lie  Dharmawan  SpB  SpBTKV  pada  hakikat  nilai  seorang pelayan.  Lalu  mengabdikan  separuh  hidupnya  pada  RS  Kapal  yang  berkeliling Nusantara untuk melayani sesama dalam spirit pluralisme.

Masih banyak panutan yang  kita, dokter-dokter Indonesia ini dapat ikuti untuk mempertahankan kemuliaan profesi  ini. Dalam perspektif tradisi lokal Hindu Bali, ada satu keyakinan yang disebut dengan Hukum Karmapala,  ini selaras dengan konsep fisika modern  yang  kita kenal dengan  prinsip-prinsip  kekekalan  energi. 

Dalam  ilmu  fisika,  hukum  kekekalan  energi  menyatakan bahwa jumlah energi dari sebuah sistem tertutup itu tidak berubah, ia akan  tetap  sama.  Energi  tersebut  tidak  dapat  diciptakan  maupun  dimusnahkan,  namun  ia  dapat  berubah  dari  satu  bentuk  energi  ke  bentuk  energi  yang  lain. (Hukum  I  Termodinamika) Maka, yakinilah setiap senyum atau pelukan tulus dokter akan dapat  menjadi  energi  penyembuhan  untuk  pasien-pasien  yang  dirawat. 

Dalam  perspektif  falsafah jenius lokal Karmapala, kita bahkan dikagetkan dengan fakta dinamika energi  yang sulit diterima namun niscaya kebenarannya. Hukum ini menyebutkan setiap orang,  kualitas  hidupnya,  nasib  atau  takdirnya,  ditentukannya  sendiri,  tak  sedikitpun  dipengaruhi  orang  lain!  Lalu,  apakah  senyuman,  pelukan  dan  pelayanan  terbaik  kita  untuk  pasien  takkan  mempengaruhi  nasib  kesehatan  mereka?  Betul,  tidak!  Wow!

Bagaimana  bisa?  Ya  bisa,  begitulah  hukum  obyektif  maha  adil  itu  bekerja.  Persis  seperti, karena Arjuna atau Srikandi kah Begawan Bisma gugur ? Dalam kisah drama  marcapada ya, namun dalam kontemplasi filsafat ini, sesepuh Keluarga Barata ini gugur  mutlak  karena  hutangnya  yang  telah  menyia-nyiakan  Dewi  Amba  dalam  sebuah  sayembara.

Itulah kenapa Mahatma Gandhi saat ditembak terbunuh oleh seorang militan  Hindu seketika memaafkan pembunuhnya, karena ia meyakini itu adalah kematian atas  takdirnya  sendiri.  Tapi jangan  buru-buru  menarik  senyuman,  pelukan  dan  pelayanan  terbaik kita, justru diperkuat lagi karena semakin jelas semua yang kita lakukan adalah  untuk kemuliaan kita sendiri dan kesembuhan pasien mungkin adalah dampaknya.

Jadi  kita akan senantiasa berikhtiar berusaha yang terbaik untuk pasien sebagai bagian dari  profesionalitas kerja lalu selalu menanamkan kesadaran pasien dan keluarganya bahwa  kita tetap memohon yang di atas. Seperti cerita orang tua kita, petani yang hebat adalah  mereka  yang  menanam  bibit  dengan  baik  lalu  merawatnya  dengan  baik  tanpa  mengikatkan  diri dari hasilnya,  maka mereka bebas dan bahagia. 

Begitulah  kira-kira kebahagiaan  Dr.  dr.  Lie  Dharmawan  SpB  SpBTKV  yang  tunduk  setia  pada  tugas sebagai pelayan dan bebas dari ikatan pamrih. Ia secara alamiah tetap mendekatkan diri dengan masyarakat yang memang di mana seorang dokter harus berada. Berada dekat di sana  hanya  dengan  menjalankan  tugas-tugas  alamiahnya  sebagai  pelayan  rakyat.

Mengakhiri  tulisan  ini,  masih  sangat  relevan  gagasan  seorang  Mahatma  Gandhi, jangankan mengubah dunia, mengubah satu orang pun belum tentu kita mampu, kalau begitu ubahlah diri sendiri menuju kebaikan, jika setiap orang mau melakukannya maka dunia dengan sendirinya akan menjadi lebih baik. [T]

Tags: dokterfilsafatkemanusiaankesehatan
Share118TweetSendShareSend
Previous Post

Megibung Rebung di Desa Pedawa

Next Post

Manusia di Antara Binatang dan Tanaman

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Manusia di Antara Binatang dan Tanaman

Manusia di Antara Binatang dan Tanaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co