2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PPL itu Pura-Pura Legowo

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
February 15, 2019
in Esai
PPL itu Pura-Pura Legowo

Ilustrasi foto: Dok. Nata Kusuma

Bagi mereka yang berangkat dari sebuah pendirian untuk menjadi seorang guru, ditempatkan di mana pun tak akan jadi masalah. Bagi mereka yang sedari awal tak sudi menjadi seorang guru, ditempatkan di mana pun rasanya akan jadi masalah. 

Bagi mereka yang memandang profesi guru itu menyenangkan ketika ditempatkan di sekolah yang tak menyenangkan, maka idealis mereka akan tergoyahkan. Dan bagi mereka yang setengah-setengah ingin jadi guru lalu ditempatkan di sekolah yang penuh kenyamanan, bukankah mungkin untuk mereka berubah pikiran?

Akar dari semua perkara ini hanyalah ada dua. Kata Hati dan Kata Orang Nanti.

Saya pun bingung, saya masuk ke golongan yang mana. Saya hanyalah mahasiswa kependidikan yang setengah-setengah memiliki niatan menjadi seorang pendidik. Naasnya lagi dalam Program Pengembangan Lapangan (PPL) tahun ini, saya ditempatkan di sekolah yang membuat saya semakin yakin untuk tidak usah menjadi seorang guru.

Setidaknya itu yang kali pertama saya pikirkan. Bagaimana tidak, saya sengaja mendaftar di salah satu sekolah menengah pertama swasta dalam program PPL tahun ini. Tujuannya tiada lain dan tiada bukan adalah untuk menghindari “kejamnya” dunia pendidikan di sekolah menengah atas. Maklum, saya merasa diri ini adalah seorang yang cupu dan tak bisa mengatur anak remaja jikalau saya mendapatkan tempat PPL di SMA/SMK. Takdir pun berkata sebaliknya.

Saya ditempatkan di sekolah yang sangat terkenal akan “keganasannya” di kota ini. Setidaknya, itu yang masih dicap oleh sebagian besar masyarakat kota. PPL pun mulai memiliki definisi tersendiri dalam kamus hidup saya. PPL itu Pura-Pura Legowo.

Ya mau dikata apalagi, ikhlaskan dan jalani saja. Saya datang dengan pemikiran bahwa saya akan gagal praktek mengajar di sekolah ini. Saya sangat yakin bahwa setelah melakukan PPL di sekolah ini, saya tidak akan kepikiran untuk menjadi seorang pendidik. Saya sangat yakin itu.

Tetapi seiring berjalan waktu dan semakin tinggi intensitas hujan di musim ini, pikiran yang awalnya di penuhi hawa panas pun berubah perlahan menjadi sejuk lalu kemudian mendingin. Tiga kelas yang saya ajarkan yang notabene-nya adalah laki-laki semua tak seburuk apa yang orang ucap di luar sana.

Ya, yang namanya nakal dan ribut pastilah ada. Namun dari keributan dan keacuhan mereka terhadap kehadiran saya sebagai pengganti guru sementara mereka di dalam kelas nyatanya tak mampu menyembunyikan fakta bahwasannya mereka sesungguhnya anak yang mampu dan sangat antusias dalam belajar.

Kuncinya adalah bagaimana kita selaku pengajar khususnya saya mendekati mereka dengan cara-cara yang humanis. Saya tak bisa bohong jika beberapa teori pendekatan yang diajarkan di kampus pun tak terpakai. Saya mencari dan menemukan jenis pendekatan saya sendiri yang sekiranya mampu membuat mereka betah belajar bahasa Inggris. Ingat, betah berbeda dengan bisa.

Nah, berangkat dari situasi ini saya pun sempat terpikirkan akan sesuatu. “Mengapa saya semakin nyaman mengajar mereka?”

Ketika beberapa teman yang satu tempat PPL dengan saya tlah kembali dari kelas mereka mengajar, mayoritas akan mengatakan “duhh, leganya” lalu diikuti dengan sedikit curahan kekesalan yang mereka alami selama mengajar di kelas. Lega.

Lagi-lagi definisi pura-pura legowo teraplikasi dengan baik dalam keseharian kami. Selancar apapun penerapan RPP dalam kelas, sesibuk apapun kita karena diberi tugas tambahan oleh pihak sekolah, nyatanya ketika ada sesuatu yang tak sesuai kata hati saat mengajar maka pura-pura legowo adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

Beberapa kali ketika jam pelajaran sekolah tlah selesai, saya sering menyempatkan diri datang ke kampus untuk sekedar memesan makan atau minum di kantin kemudian mendengar obrolan beberapa pengunjung disana. Beruntungnya, hal serupa juga dilakukan beberapa teman-teman yang sudah selesai mengajar di sekolah mereka masing-masing. Mereka datang ke kantin kampus untuk sekedar makan dan berbagi cerita mereka tentang PPL di sekolah.

Kalimat tanya yang paling sering saya dengar dari percakapan itu ialah: “Men engken PPL cine?” Bagaimana PPL mu?

Sontak berbagai respon akan menanggapi pertanyaan tersebut. Ada yang bercerita tentang nakalnya murid mereka namun bercerita dengan ekspresi wajah penuh kegembiraan dan ada juga yang menceritakan kekesalannya lengkap dengan ekspresi kesal yang tak bisa ditawar lagi.

Aneh bukan? Ada yang menceritakan hal yang secara normal itu menyebalkan seperti misalnya murid yang tak ada di kelas dan mereka memarahinya namun ketika diceritakan seolah sang pencerita menikmatinya. Seperti biasa, kesimpulannya adalah Pura-pura Legowo. Di lain kesempatan, saya sempat bertemu dengan seorang teman yang ber PPL di sebuah sekolah menengah atas negeri yang cukup memiliki reputasi baik di mata masyarakat.

Teman saya berkata, “Adi cang demen ngajahin nah?” Kok aku seneng ngajar ya?

Secara spontan hati kecil saya menjawab, “Ya kan sekolahmu bagus”

Disamping itu, yang saya ketahui memang teman saya ini memiliki bakat menjadi seorang guru jadi ya tidak terlalu masalah.

Sekarang, mari kita kembali ke pernyataan awal tulisan ini. Bagi mereka yang berangkat dari sebuah pendirian untuk menjadi seorang guru, ditempatkan dimana pun tak akan jadi masalah. Bagi mereka yang sedari awal tak sudi menjadi seorang guru, ditempatkan dimana pun rasanya akan jadi masalah. 

Bagi mereka yang memandang profesi guru itu menyenangkan ketika di tempatkan di sekolah yang tak menyenangkan, maka idealis mereka akan tergoyahkan. Dan bagi mereka yang setengah-setengah ingin jadi guru lalu ditempatkan di sekolah yang penuh kenyamanan, bukan kah mungkin untuk mereka berubah pikiran?

Ke-pura-puraan legowo saya telah membawa saya ke peryataan terakhir yaitu golongan orang-orang yang setengah-setengah ingin jadi guru dan kini pikirannya mulai mengalami pergeseran. Saya tidak begitu tahu bagaimana teman-teman saya di sekolah lain menanggapi masa PPL mereka.

Hanya beberapa yang saya tahu dan dominan dari mereka masuk golongan orang-orang yang sedari awal tak sudi menjadi seorang guru, di tempatkan dimana pun rasanya akan jadi masalah, menurut saya. Namun saya percaya, sudah ada hal yang mereka pelajari tentang makna menjadi seorang pendidik. Dan prihal 2 akar permasalahan yang sempat saya sebutkan di awal yakni “kata hati” dan “kata orang nanti” memang benar adanya. 

Bagaimana kita akan menarik benang merah dari segala situasi ini, itu tergantung mana yang lebih kita dengarkan. Kalau saya, kata hati adalah yang utama. PPL atau Pura-pura Legowo juga mengajarkan saya filosofi berangkat dari titik 0 (nol). Cukup terima alur yang sudah disediakan oleh Yang Di Atas, lalu jalankan dengan versi terbaik dari diri kita.

Seperti takdir saya untuk mengajar murid sekolah menengah kejuruan dan bukannya sekolah menengah pertama sesuai rencana saya di awal cerita ini. (T)

Tags: mahasiswaPendidikanPPLsekolah
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Duet Seni Rupa Arya Dedok & Grace: Cinta Berkaitan dengan Kebenaran-Kebaikan

Next Post

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Puisi I Putu Agus Phebi Rosadi# Buah Tangan dari Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co