17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

Pande Susan by Pande Susan
October 17, 2026
in Esai
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

Ilustrasi gambar Drupadi dan Bali yang dilucuti | Pengolahan dari AI oleh penulis

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan bersejarah di Kota Denpasar, di hari ketiga belas bulan kesepuluh. Pulang melewati persimpangan jalan yang berbeda namun dengan satu kegelisahan yang sama sejak semalam.

Saya dapat bensin atau tidak hari ini?

Malam sebelumnya, lini masa dipenuhi gambar SPBU-SPBU utama di Bali dan barisan kendaraan yang mengular hingga tumpah ke jalan raya, bahkan terpaksa mengambil alih setengah ruas jalan, dengan satu keluhan: BBM langka.

Antrean di dalam area SPBU Denpasar | Foto: Dokumentasi anggota Komunitas Bali Book Party

Saya melajukan kendaraan dengan perasaan gamang, melewati jalan yang tidak biasa saya lalui. SPBU yang saya ingat pertama adalah SPBU Jalan Padma di daerah Penatih, sepi tak ada antrean karena persediaan habis. Kemudian menembus batas Denpasar-Gianyar, tarikan napas dalam ketika melihat barisan nyata kendaraan yang mengular dari arah Patung Barong, antrean panjang pertama tampak di sepanjang jalan menuju SPBU Batubulan. Berlanjut sampai SPBU Kemenuh dan ditutup dengan kekosongan SPBU Dharma Giri Timur, Gianyar.

Janji kemudian digelontorkan oleh pejabat, namun malam setelah saya ikut mengantre selama 1 jam dengan kendaraan yang penuh merangsek di seluruh area SPBU Samplangan, keadaan semakin buruk. Masyarakat antre semalam suntuk, menunggu ratusan meter jauhnya, jalan-jalan di ruas SPBU dan persimpangan mampat, dan akhirnya jadwal harus diatur ulang.

Masyarakat dari pagi hingga malam menunggu giliran mengisi BBM | Foto: Dokumentasi anggota Komunitas Bali Book Party

Di tengah-tengah antrian, ada keluhan yang terdengar samar. Ada juga keluhan dan umpatan penuh emosi, “Bagaimana saya berangkat kerja?”, “Kapan truk tangki datang?”, “Anak saya harus sekolah”, “Saya harus mengantar barang!”, “Kenapa stoknya kosong?” Dan masih banyak lagi keluhan dengan gambaran ekspresi wajah yang sama banyaknya. Jika boleh merajuk, saya rasa mereka ingin tantrum sekeras-kerasnya pada pemerintah. Lagipula, bukankah masyarakat adalah anak dan pemerintah adalah orang tua dalam Catur Guru?

Ingatan saya kemudian berputar pada rentetan peristiwa yang setidaknya masih bisa saya rekam selama tiga dekade hidup saya. Peristiwa yang seharusnya membangunkan Bali, namun sebagian besar dari kami akhirnya tetap memilih bisu.

Pertama, krisis moneter dan reformasi 1998. Tidak jelas ingatan saya ketika itu, tapi mengingat masifnya efek di berbagai daerah, menurut saya Bali pasti terkena efek sampingnya juga. Berdasarkan data BPS 2023, kunjungan wisatawan turun 11% hingga minus 3% kala itu.

Antrian masyarakat sampai ke jalan menunggu BBM | Foto: Dokumentasi anggota Komunitas Bali Book Party

Kedua, Bom Bali I dan II, 2002 dan 2004. Guncangan 1 ton bahan peledak menewaskan ratusan orang dan membunuh seluruh pariwisata Bali dua dekade yang lalu. Masyarakat Bali yang mayoritas pelaku pariwisata terpaksa mengencangkan ikat pinggang, sebab kembali tercatat oleh BPS kunjungan wisatawan menurun hingga minus 22%.

Ketiga, Flu Burung, 2005. Isunya memang tentang virus yang menulari unggas, tapi bagi dunia internasional pembatasan perjalanan keluar negeri tetap harus dilaksanakan. Isu ini mulai mengguncang pikiran pelaku wisata kala itu, akan adakah wisatawan yang tetap ingin berkunjung ke Bali?

Keempat, The Great Endemics, COVID-19, 2019-2022. Bali telah selamat dan bangkit berkali-kali, meski berusaha pulih sendiri. Hingga akhirnya ombak besar menghantam, hampir mencabut napas masyarakat Bali. Indonesia dan tentu saja Bali koma tanpa pariwisata. Virus Corona menurunkan angka kunjungan wisatawan hingga minus 83%. Percaya atau tidak, yang menghidupi Bali selama itu justru pertanian.

Ilustrasi rangkuman peristiwa jejak-jejak krisis di Bali 1998-2026 | Foto: Pengolahan dengan AI oleh penulis

Kelima, banjir, 2025. Larut dalam kebangkitan kembali, ternyata faktor luar masih menyisakan napas Bali untuk bangkit lewat pariwisata berkelanjutannya. Sayangnya, hantaman justru datang dari dalam. Ingar-bingar pariwisata kembali memabukkan dan menyilaukan pelakunya, lupalah kita jika pariwisata ini hidup karena harmoni sekala-niskala. Banjir menghantam 80% wilayah Bali termasuk jantung Kota Denpasar. Tukad Badung menumpahkan apa yang ditampung dari hasil kegiatan manusia di sepanjang alirannya.

Keenam, krisis BBM, 2026. Premium dicabut, konversi gas, solar dibatasi, kode-kode barcode untuk mobil hingga akhirnya semuanya diputus. Jalanan Bali sesak oleh antrean pembeli BBM yang belum tahu pukul berapa stok datang dan apakah stok itu akan sampai untuk mengisi tangki kendaraan mereka. Sudah hampir seminggu dari gejala hingga puncak yang kami sendiri belum tahu kapan berakhir. Sebagai warga Bali, saya hanya beropini, jika rantai pasokan belum normal hingga seminggu, bukan tidak mungkin sektor pariwisata kembali terganggu. Harga kebutuhan pokok pun akan merembet naik di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang diwarnai perayaan efisiensi.

Enam peristiwa besar dan puluhan lagi yang bisa jadi akan terakumulasi lalu meledak di linimasa lainnya, nyatanya hanya menimbulkan riak-riak kecil bagi masyarakat Bali. Banyak dari kami lebih memilih diam dan berpura-pura pulih sendiri, “taluh goreng ada hasil”, “kanggoang, ne penting b****t paone mekudus”, “nyen kal ganti?” Barisan kalimat ungkapan khas bernada penyangkalan bagi masyarakat Bali yang bersembunyi demi ketenangan pariwisata. Padahal peristiwa-peristiwa di atas jelas-jelas menunjukkan Bali telah dilucuti berkali-kali.

Ilustrasi gambar Drupadi dan Bali yang dilucuti | Pengolahan dari AI oleh penulis

Bali harus tetap memilih diam atas pilihannya bergantung pada spekulasi pariwisata yang konon menyumbang devisa terbesar. Harus membiarkan para nomaden dari segala sudut bumi menginjakkan kakinya di atas Pertiwi Hyang Bali Dwipa. Sebagian menyisakan euforia sementara dan sebagian lagi melucuti perlahan. Bali bukan tanah taruhan, seperti Drupadi di tangan polosnya Panca Pandawa, kemudian kehormatannya dilucuti oleh liciknya Kurawa dan Sengkuni. Sementara para guru, Drona dan Bhisma, justru memilih diam. Pertanyaan saya, apakah kita harus percaya dan menunggu jika kain Drupadi tidak akan pernah habis? Atau adakah Prabu Dretarastra yang berani menghentikan pelucutan Drupadi?

Akhirnya, untuk merayakan kekalahan saya sebagai masyarakat Bali, saya mencoba meminjam sebaris lirik Sadrah dari band asal Bandung, For Revenge, “Lelah harus bijaksana, saat kita yang terluka”.[T]

Penulis: Pande Susan
Editor: Jaswanto

Tags: baliBBM
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co