“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.”
Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, ketika menjelaskan arah pengembangan pariwisata di desanya. Melalui pesan WhatsApp, ia menguraikan gagasan Panji Lestari—Dari Wanita Tani untuk Dunia, sebuah konsep yang menempatkan kehidupan masyarakat sebagai bagian penting dari pengalaman wisata.
Bagi Ariawan, desa wisata tidak cukup hanya menawarkan air terjun, sungai, persawahan, atau kawasan hutan. Wisatawan perlu mengenal orang-orang yang mengelola lingkungan tersebut, mencicipi makanan olahan warga, mempelajari kegiatan pertanian, hingga menyaksikan tradisi yang masih dijalankan masyarakat. “Kami tidak membangun vila, tapi bangun cerita,” tulisnya.
Gagasan itu menjadi dasar bagi Desa Panji untuk mengembangkan pariwisata tanpa meninggalkan mata pencaharian dan kehidupan sehari-hari warganya. Kebun tetap menjadi ruang produksi pangan, rumah warga dapat menerima tamu, hasil pertanian diolah menjadi produk bernilai tambah, sedangkan pengelolaan sampah diarahkan agar lingkungan tetap terjaga.
Desa Panji berada pada ketinggian sekitar 200–700 meter di atas permukaan laut dengan topografi nyegara gunung. Wilayahnya memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang ditumbuhi kopi, cengkeh, rambutan, serta mangga. Kawasan hutan dan sumber air juga membuka peluang pengembangan wisata alam dan edukasi.

Sejumlah destinasi telah menjadi bagian dari kegiatan wisata desa, antara lain Kayoan Temuku Paras, Pancoran Kedu, Virgin River, Ranggon Kedu, dan Rainbow Waterfall. Desa Panji juga memiliki kawasan Hutan Desa Wana Shanti yang menyimpan tiga air terjun, yakni Cemara, Dedari, dan Canging. Kawasan ini dikelola dengan melibatkan masyarakat melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Bhuana Utama.
Potensi alam tersebut tidak berdiri sendiri. Pertanian juga dapat menjadi pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan. Melalui sistem mina padi, misalnya, pengunjung dapat mengenal budidaya padi dan ikan nila dalam satu lahan. Kebun Organik Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi ruang untuk mempelajari tanaman pangan sekaligus melihat proses pertanian yang dijalankan warga.
Kekayaan budaya dan sejarah turut melengkapi potensi tersebut. Tradisi Megoak-goakan digelar setiap Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi. Permainan rakyat ini mengenang keberanian Pasukan Goak yang dipimpin Raja Ki Anglurah Panji Sakti. Ada pula Monumen Nasional Bhuana Kerta, yang berkaitan dengan ikrar perjuangan rakyat Bali Utara melawan kolonialisme pada 17 Januari 1948, serta sejumlah pura yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Tantangannya adalah menghubungkan seluruh potensi itu dengan kegiatan ekonomi warga. Pariwisata perlu memberi manfaat bukan hanya kepada pengelola destinasi, tetapi juga kepada petani, kelompok perempuan, pedagang, dan rumah tangga yang menyediakan berbagai kebutuhan wisatawan.
Keterlibatan Wanita Tani
Salah satu upaya pemberdayaan yang dikembangkan melalui konsep Panji Lestari adalah memperkuat peran perempuan dalam kegiatan ekonomi. Kelompok Wanita Tani (KWT) Panji mengolah hasil pertanian menjadi beragam produk, mulai dari olahan jahe merah dan sorgum, camilan Agas, minyak kelapa, virgin coconut oil (VCO), kopi, hingga jamu herbal.
Pengolahan tersebut membuka kesempatan bagi warga untuk memperoleh nilai tambah dari komoditas lokal. Hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah, dikemas, dan dipasarkan kepada konsumen. Produk KWT juga berpeluang menjadi buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke Panji.
Bagi pengembangan desa wisata, keberadaan kelompok pengolah produk lokal penting karena kebutuhan wisatawan dapat menjadi pasar bagi usaha masyarakat. Namun, peluang tersebut perlu ditunjang kualitas produk, kemasan, dan pemasaran yang terjaga agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
Keterlibatan perempuan juga diperluas melalui pengembangan homestay. Dalam konsep yang disampaikan Ariawan, rumah warga bukan sekadar tempat menginap, tetapi ruang bagi wisatawan untuk mengenal kehidupan masyarakat.

“Homestay itu bukan kontrakan, tapi harus digarap supaya tamu merasa tidur di rumah kedua,” tulis Ariawan.
Ia menyebut terdapat 15 homestay aktif binaan KWT. Melalui penginapan tersebut, wisatawan diharapkan dapat menikmati makanan lokal, berinteraksi dengan keluarga tuan rumah, dan mengikuti aktivitas keseharian warga, termasuk belajar menyiapkan makanan seperti lawar.
“Keterhubungan antara homestay, dapur warga, kebun, dan produk olahan dapat memperluas manfaat ekonomi pariwisata,” tutur Ariawan. “Pengelola penginapan membutuhkan bahan pangan, wisatawan memerlukan makanan, sedangkan kelompok perempuan memiliki produk yang dapat ditawarkan kepada pengunjung. Peluang usaha pun terbuka bagi warga yang tidak mengelola destinasi secara langsung,” sambungnya.
Rantai usaha itu memungkinkan manfaat pariwisata menjangkau lebih banyak rumah tangga. Pengelola penginapan membutuhkan bahan pangan, dapur memerlukan sayuran, sementara KWT dapat memasok produk olahan. Petani dan pedagang setempat pun berpeluang menjadi bagian dari kegiatan ekonomi tersebut.
Ariawan juga mendorong pengurangan sampah plastik melalui penggunaan botol minum isi ulang, pemanfaatan air dari sumber setempat, penggunaan besek bambu sebagai pengganti kemasan sekali pakai, serta penggunaan sayuran organik dari kebun KWT untuk kebutuhan dapur.
“Promosi bisa dari dapur, tidak melulu harus pakai baliho,” tulisnya.
Melalui makanan rumahan, suasana penginapan, dan kegiatan di kebun, warga dapat memperkenalkan pengalaman wisata melalui media sosial. Dengan demikian, promosi tidak selalu bergantung pada iklan destinasi, tetapi juga dapat dilakukan oleh warga yang menjalankan usaha dan menerima wisatawan.
Kontribusi Bank Sampah Galang Panji
Upaya pemberdayaan masyarakat Panji juga menyentuh persoalan sampah. Sebagai desa yang mengembangkan pariwisata, kebersihan lingkungan perlu dijaga melalui keterlibatan warga, bukan hanya mengandalkan petugas kebersihan atau pengelola destinasi.
Gading Ganesha, pendiri Bank Sampah Galang Panji, menjelaskan bahwa kegiatan bank sampah menghubungkan kebiasaan memilah sampah dengan manfaat ekonomi. Warga mengumpulkan sampah nonorganik, membawanya ke bank sampah, kemudian sampah ditimbang dan dijual kepada pengepul.
Manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan kebersihan. Menurut Ganesha, sebagian nasabah merupakan warga yang memiliki keterbatasan kesempatan untuk memperoleh penghasilan. Ia mencontohkan Kadek Alit dan Made Tari, dua perempuan berusia di atas 60 tahun yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena usia dan tidak memiliki keluarga yang dapat menjadi tumpuan utama.

Bagi keduanya, mengumpulkan sampah untuk ditabungkan di bank sampah menjadi salah satu cara mendapatkan pemasukan. Kegiatan tersebut memang tidak serta-merta menghasilkan pendapatan besar, tetapi memberi kesempatan bagi mereka untuk tetap aktif dan memperoleh manfaat ekonomi dari sesuatu yang tersedia di lingkungan sekitar.
Dalam operasionalnya, pengelola bank sampah memberikan edukasi, memilah, dan menimbang sampah yang diserahkan masyarakat. Pengelola memperoleh pendapatan dari selisih harga pembelian sampah dari warga dan harga penjualannya kepada pengepul. Dana yang tersedia juga dimanfaatkan untuk membantu kegiatan sosial masyarakat.
Bank Sampah Galang Panji pernah mencoba mengolah kaleng bekas menjadi miniatur Vespa untuk kebutuhan tertentu, termasuk pameran yang diselenggarakan pemerintah desa. Namun, pengembangan produk tersebut belum maksimal karena keterbatasan daya beli dan kualitas produksi.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa pengolahan sampah menjadi kerajinan membutuhkan keterampilan, konsistensi produksi, dan pasar yang memadai. Untuk saat ini, pengumpulan dan penjualan sampah masih menjadi kegiatan utama bank sampah.

Meski demikian, Ganesha melihat perubahan perilaku warga. Sejumlah nasabah bahkan mulai memungut botol plastik yang ditemukan di jalan untuk kemudian dibawa ke bank sampah.
“Ketika banyak orang jadi aktif memilah sampah dan mau membawa sampahnya ke bank sampah,” kata Ganesha, “hal ini secara tidak langsung membuat masyarakat tidak berani membuang sampahnya sembarangan.”
Menurutnya, bank sampah sebagai organisasi telah mampu menjalankan kegiatan secara mandiri, meskipun pembentukan kelompok masyarakat yang mandiri dalam arti lebih luas masih menjadi pekerjaan rumah. Dukungan pemerintah desa diperlukan untuk memperluas edukasi dan memperkuat aturan pengelolaan sampah agar kegiatan tersebut tidak hanya bergantung pada penggerak yang ada sekarang.
Bagi pengembangan pariwisata Panji, kebiasaan memilah sampah menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan. Potensi alam yang ditawarkan kepada pengunjung perlu dirawat, sementara kegiatan wisata harus memberi ruang bagi warga untuk ikut bertanggung jawab terhadap kebersihan desa.
Menghubungkan Usaha Lokal
Pertanian dan perdagangan masih menjadi mata pencaharian utama masyarakat Panji. Pariwisata umumnya menjadi sumber penghasilan tambahan, dengan besaran yang bergantung pada jumlah kunjungan dan jenis usaha yang dijalankan warga.
Agar manfaatnya meluas, kegiatan pariwisata perlu terhubung dengan sektor ekonomi lain. Pengelola destinasi, pemilik homestay, warung kuliner, penyedia wahana rekreasi, operator jeep tour, dan penjual produk UMKM dapat memperoleh pendapatan secara langsung. Petani serta pedagang juga berpeluang mendapatkan manfaat ketika pelaku usaha wisata membeli kebutuhan dari pemasok setempat.
Hubungan itu tidak terbentuk secara otomatis. Pelaku wisata perlu menjalin kerja sama dengan petani, pedagang, kelompok pengolah produk, dan penyedia jasa lokal. Kualitas barang serta pelayanan pun harus dijaga agar kebutuhan pengunjung dapat dipenuhi oleh usaha yang tumbuh di desa sendiri.
Sejumlah lembaga lokal telah mengambil peran dalam pengembangan desa wisata. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mendorong penerapan Sapta Pesona, KWT Tulus Bakti mengembangkan produk olahan dan agrowisata organik, sedangkan LPHD Bhuana Utama mengelola kawasan hutan desa. Bank Sampah Galang Panji berkontribusi melalui pengelolaan sampah dan edukasi lingkungan.

Pemerintah desa dan BUMDesma turut bersinergi dalam penguatan tata kelola, fasilitas, serta kemitraan. Pendampingan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pengelolaan homestay bersama Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) juga menjadi bagian dari pengembangan desa wisata.
Pekerjaan rumahnya mencakup perencanaan, standar operasional, pemeliharaan fasilitas sanitasi, pencatatan keuangan, dan digitalisasi transaksi. Ruang partisipasi masyarakat juga perlu terus diperkuat agar warga tidak hanya terlibat dalam kegiatan, tetapi turut menentukan arah pengembangan desa.
Desa Panji berhasil masuk jajaran 15 besar nominasi Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2026 kategori Desa dan Kampung Wisata. Verifikasi lapangan pada 9–10 Oktober 2026 menjadi kesempatan bagi desa untuk memperlihatkan potensinya sekaligus memperoleh masukan mengenai tata kelola, kebersihan fasilitas, dan digitalisasi.
“Kami menyambut baik proses verifikasi ini karena menjadi kesempatan bagi Desa Wisata Panji untuk menunjukkan potensi yang dimiliki sekaligus mengetahui aspek-aspek yang masih perlu kami benahi,” tulis Ariawan.
Ia menegaskan bahwa penghargaan bukan satu-satunya tujuan. Pengembangan desa wisata perlu terus berjalan agar pengelolaannya semakin profesional dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Anak Muda dan Masa Depan Panji
Harapan Ariawan tidak berhenti pada bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan. Ia ingin kegiatan ekonomi yang tumbuh di desa membuka pilihan bagi generasi muda untuk bekerja dan membangun kehidupan di kampung halaman sendiri.
“Lima tahun lagi, anak-anak Panji tidak perlu merantau ke Denpasar jadi pelayan hotel. Mereka cukup jadi tuan rumah di desanya sendiri,” tulisnya.
Harapan tersebut bergantung pada kemampuan masyarakat mengelola potensi desa menjadi usaha yang bertahan. Produk olahan membutuhkan pasar, homestay memerlukan pelayanan yang baik, destinasi alam harus dirawat, sedangkan bank sampah membutuhkan partisipasi warga dan dukungan kelembagaan.
Dalam konsep Panji Lestari, rumah warga dapat menjadi tempat menginap, hasil kebun diolah menjadi produk UMKM, dan kawasan alam serta pertanian dikembangkan sebagai ruang wisata sekaligus edukasi. Perempuan memperoleh kesempatan mengembangkan usaha melalui KWT, sementara nasabah bank sampah dapat memperoleh pemasukan sambil membantu menjaga kebersihan lingkungan.

Bagi Ariawan, gagasan tersebut terangkum dalam pesan yang ia sampaikan melalui konsep Panji Lestari. “Ketika Wanita Tani sejahtera, maka Desa Panji akan lestari. Suksma,” tulisnya.
Kesejahteraan warga menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan desa. Panji memiliki kebun, persawahan, hutan, sumber air, tradisi, dan sejarah yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata. Tantangannya adalah memastikan masyarakat ikut mengelola sumber daya tersebut dan memperoleh manfaat ekonominya.
Penghargaan dapat menjadi pengakuan atas potensi desa, tetapi keberhasilan pengembangan wisata juga perlu dilihat dari kemampuan usaha lokal bertahan, kesempatan kerja yang terbuka, lingkungan yang terawat, serta pendapatan yang dirasakan masyarakat.
Panji ingin menerima wisatawan tanpa kehilangan kehidupan yang membuatnya berbeda dari kawasan perkotaan. Bagi warga, pekerjaan itu bukan hanya menyiapkan destinasi untuk dikunjungi, tetapi juga merawat sumber daya yang menopang kehidupan mereka sendiri.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.










![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula3-360x180.jpeg)



















