9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
in Persona
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

Citra Sasmita saat menghadiri Southeast Asia Program (SEAP) di Cornell University, Amerika Serikat | Foto: Dok. Citra Sasmita

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting ketika melihat praktik artistik Citra Sasmita dalam seni rupa.

Selama ini, Citra intens mengeksplorasi seni lukis gaya Kamasan dan menginspirasinya melahirkan karya seni rupa kontemporer. Dia menjadikan seni lukis gaya Kamasan sebagai ruang dialog yang kritis. Di dalamnya, dia menemukan persoalan tentang tubuh, perempuan, alam, kekuasaan, mitologi, dan cara manusia membangun pengetahuan.

Baru-baru ini, saya berkesempatan ngobrol dengan Citra tentang pengalamannya di Cornell University, Amerika Serikat. Dari obrolan tersebut, sedikit tidaknya saya bisa memahami arah pemikiran Citra terkait proses kreatifnya dalam seni rupa. Citra diundang dalam simposium seni yang diselenggarakan Southeast Asia Program (SEAP). Namun, arti penting kehadiran Citra di Cornell pada tanggal 21–27 September 2026 tidak terutama terletak pada fakta bahwa seorang seniman asal Bali tampil di sebuah universitas Ivy League. Yang lebih menarik adalah bagaimana karya dan pemikiran Citra memasuki percakapan akademik mengenai tradisi Bali, gender, ekologi, politik air, dan sejarah seni. Dalam konteks ini, seni tidak berhenti sebagai benda yang dipajang atau gambar yang dilihat. Namun, seni menjadi pengetahuan.

Salah satu tematik yang mengemuka dalam agenda Citra di Cornell adalah Nyegara Gunung. Konsep ini mempertemukan dua wilayah kosmologis yang penting dalam kebudayaan Bali, yakni laut dan gunung. Tetapi bagi Citra, tema tersebut dapat dibaca lebih jauh melalui persoalan air, tubuh, ekologi, dan politik.Pembacaan semacam itu memperlihatkan karakter penting dalam praktiknya. Citra tidak melihat tradisi sebagai sesuatu yang beku. Tradisi justru menjadi bahasa yang dapat dibaca ulang.

Citra Sasmita saat menghadiri Southeast Asia Program (SEAP) di Cornell University, Amerika Serikat | Foto: Dok. Citra Sasmita

Perupa kelahiran Tabanan, 30 Maret 1990 ini, sejak lama telah tertarik pada seni lukis gaya Kamasan. Dia secara intens pernah belajar seni lukis gaya Kamasan pada Mangku Muriati, putri maestro Mangku Mura. Tetapi ketertarikan Citra pada seni lukis gaya Kamasan bukan sekadar pada kualitas dekoratif atau sejarah visualnya. Citra mengolah bahasa visual tersebut dengan perspektif perempuan dan pengalaman tubuh. Salah satu karya Citra yang digantung di langit-langit, misalnya, mengingatkan pada fungsi ider-ider dalam ritual Bali. Namun dalam konteks kontemporer, bentuk tersebut memperoleh kemungkinan makna baru. Konten karyanya bisa menjadi jalan untuk mempertanyakan posisi tubuh perempuan dalam sejarah representasi.

Dalam hal tersebut terdapat pergeseran penting. Jika tradisi biasanya diwariskan melalui pengulangan, Citra justru menggunakan pengulangan sebagai cara untuk melakukan pembacaan ulang. Citra masuk ke dalam seni tradisi, tetapi tidak tunduk kepadanya. Dia  menggunakan bahasa visual yang dikenalnya, tetapi mengisinya dengan pertanyaan-pertanyaan kritis.

Pembahasan Nyegara Gunung di Cornell kemudian membuka hubungan antara karya Citra Sasmita dengan lukisan gaya Kamasan karya Mangku Mura yang berjudul The Churning of the Sea of Milk (Pamuteran Giri). Karya tersebut dikoleksi oleh Herbert F. Johnson Museum of Art. Pertemuan karya itu menjadi menarik karena karya tradisional dan karya kontemporer tidak hanya dipertemukan secara visual, tetapi juga memungkinkan terjadinya percakapan mengenai kosmologi Bali dan perubahan cara pandang terhadap tradisi.

Tubuh Perempuan

Tubuh perempuan menempati posisi penting dalam cara Citra memahami seni. Baginya, tubuh bukan semata objek yang dilukis. Tubuh merupakan tempat pengalaman, ingatan, pengetahuan, sekaligus medan berlangsungnya kekuasaan. Pandangan tersebut tampak ketika terjadi dialog antara Citra dengan mahasiswa Cornell. Salah satu pertanyaan yang paling mengesankannya adalah tentang asal-usul sifat misoginis manusia.

Citra menjawab dengan membawa pertanyaan tersebut jauh ke belakang, ke awal sejarah manusia. Citra mengingat pembacaan tentang lukisan gua dan kemungkinan keterkaitannya dengan pengalaman tubuh perempuan. Juga tentang Venus of Willendorf yang dapat dibaca sebagai representasi tubuh perempuan, simbol kesuburan dan proteksi, bahkan kemungkinan sebagai potret diri.

Yang menarik bukan semata-mata benar atau tidaknya pembacaan tersebut, melainkan arah pertanyaannya. Siapa sebenarnya yang menjadi subjek dalam sejarah awal kebudayaan manusia? Jika pengalaman perempuan berada dekat dengan lahirnya simbol, ritual, seni, dan pengetahuan tentang kehidupan, bagaimana kemudian perempuan bergeser menjadi objek representasi?

Citra Sasmita saat menghadiri Southeast Asia Program (SEAP) di Cornell University, Amerika Serikat | Foto: Dok. Citra Sasmita

Dari pertanyaan tersebut, Citra melihat hubungan antara misogini dan cara manusia memperlakukan alam. Keduanya, menurutnya, dapat tumbuh dari mentalitas yang sama. Yakni  kehendak untuk menguasai, menaklukkan, dan mengontrol sesuatu yang dianggap berbeda atau berada di luar diri.

Dengan demikian, tubuh perempuan dalam praktik seni Citra tidak berdiri sendiri. Tubuh perempuan terhubung dengan persoalan ekologis. Tubuh dan alam sama-sama memiliki pengalaman dieksploitasi. Sama-sama pernah ditempatkan sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan. Maka ketika Citra berbicara mengenai perempuan, sesungguhnya dia juga sedang berbicara tentang relasi manusia dengan dunia tempatnya hidup.

Dari Estetika Menuju Ekologi

Perspektif tersebut membuat karya Citra tidak bisa hanya dibaca melalui kategori formalistik. Pertanyaan tentang garis, komposisi, warna, figur, atau teknik memang tetap penting, tetapi tidak menjadi tujuan akhir. Di balik bentuk terdapat persoalan mengenai bagaimana manusia membangun hubungan dengan yang lain.

Pengalaman Citra di Cornell semakin menguatkan keyakinan tersebut. Citra merasakan bahwa para mahasiswa dan akademisi tidak hanya membaca karya dari permukaan visualnya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru bergerak ke wilayah sejarah seni, perempuan, ekologi, kebudayaan, dan kekuasaan.

Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa seniman tidak cukup hanya menghasilkan benda seni. Yang juga penting adalah bagaimana gagasan beredar dan bagaimana pengetahuan diproduksi. Di sinilah praktik Citra memperoleh dimensi lain. Sebuah lukisan tidak hanya menjadi representasi. Namun bisa menjadi argumen, atau pertanyaan yang tidak selalu langsung bisa dijawab.

Timur Merah Project IX: Beyond the Realm of Senses (Oracle and Demons) karya Citra Sasmita | Foto: Dok. Citra Sasmita

Dalam pengertian tersebut, karya-karya Citra berada di wilayah yang menarik antara estetika dan kritik. Dia menggunakan bahasa visual tradisi untuk membicarakan persoalan kontemporer, tetapi tidak kehilangan akar kulturalnya.

Akuisisi Cornell

Salah satu karya Citra Sasmita dari Timur Merah Project IX: Beyond the Realm of Senses (Oracle and Demons) kini menjadi bagian dari koleksi Herbert F. Johnson Museum of Art. Karya tersebut sebelumnya pernah dipamerkan di São Paulo Biennale 2023. Akuisisi Cornell terhadap karya Citra menjadi penting karena prosesnya berlangsung melalui mekanisme kuratorial dan rapat formal komite, dengan pertimbangan terhadap relevansi, kualitas artistik, dan kemampuan karya berdialog dengan koleksi permanen museum.

Karya Citra dipertemukan dengan karya-karya seni Bali bertema Nyegara-Gunung dan koleksi Himalayan Art. Dengan demikian, lukisan tersebut tidak hadir sebagai objek yang berdiri sendiri. Lukisan tersebut masuk ke dalam jaringan sejarah, tradisi, spiritualitas, dan pengetahuan lintas kebudayaan. Hal itu penting bagi seni rupa Bali kontemporer.

Selama ini, seni lukis tradisional Bali kerap ditempatkan sebagai sesuatu yang eksotis ketika masuk ke ruang seni internasional. Karya Citra menawarkan posisi yang berbeda. Karya itu tidak hanya membawa “Bali” sebagai identitas visual. Tetapi membawa persoalan dari dalam kebudayaan tersebut. Tentang bagaimana tradisi bekerja, tubuh perempuan direpresentasikan, alam dipahami, dan mitologi dapat dibaca kembali. Dengan kata lain, yang bergerak dari Bali ke ruang museum internasional bukan hanya karya Citra, namun juga pemikirannya.

Etika dalam Ekosistem Seni

Di sisi lain, dalam obrolan saya dengan Citra, terlintas pembahasan tentang persoalan etika terkait ekosistem seni. Menurutnya, perkembangan seni rupa tidak cukup diukur dari banyaknya pameran, tingginya nilai transaksi, atau luasnya jaringan internasional. Yang tidak kalah penting adalah kualitas budaya intelektual yang menyertainya.Bagi Citra, seni memerlukan budaya membaca, ketelitian, dan penghargaan terhadap gagasan dan kerja artistik.

Timur Merah Project IX: Beyond the Realm of Senses (Oracle and Demons) karya Citra Sasmita | Foto: Dok. Citra Sasmita

Citra menyoroti persoalan yang tampak sederhana, namun sering diabaikan. Misalnya, pencantuman nama seniman dan judul karya secara benar dalam jurnal, berita, katalog, maupun media sosial. Bagi Citra, kesalahan atau pengabaian terhadap hal tersebut bukan sekadar persoalan administratif. Di dalamnya terdapat persoalan etika. Memberikan kredit kepada seniman berarti mengakui keberadaan dan kerja intelektualnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan cara Citra memandang seni secara keseluruhan. Seni tidak berdiri di luar kehidupan. Seni berada dalam jaringan relasi sosial, kebudayaan, ekonomi, pengetahuan, dan kekuasaan. Karena itu, membicarakan karya juga berarti membicarakan cara kita memperlakukan pembuatnya.

Daya Kritis dari Tradisi

Di tengah arus seni rupa kontemporer yang semakin global, posisi Citra menarik karena dia tidak membangun praktiknya melalui pemutusan terhadap tradisi. Sebaliknya, dia justru menemukan daya kritis dari dalam tradisi itu sendiri.Kamasan tidak ditinggalkan. Mitologi tidak dibuang. Kosmologi Bali tidak dianggap sebagai masa lalu yang harus disimpan di museum. Semua itu dibawa ke ruang kontemporer dan dipertanyakan kembali. Di tangan Citra, tradisi menjadi  renungan dan pertanyaan yang berkelanjutan.

Tubuh perempuan menjadi salah satu pintu untuk memasuki pertanyaan tersebut. Dari tematik tubuh, Citra bergerak menuju alam. Dari alam menuju persoalan kekuasaan. Dari kekuasaan menuju sejarah. Dan dari sejarah kembali kepada persoalan manusia hari ini. Itulah yang membuat karya Citra tidak cukup dibaca hanya sebagai representasi perempuan atau sebagai “bentuk baru” dari seni tradisi Bali. Ada usaha untuk membongkar cara kita melihat seni.

Citra Sasmita saat menghadiri Southeast Asia Program (SEAP) di Cornell University, Amerika Serikat | Foto: Dok. Citra Sasmita

Barangkali inilah salah satu makna penting dari perjalanan Citra ke Cornell. Dia tidak sekadar membawa karya ke sebuah ruang akademik internasional. Citra membawa pertanyaan: bagaimana sebuah tradisi dapat tetap hidup justru ketika berani dibaca ulang? Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika karya kontemporer bertemu dengan artefak tradisi di dalam museum. Sebab di antara keduanya selalu ada jarak waktu, pengalaman, dan cara pandang. Citra mengisi jarak itu dengan tubuh perempuan, ekologi, mitologi, dan kritik terhadap kekuasaan. Dan dengan keyakinan bahwa seni bukan sekadar cara untuk melihat dunia, namun juga cara untuk mempertanyakan bagaimana dunia dibentuk.

Setelah Cornell, perjalanan artistiknya masih berlanjut. Citra bersiap menuju Tselinny Center of Contemporary Culture di Almaty, Kazakhstan. Dia juga sedang mempersiapkan pameran tunggalnya di West Palm Beach, Miami. Tetapi, ke mana pun karya itu bergerak, satu hal tampaknya tetap menjadi pusat kegelisahan Citra. Yakni bagaimana tubuh, tradisi, dan alam dapat berbicara kembali setelah terlalu lama dibungkam oleh cara pandang yang ingin menguasai. Di situlah karya-karya Citra Sasmita menemukan daya hidupnya.[T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: Citra SasmitaCornell UniversityPerupa BaliSeniSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

Next Post

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co