SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan bersejarah di Kota Denpasar, di hari ketiga belas bulan kesepuluh. Pulang melewati persimpangan jalan yang berbeda namun dengan satu kegelisahan yang sama sejak semalam.
Saya dapat bensin atau tidak hari ini?
Malam sebelumnya, lini masa dipenuhi gambar SPBU-SPBU utama di Bali dan barisan kendaraan yang mengular hingga tumpah ke jalan raya, bahkan terpaksa mengambil alih setengah ruas jalan, dengan satu keluhan: BBM langka.

Saya melajukan kendaraan dengan perasaan gamang, melewati jalan yang tidak biasa saya lalui. SPBU yang saya ingat pertama adalah SPBU Jalan Padma di daerah Penatih, sepi tak ada antrean karena persediaan habis. Kemudian menembus batas Denpasar-Gianyar, tarikan napas dalam ketika melihat barisan nyata kendaraan yang mengular dari arah Patung Barong, antrean panjang pertama tampak di sepanjang jalan menuju SPBU Batubulan. Berlanjut sampai SPBU Kemenuh dan ditutup dengan kekosongan SPBU Dharma Giri Timur, Gianyar.
Janji kemudian digelontorkan oleh pejabat, namun malam setelah saya ikut mengantre selama 1 jam dengan kendaraan yang penuh merangsek di seluruh area SPBU Samplangan, keadaan semakin buruk. Masyarakat antre semalam suntuk, menunggu ratusan meter jauhnya, jalan-jalan di ruas SPBU dan persimpangan mampat, dan akhirnya jadwal harus diatur ulang.


Di tengah-tengah antrian, ada keluhan yang terdengar samar. Ada juga keluhan dan umpatan penuh emosi, “Bagaimana saya berangkat kerja?”, “Kapan truk tangki datang?”, “Anak saya harus sekolah”, “Saya harus mengantar barang!”, “Kenapa stoknya kosong?” Dan masih banyak lagi keluhan dengan gambaran ekspresi wajah yang sama banyaknya. Jika boleh merajuk, saya rasa mereka ingin tantrum sekeras-kerasnya pada pemerintah. Lagipula, bukankah masyarakat adalah anak dan pemerintah adalah orang tua dalam Catur Guru?
Ingatan saya kemudian berputar pada rentetan peristiwa yang setidaknya masih bisa saya rekam selama tiga dekade hidup saya. Peristiwa yang seharusnya membangunkan Bali, namun sebagian besar dari kami akhirnya tetap memilih bisu.
Pertama, krisis moneter dan reformasi 1998. Tidak jelas ingatan saya ketika itu, tapi mengingat masifnya efek di berbagai daerah, menurut saya Bali pasti terkena efek sampingnya juga. Berdasarkan data BPS 2023, kunjungan wisatawan turun 11% hingga minus 3% kala itu.

Kedua, Bom Bali I dan II, 2002 dan 2004. Guncangan 1 ton bahan peledak menewaskan ratusan orang dan membunuh seluruh pariwisata Bali dua dekade yang lalu. Masyarakat Bali yang mayoritas pelaku pariwisata terpaksa mengencangkan ikat pinggang, sebab kembali tercatat oleh BPS kunjungan wisatawan menurun hingga minus 22%.
Ketiga, Flu Burung, 2005. Isunya memang tentang virus yang menulari unggas, tapi bagi dunia internasional pembatasan perjalanan keluar negeri tetap harus dilaksanakan. Isu ini mulai mengguncang pikiran pelaku wisata kala itu, akan adakah wisatawan yang tetap ingin berkunjung ke Bali?
Keempat, The Great Endemics, COVID-19, 2019-2022. Bali telah selamat dan bangkit berkali-kali, meski berusaha pulih sendiri. Hingga akhirnya ombak besar menghantam, hampir mencabut napas masyarakat Bali. Indonesia dan tentu saja Bali koma tanpa pariwisata. Virus Corona menurunkan angka kunjungan wisatawan hingga minus 83%. Percaya atau tidak, yang menghidupi Bali selama itu justru pertanian.

Kelima, banjir, 2025. Larut dalam kebangkitan kembali, ternyata faktor luar masih menyisakan napas Bali untuk bangkit lewat pariwisata berkelanjutannya. Sayangnya, hantaman justru datang dari dalam. Ingar-bingar pariwisata kembali memabukkan dan menyilaukan pelakunya, lupalah kita jika pariwisata ini hidup karena harmoni sekala-niskala. Banjir menghantam 80% wilayah Bali termasuk jantung Kota Denpasar. Tukad Badung menumpahkan apa yang ditampung dari hasil kegiatan manusia di sepanjang alirannya.
Keenam, krisis BBM, 2026. Premium dicabut, konversi gas, solar dibatasi, kode-kode barcode untuk mobil hingga akhirnya semuanya diputus. Jalanan Bali sesak oleh antrean pembeli BBM yang belum tahu pukul berapa stok datang dan apakah stok itu akan sampai untuk mengisi tangki kendaraan mereka. Sudah hampir seminggu dari gejala hingga puncak yang kami sendiri belum tahu kapan berakhir. Sebagai warga Bali, saya hanya beropini, jika rantai pasokan belum normal hingga seminggu, bukan tidak mungkin sektor pariwisata kembali terganggu. Harga kebutuhan pokok pun akan merembet naik di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang diwarnai perayaan efisiensi.
Enam peristiwa besar dan puluhan lagi yang bisa jadi akan terakumulasi lalu meledak di linimasa lainnya, nyatanya hanya menimbulkan riak-riak kecil bagi masyarakat Bali. Banyak dari kami lebih memilih diam dan berpura-pura pulih sendiri, “taluh goreng ada hasil”, “kanggoang, ne penting b****t paone mekudus”, “nyen kal ganti?” Barisan kalimat ungkapan khas bernada penyangkalan bagi masyarakat Bali yang bersembunyi demi ketenangan pariwisata. Padahal peristiwa-peristiwa di atas jelas-jelas menunjukkan Bali telah dilucuti berkali-kali.

Bali harus tetap memilih diam atas pilihannya bergantung pada spekulasi pariwisata yang konon menyumbang devisa terbesar. Harus membiarkan para nomaden dari segala sudut bumi menginjakkan kakinya di atas Pertiwi Hyang Bali Dwipa. Sebagian menyisakan euforia sementara dan sebagian lagi melucuti perlahan. Bali bukan tanah taruhan, seperti Drupadi di tangan polosnya Panca Pandawa, kemudian kehormatannya dilucuti oleh liciknya Kurawa dan Sengkuni. Sementara para guru, Drona dan Bhisma, justru memilih diam. Pertanyaan saya, apakah kita harus percaya dan menunggu jika kain Drupadi tidak akan pernah habis? Atau adakah Prabu Dretarastra yang berani menghentikan pelucutan Drupadi?
Akhirnya, untuk merayakan kekalahan saya sebagai masyarakat Bali, saya mencoba meminjam sebaris lirik Sadrah dari band asal Bandung, For Revenge, “Lelah harus bijaksana, saat kita yang terluka”.[T]
Penulis: Pande Susan
Editor: Jaswanto




























