26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental yang berkembang mengikuti perubahan zaman. Dalam lingkungan seni lokal, pertemuan antara pendekatan tradisional dan eksperimental dapat memunculkan ketegangan, terutama ketika kebaruan mulai dianggap sebagai ukuran kemajuan, sementara bentuk-bentuk tradisional dipandang kurang relevan dengan perkembangan zaman.

Seniman yang mempertahankan pendekatan tradisional mungkin merasa terancam ketika karya-karya eksperimental mendapatkan perhatian lebih besar dari media, kurator, kolektor, atau pasar seni. Penggunaan teknologi digital, pendekatan konseptual, pencampuran medium, dan eksplorasi bentuk yang tidak konvensional dapat menciptakan kesan bahwa seni yang mengikuti perkembangan zaman memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan seni yang berakar pada tradisi.

Situasi tersebut dapat memunculkan persoalan mengenai legitimasi artistik. Seniman lokal yang bekerja melalui teknik dan nilai tradisional mungkin merasa bahwa pengetahuan serta keterampilan yang mereka kuasai tidak lagi mendapatkan pengakuan yang setara. Dalam kondisi tertentu, mereka dapat memandang eksperimen sebagai ancaman terhadap keberadaan seni yang selama ini mereka pertahankan.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada ketegangan antara tradisi dan eksperimen. Seniman eksperimental sendiri tidak selalu terbebas dari tekanan. Ketika kebaruan menjadi sesuatu yang dicari oleh pasar dan institusi seni, eksperimen dapat berubah menjadi tuntutan untuk terus menghasilkan sesuatu yang berbeda, mencolok, dan sesuai dengan perkembangan tren. Seniman kemudian menghadapi tekanan yang berbeda: bukan lagi mempertahankan bentuk lama, melainkan terus membuktikan bahwa dirinya relevan dengan perubahan zaman.

Di sinilah muncul paradoks dalam kebebasan artistik. Seniman yang mempertahankan tradisi dapat terkungkung oleh keharusan menjaga pakem, sedangkan seniman eksperimental dapat terkungkung oleh keharusan untuk selalu tampil baru. Keduanya berpotensi kehilangan ruang kebebasan apabila keputusan penciptaan lebih banyak ditentukan oleh ketakutan terhadap penilaian pihak lain daripada kebutuhan artistik yang mendasari karyanya.

Ketika Eksperimen Menjadi Strategi Pasar

Perkembangan zaman membuka peluang yang luas bagi seniman untuk memperluas bahasa artistiknya. Teknologi digital, media sosial, galeri daring, dan berbagai platform distribusi memungkinkan karya menjangkau audiens yang sebelumnya sulit diakses. Perubahan tersebut memberikan kesempatan bagi seniman untuk bereksperimen dengan medium, membangun jaringan, serta menemukan bentuk komunikasi visual yang baru.

Akan tetapi, perkembangan ini juga membawa konsekuensi. Dalam lingkungan yang semakin dipengaruhi oleh perhatian publik dan persaingan pasar, kebaruan dapat berubah menjadi komoditas. Karya yang mudah menarik perhatian, memiliki tampilan yang kuat, atau sesuai dengan tren tertentu berpotensi memperoleh visibilitas lebih besar. Akibatnya, seniman dapat terdorong untuk menyesuaikan penciptaannya dengan apa yang dianggap menarik, mudah dipasarkan, atau berpeluang mendapatkan pengakuan.

Eksperimen yang pada awalnya merupakan upaya untuk mempertanyakan batas-batas seni kemudian berisiko menjadi formula baru. Seniman mungkin menggunakan teknologi, bentuk visual yang tidak lazim, atau pendekatan konseptual bukan karena memiliki kebutuhan artistik yang kuat, melainkan karena unsur-unsur tersebut sedang dianggap relevan oleh pasar. Kebaruan akhirnya tidak lagi menjadi hasil pencarian, tetapi menjadi sesuatu yang harus terus diproduksi demi mempertahankan perhatian.

Hal ini tidak berarti bahwa seniman yang mengikuti perkembangan pasar pasti kehilangan integritas artistiknya. Pasar dapat menjadi sumber penghidupan, ruang distribusi, dan sarana mempertemukan karya dengan masyarakat. Persoalan muncul ketika tuntutan pasar menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan arah penciptaan. Pada titik tersebut, kebebasan bereksperimen dapat berubah menjadi bentuk kepatuhan terhadap selera yang dominan.

Dengan demikian, seniman tradisional dan seniman eksperimental sebenarnya menghadapi persoalan yang memiliki kemiripan. Seniman tradisional dapat merasa harus mempertahankan bentuk yang diterima oleh komunitasnya, sedangkan seniman eksperimental dapat merasa harus mengikuti bentuk yang sedang mendapatkan perhatian pasar. Meskipun keduanya bekerja melalui pendekatan berbeda, keputusan artistik mereka sama-sama berisiko dibatasi oleh kebutuhan untuk memperoleh pengakuan.

Di Antara Pakem Tradisi dan Pakem Pasar

Perbedaan antara seni tradisional dan seni eksperimental sering kali dibangun melalui anggapan bahwa yang pertama mewakili masa lalu, sedangkan yang kedua mewakili masa depan. Padahal, pembagian tersebut terlalu sederhana untuk menjelaskan kompleksitas praktik seni. Seni tradisional dapat terus berkembang melalui interpretasi baru, sementara seni eksperimental dapat menghasilkan pengulangan apabila senimannya hanya mengikuti formula yang sedang populer.

Pakem tidak selalu hadir dalam bentuk aturan adat atau tradisi. Dalam dunia seni kontemporer, pakem juga dapat muncul melalui ekspektasi institusi, selera kolektor, kecenderungan kuratorial, dan logika pasar. Sesuatu yang awalnya dianggap menyimpang atau baru pada akhirnya dapat menjadi formula yang diikuti banyak seniman. Ketika hal tersebut terjadi, eksperimen justru berpotensi membentuk konvensi baru.

Persoalan ini mengajak kita untuk mempertanyakan kembali makna kebebasan artistik. Apakah kebebasan berarti mempertahankan tradisi tanpa perubahan? Apakah kebebasan berarti terus menciptakan bentuk yang berbeda? Atau justru kebebasan terletak pada kemampuan seniman untuk menentukan pilihan artistiknya secara sadar, tanpa harus selalu tunduk pada satu ukuran keberhasilan?

Seniman tidak harus meninggalkan tradisi untuk membuktikan bahwa dirinya kreatif. Sebaliknya, seniman juga tidak harus mengikuti setiap perkembangan teknologi dan tren untuk membuktikan bahwa dirinya modern. Tradisi maupun eksperimen dapat menjadi pilihan artistik yang bermakna selama keduanya berangkat dari pemahaman, eksplorasi, dan kebutuhan penciptaan yang jelas.

Tantangan terbesar bagi seniman lokal bukan sekadar menghadapi perubahan zaman, melainkan mempertahankan kemampuan untuk berpikir kritis di tengah berbagai tuntutan. Seniman perlu memahami tradisi tanpa menjadikannya batas mutlak, serta memanfaatkan perkembangan zaman tanpa menjadikannya ukuran tunggal bagi kualitas karya.

Pada akhirnya, persoalan yang perlu dikritisi bukanlah siapa yang lebih unggul antara seniman tradisional dan seniman eksperimental. Persoalannya adalah bagaimana keduanya dapat kehilangan kebebasan ketika terlalu takut terhadap penilaian lingkungan, baik penilaian yang menuntut kesetiaan pada masa lalu maupun penilaian yang menuntut kebaruan demi mengikuti pasar.

Seni seharusnya tidak hanya menjadi ruang untuk mempertahankan apa yang telah ada atau mengikuti apa yang sedang populer. Seni juga merupakan ruang untuk menentukan sikap, mengajukan pertanyaan, dan menawarkan cara pandang yang mungkin belum dapat diterima oleh masyarakat pada masanya. Kebebasan artistik justru diuji ketika seniman mampu mengambil keputusan berdasarkan gagasan dan tanggung jawab estetikanya sendiri, bukan semata-mata karena takut tertinggal atau takut berbeda. [T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Adnyana Ole

Tags: senimanzaman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

Next Post

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co