RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi krama mundut jauman dan pralingga Ida Batara dalam rangkaian karya ngusaba segara lan ngusaba nini yang bertepatan dengan Purnama Kalima. Iring-iringan itu menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer, dengan generasi muda turut mengambil bagian di antara para peserta.
Di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, upacara ini bukan hanya bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat. Ngusaba segara lan ngusaba nini juga berkaitan dengan dua sumber penghidupan utama warga, yakni laut dan sawah. Makna tersebut diwariskan melalui rangkaian ritual yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk anak-anak muda yang kelak mengambil tanggung jawab dalam kehidupan desa adat.
Bupati Klungkung, I Made Satria, yang hadir dalam upacara tersebut, mengingatkan pentingnya peran generasi penerus. Didampingi Bendesa Adat Kusamba, AA Raka Swastika, ia mengapresiasi keterlibatan masyarakat sekaligus mendorong anak-anak muda untuk meneruskan tradisi leluhur.
“Generasi penerus harus mereplikasi (tradisi) ini semua dan meneruskan kearifan lokal yang adiluhung ini,” kata I Made Satria.


Bagi Bendesa Adat Kusamba, AA Raka Swastika, keterlibatan generasi muda merupakan bagian penting dari keberlangsungan kehidupan desa adat. Karena itu, yowana maupun sekaa teruna dilibatkan sejak persiapan upacara, mulai dari ngayah membuat uparengga atau berbagai perlengkapan upacara, menyiapkan penjor, hingga mengikuti tradisi mapeed.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak muda berkesempatan memahami tahapan upacara sekaligus mengenal tanggung jawab yang menyertainya. Raka Swastika pun mengingatkan agar mereka tidak merasa malu menjalankan tradisi daerah sendiri.
“Pada akhirnya mau tidak mau generasi muda yang akan melanjutkan untuk merawat tradisi ngusaba segara lan ngusaba nini maupun nyepi segara di Desa Adat Kusamba ini. Intinya jangan malu melestarikan tradisi atau budaya kita, malah seharusnya bangga karena tidak semua orang atau daerah memiliki tradisi semacam ini,” kata Raka Swastika.

Ia menilai, kebudayaan memiliki peran penting dalam membentuk daya tahan masyarakat ketika menghadapi berbagai tantangan. Ia mengajak generasi muda belajar dari bangsa lain tentang bagaimana budaya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, dengan mencontohkan Jepang dan Cina yang menurutnya mampu bangkit dan berkembang berkat kekuatan budayanya.
Semangat kebersamaan dalam upacara ini juga mendapat apresiasi dari Bupati I Made Satria. Menurutnya, gotong royong krama Desa Adat Kusamba yang ditopang delapan banjar adat merupakan modal kultural penting bagi masyarakat Bali dan turut membentuk taksu Bali. Dalam kesempatan tersebut, Satria menyerahkan dana punia yang diterima Bendesa Adat Kusamba.
Kebanggaan terhadap tradisi juga dirasakan Ketua Yowana Desa Adat Kusamba, I Dewa Agung Wahyu Arinatha. Ia menyebut ngusaba segara lan ngusaba nini serta nyepi segara sebagai kekhasan desa kelahirannya. Tradisi nyepi segara sendiri telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah pusat pada 2024.
Dewa Wahyu mengapresiasi kesempatan yang diberikan desa adat kepada yowana untuk terlibat dalam rangkaian upacara. Baginya, pengalaman tersebut membuat generasi muda lebih memahami makna tradisi yang selama ini dijalankan masyarakat.

“Dengan turut terlibat, kami jadi tahu makna tradisi ini dan kami bangga mewarisi tradisi ini. Kami mengajak rekan-rekan sesama generasi muda untuk bersama-sama menjaga warisan budaya kita ini,” kata Dewa Wahyu.
Pengalaman serupa dirasakan Kadek Ayu Martadiana dari Banjar Bingin dan I Putu Okta Pradipta Yoga dari Banjar Tengah. Keduanya mengaku senang dapat mengikuti ngusaba segara lan ngusaba nini. Bagi Ayu, kesempatan mengikuti mapeed menjadi salah satu cara untuk lebih dekat dengan tradisi yang digelar setahun sekali tersebut.
“Saya sangat senang karena ngusaba ini dilakukan setahun sekali. Harapan saya pemuda-pemudi di Kusamba supaya lebih terlibat dalam melestarikan budaya ini dengan ikut tradisi mapeed,” kata Ayu Martadiana.
Sementara itu, Okta Pradipta mengajak yowana Desa Adat Kusamba untuk menjalankan tradisi sesuai dengan pakemnya. Ia menilai, tidak semua desa memiliki upacara seperti ngusaba segara lan ngusaba nini, termasuk tradisi nyepi segara yang menjadi bagian dari rangkaian karya tersebut.
Sehari Tanpa Aktivitas di Laut
Sehari setelah pelaksanaan mapeed, masyarakat Kusamba menjalankan tradisi nyepi segara, Senin (26/10/2026). Selama pelaksanaan tradisi ini, aktivitas di laut dan kawasan pesisir Pantai Kusamba dihentikan mulai pukul 06.00 hingga 18.00 Wita. Nelayan tidak melaut, sementara aktivitas lain di laut maupun pesisir juga ditiadakan. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dikenai sanksi adat.

Menurut Raka Swastika, nyepi segara merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap laut beserta segala isinya. Tradisi ini mengingatkan masyarakat bahwa laut bukan hanya ruang untuk mencari nafkah, tetapi juga bagian dari lingkungan yang menopang kehidupan mereka.
“Masyarakat kami di Kusamba umumnya hidup dari dua sumber penghidupan, yakni laut dan sawah. Ngusaba segara adalah bentuk penghormatan kepada karunia laut dan ngusaba nini sebagai penghormatan atas karunia segala hasil bumi di sawah,” kata Raka Swastika.
Hubungan masyarakat dengan kedua sumber penghidupan itu tercermin dalam pembagian makna upacara. Ngusaba segara menjadi ungkapan syukur atas karunia laut, sedangkan ngusaba nini ditujukan sebagai penghormatan atas hasil pertanian. Keduanya menempatkan alam sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat Kusamba.

Ketua Panitia Karya, I Nengah Sumarnaya, menjelaskan bahwa eedan karya telah dimulai pada 8 Oktober 2026, diawali dengan ayah-ayahan krama desa. Upacara tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Gde Oka Keniten dari Griya Anyar Kusamba.
“Ida Batara nyejer selama 11 hari hingga masineb 5 November 2026,” jelas Sumarnaya.
Di Kusamba, rangkaian upacara ini mempertemukan kehidupan keagamaan, kebersamaan warga, dan penghormatan terhadap sumber penghidupan. Bagi generasi muda yang turut terlibat, pengalaman mengikuti prosesi dan ngayah menjadi kesempatan untuk memahami tradisi melalui praktik langsung, bukan hanya dari cerita yang mereka dengar.[T]
Reporter/Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Jaswanto






























