APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting ketika melihat praktik artistik Citra Sasmita dalam seni rupa.
Selama ini, Citra intens mengeksplorasi seni lukis gaya Kamasan dan menginspirasinya melahirkan karya seni rupa kontemporer. Dia menjadikan seni lukis gaya Kamasan sebagai ruang dialog yang kritis. Di dalamnya, dia menemukan persoalan tentang tubuh, perempuan, alam, kekuasaan, mitologi, dan cara manusia membangun pengetahuan.
Baru-baru ini, saya berkesempatan ngobrol dengan Citra tentang pengalamannya di Cornell University, Amerika Serikat. Dari obrolan tersebut, sedikit tidaknya saya bisa memahami arah pemikiran Citra terkait proses kreatifnya dalam seni rupa. Citra diundang dalam simposium seni yang diselenggarakan Southeast Asia Program (SEAP). Namun, arti penting kehadiran Citra di Cornell pada tanggal 21–27 September 2026 tidak terutama terletak pada fakta bahwa seorang seniman asal Bali tampil di sebuah universitas Ivy League. Yang lebih menarik adalah bagaimana karya dan pemikiran Citra memasuki percakapan akademik mengenai tradisi Bali, gender, ekologi, politik air, dan sejarah seni. Dalam konteks ini, seni tidak berhenti sebagai benda yang dipajang atau gambar yang dilihat. Namun, seni menjadi pengetahuan.
Salah satu tematik yang mengemuka dalam agenda Citra di Cornell adalah Nyegara Gunung. Konsep ini mempertemukan dua wilayah kosmologis yang penting dalam kebudayaan Bali, yakni laut dan gunung. Tetapi bagi Citra, tema tersebut dapat dibaca lebih jauh melalui persoalan air, tubuh, ekologi, dan politik.Pembacaan semacam itu memperlihatkan karakter penting dalam praktiknya. Citra tidak melihat tradisi sebagai sesuatu yang beku. Tradisi justru menjadi bahasa yang dapat dibaca ulang.

Perupa kelahiran Tabanan, 30 Maret 1990 ini, sejak lama telah tertarik pada seni lukis gaya Kamasan. Dia secara intens pernah belajar seni lukis gaya Kamasan pada Mangku Muriati, putri maestro Mangku Mura. Tetapi ketertarikan Citra pada seni lukis gaya Kamasan bukan sekadar pada kualitas dekoratif atau sejarah visualnya. Citra mengolah bahasa visual tersebut dengan perspektif perempuan dan pengalaman tubuh. Salah satu karya Citra yang digantung di langit-langit, misalnya, mengingatkan pada fungsi ider-ider dalam ritual Bali. Namun dalam konteks kontemporer, bentuk tersebut memperoleh kemungkinan makna baru. Konten karyanya bisa menjadi jalan untuk mempertanyakan posisi tubuh perempuan dalam sejarah representasi.
Dalam hal tersebut terdapat pergeseran penting. Jika tradisi biasanya diwariskan melalui pengulangan, Citra justru menggunakan pengulangan sebagai cara untuk melakukan pembacaan ulang. Citra masuk ke dalam seni tradisi, tetapi tidak tunduk kepadanya. Dia menggunakan bahasa visual yang dikenalnya, tetapi mengisinya dengan pertanyaan-pertanyaan kritis.
Pembahasan Nyegara Gunung di Cornell kemudian membuka hubungan antara karya Citra Sasmita dengan lukisan gaya Kamasan karya Mangku Mura yang berjudul The Churning of the Sea of Milk (Pamuteran Giri). Karya tersebut dikoleksi oleh Herbert F. Johnson Museum of Art. Pertemuan karya itu menjadi menarik karena karya tradisional dan karya kontemporer tidak hanya dipertemukan secara visual, tetapi juga memungkinkan terjadinya percakapan mengenai kosmologi Bali dan perubahan cara pandang terhadap tradisi.
Tubuh Perempuan
Tubuh perempuan menempati posisi penting dalam cara Citra memahami seni. Baginya, tubuh bukan semata objek yang dilukis. Tubuh merupakan tempat pengalaman, ingatan, pengetahuan, sekaligus medan berlangsungnya kekuasaan. Pandangan tersebut tampak ketika terjadi dialog antara Citra dengan mahasiswa Cornell. Salah satu pertanyaan yang paling mengesankannya adalah tentang asal-usul sifat misoginis manusia.
Citra menjawab dengan membawa pertanyaan tersebut jauh ke belakang, ke awal sejarah manusia. Citra mengingat pembacaan tentang lukisan gua dan kemungkinan keterkaitannya dengan pengalaman tubuh perempuan. Juga tentang Venus of Willendorf yang dapat dibaca sebagai representasi tubuh perempuan, simbol kesuburan dan proteksi, bahkan kemungkinan sebagai potret diri.
Yang menarik bukan semata-mata benar atau tidaknya pembacaan tersebut, melainkan arah pertanyaannya. Siapa sebenarnya yang menjadi subjek dalam sejarah awal kebudayaan manusia? Jika pengalaman perempuan berada dekat dengan lahirnya simbol, ritual, seni, dan pengetahuan tentang kehidupan, bagaimana kemudian perempuan bergeser menjadi objek representasi?

Dari pertanyaan tersebut, Citra melihat hubungan antara misogini dan cara manusia memperlakukan alam. Keduanya, menurutnya, dapat tumbuh dari mentalitas yang sama. Yakni kehendak untuk menguasai, menaklukkan, dan mengontrol sesuatu yang dianggap berbeda atau berada di luar diri.
Dengan demikian, tubuh perempuan dalam praktik seni Citra tidak berdiri sendiri. Tubuh perempuan terhubung dengan persoalan ekologis. Tubuh dan alam sama-sama memiliki pengalaman dieksploitasi. Sama-sama pernah ditempatkan sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan. Maka ketika Citra berbicara mengenai perempuan, sesungguhnya dia juga sedang berbicara tentang relasi manusia dengan dunia tempatnya hidup.
Dari Estetika Menuju Ekologi
Perspektif tersebut membuat karya Citra tidak bisa hanya dibaca melalui kategori formalistik. Pertanyaan tentang garis, komposisi, warna, figur, atau teknik memang tetap penting, tetapi tidak menjadi tujuan akhir. Di balik bentuk terdapat persoalan mengenai bagaimana manusia membangun hubungan dengan yang lain.
Pengalaman Citra di Cornell semakin menguatkan keyakinan tersebut. Citra merasakan bahwa para mahasiswa dan akademisi tidak hanya membaca karya dari permukaan visualnya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru bergerak ke wilayah sejarah seni, perempuan, ekologi, kebudayaan, dan kekuasaan.
Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa seniman tidak cukup hanya menghasilkan benda seni. Yang juga penting adalah bagaimana gagasan beredar dan bagaimana pengetahuan diproduksi. Di sinilah praktik Citra memperoleh dimensi lain. Sebuah lukisan tidak hanya menjadi representasi. Namun bisa menjadi argumen, atau pertanyaan yang tidak selalu langsung bisa dijawab.

Dalam pengertian tersebut, karya-karya Citra berada di wilayah yang menarik antara estetika dan kritik. Dia menggunakan bahasa visual tradisi untuk membicarakan persoalan kontemporer, tetapi tidak kehilangan akar kulturalnya.
Akuisisi Cornell
Salah satu karya Citra Sasmita dari Timur Merah Project IX: Beyond the Realm of Senses (Oracle and Demons) kini menjadi bagian dari koleksi Herbert F. Johnson Museum of Art. Karya tersebut sebelumnya pernah dipamerkan di São Paulo Biennale 2023. Akuisisi Cornell terhadap karya Citra menjadi penting karena prosesnya berlangsung melalui mekanisme kuratorial dan rapat formal komite, dengan pertimbangan terhadap relevansi, kualitas artistik, dan kemampuan karya berdialog dengan koleksi permanen museum.
Karya Citra dipertemukan dengan karya-karya seni Bali bertema Nyegara-Gunung dan koleksi Himalayan Art. Dengan demikian, lukisan tersebut tidak hadir sebagai objek yang berdiri sendiri. Lukisan tersebut masuk ke dalam jaringan sejarah, tradisi, spiritualitas, dan pengetahuan lintas kebudayaan. Hal itu penting bagi seni rupa Bali kontemporer.
Selama ini, seni lukis tradisional Bali kerap ditempatkan sebagai sesuatu yang eksotis ketika masuk ke ruang seni internasional. Karya Citra menawarkan posisi yang berbeda. Karya itu tidak hanya membawa “Bali” sebagai identitas visual. Tetapi membawa persoalan dari dalam kebudayaan tersebut. Tentang bagaimana tradisi bekerja, tubuh perempuan direpresentasikan, alam dipahami, dan mitologi dapat dibaca kembali. Dengan kata lain, yang bergerak dari Bali ke ruang museum internasional bukan hanya karya Citra, namun juga pemikirannya.
Etika dalam Ekosistem Seni
Di sisi lain, dalam obrolan saya dengan Citra, terlintas pembahasan tentang persoalan etika terkait ekosistem seni. Menurutnya, perkembangan seni rupa tidak cukup diukur dari banyaknya pameran, tingginya nilai transaksi, atau luasnya jaringan internasional. Yang tidak kalah penting adalah kualitas budaya intelektual yang menyertainya.Bagi Citra, seni memerlukan budaya membaca, ketelitian, dan penghargaan terhadap gagasan dan kerja artistik.

Citra menyoroti persoalan yang tampak sederhana, namun sering diabaikan. Misalnya, pencantuman nama seniman dan judul karya secara benar dalam jurnal, berita, katalog, maupun media sosial. Bagi Citra, kesalahan atau pengabaian terhadap hal tersebut bukan sekadar persoalan administratif. Di dalamnya terdapat persoalan etika. Memberikan kredit kepada seniman berarti mengakui keberadaan dan kerja intelektualnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan cara Citra memandang seni secara keseluruhan. Seni tidak berdiri di luar kehidupan. Seni berada dalam jaringan relasi sosial, kebudayaan, ekonomi, pengetahuan, dan kekuasaan. Karena itu, membicarakan karya juga berarti membicarakan cara kita memperlakukan pembuatnya.
Daya Kritis dari Tradisi
Di tengah arus seni rupa kontemporer yang semakin global, posisi Citra menarik karena dia tidak membangun praktiknya melalui pemutusan terhadap tradisi. Sebaliknya, dia justru menemukan daya kritis dari dalam tradisi itu sendiri.Kamasan tidak ditinggalkan. Mitologi tidak dibuang. Kosmologi Bali tidak dianggap sebagai masa lalu yang harus disimpan di museum. Semua itu dibawa ke ruang kontemporer dan dipertanyakan kembali. Di tangan Citra, tradisi menjadi renungan dan pertanyaan yang berkelanjutan.
Tubuh perempuan menjadi salah satu pintu untuk memasuki pertanyaan tersebut. Dari tematik tubuh, Citra bergerak menuju alam. Dari alam menuju persoalan kekuasaan. Dari kekuasaan menuju sejarah. Dan dari sejarah kembali kepada persoalan manusia hari ini. Itulah yang membuat karya Citra tidak cukup dibaca hanya sebagai representasi perempuan atau sebagai “bentuk baru” dari seni tradisi Bali. Ada usaha untuk membongkar cara kita melihat seni.

Barangkali inilah salah satu makna penting dari perjalanan Citra ke Cornell. Dia tidak sekadar membawa karya ke sebuah ruang akademik internasional. Citra membawa pertanyaan: bagaimana sebuah tradisi dapat tetap hidup justru ketika berani dibaca ulang? Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika karya kontemporer bertemu dengan artefak tradisi di dalam museum. Sebab di antara keduanya selalu ada jarak waktu, pengalaman, dan cara pandang. Citra mengisi jarak itu dengan tubuh perempuan, ekologi, mitologi, dan kritik terhadap kekuasaan. Dan dengan keyakinan bahwa seni bukan sekadar cara untuk melihat dunia, namun juga cara untuk mempertanyakan bagaimana dunia dibentuk.
Setelah Cornell, perjalanan artistiknya masih berlanjut. Citra bersiap menuju Tselinny Center of Contemporary Culture di Almaty, Kazakhstan. Dia juga sedang mempersiapkan pameran tunggalnya di West Palm Beach, Miami. Tetapi, ke mana pun karya itu bergerak, satu hal tampaknya tetap menjadi pusat kegelisahan Citra. Yakni bagaimana tubuh, tradisi, dan alam dapat berbicara kembali setelah terlalu lama dibungkam oleh cara pandang yang ingin menguasai. Di situlah karya-karya Citra Sasmita menemukan daya hidupnya.[T]
Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole






























