14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aturan Mati: Jangan Mati Sembarangan

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 12, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Jangan kira segala urusan selesai jika napas lenyap dari tubuh. Jelas itu tidak mungkin terjadi. Setelahnya akan ada urusan administrasi yang musti diselesaikan, baik yang dapat dilihat dengan mata terbuka, atau tertutup.

Urusan yang bisa dilihat dengan mata terbuka seperti misalnya tentang bagaimana tubuh akan diperlakukan kemudian, apakah dibakar, dikubur, dicincang, atau dibagaimanakan. Yang mengurus semua itu, tentu mereka yang masih hidup. Belum pernah saya melihat atau mendengar ada yang mengubur mayatnya sendiri. Tapi kalau mendengar cerita tentang ada yang membakar mayatnya sendiri, pernah. Itu dalam sebuah kakawin.

Ada juga urusan yang tidak dapat dilihat hanya dengan mengandalkan mata terbuka, misalnya tentang perjalanan ruh, itu jelas sangat personal. Ada banyak cerita yang bisa dipercaya tentang perjalanan ruh.  Cerita itu menyediakan jawaban, untuk pertanyaan-pertanyaan semacam; Kemanakah ruh itu pergi? Maaf, pertanyaan saya ulangi, kemanakah ruh itu kembali?

Kedua jenis pertanyaan tadi sangat mungkin ditanyakan kepada sembarang makhluk. Jawabannya pun akan beraneka ragam. Ada yang menjawab begini, ada yang menjawab begitu. Begini dan begitunya jawaban, tergantung pada apa yang diyakini oleh pemberi jawaban. Karena sudah menjadi keyakinan, maka sulitlah untuk menolak jika diberikan sudut pandang berbeda dari yang diyakininya.

Contoh keyakinan yang sulit ditentang adalah tentang Tuhan. Bagi yang terlanjur meyakini bahwa Tuhan itu Maha Segala-gala-gala-galanya, akan sulit melepaskan keyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada. Bagi yang terlanjur meyakini, dia bisa saja pura-pura tidak yakin. Caranya adalah dengan memberikan kritik ini dan itu kepada yang dianggapnya berke-Tuhan-an. Upacara itu begini, upacara ini begitu. Kebenaran seolah menjadi miliknya sendiri di dunia antah berantah ini. Konon Tuhan sudah ia matikan!

Jika Tuhan sudah mati, apa yang bisa ia yakini? Menghilangkan satu keyakinan, akan menumbuhkan keyakinan yang lain. Jika Tuhan yang Segala Maha itu sudah tiada, lalu dicari-carilah jawaban atas segala penyebab. Contohnya adalah penyebab tubuh bisa hidup. Menurut teori-teori tentang tubuh, ia bisa hidup karena di dalamnya berisi kehidupan yang disebutnya sebagai atma. Atma itulah Tuhan! Demikian katanya besar-besar pada alat pembesar suara sehingga mengejutkan para pendengar yang sebetulnya sudah terkejut saat Tuhan dimatikan.

Lalu untuk apa tubuh ini dihidupkan? Tenang, teka-teki semacam itu sudah tersedia jawabannya. Jawabannya adalah untuk berkarma. Berkarma artinya berbuat sesuatu, baik dengan pikiran, perkataan maupun tingkah laku. Ketiganya diikat oleh benang yang kasat mata. Benang itulah karma. Karma itulah kerja. Ada satu ungkapan dalam salah satu kitab termasyur, bahwa bekerjalah dalam tidak bekerja!

Adakah suatu akibat nantinya sebagai hasil kerja itu? Tentu saja ada. Akibatnya adalah hasil dari kerja atau hasil dari karma. Dalam bahasa pergaulan di tingkat tertentu, disebut karma phala. Karma ternyata sudah punya pasangan setia bernama phala. Begitu juga phala, punya pasangan yang tidak kalah setianya bernama karma. Tidak ada sesuatu hal pun yang bisa memisahkannya.

Sampai pada penjelasan itu, adakah yang belum jelas? Semoga saja tidak ada. Karena penjelasan selanjutnya lebih penting lagi dari penjelasan tadi. Penjelasan lanjutan ini hanya akan diberikan kepada mereka yang sudah expert. Saya ingin menjelaskan, bahwa hasil dari karma itu akan mempengaruhi kehidupan setelah kematian. Bagi mereka yang meyakini, setelah kehidupan ini mati, akan ada kehidupan lain yang hidup. Saat itu terjadi, segala hal yang telah terjadi kini, akan dilupakan mendatang. Umumnya begitu, meski pada suatu kasus tertentu ada saja yang bisa mengingat kehidupannya yang terdahulu.

Bagi yang lahir kembali, itu berarti masih ada sisa-sisa perbuatan yang harus ia nikmati di kehidupan selanjutnya. Semacam ada janji yang belum usai. Tapi entah karena apa, kebanyakan yang lahir kembali, lupa pada janjinya. Atau bahkan, tidak tahu apa janjinya di kehidupan terdahulu.

Jika benar demikian, akankah semuanya berpusing-pusing saja seperti bumi? Tidak! Itulah jawaban tegas menurut sumbernya. Keyakinan memberikan petunjuk bahwa lingkaran hidup-mati-hidup-mati bisa diputuskan. Caranya bukan dengan mengirimkan SMS, WA, nelfon, voice call, video call, messenger, kalau “kita putus”. Bukan juga dengan cara menghilang tiba-tiba saat lagi sayang-sayangnya.

Tidak sesederhana itu. Ada proses yang harus dilewati bagi mereka yang sudah bosan mengikuti lingkaran. Prosesnya adalah…, sebaiknya tidak saya jelaskan disini. Takut ada yang mendengar, sebab itu jalan sunyi yang rahasia. Jika ingin mengetahui, sebaiknya ikuti saya menyeberang dari wilayah ini. Terus terang, sudah tidak kondusif lagi ini wilayah. Tetapi saya bisa menceritakan bagaimana aturan kematian itu. Jangan kecewa.

Karena belum pernah mati, jadi kita bisa belajar tentang itu pada cerita-cerita yang diwariskan dari zaman kakek moyang sampai sekarang.Di dalam cerita, ada yang mati karena dibunuh. Pembunuhan itu dilakukan pada saat perang. Dalam banyak cerita, yang dibunuh adalah raksasa. Raksasa selalu menjadi korban pembunuhan. Dalam cerita epic yang lain, sudut pandang menjadi berbeda. Semisal dalam cerita Mahabharata, di dalamnya terdapat cerita manusia membunuh manusia lainnya atas nama perang. Korbannya bukan raksasa, tapi manusia.

.

Serial Cangak Sebelumnya:

Swastyastu, Nama Saya Cangak

Pemimpin dan Pandita

.

Ada juga yang mati karena tipu muslihat. Menurut cerita, dua tokoh sakti mandra guna yaitu Raja Singa dan Raja Kerbau, sama-sama mati karena dihasut oleh prajuritnya sendiri. Yang dipercayai menjadi prajurit adalah kawanan anjing. Kepada Raja Singa, kawanan anjing berkata ini dan itu. Kepada Raja Kerbau, kawanan anjing berkata itu dan ini. Keduanya diberikan informasi palsu. Hoax. Hasilnya kedua Raja yang gagah perkasa itu berperang, sampai akhirnya keduanya mati. Kawanan anjing yang sudah lama kelaparan, merajalela dan memakan bangkai kedua Rajanya. Siapa bilang hoax itu hanya masa kini?

Ada lagi korban hoax yang lain. Namanya Kakua. Si Kakua adalah binatang yang cerdas. Karena kecerdasannya ia dipilih menjadi Panglima di suatu provinsi pada negara Telaga. Entah karena apa, tiba-tiba negara telaga itu mengering. Si Kakua bingung harus bagaimana. Tapi begitulah cerita, konon ada dua angsa yang ingin membantu menerbangkannya. Diambilkannya sepotong kayu, kedua angsa memegang masing-masing ujung dengan paruhnya. Sedangkan Si Kakua disuruhnya untuk menggigit bagian tengah kayu. Syaratnya hanya satu, Kakua tidak boleh bicara.

Di tengah perjalanan, kawanan anjing melihat Kakua dan kedua angsa itu terbang. Perut anjing mereka yang kelaparan, memberikan ide cemerlang. PENGHASUTAN. Dibangunlah opini publik, bahwa angsa sedang menerbangkan kotoran sapi. Kakua dan angsa-angsa mendengarnya. Mereka tahu sedang dihasut.

Tapi segala kepintaran, kecerdasan yang dimiliki Kakua hilang tiba-tiba. Sebabnya hanya, rasa tidak terima dan marah. Marah membuatnya lupa pada syarat lalu tanpa sadar membuka mulut dan sekaligus menghilangkan nyawanya karena jatuh dari tempat yang tinggi. Anjing-anjing tersenyum sinis, akhirnya perut mereka yang lapar bisa terpuaskan. Sayangnya, yang namanya perut tidak pernah kenyang dalam waktu lama. Perut anjing mereka selalu menagih korban lainnya.

Beberapa cerita tadi menunjukkan ada banyak cara mati. Bukannya tidak ada kematian yang tenang. Cerita tentang mati yang tenang tidak kalah serunya dengan cerita kematian tadi. Dharma Putra [bukan saya], kakak tertua Pandawa, mati dengan tenang. Atau bahkan tidak jelas apakah dia mati atau tidak. Setelah mengalahkan seratus Korawa, bersama istri dan adik-adiknya, Dharma Putra menaiki gunung untuk mati. Mereka juga diikuti oleh seekor anjing hitam.

Di akhir cerita, Dharma Putra dijemput untuk masuk ke surga dengan syarat meninggalkan anjing hitamnya. Dharma Putra tidak setuju, maka ia lebih memilih untuk diam dan tidak masuk surga kecuali anjingnya ikut. Saat itulah anjing itu berubah menjadi ayahnya, Dewa Dharma. Dharma Putra berarti putra dari Dharma. Karena Dewa Dharma menyamar menjadi anjing, bukan berarti Dewa Dharma sama dengan anjing, dan putranya adalah anak anjing. Itu jelas kasus yang berbeda.

Ada lagi cerita lainnya. Yudistira melawan Nilacandra dalam suatu lomba yang prestisius, menangkap ruh [ngejuk atma]. Bukan main lomba itu memang. Yudistira melepaskan ruhnya dari sangkar tubuh seperti melepaskan burung. Nilacandra dengan sigap menangkapnya, entah dengan apa. Giliran Nilacandra yang menguasai Aji Pegat itu, melepaskan burung ruhnya dari sangkar tubuh, bersembunyi di sudut paling rahasia dan sama sekali tidak terlihat kecuali oleh Shiwa. Akhirnya Yudistira mampu menangkapnya berkat bantuan Shiwa. Nilacandra tidak jadi mati, padahal sudah bisa mati.

Ada banyak lagi cerita tentang mati, beserta aturan-aturannya. Untuk bisa mati dengan tenang, sebelumnya harus mempersiapkan kematian. Contoh menyiapkan mati dengan tenang, adalah dengan berlomba-lomba ngayah. Jika tidak pernah ngayah, maka kematian menjadi terancam tidak tenang.

Yama Purwa Tattwa bisa menjadi rujukan dalam melihat aturan kematian. Di dalamnya termuat jenis-jenis kematian beserta cara-caranya setelah kematian. Ada mati yang baik dan ada pula mati yang buruk. Mati yang buruk disebutnya mati yang salah, atau mati karena ulah. Jenis-jenis itu kemudian ditiadakan oleh para pengampu kebijakan karena entah apa. Mungkin karena kemanusiaan. Tidak baik memang sudah mati tertimpa tangga.

Bagi yang ingin mati dengan tenang, saya sarankan untuk pintar-pintar membayangkan. Terutama bagi para ikan yang tidak ingin menyeberang. Jadi untuk para ikan, bayangkanlah bunga teratai yang bunganya sedang kuncup. Bunga yang kuncup itu mirip dengan aksara yang sangat terkenal di kalangan pengenalnya. Aksara itu bernama Ulu Candra. Aksara itu biasanya berada di atas aksara Okara yang sering ditulis oleh banyak insan. Bunganya yang kuncup adalah Nada, bulir air yang menempel adalah windu yang bulat itu. Arda candranya adalah daunnya yang terlihat melengkung. Okara adalah akarnya yang jauh tertanam di dalam lumpur.

Itulah salah satu praktik spiritual yang dahsyat hasilnya. Tetapi apakah praktik spiritual hanyalah sebentuk pelarian dari kebosanan? Saya hanya bertanya, jawabannya terserah anda. Tidak maulah saya, jika kemudian dituntut menistakan agama. Takut. Tetapi satu yang bisa saya katakan sebagai Cangak bagi para ikan: Jangan mati sembarangan!

Tags: dongengfilsafatkemanusiaanrenungan
Share79TweetSendShareSend
Previous Post

Berkreasi di Kepulauan – Dari “Bali Architecture Week 2019: Popo Danes And Friends”

Next Post

Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

Sarapan Yuk, Biar Kuat Bila Di-bully Nitizen yang Maha Benar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co