6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aturan Mati: Jangan Mati Sembarangan

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 12, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Jangan kira segala urusan selesai jika napas lenyap dari tubuh. Jelas itu tidak mungkin terjadi. Setelahnya akan ada urusan administrasi yang musti diselesaikan, baik yang dapat dilihat dengan mata terbuka, atau tertutup.

Urusan yang bisa dilihat dengan mata terbuka seperti misalnya tentang bagaimana tubuh akan diperlakukan kemudian, apakah dibakar, dikubur, dicincang, atau dibagaimanakan. Yang mengurus semua itu, tentu mereka yang masih hidup. Belum pernah saya melihat atau mendengar ada yang mengubur mayatnya sendiri. Tapi kalau mendengar cerita tentang ada yang membakar mayatnya sendiri, pernah. Itu dalam sebuah kakawin.

Ada juga urusan yang tidak dapat dilihat hanya dengan mengandalkan mata terbuka, misalnya tentang perjalanan ruh, itu jelas sangat personal. Ada banyak cerita yang bisa dipercaya tentang perjalanan ruh.  Cerita itu menyediakan jawaban, untuk pertanyaan-pertanyaan semacam; Kemanakah ruh itu pergi? Maaf, pertanyaan saya ulangi, kemanakah ruh itu kembali?

Kedua jenis pertanyaan tadi sangat mungkin ditanyakan kepada sembarang makhluk. Jawabannya pun akan beraneka ragam. Ada yang menjawab begini, ada yang menjawab begitu. Begini dan begitunya jawaban, tergantung pada apa yang diyakini oleh pemberi jawaban. Karena sudah menjadi keyakinan, maka sulitlah untuk menolak jika diberikan sudut pandang berbeda dari yang diyakininya.

Contoh keyakinan yang sulit ditentang adalah tentang Tuhan. Bagi yang terlanjur meyakini bahwa Tuhan itu Maha Segala-gala-gala-galanya, akan sulit melepaskan keyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada. Bagi yang terlanjur meyakini, dia bisa saja pura-pura tidak yakin. Caranya adalah dengan memberikan kritik ini dan itu kepada yang dianggapnya berke-Tuhan-an. Upacara itu begini, upacara ini begitu. Kebenaran seolah menjadi miliknya sendiri di dunia antah berantah ini. Konon Tuhan sudah ia matikan!

Jika Tuhan sudah mati, apa yang bisa ia yakini? Menghilangkan satu keyakinan, akan menumbuhkan keyakinan yang lain. Jika Tuhan yang Segala Maha itu sudah tiada, lalu dicari-carilah jawaban atas segala penyebab. Contohnya adalah penyebab tubuh bisa hidup. Menurut teori-teori tentang tubuh, ia bisa hidup karena di dalamnya berisi kehidupan yang disebutnya sebagai atma. Atma itulah Tuhan! Demikian katanya besar-besar pada alat pembesar suara sehingga mengejutkan para pendengar yang sebetulnya sudah terkejut saat Tuhan dimatikan.

Lalu untuk apa tubuh ini dihidupkan? Tenang, teka-teki semacam itu sudah tersedia jawabannya. Jawabannya adalah untuk berkarma. Berkarma artinya berbuat sesuatu, baik dengan pikiran, perkataan maupun tingkah laku. Ketiganya diikat oleh benang yang kasat mata. Benang itulah karma. Karma itulah kerja. Ada satu ungkapan dalam salah satu kitab termasyur, bahwa bekerjalah dalam tidak bekerja!

Adakah suatu akibat nantinya sebagai hasil kerja itu? Tentu saja ada. Akibatnya adalah hasil dari kerja atau hasil dari karma. Dalam bahasa pergaulan di tingkat tertentu, disebut karma phala. Karma ternyata sudah punya pasangan setia bernama phala. Begitu juga phala, punya pasangan yang tidak kalah setianya bernama karma. Tidak ada sesuatu hal pun yang bisa memisahkannya.

Sampai pada penjelasan itu, adakah yang belum jelas? Semoga saja tidak ada. Karena penjelasan selanjutnya lebih penting lagi dari penjelasan tadi. Penjelasan lanjutan ini hanya akan diberikan kepada mereka yang sudah expert. Saya ingin menjelaskan, bahwa hasil dari karma itu akan mempengaruhi kehidupan setelah kematian. Bagi mereka yang meyakini, setelah kehidupan ini mati, akan ada kehidupan lain yang hidup. Saat itu terjadi, segala hal yang telah terjadi kini, akan dilupakan mendatang. Umumnya begitu, meski pada suatu kasus tertentu ada saja yang bisa mengingat kehidupannya yang terdahulu.

Bagi yang lahir kembali, itu berarti masih ada sisa-sisa perbuatan yang harus ia nikmati di kehidupan selanjutnya. Semacam ada janji yang belum usai. Tapi entah karena apa, kebanyakan yang lahir kembali, lupa pada janjinya. Atau bahkan, tidak tahu apa janjinya di kehidupan terdahulu.

Jika benar demikian, akankah semuanya berpusing-pusing saja seperti bumi? Tidak! Itulah jawaban tegas menurut sumbernya. Keyakinan memberikan petunjuk bahwa lingkaran hidup-mati-hidup-mati bisa diputuskan. Caranya bukan dengan mengirimkan SMS, WA, nelfon, voice call, video call, messenger, kalau “kita putus”. Bukan juga dengan cara menghilang tiba-tiba saat lagi sayang-sayangnya.

Tidak sesederhana itu. Ada proses yang harus dilewati bagi mereka yang sudah bosan mengikuti lingkaran. Prosesnya adalah…, sebaiknya tidak saya jelaskan disini. Takut ada yang mendengar, sebab itu jalan sunyi yang rahasia. Jika ingin mengetahui, sebaiknya ikuti saya menyeberang dari wilayah ini. Terus terang, sudah tidak kondusif lagi ini wilayah. Tetapi saya bisa menceritakan bagaimana aturan kematian itu. Jangan kecewa.

Karena belum pernah mati, jadi kita bisa belajar tentang itu pada cerita-cerita yang diwariskan dari zaman kakek moyang sampai sekarang.Di dalam cerita, ada yang mati karena dibunuh. Pembunuhan itu dilakukan pada saat perang. Dalam banyak cerita, yang dibunuh adalah raksasa. Raksasa selalu menjadi korban pembunuhan. Dalam cerita epic yang lain, sudut pandang menjadi berbeda. Semisal dalam cerita Mahabharata, di dalamnya terdapat cerita manusia membunuh manusia lainnya atas nama perang. Korbannya bukan raksasa, tapi manusia.

.

Serial Cangak Sebelumnya:

Swastyastu, Nama Saya Cangak

Pemimpin dan Pandita

.

Ada juga yang mati karena tipu muslihat. Menurut cerita, dua tokoh sakti mandra guna yaitu Raja Singa dan Raja Kerbau, sama-sama mati karena dihasut oleh prajuritnya sendiri. Yang dipercayai menjadi prajurit adalah kawanan anjing. Kepada Raja Singa, kawanan anjing berkata ini dan itu. Kepada Raja Kerbau, kawanan anjing berkata itu dan ini. Keduanya diberikan informasi palsu. Hoax. Hasilnya kedua Raja yang gagah perkasa itu berperang, sampai akhirnya keduanya mati. Kawanan anjing yang sudah lama kelaparan, merajalela dan memakan bangkai kedua Rajanya. Siapa bilang hoax itu hanya masa kini?

Ada lagi korban hoax yang lain. Namanya Kakua. Si Kakua adalah binatang yang cerdas. Karena kecerdasannya ia dipilih menjadi Panglima di suatu provinsi pada negara Telaga. Entah karena apa, tiba-tiba negara telaga itu mengering. Si Kakua bingung harus bagaimana. Tapi begitulah cerita, konon ada dua angsa yang ingin membantu menerbangkannya. Diambilkannya sepotong kayu, kedua angsa memegang masing-masing ujung dengan paruhnya. Sedangkan Si Kakua disuruhnya untuk menggigit bagian tengah kayu. Syaratnya hanya satu, Kakua tidak boleh bicara.

Di tengah perjalanan, kawanan anjing melihat Kakua dan kedua angsa itu terbang. Perut anjing mereka yang kelaparan, memberikan ide cemerlang. PENGHASUTAN. Dibangunlah opini publik, bahwa angsa sedang menerbangkan kotoran sapi. Kakua dan angsa-angsa mendengarnya. Mereka tahu sedang dihasut.

Tapi segala kepintaran, kecerdasan yang dimiliki Kakua hilang tiba-tiba. Sebabnya hanya, rasa tidak terima dan marah. Marah membuatnya lupa pada syarat lalu tanpa sadar membuka mulut dan sekaligus menghilangkan nyawanya karena jatuh dari tempat yang tinggi. Anjing-anjing tersenyum sinis, akhirnya perut mereka yang lapar bisa terpuaskan. Sayangnya, yang namanya perut tidak pernah kenyang dalam waktu lama. Perut anjing mereka selalu menagih korban lainnya.

Beberapa cerita tadi menunjukkan ada banyak cara mati. Bukannya tidak ada kematian yang tenang. Cerita tentang mati yang tenang tidak kalah serunya dengan cerita kematian tadi. Dharma Putra [bukan saya], kakak tertua Pandawa, mati dengan tenang. Atau bahkan tidak jelas apakah dia mati atau tidak. Setelah mengalahkan seratus Korawa, bersama istri dan adik-adiknya, Dharma Putra menaiki gunung untuk mati. Mereka juga diikuti oleh seekor anjing hitam.

Di akhir cerita, Dharma Putra dijemput untuk masuk ke surga dengan syarat meninggalkan anjing hitamnya. Dharma Putra tidak setuju, maka ia lebih memilih untuk diam dan tidak masuk surga kecuali anjingnya ikut. Saat itulah anjing itu berubah menjadi ayahnya, Dewa Dharma. Dharma Putra berarti putra dari Dharma. Karena Dewa Dharma menyamar menjadi anjing, bukan berarti Dewa Dharma sama dengan anjing, dan putranya adalah anak anjing. Itu jelas kasus yang berbeda.

Ada lagi cerita lainnya. Yudistira melawan Nilacandra dalam suatu lomba yang prestisius, menangkap ruh [ngejuk atma]. Bukan main lomba itu memang. Yudistira melepaskan ruhnya dari sangkar tubuh seperti melepaskan burung. Nilacandra dengan sigap menangkapnya, entah dengan apa. Giliran Nilacandra yang menguasai Aji Pegat itu, melepaskan burung ruhnya dari sangkar tubuh, bersembunyi di sudut paling rahasia dan sama sekali tidak terlihat kecuali oleh Shiwa. Akhirnya Yudistira mampu menangkapnya berkat bantuan Shiwa. Nilacandra tidak jadi mati, padahal sudah bisa mati.

Ada banyak lagi cerita tentang mati, beserta aturan-aturannya. Untuk bisa mati dengan tenang, sebelumnya harus mempersiapkan kematian. Contoh menyiapkan mati dengan tenang, adalah dengan berlomba-lomba ngayah. Jika tidak pernah ngayah, maka kematian menjadi terancam tidak tenang.

Yama Purwa Tattwa bisa menjadi rujukan dalam melihat aturan kematian. Di dalamnya termuat jenis-jenis kematian beserta cara-caranya setelah kematian. Ada mati yang baik dan ada pula mati yang buruk. Mati yang buruk disebutnya mati yang salah, atau mati karena ulah. Jenis-jenis itu kemudian ditiadakan oleh para pengampu kebijakan karena entah apa. Mungkin karena kemanusiaan. Tidak baik memang sudah mati tertimpa tangga.

Bagi yang ingin mati dengan tenang, saya sarankan untuk pintar-pintar membayangkan. Terutama bagi para ikan yang tidak ingin menyeberang. Jadi untuk para ikan, bayangkanlah bunga teratai yang bunganya sedang kuncup. Bunga yang kuncup itu mirip dengan aksara yang sangat terkenal di kalangan pengenalnya. Aksara itu bernama Ulu Candra. Aksara itu biasanya berada di atas aksara Okara yang sering ditulis oleh banyak insan. Bunganya yang kuncup adalah Nada, bulir air yang menempel adalah windu yang bulat itu. Arda candranya adalah daunnya yang terlihat melengkung. Okara adalah akarnya yang jauh tertanam di dalam lumpur.

Itulah salah satu praktik spiritual yang dahsyat hasilnya. Tetapi apakah praktik spiritual hanyalah sebentuk pelarian dari kebosanan? Saya hanya bertanya, jawabannya terserah anda. Tidak maulah saya, jika kemudian dituntut menistakan agama. Takut. Tetapi satu yang bisa saya katakan sebagai Cangak bagi para ikan: Jangan mati sembarangan!

Tags: dongengfilsafatkemanusiaanrenungan
Share79TweetSendShareSend
Previous Post

Berkreasi di Kepulauan – Dari “Bali Architecture Week 2019: Popo Danes And Friends”

Next Post

Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co