CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan Hotel Tugu Bali, Canggu, Rabu (28/10/2026) malam. Pukul 19.00 WITA, makan malam bertajuk The Nusantara Spice Odyssey menghadirkan perpaduan kuliner Nusantara, rempah-rempah, dan pertunjukan tari tradisional.
Acara yang diselenggarakan oleh Hotel Tugu Bali di kawasan Jalan Raya Batu Bolong tersebut berlangsung dalam suasana hangat. Para tamu datang dan menuju meja makan, mengawali malam yang tidak hanya berpusat pada sajian makanan, tetapi juga menghadirkan unsur seni dan budaya.
Rangkaian acara diawali dengan sembahyang. Setelah itu, para tamu menuju meja makan dan acara dibuka dengan pertunjukan tari Nusantara. Tarian tradisional menjadi bagian dari rangkaian malam tersebut, mengiringi pengalaman bersantap yang mengangkat kekayaan kuliner Indonesia.
Melalui tema The Nusantara Spice Odyssey, rempah-rempah dan sajian Nusantara menjadi bagian utama pengalaman makan malam. Hidangan disajikan secara bertahap, mulai dari makanan pembuka, hidangan utama, pelengkap, hingga makanan penutup. Berbagai bahan dan cita rasa dari sejumlah daerah di Indonesia hadir dalam susunan menu yang disiapkan untuk para tamu.
Rempah Nusantara dan Jejak Sejarah Perdagangan
Rempah-rempah yang menjadi bagian dari kuliner Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perdagangan dunia. Kepulauan Banda dan wilayah Maluku Utara dikenal sebagai daerah penghasil pala, fuli, dan cengkih yang sejak berabad-abad lalu menarik perhatian pedagang dari berbagai kawasan. Sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, rempah Nusantara telah diperdagangkan melalui jalur laut oleh para pelaut dan pedagang Asia.

Perdagangan tersebut menghubungkan kepulauan Indonesia dengan India, Tiongkok, Timur Tengah, hingga Eropa. Jalur perdagangan rempah turut menempatkan Nusantara dalam jaringan pertukaran barang dan kebudayaan lintas wilayah. Pada masa kolonial, Batavia—yang kini dikenal sebagai Jakarta—berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan VOC setelah perusahaan dagang Belanda itu mendirikan pusat kekuasaannya di sana pada 1619.
Perdagangan rempah menjadi salah satu bagian penting dari sejarah hubungan Nusantara dengan dunia. Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa rempah bukan sekadar bahan yang memberikan rasa dan aroma pada makanan. Rempah juga menyimpan kisah perjalanan antarpulau, pertemuan berbagai kebudayaan, dan perubahan sejarah yang memengaruhi kehidupan masyarakat di kepulauan Indonesia.
Dalam konteks itu, kuliner dapat menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kembali warisan rempah kepada masyarakat masa kini. Melalui The Nusantara Spice Odyssey, kekayaan bahan dan cita rasa Nusantara dihadirkan dalam pengalaman bersantap yang dipadukan dengan pertunjukan budaya tradisional.
Dari Tempe hingga Rendang Wagyu
Rangkaian makan malam dimulai dengan tiga hidangan pembuka, yaitu Tempeh Jawa Parfait on Black Rice Crisp, Tuna Dabu Manado Tartlet, dan Rujak Pesisir.
Tempeh Jawa Parfait on Black Rice Crisp merupakan mousse tempe asap dengan daun jeruk yang disajikan di atas kerupuk beras hitam. Sementara itu, Tuna Dabu Manado Tartlet memadukan tuna dengan kemangi dalam kulit tartlet, disertai sambal bercita rasa segar khas Manado.
Hidangan pembuka lainnya, Rujak Pesisir, memadukan mangga hijau, bengkuang, jambu air, dan kecombrang yang diasamkan dengan saus kelapa dan jeruk nipis. Perpaduan bahan tersebut menghadirkan karakter rasa segar sebelum para tamu menikmati hidangan utama.
Pada bagian hidangan utama, tersedia Butterflied Blue Pea Coconut Rice, nasi kelapa yang diberi warna dari bunga telang. Ada pula Truffle-Infused Nasi Gurih, nasi kelapa dengan aroma asap serai dan sentuhan truffle.
Pilihan lauknya meliputi Minang Wagyu Rendang, yakni pipi sapi wagyu yang dimasak perlahan dengan rempah-rempah Minang, serta Cumi Woku Isi Tahu, cumi goreng renyah berisi tahu yang disajikan dengan saus tomat bergaya Manado, herba segar, dan kemangi lemon.
Menu lainnya adalah Vegetarian Gudeg, berupa nangka muda yang diolah dengan krim kelapa asap dan kluwek soil. Ada pula Truffle Corn Fritters, bakwan jagung manis dengan serutan truffle serta aioli cabai dan jeruk nipis.
Rangkaian hidangan tersebut dilengkapi Kerupuk Uli (Rice Crackers) dan Sambal Andaliman. Kerupuk uli menghadirkan tekstur renyah, sedangkan sambal andaliman menawarkan cita rasa khas dengan sentuhan segar dari rempah andaliman.
Sajian yang dihidangkan malam itu menghadirkan perpaduan cita rasa gurih dan tekstur renyah. Pengalaman bersantap semakin menarik dengan hadirnya minuman berbahan kecombrang dan jambu air yang memberikan perpaduan rasa khas.
Sebagai penutup rangkaian santap malam, para tamu menikmati Banana Cigar with Vanilla Smoke, berupa gulungan pisang renyah dengan aroma asap vanila, serta Coconut Panna Cotta with Herb-Infused Jelly, panna cotta kelapa dengan jeli buah musiman yang diberi sentuhan herba.

Susunan menu mempertemukan beragam bahan dan inspirasi kuliner Indonesia, mulai dari tempe, bunga telang, rempah Minang, woku khas Manado, hingga gudeg. Bahan-bahan tersebut diolah dengan pendekatan penyajian yang berbeda, tanpa menghilangkan nama dan inspirasi kuliner yang menjadi acuannya.
Tarian Tradisional dan Keramahan Pelayanan
Selain makanan, pertunjukan tari tradisional menjadi bagian penting dalam rangkaian acara. Kehadiran tarian menghadirkan unsur seni dan tradisi di tengah pengalaman bersantap, sehingga malam itu tidak hanya berpusat pada hidangan yang tersaji di meja.
Perpaduan kuliner dan pertunjukan budaya tersebut memberi ruang bagi para tamu untuk menikmati dua unsur kekayaan Nusantara dalam satu acara. Di satu sisi, mereka menikmati hidangan dengan beragam bahan dan rempah. Di sisi lain, mereka menyaksikan pertunjukan yang menghadirkan seni tradisional.
Sepanjang acara, para staf hotel terlihat melayani tamu dengan ramah. Pelayanan berlangsung di tengah rangkaian penyajian makanan dan pertunjukan yang berjalan lancar.
Salah seorang tamu, Kaiya Puvor, memberikan tanggapan positif terhadap sajian malam itu. Ia menilai menu yang disajikan “oke dan enak”.
Tanggapan tersebut menjadi salah satu gambaran penerimaan tamu terhadap hidangan yang disuguhkan. Meski singkat, pernyataan itu menunjukkan bahwa cita rasa makanan menjadi bagian dari pengalaman yang mendapat perhatian pada malam tersebut.
Rangkaian makan malam berlangsung dengan penyambutan tamu, pertunjukan tari, penyajian kuliner, dan pelayanan di meja makan. Suasana yang diterangi lilin, hiasan bunga, serta aneka hidangan Nusantara membentuk pengalaman bersantap yang berbeda dari makan malam biasa.

Melalui The Nusantara Spice Odyssey, Hotel Tugu Bali menghadirkan kuliner sebagai salah satu cara untuk mengenalkan kembali kekayaan bahan, rempah, dan tradisi Indonesia. Sejarah jalur rempah memperlihatkan bahwa bahan-bahan yang kini hadir di meja makan memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan masyarakat dan perdagangan dunia.
Di antara hidangan yang disajikan dan tarian yang dipertunjukkan, rempah-rempah menjadi penghubung antara cita rasa, sejarah, dan kebudayaan Indonesia. Makan malam tersebut menjadi salah satu ruang untuk menikmati kembali kekayaan Nusantara melalui pengalaman kuliner dan seni tradisional. [T]
Reporter/Penulis: Ayu Kahuatu Tamar
Editor: Nyoman Budarsana
- Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co































