24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lama-lama, Dompet Kita Tebal Bukan Karena Uang, tapi Gara-gara Kartu

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
November 26, 2018
in Esai
Lama-lama, Dompet Kita Tebal Bukan Karena Uang, tapi Gara-gara Kartu

Ilustrasi diolah dari Google

BANYAK yang bilang, kaya dan tidaknya seseorang itu bisa dilihat dari isi dompet. Tebal atau tidaknya dompet yang kita miliki dapat menentukan persepsi masyarakat tentang strata ekonomi. Jadi, untuk mengakali biar berkesan kaya tinggal isi aja tuh dompet dengan kartu yang bermacam-macam, kan tebal tuh jadinya.

Dahulu, ketika saya kecil, ketika saya sering meminta uang saku sekolah (sebenarnya sekarang sih masih tetap minta), ayah atau ibu biasanya mengeluarkan uang lembaran dari dompet mereka berdua lalu memberikannya pada saya.

Lambat laun jadi kepengen punya dompet sendiri meski isinya tetap minta sama orang tua tapi ya yang namanya pengen gaya-gayaan, pengen niru-niru orang dewasa gitu, jadi akhirnya dibelikan dompet juga sama bapak. Ketika itu, dompet yang saya punya bisa dikatakan dompet jadul, ya maklum lah, kan masih tahun 2000-an. Iya, itu lho dompet yang masih ada perekatnya mirip di sepatu-sepatu anak yang kalo dibuka akan berbunyi “kreeek ….” Makanya banyak yang menyebut dompet itu dengan nama dompet kreeek-an (huruf  e-nya tiga kali ya).

Katanya sih dompet norak. Sebab setiap kali buka dompet selalu keluar bunyi yang lumayan bisa didengar beberapa telinga dan menurut orang sekarang kalau masih bawa dompet gituan mesti dikatai norak.

Dipikir-pikir iya juga sih. Misal ketika pergi ke mall dan mau bayar barang lalu kita mengeluarkan dompet yang begituan kemudian dibuka, dan keluar suara “kreeek” sontak semua mata bakal tertuju pada kita kayak di film-film Korea. Beberapa ada yang berbisik, “Ih, masih jaman dompet gituan?” Ya, zaman memang berubah, padahal dompet yang begituan kata bapak sih dulu sudah bagus daripada pake dompet kecil reslitingan yang biasa dibawa ibu-ibu ke pasar. Iya, itu lho dompet emas yang dialihfungsikan jadi dompet uang. Hehe, bukan maksud meledek ibu-ibu lho ya.

Sekarang dompet yang ngetren adalah dompet yang sudah gak pake kreeek-an, gak pake perekat. Tinggal lipat, buka, udah gak usah pake acara bunyi-bunyian. Kata orang dengan begitu kita bisa “keep cool” alias gak usah rame-rame kalau mau keluarin duit.

Kan kata orang semakin keren dan gaul seseorang maka semakin gak berbunyi tuh barang-barangnya. Mobil makin bagus mana ada yang makin nyaring. Sepatu makin bagus makin gak bunyi tuh kalo menghantam tanah. Dan semakin ndeso label yang didapatkan orang, semakin nyaring pula apa-apa yang digunakannya. Sepeda motor dinyaringin biar orang satu kampung kedengeran, nikahan kalo gak pake sound gede dan lagu dangdut yang jedem-jedem rasanya masih kurang. Ya begitulah stigmatisisasi dalam kehidupan kita.

Tapi masalah yang sebenarnya bukan itu. Itukan cuma perihal selera gaya dan kata orang-orang. Sekarang nih gak usah lihat model dompetnya kayak apa, apakah pake dompet “keep cool” yang gak bunyi atau dompet “kreee-kan” yang katanya norak itu. Masalahnya, tuh dompet berisi atau tidak, nah itu pashiongaya yang musti ditingkatkan. Percuma dompet harganya dua ratus ribu tapi isinya malah dak lebih dari 5 persen harga tuh dompet. Percuma baju apik-apik, sandal mapan, tapi otak kayak sampan tenggelam. Ya begitulah kira-kira saudara.

Lambat laun, semakin dewasa kita semakin terikat pula kita dengan dompet. Artinya, keperluan ekonomi akan sangat meningkat seiring bertambahnya usia, nah di situlah peran dompet mulai terlihat bukan sekedar untuk gaya-gayaan.

Semakin dewasa, semakin bermacam-macam pula isi dompet yang kita punya. Dulu ketika kecil mungkin isinya mentok sisa uang saku yang buat ditabung sama mungkin foto-foto entah foto sendiri, foto ibuk, atau juga ayah. Sekarang, tuh dompet gak karuan apa isinya. Semua yang kira-kira seukuran dengan kantong dompet masuk berdesakan. Mulai dari kartu, slip pembayaran, foto, jimat juga mungkin, sampai yang terakhir uang. Kenapa uang disebutin terakhir? Sebab sekarang isi dompet yang dominan bukan uang, tapi kartu.

Gimana? Setuju saudara-saudara? Ya setuju lah. Kan uangnya udah masuk kartu ATM bro. Kalo perlu apa-apa tinggal gesek, selesai deh. Eaa, gak usah banyak alesan deh. Bilang aja biar kelihatan tebal diisi banyak katu ATM mulai dari BRI, BTN, BCA, dan semua ATM bank-bank lain meski sebenarnya gak ada saldonya.

Ya begitulah teman-teman, semakin hari semakin canggih teknologi kita, semakin menyusut pula benda-benda di dunia ini. Komputer dulu besar sekali bahkan sampai seukuran rumah sekarang cukup di genggaman tangan saja. Dulu celengan dan brangkas ukurannya besar, sekarang cukup dengan selembar kartu, iya betul, ATM. Dan seterusnya berlalu. Bahkan baju-baju model sekarang juga ikutan mengecil tuh, makin singset, makin keliatan semua tubuhnya meski sudah pake baju. Dan seterusnya sampe gak pake baju. Eh, eh, sorry kecepolosan.

Tapi akhir-akhir ini, semakin saya merasa dewasa, semakin sering saya mengamati isi dompet saya. Bukan karena gak ada uangnya, bukan. Kalau itu kan persoalan semua orang. Tapi dari tahun ke tahun rasanya penghuni tetap dompet tuh terus saja bertambah. Kalau uang kan penghuni sementara yang hanya singgah beberapa hari di hatiku … Hehe.

Sampai saya membayangkan betapa nanti dompet kita tebal bukan karena uang, tapi karena kebanyakan kartu. Mulai dari KTP, ATM, SIM (SIM A, B, dan seterusnya lengkap), kartu mahasiswa, kartu organisasi, dan semacamnya. Seiring berlanjut usia, bukan tidak mungkin kita akan jadi anggota di banyak organisasi yang mengharuskan adanya kartu. Lah, nambah lagi tuh penghuni dompet. Eh, Belakangan ini malah ada kebijakan yang mungkin bakal menambah penghuni dompet kita ternyata, eits bukan uang tapi ya.

Mentri Agama belakagan ini mengumumkan bahwa sedang berencana mengubah tanda bukti pernikahan yang asalnya buku menjadi kartu. Banyak tuh beritanya di media-media, bisa kamu searching di Google. Atas dasar efisiensi dan kemudahan membawa, maka bukti nikah dipandang perlu untuk dijadikan sekecil mungkin. Jadi gak perlu bawa buku nikah ke mana-mana. Cukup bawa kartu saja.

Prinsipnya bisa dikatakan mirip ATM. Cuman kalau ATM isinya uang, tapi kalo kartu nikah ini hanya sekedar bukti resmi bin sah bahwa kita sudah menikah.

Gimana? Kan bakal ketambahan teman tuh KTP, ATM, SIM, dan sebagainya di dompet.

Dompet dapat diibaratkan lumbung atau persediaan. Di dalam dompet ada persediaan hidup kita meski tidak musti pangan atau sandang. Di sana ada uang meski sekarang sudah berbentuk ATM. Selain itu ada kartu-kartu identitas.

ATM bisa kita anggap sebagai lumbung uang dan kebutuhan ekonomi kita, sementara kartu-kartu lain yang ada di dompet adalah lumbung dan persediaan identitas kita. Dengan kartu itu orang-orang bisa mengetahui identitas resmi kita sebagai penduduk negara mana dan anggota organisasi mana.

Terlepas dari efektifitas dan persoalan yang akan timbul bila bukti nikah diganti kartu (bisa saja mudah hilang atau malah akan terjadi skandal mirip penggelapan identitas layaknya kasus KTP), namun yang bisa saya katakan sekarang adalah betapa fungsi dompet kita sudah beralih fungsi. Yang dulunya digunakan sebagai tempat menyimpanan uang atau sebagai lumbung ekonomi kita, sekarang mungkin bisa dikatakan lebih dominan sebagai tempat atau lumbung identitas kita dengan lebih banyaknya kartu daripada uang dalam dompet tersebut.

Jadi sekarang dompet tuh buat menyimpan kartu-kartu, sementara untuk uang mungkin hanya dalam durasi beberapa hari saja. Atau bisa jadi kelak manusia akan punya dompet dua, satu untuk menumpuk kartu, dan satu lagi untuk tempat uang, itupun kalau ada uangnya, hiks.

So, kalau mau beli dompet sekarang jangan cari yang kantong uangnya lebih banyak atau lebih besar, tapi cari dompet yang kantong kartunya lebih banyak, kan fungsi dompet sudah bukan tempat uang lagi. Dan mungkin bisa saja akan muncul banyak lagi kebijakan pemerintah yang mengharuskan kita membawa kartu ke mana-mana. Kan sudah ada kartu Indonesia sehat, kartu Indonesia pintar, bahkan ada pula wacana kartu Indonesia jomblo. Hehe. (T)

Tags: dompetgaya hidupuang
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Teka-Teki dari Jepang – Catatan Ikut Workshop Butoh di Yogya

Next Post

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co