HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya acara. Di Taman Baca Ubud, Minggu malam, 25 Oktober 2026, panggung kembali hidup dengan pertunjukan tari, puisi, dan musik yang menandai berakhirnya perhelatan sastra tersebut.
Setelah berlangsung sedari 21–25 Oktober, UWRF ke-23 resmi ditutup melalui rangkaian pertunjukan lintas seni. Malam itu menjadi perayaan bersama bagi para penulis, seniman, pembaca, serta tim yang telah bekerja menyukseskan festival.
Taru Art Community membuka acara dengan membawakan Widyadari, tarian yang menghadirkan sosok bidadari kahyangan. Para penari tampil mengenakan busana berwarna keemasan dengan hiasan kepala menjulang. Gerakan tangan dan ekspresi mereka mengikuti iringan musik tradisional.
Pertunjukan berlanjut dengan kemunculan Barong Macan. Tubuhnya yang besar, berbalut bulu panjang, bergerak mengikuti tabuhan gamelan. Sesekali barong merunduk hingga mendekati lantai, sebelum kembali bergerak di hadapan penonton.


Kedua pertunjukan itu dibawakan Taru Art, komunitas seni asal Ubud yang berdiri sejak 2017. Di bawah arahan I Putu Edo Veri Pradana, komunitas ini memadukan tradisi Bali dengan ekspresi kontemporer melalui tari, sendratari, dan teater. Selain berkarya dan menggelar pertunjukan, Taru Art juga aktif mengenalkan seni kepada generasi muda melalui pendidikan dan pendampingan.
Usai pertunjukan, pendiri sekaligus Direktur UWRF, Janet DeNeefe, naik ke panggung untuk menyampaikan sambutan penutup. Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi kerja keras seluruh tim yang telah menyukseskan festival tahun ini.
“Setiap tahunnya, festival ini akan menjadi lebih baik. Dan tahun ini, sangat baik, dengan tim yang luar biasa,” ungkapnya.
Janet kemudian memanggil satu per satu anggota tim UWRF untuk naik ke panggung. Mereka berkumpul dan berfoto bersama, merayakan selesainya festival yang tahun ini mengusung tema “Samarasā: Awareness. Empathy. Action.”
Tema tersebut berakar dari filosofi Sanskerta tentang keselarasan antara Citta (pikiran), Rasa (hati), dan Karsa (tindakan). Melalui kesadaran, empati, dan tindakan, UWRF mengajak masyarakat belajar memahami perbedaan dan menerjemahkan pemahaman itu dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat tersebut mewarnai lebih dari 250 agenda yang melibatkan sekitar 300 pembicara dari 30 negara – separuh di antaranya berasal dari Indonesia. Melalui diskusi, peluncuran buku, masterclass, hingga pertunjukan seni, UWRF menjadi ruang perjumpaan beragam pengalaman, gagasan, dan sudut pandang.

Saat pembukaan di Puri Agung Ubud, 21 Oktober lalu, Janet telah mengingatkan pentingnya ruang dialog, termasuk ketika orang memiliki pandangan berbeda.
“Festival ini sangat penting untuk menyatukan banyak orang dalam sebuah diskusi. Silakan berdiskusi tentang apapun, setuju maupun tidak,” katanya saat itu.
Pesan tentang keterbukaan tersebut turut menemukan bentuknya pada malam penutupan. Setelah seremoni resmi berakhir, panggung kembali diisi penampilan para seniman dengan latar dan ekspresi berbeda.
Penyair asal Denpasar, Tan Lioe Ie, mendapat giliran pertama. Melalui puisi berbahasa Indonesia, ia memperlihatkan bagaimana puisi dapat hidup di atas panggung, tidak hanya melalui kata-kata tertulis, tetapi juga lewat suara dan penghayatan.
Tan Lioe Ie atau akrab disapa Yoki memang dikenal sebagai penyair yang kerap memadukan puisi dengan musik. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dimuat dalam lebih dari 26 antologi bersama. Mantan kurator UWRF ini juga pernah menerima penghargaan Bali Jani Nugraha pada 2022 dan penghargaan 25 tahun berkarya dari Badan Bahasa.

Selepas Tan Lioe Ie, giliran Robin Block, penyair sekaligus musisi asal Amsterdam, Belanda, tampil membacakan puisi. Melalui penampilannya, Block menghadirkan cerita yang berangkat dari sejarah keluarga, termasuk masa lalu kolonial Belanda dan Indonesia, serta pengalaman tentang keterikatan dan keterasingan.
Kedekatannya dengan dunia sastra juga tercermin melalui kumpulan puisinya, Handbook for the Displaced, yang meraih Hadiah Herman de Coninck di Belgia dan Hadiah Puisi J.C. Bloem di Belanda.
Suasana yang semula diisi puisi kemudian berubah semakin riang ketika Ika & The Soul Brothers mengambil alih panggung. Irama funk dan soul mulai terdengar, membawa warna berbeda dalam perayaan malam itu.
Grup yang beranggotakan enam orang ini menyuguhkan perpaduan musik disko, pop, dan jazz. Selain membawakan karya orisinal, mereka juga dikenal lewat aransemen khas atas lagu-lagu populer dari musisi seperti Michael Jackson, Chic, dan Bruno Mars.
Pengalaman lebih dari satu dekade mengisi berbagai panggung hiburan di Bali membuat grup ini akrab dengan repertoar yang mengandalkan ritme dan energi. Malam penutupan UWRF pun bergerak dari suasana pembacaan puisi menuju perayaan musik yang lebih hidup.

Namun, Ika & The Soul Brothers bukan penampil terakhir. Ketika malam semakin larut, DJ Ebes melanjutkan rangkaian acara dengan musik elektronik yang mengandalkan groove dan ritme menghentak.
DJ kelahiran Jakarta yang kini menetap di Bali itu dikenal dengan set musik tanpa jeda yang dirancang untuk mengajak orang bergerak. Ia juga merupakan salah satu penggagas Jumatan!—gerakan musik elektronik di Ubud.
Dentuman musik Ebes akhirnya menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian malam penutupan UWRF 2026. Setelah lima hari diisi percakapan, pertukaran gagasan, dan berbagai pertunjukan seni, festival tersebut sampai pada penghujungnya.
Kendati demikian, Janet DeNeefe telah menegaskan bahwa UWRF akan terus diselenggarakan setiap tahun. Festival ini diharapkan tetap menjadi ruang perjumpaan bagi penulis, pembaca, seniman, dan masyarakat dari berbagai penjuru dunia.
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto






























