3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aturan Mati: Jangan Mati Sembarangan

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 12, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Jangan kira segala urusan selesai jika napas lenyap dari tubuh. Jelas itu tidak mungkin terjadi. Setelahnya akan ada urusan administrasi yang musti diselesaikan, baik yang dapat dilihat dengan mata terbuka, atau tertutup.

Urusan yang bisa dilihat dengan mata terbuka seperti misalnya tentang bagaimana tubuh akan diperlakukan kemudian, apakah dibakar, dikubur, dicincang, atau dibagaimanakan. Yang mengurus semua itu, tentu mereka yang masih hidup. Belum pernah saya melihat atau mendengar ada yang mengubur mayatnya sendiri. Tapi kalau mendengar cerita tentang ada yang membakar mayatnya sendiri, pernah. Itu dalam sebuah kakawin.

Ada juga urusan yang tidak dapat dilihat hanya dengan mengandalkan mata terbuka, misalnya tentang perjalanan ruh, itu jelas sangat personal. Ada banyak cerita yang bisa dipercaya tentang perjalanan ruh.  Cerita itu menyediakan jawaban, untuk pertanyaan-pertanyaan semacam; Kemanakah ruh itu pergi? Maaf, pertanyaan saya ulangi, kemanakah ruh itu kembali?

Kedua jenis pertanyaan tadi sangat mungkin ditanyakan kepada sembarang makhluk. Jawabannya pun akan beraneka ragam. Ada yang menjawab begini, ada yang menjawab begitu. Begini dan begitunya jawaban, tergantung pada apa yang diyakini oleh pemberi jawaban. Karena sudah menjadi keyakinan, maka sulitlah untuk menolak jika diberikan sudut pandang berbeda dari yang diyakininya.

Contoh keyakinan yang sulit ditentang adalah tentang Tuhan. Bagi yang terlanjur meyakini bahwa Tuhan itu Maha Segala-gala-gala-galanya, akan sulit melepaskan keyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada. Bagi yang terlanjur meyakini, dia bisa saja pura-pura tidak yakin. Caranya adalah dengan memberikan kritik ini dan itu kepada yang dianggapnya berke-Tuhan-an. Upacara itu begini, upacara ini begitu. Kebenaran seolah menjadi miliknya sendiri di dunia antah berantah ini. Konon Tuhan sudah ia matikan!

Jika Tuhan sudah mati, apa yang bisa ia yakini? Menghilangkan satu keyakinan, akan menumbuhkan keyakinan yang lain. Jika Tuhan yang Segala Maha itu sudah tiada, lalu dicari-carilah jawaban atas segala penyebab. Contohnya adalah penyebab tubuh bisa hidup. Menurut teori-teori tentang tubuh, ia bisa hidup karena di dalamnya berisi kehidupan yang disebutnya sebagai atma. Atma itulah Tuhan! Demikian katanya besar-besar pada alat pembesar suara sehingga mengejutkan para pendengar yang sebetulnya sudah terkejut saat Tuhan dimatikan.

Lalu untuk apa tubuh ini dihidupkan? Tenang, teka-teki semacam itu sudah tersedia jawabannya. Jawabannya adalah untuk berkarma. Berkarma artinya berbuat sesuatu, baik dengan pikiran, perkataan maupun tingkah laku. Ketiganya diikat oleh benang yang kasat mata. Benang itulah karma. Karma itulah kerja. Ada satu ungkapan dalam salah satu kitab termasyur, bahwa bekerjalah dalam tidak bekerja!

Adakah suatu akibat nantinya sebagai hasil kerja itu? Tentu saja ada. Akibatnya adalah hasil dari kerja atau hasil dari karma. Dalam bahasa pergaulan di tingkat tertentu, disebut karma phala. Karma ternyata sudah punya pasangan setia bernama phala. Begitu juga phala, punya pasangan yang tidak kalah setianya bernama karma. Tidak ada sesuatu hal pun yang bisa memisahkannya.

Sampai pada penjelasan itu, adakah yang belum jelas? Semoga saja tidak ada. Karena penjelasan selanjutnya lebih penting lagi dari penjelasan tadi. Penjelasan lanjutan ini hanya akan diberikan kepada mereka yang sudah expert. Saya ingin menjelaskan, bahwa hasil dari karma itu akan mempengaruhi kehidupan setelah kematian. Bagi mereka yang meyakini, setelah kehidupan ini mati, akan ada kehidupan lain yang hidup. Saat itu terjadi, segala hal yang telah terjadi kini, akan dilupakan mendatang. Umumnya begitu, meski pada suatu kasus tertentu ada saja yang bisa mengingat kehidupannya yang terdahulu.

Bagi yang lahir kembali, itu berarti masih ada sisa-sisa perbuatan yang harus ia nikmati di kehidupan selanjutnya. Semacam ada janji yang belum usai. Tapi entah karena apa, kebanyakan yang lahir kembali, lupa pada janjinya. Atau bahkan, tidak tahu apa janjinya di kehidupan terdahulu.

Jika benar demikian, akankah semuanya berpusing-pusing saja seperti bumi? Tidak! Itulah jawaban tegas menurut sumbernya. Keyakinan memberikan petunjuk bahwa lingkaran hidup-mati-hidup-mati bisa diputuskan. Caranya bukan dengan mengirimkan SMS, WA, nelfon, voice call, video call, messenger, kalau “kita putus”. Bukan juga dengan cara menghilang tiba-tiba saat lagi sayang-sayangnya.

Tidak sesederhana itu. Ada proses yang harus dilewati bagi mereka yang sudah bosan mengikuti lingkaran. Prosesnya adalah…, sebaiknya tidak saya jelaskan disini. Takut ada yang mendengar, sebab itu jalan sunyi yang rahasia. Jika ingin mengetahui, sebaiknya ikuti saya menyeberang dari wilayah ini. Terus terang, sudah tidak kondusif lagi ini wilayah. Tetapi saya bisa menceritakan bagaimana aturan kematian itu. Jangan kecewa.

Karena belum pernah mati, jadi kita bisa belajar tentang itu pada cerita-cerita yang diwariskan dari zaman kakek moyang sampai sekarang.Di dalam cerita, ada yang mati karena dibunuh. Pembunuhan itu dilakukan pada saat perang. Dalam banyak cerita, yang dibunuh adalah raksasa. Raksasa selalu menjadi korban pembunuhan. Dalam cerita epic yang lain, sudut pandang menjadi berbeda. Semisal dalam cerita Mahabharata, di dalamnya terdapat cerita manusia membunuh manusia lainnya atas nama perang. Korbannya bukan raksasa, tapi manusia.

.

Serial Cangak Sebelumnya:

Swastyastu, Nama Saya Cangak

Pemimpin dan Pandita

.

Ada juga yang mati karena tipu muslihat. Menurut cerita, dua tokoh sakti mandra guna yaitu Raja Singa dan Raja Kerbau, sama-sama mati karena dihasut oleh prajuritnya sendiri. Yang dipercayai menjadi prajurit adalah kawanan anjing. Kepada Raja Singa, kawanan anjing berkata ini dan itu. Kepada Raja Kerbau, kawanan anjing berkata itu dan ini. Keduanya diberikan informasi palsu. Hoax. Hasilnya kedua Raja yang gagah perkasa itu berperang, sampai akhirnya keduanya mati. Kawanan anjing yang sudah lama kelaparan, merajalela dan memakan bangkai kedua Rajanya. Siapa bilang hoax itu hanya masa kini?

Ada lagi korban hoax yang lain. Namanya Kakua. Si Kakua adalah binatang yang cerdas. Karena kecerdasannya ia dipilih menjadi Panglima di suatu provinsi pada negara Telaga. Entah karena apa, tiba-tiba negara telaga itu mengering. Si Kakua bingung harus bagaimana. Tapi begitulah cerita, konon ada dua angsa yang ingin membantu menerbangkannya. Diambilkannya sepotong kayu, kedua angsa memegang masing-masing ujung dengan paruhnya. Sedangkan Si Kakua disuruhnya untuk menggigit bagian tengah kayu. Syaratnya hanya satu, Kakua tidak boleh bicara.

Di tengah perjalanan, kawanan anjing melihat Kakua dan kedua angsa itu terbang. Perut anjing mereka yang kelaparan, memberikan ide cemerlang. PENGHASUTAN. Dibangunlah opini publik, bahwa angsa sedang menerbangkan kotoran sapi. Kakua dan angsa-angsa mendengarnya. Mereka tahu sedang dihasut.

Tapi segala kepintaran, kecerdasan yang dimiliki Kakua hilang tiba-tiba. Sebabnya hanya, rasa tidak terima dan marah. Marah membuatnya lupa pada syarat lalu tanpa sadar membuka mulut dan sekaligus menghilangkan nyawanya karena jatuh dari tempat yang tinggi. Anjing-anjing tersenyum sinis, akhirnya perut mereka yang lapar bisa terpuaskan. Sayangnya, yang namanya perut tidak pernah kenyang dalam waktu lama. Perut anjing mereka selalu menagih korban lainnya.

Beberapa cerita tadi menunjukkan ada banyak cara mati. Bukannya tidak ada kematian yang tenang. Cerita tentang mati yang tenang tidak kalah serunya dengan cerita kematian tadi. Dharma Putra [bukan saya], kakak tertua Pandawa, mati dengan tenang. Atau bahkan tidak jelas apakah dia mati atau tidak. Setelah mengalahkan seratus Korawa, bersama istri dan adik-adiknya, Dharma Putra menaiki gunung untuk mati. Mereka juga diikuti oleh seekor anjing hitam.

Di akhir cerita, Dharma Putra dijemput untuk masuk ke surga dengan syarat meninggalkan anjing hitamnya. Dharma Putra tidak setuju, maka ia lebih memilih untuk diam dan tidak masuk surga kecuali anjingnya ikut. Saat itulah anjing itu berubah menjadi ayahnya, Dewa Dharma. Dharma Putra berarti putra dari Dharma. Karena Dewa Dharma menyamar menjadi anjing, bukan berarti Dewa Dharma sama dengan anjing, dan putranya adalah anak anjing. Itu jelas kasus yang berbeda.

Ada lagi cerita lainnya. Yudistira melawan Nilacandra dalam suatu lomba yang prestisius, menangkap ruh [ngejuk atma]. Bukan main lomba itu memang. Yudistira melepaskan ruhnya dari sangkar tubuh seperti melepaskan burung. Nilacandra dengan sigap menangkapnya, entah dengan apa. Giliran Nilacandra yang menguasai Aji Pegat itu, melepaskan burung ruhnya dari sangkar tubuh, bersembunyi di sudut paling rahasia dan sama sekali tidak terlihat kecuali oleh Shiwa. Akhirnya Yudistira mampu menangkapnya berkat bantuan Shiwa. Nilacandra tidak jadi mati, padahal sudah bisa mati.

Ada banyak lagi cerita tentang mati, beserta aturan-aturannya. Untuk bisa mati dengan tenang, sebelumnya harus mempersiapkan kematian. Contoh menyiapkan mati dengan tenang, adalah dengan berlomba-lomba ngayah. Jika tidak pernah ngayah, maka kematian menjadi terancam tidak tenang.

Yama Purwa Tattwa bisa menjadi rujukan dalam melihat aturan kematian. Di dalamnya termuat jenis-jenis kematian beserta cara-caranya setelah kematian. Ada mati yang baik dan ada pula mati yang buruk. Mati yang buruk disebutnya mati yang salah, atau mati karena ulah. Jenis-jenis itu kemudian ditiadakan oleh para pengampu kebijakan karena entah apa. Mungkin karena kemanusiaan. Tidak baik memang sudah mati tertimpa tangga.

Bagi yang ingin mati dengan tenang, saya sarankan untuk pintar-pintar membayangkan. Terutama bagi para ikan yang tidak ingin menyeberang. Jadi untuk para ikan, bayangkanlah bunga teratai yang bunganya sedang kuncup. Bunga yang kuncup itu mirip dengan aksara yang sangat terkenal di kalangan pengenalnya. Aksara itu bernama Ulu Candra. Aksara itu biasanya berada di atas aksara Okara yang sering ditulis oleh banyak insan. Bunganya yang kuncup adalah Nada, bulir air yang menempel adalah windu yang bulat itu. Arda candranya adalah daunnya yang terlihat melengkung. Okara adalah akarnya yang jauh tertanam di dalam lumpur.

Itulah salah satu praktik spiritual yang dahsyat hasilnya. Tetapi apakah praktik spiritual hanyalah sebentuk pelarian dari kebosanan? Saya hanya bertanya, jawabannya terserah anda. Tidak maulah saya, jika kemudian dituntut menistakan agama. Takut. Tetapi satu yang bisa saya katakan sebagai Cangak bagi para ikan: Jangan mati sembarangan!

Tags: dongengfilsafatkemanusiaanrenungan
Share79TweetSendShareSend
Previous Post

Berkreasi di Kepulauan – Dari “Bali Architecture Week 2019: Popo Danes And Friends”

Next Post

Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co