Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud, Bali. Pameran desain internasional ini menghadirkan 46 karya dari 52 desainer yang berasal dari lima negara, yakni Indonesia, India, Malaysia, Thailand, dan Jepang. B-GIDME 2026 merupakan bagian dari rangkaian Bali-Global Art and Design (B-GAAD) III 2026 yang diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.
Mengusung tema “Soulful Space on Design Innovation Now”, B-GIDME 2026 mengajak publik melihat desain tidak hanya sebagai persoalan bentuk dan fungsi, tetapi juga sebagai praktik kreatif yang menghubungkan manusia, ruang, budaya, teknologi, dan lingkungan. Pameran ini mencakup beragam disiplin, mulai dari arsitektur, desain interior, desain grafis dan ilustrasi, fashion dan tekstil, desain produk dan instalasi, hingga perhiasan.
Di bidang arsitektur, karya Ar. I Putu Swantara “klick” Putra dan Ar. Ni Putu Diana Surya dari Archimetriz Architect, yang berkolaborasi dengan Ciko Living dan Best Digital Lab, serta karya I Nyoman Miyoga, Adrian Christian Worek, I Nyoman Gede Angga Sumantri, DDAP Architect, Gede Kresna, dan I Kadek Sosiawan, memperlihatkan beragam pendekatan terhadap arsitektur tropis, lingkungan, budaya, dan teknologi.

Sementara itu, bidang desain interior menghadirkan CushCush Gallery–Jindee Chua, Putu Ari Darmastuti, dan Ida Ayu Ketut Andriyogi Pradnyaswari. Karya-karya mereka mengeksplorasi hubungan antara ruang, pengalaman manusia, kesadaran ekologis, serta pengembangan gagasan melalui material, media, dan teknologi.
Bidang desain grafis dan ilustrasi menampilkan karya Dewa Gede Raka Jana Nuraga, I Wayan Sanjaya Adi Putra, Bayu Segara, Benjamas Nuunoi, Kullaya Wannaphueak, Chonkan Sukkasem, Primrata Wongreerakon, Pattanan Puasopit, Wasinee Mudfak, dan Namthip Sangworakarn. Melalui ilustrasi, desain kemasan, seni cetak, dan reinterpretasi motif tradisional, karya-karya tersebut mempertemukan identitas budaya dengan ekspresi visual kontemporer.
Pada bidang fashion dan tekstil, pameran ini menghadirkan Tjokorda Gde Abinanda S., I Gusti Ngurah Krisna Adi, A. A. Ngr. Anom Mayun K.T., Tjok Istri Ratna C.S., Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi bersama Ni Kadek Yuni Diantar, Ni Putu Darmara Pradnya Paramita, Dewa Ayu Putu Leliana Sari, Kattayani Muni, Putu Dyah Pradnya Candriasih bersama Ni Luh Ayu Pradnyani Utami, Ida Ayu Ari Mahadewi, Made Tiartini Mudarahayu, Ni Luh Desi In Diana Sari bersama Ni Made Santi Udiyani, Pertenunan Setia Cap Cili, Shigemi Sakakibara, dan Nanthiya Donkerd. Karya-karya mereka memperlihatkan pertemuan antara warisan tekstil, eksplorasi material, keterampilan tradisional, dan inovasi desain.
Adapun bidang desain produk dan instalasi menghadirkan I Kadek Dwi Armika, I Wayan Balika Ika bersama Made Gana dan Hartadi, Dewi Estede, Ni Luh Putu Novie Christanti Adriani, I Komang Adiartha, Sorrakrai Ruangrung, I Gede Eka Yasa Utama Wibawa, dan Gede Pasek Putra Adnyana Yasa. Karya yang ditampilkan mencakup instalasi, furnitur, ornamen, art toys, hingga animasi digital. Di bidang perhiasan, Runi Palar dan Kadek Ari Wilatini Dyah turut menghadirkan karya yang mengeksplorasi hubungan antara keterampilan, estetika, serta nilai personal dan budaya.

Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, mengatakan, “B-GIDME menjadi ruang pertemuan bagi gagasan dan praktik desain dari berbagai latar budaya. Kami ingin menunjukkan bahwa kreativitas yang berakar pada identitas lokal memiliki potensi untuk berdialog secara setara dengan perkembangan desain global. Melalui pertemuan ini, kami berharap lahir perspektif dan kolaborasi baru yang memperkaya ekosistem desain, khususnya bagi para desainer dan akademisi di Bali.”
B-GIDME dikuratori oleh Melati Danes bersama Anak Agung Gde Bagus Udayana dan Loyce L. Arthur. Ketiganya menghadirkan perspektif kuratorial yang mempertemukan beragam praktik desain dalam satu ruang pamer.
“Bagi kami, desain memiliki kekuatan untuk mempertemukan berbagai cara pandang terhadap ruang, material, budaya, dan kehidupan. B-GIDME tidak hanya menampilkan hasil akhir sebuah proses kreatif, tetapi juga membuka kesempatan bagi pengunjung untuk melihat bagaimana gagasan desain tumbuh dari konteks yang berbeda. Dari sana, dialog antara identitas lokal dan perspektif global dapat berkembang secara lebih terbuka,” ungkap Melati Danes.
Melalui keberagaman karya dan kolaborasi lintas disiplin, B-GIDME 2026 memperlihatkan bagaimana inovasi desain dapat berkembang melalui reinterpretasi tradisi, eksplorasi material, pemanfaatan teknologi, dan kepekaan terhadap lingkungan. Pameran ini menjadi ruang dialog antara kreativitas lokal dan perspektif global dalam merespons perkembangan desain kontemporer.
B-GIDME 2026 berlangsung di Neka Art Museum, Ubud, Bali, dan terbuka untuk publik hingga 30 November 2026. Pameran ini mengundang masyarakat, praktisi, akademisi, mahasiswa, serta pemerhati desain untuk menjelajahi beragam pendekatan kreatif dan menemukan perspektif baru mengenai perkembangan desain dalam konteks lokal maupun global.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto





























