GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka menari di hadapan para penulis, pemikir, seniman, dan pencinta sastra dari berbagai negara. Di antara kemegahan puri dan hangatnya perjumpaan lintas budaya, sebuah perayaan gagasan kembali dimulai.
Malam itu menandai dibukanya Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-23. Selama lima hari, 21–25 Oktober 2026, Ubud kembali menjadi ruang pertemuan bagi beragam suara, pengalaman, dan pemikiran dari berbagai penjuru dunia.
Diselenggarakan setiap tahun oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati, UWRF dikenal sebagai salah satu festival sastra terkemuka di dunia. Melalui festival ini, yayasan kebudayaan Indonesia yang mendapat pengakuan internasional tersebut mempertemukan penulis, jurnalis, seniman, chef, pencerita, dan cendekiawan untuk bertukar gagasan. Festival ini sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Bali kepada dunia dan membawa keberagaman budaya dunia ke Bali, dengan menjunjung keterbukaan, sikap saling menghormati, serta keterlibatan masyarakat.
“Festival ini sangat penting untuk menyatukan banyak orang dalam sebuah diskusi. Silakan berdiskusi tentang apapun, setuju maupun tidak,” kata Janet DeNeefe, pendiri sekaligus direktur UWRF dalam seremoni pembukaan.
Ajakan itu menangkap semangat festival tahun ini. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan perpecahan, percakapan justru semakin dibutuhkan. Bukan semata untuk mempertemukan pendapat, melainkan juga membuka kemungkinan memahami pengalaman orang lain.

Mengusung tema “Samarasā: Awareness. Empathy. Action.”, festival ini mengajak pengunjung bergerak dari kesadaran menuju empati, lalu menerjemahkannya menjadi tindakan nyata.
Berakar pada filosofi Sanskerta, Samarasā mencerminkan keselarasan antara Citta (pikiran), Rasa (hati), dan Karsa (tindakan). Kesadaran diperlukan untuk melihat persoalan secara jernih, empati untuk memahami sesama, dan tindakan untuk menghadirkan perubahan.
Bagi Janet, mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang merupakan upaya membangun kebiasaan saling mendengarkan. Ia berharap percakapan selama festival tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi terus hidup dalam keseharian para pengunjung.
“Samarasā mengajak kita untuk melampaui pengalaman pribadi, memahami satu sama lain dengan lebih mendalam, dan membayangkan cara-cara baru dalam menyikapi dunia di sekitar kita,” ujarnya.
Semangat tersebut juga mendapat dukungan Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace). Ia memandang festival bukan hanya perayaan literasi, melainkan kesempatan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan warisan budaya Ubud.
“Saya turut mengajak semua penulis dan pembaca untuk mendukung upaya pelestarian budaya dan alam di Ubud,” katanya.

Dari Palestina hingga Ingatan tentang 1965
Skala perhelatan UWRF tahun ini tercermin dari kehadiran lebih dari 300 pembicara dari lebih dari 30 negara, dengan separuh di antaranya berasal dari Indonesia, yang akan mengisi lebih dari 250 agenda. Rangkaian acaranya mencakup diskusi panel, dialog bersama tokoh, acara khusus, kelas master, hingga peluncuran buku yang terbuka gratis untuk umum.
Salah satu pembicara internasional yang menjadi perhatian adalah Francesca Albanese, pengacara dan akademisi yang menjadi perempuan pertama menjabat Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967.
Melalui buku terbarunya, When the World Sleeps: Stories, Words, and Wounds of Palestine, Albanese menghadirkan kisah ketangguhan, penderitaan, dan kemanusiaan rakyat Palestina. Percakapan tentang buku tersebut memperlihatkan bagaimana sastra dapat membawa pengalaman manusia melampaui batas geografis dan politik.
Persoalan sejarah juga mendapat tempat. Di Oaken Lab Ubud, Georgina Godwin, Editor Buku Monocle Radio sekaligus pembawa acara Meet the Writers, dijadwalkan merekam langsung dua percakapan.
Dalam On the Record: Katie Kitamura, Godwin menggali proses kreatif di balik Audition, novel karya Kitamura yang masuk daftar pendek Booker Prize. Sementara On the Record: Tari Lang membahas memoar My Neighbour, the Dictator, yang merekam peristiwa kudeta di Indonesia pada 1965 melalui pengalaman Lang ketika berusia 14 tahun.
Selepas percakapan, suasana beralih ke The Oaken Stillroom. DJ Indonesia Ebes dan TOPHER dijadwalkan tampil pada Jumat, (23/10), disusul Kai Kai pada Sabtu, (24/10), menghadirkan musik jazz hingga fusion. Pengunjung juga dapat menikmati koktail terinspirasi aroma wewangian, minuman nonalkohol, serta hidangan ringan berbahan lokal.
Percakapan tentang sejarah dan kekuasaan berlanjut melalui The Bandung Conference of Writers di Plataran Ubud Hotel & Spa. Randa Abdel-Fattah, Sisonke Msimang, dan pembicara lainnya akan meninjau kembali Konferensi Asia-Afrika 1955, sekaligus mempertanyakan peran penulis dalam menghadapi neokolonialisme dan nasionalisme ekstrem kanan.
Adapun Contemporary Bali with Jean Couteau di Cucu Betutu mengajak peserta mencermati perubahan identitas masyarakat Bali akibat pariwisata, termasuk pengaruhnya terhadap kehidupan beragama dan tradisi toleransi.

Sastra yang Berkelindan dengan Bali
UWRF tidak hanya menghadirkan gagasan melalui diskusi formal. Alam, mitologi, spiritualitas, dan seni pertunjukan Bali turut menjadi bagian dari pengalaman festival.
Di Taman Dedari, Vincenzo Latronico, Tina Chang, dan Zainah Anwar akan membagikan puisi serta prosa melalui Becoming Ourselves. Sementara di Honeymoon Garden, Sanjoy K. Roy, Andrea Acri, dan Bea Bustamante mengeksplorasi mitos dan spiritualitas dalam Gods, Myths and Storytellers.
Ketika malam tiba, Ziggy Ramo, Wayan Gde Yudane, dan Irena Karpa dijadwalkan mempertemukan musik dengan puisi dalam In the Shadow of Shiva. Rangkaian ini menunjukkan bahwa cerita tidak hanya hidup di halaman buku, tetapi juga melalui bunyi, gerak, dan tradisi.
Selain itu, festival juga memberikan penghormatan kepada mereka yang selama puluhan tahun membuka jalan bagi sastra Indonesia untuk dikenal dunia.
Penghargaan Lifetime Achievement Award tahun ini diberikan kepada John H. McGlynn, salah seorang pendiri Yayasan Lontar pada 1987. Ia telah menerjemahkan dan menyunting lebih dari seratus karya ke dalam bahasa Inggris, mulai dari memoar Pramoedya Ananta Toer hingga tulisan generasi baru.
“Penerjemahan membantu membangun jembatan antara bahasa dan budaya, sehingga kisah-kisah Indonesia dapat menjangkau pembaca internasional,” ujar McGlynn.
Janet menyebut kiprah McGlynn selama hampir setengah abad telah membuka akses pembaca internasional terhadap sastra Indonesia. Melalui Yayasan Lontar, karya-karya dari berbagai penjuru Nusantara kini semakin percaya diri hadir di panggung dunia.
Pengakuan juga diberikan kepada Arianto Adipurwanto melalui Sitor Situmorang Award 2026. Penghargaan hasil kolaborasi UWRF, Yayasan Sitor Situmorang, dan Writers Unlimited International Literature Festival itu sekaligus membuka kesempatan bagi Arianto mengikuti Writers Unlimited Festival di Den Haag pada Januari 2027.
Penghargaan tersebut bukan hanya merawat warisan Sitor Situmorang, tetapi juga memperluas jalan bagi generasi penulis Indonesia berikutnya.

Dari Percakapan Menuju Tindakan
Upaya menghubungkan gagasan dengan kehidupan sehari-hari juga diwujudkan melalui kolaborasi bersama berbagai mitra.
Permata Bank, bersama MAIA Awards dan QM Financial, menghadirkan diskusi edukasi keuangan di Sudamala Resort Ubud. Program gratis yang dapat diikuti melalui registrasi aplikasi Permata ME itu membahas pentingnya memahami kondisi dan kebutuhan individu untuk mengambil keputusan keuangan yang lebih bijak dan inklusif.
Kepala Divisi Wilayah Jawa Timur dan Bali Permata Bank, Jemmy Toding, menyebut kolaborasi tersebut sejalan dengan semangat Growing Together, yakni membangun hubungan melalui kesadaran, empati, dan tindakan nyata. Ia berharap edukasi keuangan semakin mudah diakses masyarakat dari beragam latar belakang.
Melalui penyelenggaraan tahun ini, UWRF kembali mempertemukan sastra, budaya, dan berbagai isu kemanusiaan dalam satu ruang dialog lintas bangsa. Dengan semangat Samarasā, festival ini menempatkan kesadaran, empati, dan tindakan sebagai landasan untuk memperluas pemahaman, memperkuat kepedulian, sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan dunia. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole






























