14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PPL itu Pura-Pura Legowo

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
February 15, 2019
in Esai
PPL itu Pura-Pura Legowo

Ilustrasi foto: Dok. Nata Kusuma

Bagi mereka yang berangkat dari sebuah pendirian untuk menjadi seorang guru, ditempatkan di mana pun tak akan jadi masalah. Bagi mereka yang sedari awal tak sudi menjadi seorang guru, ditempatkan di mana pun rasanya akan jadi masalah. 

Bagi mereka yang memandang profesi guru itu menyenangkan ketika ditempatkan di sekolah yang tak menyenangkan, maka idealis mereka akan tergoyahkan. Dan bagi mereka yang setengah-setengah ingin jadi guru lalu ditempatkan di sekolah yang penuh kenyamanan, bukankah mungkin untuk mereka berubah pikiran?

Akar dari semua perkara ini hanyalah ada dua. Kata Hati dan Kata Orang Nanti.

Saya pun bingung, saya masuk ke golongan yang mana. Saya hanyalah mahasiswa kependidikan yang setengah-setengah memiliki niatan menjadi seorang pendidik. Naasnya lagi dalam Program Pengembangan Lapangan (PPL) tahun ini, saya ditempatkan di sekolah yang membuat saya semakin yakin untuk tidak usah menjadi seorang guru.

Setidaknya itu yang kali pertama saya pikirkan. Bagaimana tidak, saya sengaja mendaftar di salah satu sekolah menengah pertama swasta dalam program PPL tahun ini. Tujuannya tiada lain dan tiada bukan adalah untuk menghindari “kejamnya” dunia pendidikan di sekolah menengah atas. Maklum, saya merasa diri ini adalah seorang yang cupu dan tak bisa mengatur anak remaja jikalau saya mendapatkan tempat PPL di SMA/SMK. Takdir pun berkata sebaliknya.

Saya ditempatkan di sekolah yang sangat terkenal akan “keganasannya” di kota ini. Setidaknya, itu yang masih dicap oleh sebagian besar masyarakat kota. PPL pun mulai memiliki definisi tersendiri dalam kamus hidup saya. PPL itu Pura-Pura Legowo.

Ya mau dikata apalagi, ikhlaskan dan jalani saja. Saya datang dengan pemikiran bahwa saya akan gagal praktek mengajar di sekolah ini. Saya sangat yakin bahwa setelah melakukan PPL di sekolah ini, saya tidak akan kepikiran untuk menjadi seorang pendidik. Saya sangat yakin itu.

Tetapi seiring berjalan waktu dan semakin tinggi intensitas hujan di musim ini, pikiran yang awalnya di penuhi hawa panas pun berubah perlahan menjadi sejuk lalu kemudian mendingin. Tiga kelas yang saya ajarkan yang notabene-nya adalah laki-laki semua tak seburuk apa yang orang ucap di luar sana.

Ya, yang namanya nakal dan ribut pastilah ada. Namun dari keributan dan keacuhan mereka terhadap kehadiran saya sebagai pengganti guru sementara mereka di dalam kelas nyatanya tak mampu menyembunyikan fakta bahwasannya mereka sesungguhnya anak yang mampu dan sangat antusias dalam belajar.

Kuncinya adalah bagaimana kita selaku pengajar khususnya saya mendekati mereka dengan cara-cara yang humanis. Saya tak bisa bohong jika beberapa teori pendekatan yang diajarkan di kampus pun tak terpakai. Saya mencari dan menemukan jenis pendekatan saya sendiri yang sekiranya mampu membuat mereka betah belajar bahasa Inggris. Ingat, betah berbeda dengan bisa.

Nah, berangkat dari situasi ini saya pun sempat terpikirkan akan sesuatu. “Mengapa saya semakin nyaman mengajar mereka?”

Ketika beberapa teman yang satu tempat PPL dengan saya tlah kembali dari kelas mereka mengajar, mayoritas akan mengatakan “duhh, leganya” lalu diikuti dengan sedikit curahan kekesalan yang mereka alami selama mengajar di kelas. Lega.

Lagi-lagi definisi pura-pura legowo teraplikasi dengan baik dalam keseharian kami. Selancar apapun penerapan RPP dalam kelas, sesibuk apapun kita karena diberi tugas tambahan oleh pihak sekolah, nyatanya ketika ada sesuatu yang tak sesuai kata hati saat mengajar maka pura-pura legowo adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

Beberapa kali ketika jam pelajaran sekolah tlah selesai, saya sering menyempatkan diri datang ke kampus untuk sekedar memesan makan atau minum di kantin kemudian mendengar obrolan beberapa pengunjung disana. Beruntungnya, hal serupa juga dilakukan beberapa teman-teman yang sudah selesai mengajar di sekolah mereka masing-masing. Mereka datang ke kantin kampus untuk sekedar makan dan berbagi cerita mereka tentang PPL di sekolah.

Kalimat tanya yang paling sering saya dengar dari percakapan itu ialah: “Men engken PPL cine?” Bagaimana PPL mu?

Sontak berbagai respon akan menanggapi pertanyaan tersebut. Ada yang bercerita tentang nakalnya murid mereka namun bercerita dengan ekspresi wajah penuh kegembiraan dan ada juga yang menceritakan kekesalannya lengkap dengan ekspresi kesal yang tak bisa ditawar lagi.

Aneh bukan? Ada yang menceritakan hal yang secara normal itu menyebalkan seperti misalnya murid yang tak ada di kelas dan mereka memarahinya namun ketika diceritakan seolah sang pencerita menikmatinya. Seperti biasa, kesimpulannya adalah Pura-pura Legowo. Di lain kesempatan, saya sempat bertemu dengan seorang teman yang ber PPL di sebuah sekolah menengah atas negeri yang cukup memiliki reputasi baik di mata masyarakat.

Teman saya berkata, “Adi cang demen ngajahin nah?” Kok aku seneng ngajar ya?

Secara spontan hati kecil saya menjawab, “Ya kan sekolahmu bagus”

Disamping itu, yang saya ketahui memang teman saya ini memiliki bakat menjadi seorang guru jadi ya tidak terlalu masalah.

Sekarang, mari kita kembali ke pernyataan awal tulisan ini. Bagi mereka yang berangkat dari sebuah pendirian untuk menjadi seorang guru, ditempatkan dimana pun tak akan jadi masalah. Bagi mereka yang sedari awal tak sudi menjadi seorang guru, ditempatkan dimana pun rasanya akan jadi masalah. 

Bagi mereka yang memandang profesi guru itu menyenangkan ketika di tempatkan di sekolah yang tak menyenangkan, maka idealis mereka akan tergoyahkan. Dan bagi mereka yang setengah-setengah ingin jadi guru lalu ditempatkan di sekolah yang penuh kenyamanan, bukan kah mungkin untuk mereka berubah pikiran?

Ke-pura-puraan legowo saya telah membawa saya ke peryataan terakhir yaitu golongan orang-orang yang setengah-setengah ingin jadi guru dan kini pikirannya mulai mengalami pergeseran. Saya tidak begitu tahu bagaimana teman-teman saya di sekolah lain menanggapi masa PPL mereka.

Hanya beberapa yang saya tahu dan dominan dari mereka masuk golongan orang-orang yang sedari awal tak sudi menjadi seorang guru, di tempatkan dimana pun rasanya akan jadi masalah, menurut saya. Namun saya percaya, sudah ada hal yang mereka pelajari tentang makna menjadi seorang pendidik. Dan prihal 2 akar permasalahan yang sempat saya sebutkan di awal yakni “kata hati” dan “kata orang nanti” memang benar adanya. 

Bagaimana kita akan menarik benang merah dari segala situasi ini, itu tergantung mana yang lebih kita dengarkan. Kalau saya, kata hati adalah yang utama. PPL atau Pura-pura Legowo juga mengajarkan saya filosofi berangkat dari titik 0 (nol). Cukup terima alur yang sudah disediakan oleh Yang Di Atas, lalu jalankan dengan versi terbaik dari diri kita.

Seperti takdir saya untuk mengajar murid sekolah menengah kejuruan dan bukannya sekolah menengah pertama sesuai rencana saya di awal cerita ini. (T)

Tags: mahasiswaPendidikanPPLsekolah
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Duet Seni Rupa Arya Dedok & Grace: Cinta Berkaitan dengan Kebenaran-Kebaikan

Next Post

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co