26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PPL itu Pura-Pura Legowo

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
February 15, 2019
in Esai
PPL itu Pura-Pura Legowo

Ilustrasi foto: Dok. Nata Kusuma

Bagi mereka yang berangkat dari sebuah pendirian untuk menjadi seorang guru, ditempatkan di mana pun tak akan jadi masalah. Bagi mereka yang sedari awal tak sudi menjadi seorang guru, ditempatkan di mana pun rasanya akan jadi masalah. 

Bagi mereka yang memandang profesi guru itu menyenangkan ketika ditempatkan di sekolah yang tak menyenangkan, maka idealis mereka akan tergoyahkan. Dan bagi mereka yang setengah-setengah ingin jadi guru lalu ditempatkan di sekolah yang penuh kenyamanan, bukankah mungkin untuk mereka berubah pikiran?

Akar dari semua perkara ini hanyalah ada dua. Kata Hati dan Kata Orang Nanti.

Saya pun bingung, saya masuk ke golongan yang mana. Saya hanyalah mahasiswa kependidikan yang setengah-setengah memiliki niatan menjadi seorang pendidik. Naasnya lagi dalam Program Pengembangan Lapangan (PPL) tahun ini, saya ditempatkan di sekolah yang membuat saya semakin yakin untuk tidak usah menjadi seorang guru.

Setidaknya itu yang kali pertama saya pikirkan. Bagaimana tidak, saya sengaja mendaftar di salah satu sekolah menengah pertama swasta dalam program PPL tahun ini. Tujuannya tiada lain dan tiada bukan adalah untuk menghindari “kejamnya” dunia pendidikan di sekolah menengah atas. Maklum, saya merasa diri ini adalah seorang yang cupu dan tak bisa mengatur anak remaja jikalau saya mendapatkan tempat PPL di SMA/SMK. Takdir pun berkata sebaliknya.

Saya ditempatkan di sekolah yang sangat terkenal akan “keganasannya” di kota ini. Setidaknya, itu yang masih dicap oleh sebagian besar masyarakat kota. PPL pun mulai memiliki definisi tersendiri dalam kamus hidup saya. PPL itu Pura-Pura Legowo.

Ya mau dikata apalagi, ikhlaskan dan jalani saja. Saya datang dengan pemikiran bahwa saya akan gagal praktek mengajar di sekolah ini. Saya sangat yakin bahwa setelah melakukan PPL di sekolah ini, saya tidak akan kepikiran untuk menjadi seorang pendidik. Saya sangat yakin itu.

Tetapi seiring berjalan waktu dan semakin tinggi intensitas hujan di musim ini, pikiran yang awalnya di penuhi hawa panas pun berubah perlahan menjadi sejuk lalu kemudian mendingin. Tiga kelas yang saya ajarkan yang notabene-nya adalah laki-laki semua tak seburuk apa yang orang ucap di luar sana.

Ya, yang namanya nakal dan ribut pastilah ada. Namun dari keributan dan keacuhan mereka terhadap kehadiran saya sebagai pengganti guru sementara mereka di dalam kelas nyatanya tak mampu menyembunyikan fakta bahwasannya mereka sesungguhnya anak yang mampu dan sangat antusias dalam belajar.

Kuncinya adalah bagaimana kita selaku pengajar khususnya saya mendekati mereka dengan cara-cara yang humanis. Saya tak bisa bohong jika beberapa teori pendekatan yang diajarkan di kampus pun tak terpakai. Saya mencari dan menemukan jenis pendekatan saya sendiri yang sekiranya mampu membuat mereka betah belajar bahasa Inggris. Ingat, betah berbeda dengan bisa.

Nah, berangkat dari situasi ini saya pun sempat terpikirkan akan sesuatu. “Mengapa saya semakin nyaman mengajar mereka?”

Ketika beberapa teman yang satu tempat PPL dengan saya tlah kembali dari kelas mereka mengajar, mayoritas akan mengatakan “duhh, leganya” lalu diikuti dengan sedikit curahan kekesalan yang mereka alami selama mengajar di kelas. Lega.

Lagi-lagi definisi pura-pura legowo teraplikasi dengan baik dalam keseharian kami. Selancar apapun penerapan RPP dalam kelas, sesibuk apapun kita karena diberi tugas tambahan oleh pihak sekolah, nyatanya ketika ada sesuatu yang tak sesuai kata hati saat mengajar maka pura-pura legowo adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

Beberapa kali ketika jam pelajaran sekolah tlah selesai, saya sering menyempatkan diri datang ke kampus untuk sekedar memesan makan atau minum di kantin kemudian mendengar obrolan beberapa pengunjung disana. Beruntungnya, hal serupa juga dilakukan beberapa teman-teman yang sudah selesai mengajar di sekolah mereka masing-masing. Mereka datang ke kantin kampus untuk sekedar makan dan berbagi cerita mereka tentang PPL di sekolah.

Kalimat tanya yang paling sering saya dengar dari percakapan itu ialah: “Men engken PPL cine?” Bagaimana PPL mu?

Sontak berbagai respon akan menanggapi pertanyaan tersebut. Ada yang bercerita tentang nakalnya murid mereka namun bercerita dengan ekspresi wajah penuh kegembiraan dan ada juga yang menceritakan kekesalannya lengkap dengan ekspresi kesal yang tak bisa ditawar lagi.

Aneh bukan? Ada yang menceritakan hal yang secara normal itu menyebalkan seperti misalnya murid yang tak ada di kelas dan mereka memarahinya namun ketika diceritakan seolah sang pencerita menikmatinya. Seperti biasa, kesimpulannya adalah Pura-pura Legowo. Di lain kesempatan, saya sempat bertemu dengan seorang teman yang ber PPL di sebuah sekolah menengah atas negeri yang cukup memiliki reputasi baik di mata masyarakat.

Teman saya berkata, “Adi cang demen ngajahin nah?” Kok aku seneng ngajar ya?

Secara spontan hati kecil saya menjawab, “Ya kan sekolahmu bagus”

Disamping itu, yang saya ketahui memang teman saya ini memiliki bakat menjadi seorang guru jadi ya tidak terlalu masalah.

Sekarang, mari kita kembali ke pernyataan awal tulisan ini. Bagi mereka yang berangkat dari sebuah pendirian untuk menjadi seorang guru, ditempatkan dimana pun tak akan jadi masalah. Bagi mereka yang sedari awal tak sudi menjadi seorang guru, ditempatkan dimana pun rasanya akan jadi masalah. 

Bagi mereka yang memandang profesi guru itu menyenangkan ketika di tempatkan di sekolah yang tak menyenangkan, maka idealis mereka akan tergoyahkan. Dan bagi mereka yang setengah-setengah ingin jadi guru lalu ditempatkan di sekolah yang penuh kenyamanan, bukan kah mungkin untuk mereka berubah pikiran?

Ke-pura-puraan legowo saya telah membawa saya ke peryataan terakhir yaitu golongan orang-orang yang setengah-setengah ingin jadi guru dan kini pikirannya mulai mengalami pergeseran. Saya tidak begitu tahu bagaimana teman-teman saya di sekolah lain menanggapi masa PPL mereka.

Hanya beberapa yang saya tahu dan dominan dari mereka masuk golongan orang-orang yang sedari awal tak sudi menjadi seorang guru, di tempatkan dimana pun rasanya akan jadi masalah, menurut saya. Namun saya percaya, sudah ada hal yang mereka pelajari tentang makna menjadi seorang pendidik. Dan prihal 2 akar permasalahan yang sempat saya sebutkan di awal yakni “kata hati” dan “kata orang nanti” memang benar adanya. 

Bagaimana kita akan menarik benang merah dari segala situasi ini, itu tergantung mana yang lebih kita dengarkan. Kalau saya, kata hati adalah yang utama. PPL atau Pura-pura Legowo juga mengajarkan saya filosofi berangkat dari titik 0 (nol). Cukup terima alur yang sudah disediakan oleh Yang Di Atas, lalu jalankan dengan versi terbaik dari diri kita.

Seperti takdir saya untuk mengajar murid sekolah menengah kejuruan dan bukannya sekolah menengah pertama sesuai rencana saya di awal cerita ini. (T)

Tags: mahasiswaPendidikanPPLsekolah
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Duet Seni Rupa Arya Dedok & Grace: Cinta Berkaitan dengan Kebenaran-Kebaikan

Next Post

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co