MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari dan Lamborghini yang saya temui dalam perjalanan ke Kawah Ijen memiliki cerita berbeda. Keduanya bukan mobil sport keluaran pabrikan ternama, melainkan sebutan untuk jasa troli yang membantu pengunjung melewati jalur pendakian. Kehadirannya menjadi bagian menarik dari pengalaman wisata sekaligus sumber penghidupan bagi penduduk setempat.
Perjalanan ini bermula dari keinginan menyaksikan blue fire atau api biru Kawah Ijen, fenomena alam yang kerap disebut hanya dapat ditemukan di dua tempat di dunia, salah satunya di Indonesia. Bersama seorang teman, saya berangkat dari Jimbaran, Bali, menuju Pelabuhan Gilimanuk dengan sepeda motor. Setelah menyeberang menggunakan kapal feri dan tiba di Pelabuhan Ketapang, kami melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian Kawah Ijen.

Sebelum berangkat, kami telah menyiapkan sejumlah persyaratan untuk mendaki, mulai dari surat keterangan sehat yang diperoleh di klinik setempat hingga tiket masuk kawasan Kawah Ijen. Kami juga membawa perlengkapan dan bekal konsumsi untuk perjalanan menuju puncak.
Sesampainya di gerbang loket kawasan pendakian, kami disambut kerumunan pengunjung yang tampak antusias. Sebagian bercerita tentang rencana perjalanan yang telah disusun berbulan-bulan sebelumnya. Ada pula yang memutuskan berangkat tanpa persiapan jauh-jauh hari. Setelah menunjukkan tiket yang telah dipesan melalui situs resmi Kawah Ijen, kami pun memulai pendakian.
Jalur yang menanjak dan berbatu membuat perjalanan tidak selalu mudah. Selangkah demi selangkah kami lalui, sementara di sepanjang jalan terlihat sejumlah pengunjung mulai kelelahan. Kondisi itu dialami berbagai kalangan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara, laki-laki maupun perempuan.

Penampakan taksi Ferrari-Lamborghini, jasa troli yang membantu pengunjung melewati jalur pendakian di Kawah Ijen | Foto: travelspromo.com
Di tengah perjalanan, terdengar seruan beberapa pria berusia sekitar 40-an tahun. Dengan nada ramah, mereka menawarkan jasa sambil membawa troli kayu. “Ferrari-Ferrari!” seru mereka. Ada pula yang meneriakkan, “Lamborghini-Lamborghini!” dan “Taxi-Taxi!” Seruan tersebut menjadi pemandangan tersendiri di antara para pendaki yang sedang berjuang menaklukkan jalur menuju puncak.
Troli yang mereka tawarkan memang jauh dari kesan mewah seperti mobil Ferrari atau Lamborghini sungguhan. Bentuknya berupa gerobak kecil beroda dua, dengan tempat duduk beralas bantalan. Ukurannya memungkinkan satu hingga dua orang duduk di atasnya. Di bagian belakang terdapat pegangan kayu yang digunakan pengemudi untuk mengarahkan troli sekaligus mendorong atau menariknya melewati jalur pendakian.
Bantalan tempat duduknya mungkin tidak seempuk sofa, tetapi cukup membantu pengunjung yang mulai kelelahan. Bagi mereka yang ingin menikmati Kawah Ijen tanpa harus menempuh seluruh jalur dengan berjalan kaki, jasa troli ini dapat menjadi pilihan, baik ketika menuju puncak maupun saat turun kembali ke pos pendakian.

Keberadaan jasa troli tersebut tidak hanya membantu wisatawan. Bagi penduduk setempat yang menjalankannya, layanan ini juga menjadi sumber penghasilan, terutama ketika jumlah pendaki meningkat. Mereka menawarkan tarif yang bervariasi, mulai dari sekitar Rp50.000 hingga ratusan ribu rupiah, bergantung pada jarak yang ditempuh dan tingkat kesulitan jalur. Tanjakan, turunan, serta kondisi medan turut memengaruhi harga yang dikenakan.
Pekerjaan ini tentu membutuhkan tenaga dan keterampilan fisik. Para pengemudi troli harus melewati jalur yang tidak rata sambil membawa penumpang dengan bobot yang tidak ringan. Mereka mengandalkan kekuatan tubuh sendiri untuk mengendalikan laju troli, menjaga keseimbangan, dan memastikan perjalanan berlangsung dengan aman.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah cara mereka melayani penumpang. Meski harus bekerja keras di jalur pendakian, para pengemudi tetap ramah kepada orang-orang yang mereka temui, bukan hanya kepada penumpang yang menggunakan jasa mereka. Sesekali mereka melontarkan gurauan atau memberikan semangat kepada pendaki yang terlihat kelelahan. Di tengah medan yang menantang, keramahan itu membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.


Tanpa terasa, kami akhirnya tiba di puncak Kawah Ijen. Sesekali kami berhenti di sejumlah titik untuk mengabadikan pemandangan menggunakan kamera ponsel. Rasa lelah selama pendakian seolah terbayar oleh panorama yang terbentang di hadapan kami. Di sekitar puncak, beberapa pengemudi troli masih sibuk melayani penumpang. Kami juga menjumpai penjual cendera mata berupa ukiran khas Kawah Ijen yang dibuat dari belerang berwarna kuning.
Setelah beristirahat sejenak dan menikmati suasana, kami bersiap mengakhiri perjalanan. Kami memutuskan turun kembali ke pos pendakian sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Bali.
Pengalaman di Kawah Ijen meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Sebutan Ferrari dan Lamborghini yang awalnya terdengar menggelitik ternyata merujuk pada layanan yang memiliki fungsi nyata bagi wisatawan sekaligus membuka peluang penghasilan bagi warga setempat. Di balik troli kayu yang sederhana bentuknya, ada tenaga, keterampilan, dan keramahan para pengemudi yang menjadi bagian dari pengalaman berwisata di Kawah Ijen.[T]
Penulis: Kadek Sri Widiastuti
Editor: Jaswanto







![Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/sihab.-bandung1-360x180.png)






















