KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan kerap bekerja dengan cara yang lebih sunyi. Ia menggeser tujuan, mengubah cara pandang, lalu mempertemukan kita dengan sesuatu yang tidak tercantum dalam peta: diri sendiri.
Saya membaca Traveling With Soul sebagai seorang teman perjalanan. Bukan hanya karena saya mengenal penulisnya—Meilani Dhamayanti, seorang dosen di BINUS—tetapi karena beberapa destinasi yang ditulisnya pernah saya datangi bersamanya. Kedekatan itu membuat buku ini menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda. Nama tempat, lanskap, kejadian, dan suasana tertentu membawa saya kembali kepada waktu yang pernah kami lewati bersama. Namun dari sana saya justru menemukan sesuatu yang menarik: perjalanan yang sama tidak pernah benar-benar tinggal dengan cara yang sama dalam ingatan setiap orang.
Meilani tidak menulis perjalanan semata sebagai catatan tentang ke mana kaki pernah melangkah. Ia membawa pembaca masuk ke dalam pengalaman: kejadian, perjumpaan, lanskap, kesunyian, kelelahan, kegembiraan, juga perasaan-perasaan kecil yang menyertai perjalanan. Karena itu, buku ini tidak berhenti sebagai dokumentasi destinasi. Ia bergerak menjadi refleksi tentang apa yang terjadi pada manusia ketika tubuhnya keluar dari rutinitas.
Di situlah kekuatan Traveling With Soul.
Perjalanan di dalam buku ini bergerak dari ruang geografis menuju ruang batin. Gunung, laut, hutan, air, batu, akar, angin, dan kabut tidak hanya hadir sebagai objek pandang. Alam menjadi semacam bahasa yang memungkinkan manusia membaca dirinya sendiri. Lanskap tidak sekadar dilihat, tetapi dialami. Perjalanan tidak sekadar ditempuh, tetapi direnungkan.
Hutan, misalnya, membawa kita kepada pengalaman melambat. Di bawah pepohonan, tubuh yang terbiasa dikejar waktu kota menemukan ritme lain. Aroma tanah, suara burung, serangga, ranting, dan angin menciptakan kesunyian yang tidak benar-benar sepi. Di sana kita belajar hadir.

Pohon-pohon tidak mengumumkan pertumbuhannya. Akar bekerja dalam gelap, batang meninggi dalam diam, daun membuka diri kepada cahaya tanpa meminta tepuk tangan. Hutan mengajarkan bahwa pertumbuhan tidak selalu membutuhkan suara. Sebelum sibuk menunjukkan seberapa tinggi kita telah tumbuh, mungkin kita perlu bertanya seberapa dalam kita mengenal diri sendiri.
Air terjun menghadirkan pelajaran lain: melepaskan.
Air jatuh, menghantam batu, pecah, lalu menemukan alirannya kembali. Ia tidak mempertahankan bentuk. Ia tidak memaksa jalan tetap lurus. Dari geraknya, perjalanan berubah menjadi pembacaan tentang manusia yang terlalu lama menggenggam sesuatu yang sebenarnya sudah waktunya dilepaskan: peristiwa yang telah lewat, kekecewaan, kehilangan, atau bahkan gambaran tentang diri sendiri yang sudah tidak sesuai dengan kehidupan hari ini.
Air mengajarkan bahwa bergerak tidak selalu berarti melawan.
Sementara gunung membawa kita kepada bahasa daya juang sekaligus tahu diri. Jalur menanjak memaksa tubuh mengenali batas. Napas berubah, kaki bekerja, keringat mengalir, dan pada titik tertentu kehendak harus berunding dengan kemampuan tubuh.
Di sana kuat bukan berarti tidak lelah. Kuat berarti mengenali lelah, menghormatinya, lalu menentukan langkah dengan kesadaran.
Puncak pun tidak semestinya dibaca sebagai kemenangan atas gunung. Gunung tidak pernah kalah. Ia tetap berdiri ketika kita pulang. Yang sebenarnya kita hadapi adalah ego sendiri: keinginan membuktikan bahwa kita mampu, dorongan untuk terus berjalan ketika tubuh meminta jeda, dan hasrat menaklukkan sesuatu yang sejak awal tidak pernah meminta ditaklukkan.
Ketika berada di ketinggian dan melihat dunia mengecil di bawah sana, persoalan tidak serta-merta hilang. Ia hanya memperoleh jarak. Jalan yang tadi terasa panjang menjadi garis kecil. Kerumitan kota berubah ukuran. Dari sana kita memahami bahwa salah satu hadiah perjalanan bukanlah jawaban, melainkan perspektif.
Yang menarik, kekuatan buku ini tidak hanya terletak pada destinasi yang dipilih, tetapi pada cara Meilani mengolah perjalanan menjadi pengalaman yang memiliki lapisan. Ia tidak membiarkan gunung berhenti sebagai gunung, hutan sekadar hutan, atau air terjun hanya menjadi tempat yang indah untuk difoto. Setiap ruang diberi kesempatan untuk berbicara melalui pengalaman manusia yang berada di dalamnya. Destinasi menjadi pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih dalam tentang tubuh, waktu, keberanian, kehilangan, batas, dan cara kita memandang hidup.
Di tangan Meilani, pengalaman yang sangat personal perlahan bergerak menuju sesuatu yang lebih universal. Ia berangkat dari apa yang dilihat, dialami, dan dirasakan, lalu membuka ruang bagi pembaca untuk menemukan pengalaman dirinya sendiri. Inilah yang membuat buku perjalanan ini tidak terasa sebagai daftar tempat yang pernah dikunjungi. Pembaca tidak hanya diberi informasi tentang perjalanan, tetapi diajak mengalami kembali suasananya melalui ingatan, imajinasi, dan refleksi. Ada jarak antara penulis dan pembaca, tetapi bahasa membuat jarak itu menjadi dekat.

Cara tersebut juga memperlihatkan bahwa menulis perjalanan bukan sekadar memindahkan pengalaman ke atas halaman. Ada proses memilih apa yang hendak diingat dan apa yang hendak diberi makna. Meilani mengabadikan bukan hanya peristiwa besar, tetapi juga detail dan perasaan yang mungkin tampak kecil ketika perjalanan sedang berlangsung. Justru melalui detail-detail itulah perjalanan memperoleh kedalaman. Pembaca tidak hanya mengetahui bahwa penulis pernah berada di suatu tempat, tetapi dapat merasakan mengapa tempat itu penting dan apa yang ditinggalkannya di dalam diri penulis.
Pembacaan seperti inilah yang membuat Traveling With Soul lebih dari buku perjalanan. Alam menjadi ruang belajar. Tubuh menjadi alat pembacaan. Perjalanan menjadi cara memahami batas, keberanian, kehilangan, kesabaran, dan penerimaan.
Pada saat yang sama, buku ini mengingatkan bahwa perjalanan juga memiliki dimensi etis. Hutan bukan latar foto. Sungai bukan sekadar tempat bermain. Gunung bukan panggung untuk mempertontonkan keberanian. Kita datang sebagai tamu kepada sesuatu yang telah hidup jauh sebelum kita hadir dan akan tetap hidup setelah kita pergi.
Pohon, burung, serangga, lumut, batu, sungai, tanah, dan udara memiliki kehidupan masing-masing. Kesadaran itu menggeser posisi manusia dari pusat menjadi bagian. Perjalanan dengan demikian tidak hanya memperluas pandangan tentang dunia, tetapi juga mengecilkan ego di hadapan kehidupan yang lebih luas.
Ada pula lapisan pengalaman perempuan yang menarik dibaca dari buku ini. Tubuh perempuan tidak pernah sepenuhnya berjalan tanpa membawa kewaspadaan sosial, tatapan, batas, dan berbagai pertanyaan tentang ruang yang boleh ditempatinya. Karena itu, perjalanan bagi perempuan dapat menjadi pengalaman mengambil kembali ruang bagi pilihan, tubuh, dan suara sendiri.
Namun keberanian tidak selalu berarti terus berjalan. Ada keberanian yang lebih hening: mengenali batas tubuh, mendengar kelelahan, menerima ketakutan, dan tahu kapan harus berhenti. Pada suatu usia, kita memahami bahwa tidak semua gunung harus didaki dan tidak semua jalan harus diselesaikan agar perjalanan dianggap berhasil.
Tubuh bukan alat untuk membuktikan sesuatu kepada dunia. Ia adalah rumah yang membawa kita melewati begitu banyak musim.
Dari sini Traveling With Soul menjadi relevan bagi siapa pun yang sedang menjalani perubahan dalam hidup. Mereka yang memasuki usia baru, menghadapi kehilangan, merasa lelah, membutuhkan jeda, atau sedang mencari arah setelah peta lama tidak lagi cukup. Sebab seseorang dapat berpindah dari kota ke kota, gunung ke gunung, pantai ke pantai, tetapi tetap tinggal di tempat yang sama di dalam dirinya. Tubuh bergerak, tetapi batin tidak berangkat.
Sebaliknya, seseorang dapat duduk diam di sebuah kamar dan menempuh perjalanan yang jauh ketika berani membuka pintu batinnya sendiri.
Karena itu, saya tidak membaca buku ini sebagai petunjuk tentang ke mana kita harus pergi. Saya membacanya sebagai ajakan untuk memperhatikan apa yang terjadi ketika kita pergi: apa yang disentuh perjalanan, apa yang berubah, apa yang tertinggal, dan apa yang diam-diam kita bawa pulang.
Di sinilah pengalaman personal Meilani memperoleh kekuatan literernya. Ia tidak hanya memindahkan perjalanan ke dalam tulisan, tetapi mengolahnya menjadi pengalaman yang dapat dibaca ulang oleh orang lain. Pengalaman yang semula personal menjadi ruang refleksi bersama.
Sebagai teman perjalanan, saya merasakan lapisan itu secara lebih dekat. Beberapa tempat yang ditulis Meilani pernah menjadi bagian dari perjalanan kami. Ketika ia menuliskannya, tempat-tempat itu memperoleh cahaya lain. Saya menemukan kembali serpihan pengalaman yang pernah kami bagi, sekaligus menyadari bahwa kami ternyata tidak membawa pulang kenangan yang sama.
Perjalanan bersama tidak selalu menghasilkan ingatan yang sama. Justru perbedaan cara mengingat itulah yang memperkaya pengalaman.
Buku kemudian menjadi kendaraan kedua bagi perjalanan. Kita tidak perlu kembali mengemas tas, menempuh jalan, mengejar waktu, atau mencari arah. Cukup membuka halaman, sesuatu yang pernah selesai dapat bergerak kembali. Tempat yang jauh menjadi dekat. Peristiwa yang telah berlalu memperoleh kehidupan baru melalui bahasa.
Mungkin itulah kerja paling sunyi dari sebuah buku perjalanan: membuat sesuatu yang telah berlalu tidak sepenuhnya menjadi masa lalu.
Pada akhirnya, setiap perjalanan akan selesai. Kabut terangkat. Jejak kaki hilang. Tempat-tempat yang pernah kita datangi terus bergerak dalam waktunya sendiri. Namun pengalaman tidak selalu ikut selesai. Sebuah pagi dapat tinggal. Sebuah percakapan dapat tinggal. Sebuah lanskap dapat tinggal. Bahkan sebuah perasaan yang tidak sempat diberi nama dapat bertahan lebih lama daripada perjalanan itu sendiri.
Karena itu, mengabadikan perjalanan bukan sekadar menyimpan foto atau mencatat tempat. Kita sedang merawat momen agar tidak habis ditelan waktu. Foto menyimpan rupa, peta menyimpan koordinat, catatan menyimpan peristiwa, tetapi kata-kata dapat menyimpan getaran: kesunyian yang pernah didengar, udara yang pernah dihirup, takut yang pernah dilewati, kegembiraan yang pernah singgah, dan kesadaran yang tumbuh diam-diam di sepanjang jalan.
Dari sanalah momen berubah menjadi monumen.

Bukan monumen dari batu, marmer, atau bangunan yang menjulang, melainkan monumen yang tumbuh di dalam kesadaran. Gunung yang pernah didaki, hutan yang pernah dilalui, air yang pernah menyentuh kaki, kabut yang pernah mengaburkan pandangan, dan cahaya yang pernah jatuh di batas cakrawala perlahan berhenti menjadi sekadar koordinat geografis. Semuanya menjadi bagian dari cara kita mengenali diri.
Perjalanan memberi tubuh ruang untuk bergerak dan pikiran ruang untuk bernapas. Ia mengajarkan awareness: hadir sepenuhnya terhadap tempat, tubuh, napas, alam, batas, dan saat yang sedang berlangsung. Dari sana tumbuh meaningfulness, kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus diukur melalui pencapaian besar. Sebuah perjalanan dapat berarti karena membuat kita lebih mengenal diri, lebih peka terhadap alam, lebih lapang menerima perubahan, lebih mampu melepaskan, dan lebih rendah hati menghadapi kehidupan.
Dalam pengertian itu, perjalanan juga dapat menjadi ruang pemulihan mental. Bukan karena alam otomatis menyelesaikan persoalan, melainkan karena ia memberi jarak dari kebisingan, membuka ruang untuk mengendapkan pikiran, dan mengembalikan perhatian kepada tubuh serta saat kini.
Dan ketika pengalaman itu ditulis, pemulihan personal menemukan kemungkinan yang lebih luas. Ia menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan.
Itulah yang dilakukan Traveling With Soul. Pengalaman yang semula hidup dalam ruang batin seorang pelancong bergerak menjadi pengalaman yang dapat dibaca, direnungkan, dan diwariskan. Perjalanan tidak lagi berhenti sebagai kenangan pribadi. Ia tumbuh menjadi peninggalan intelektual: cara membaca dunia melalui kaki yang berjalan, mata yang memperhatikan, tubuh yang mengalami, dan batin yang bersedia belajar.
Maka buku ini layak dibaca bukan hanya oleh mereka yang gemar bepergian, tetapi oleh siapa pun yang sedang belajar memahami hidup. Sebab yang penting dari perjalanan bukan seberapa jauh kita pergi, berapa banyak tempat yang kita datangi, atau berapa banyak foto yang kita bawa pulang. Yang lebih penting adalah apa yang berubah di dalam diri setelah semua langkah itu selesai.
Pada akhirnya, mungkin kita akan lupa nama jalan, jarak, urutan peristiwa, bahkan detail sebuah perjalanan. Foto akan tenggelam di antara ribuan gambar lain. Tempat yang pernah kita datangi mungkin berubah wajah. Namun pengalaman yang telah menemukan makna akan tetap mencari rumahnya di dalam diri.
Karena itu, Traveling With Soul tidak sekadar mengajak kita bepergian. Ia mengajak kita mengalami perjalanan dengan kesadaran, mengabadikan momen sebelum waktu menghapusnya, lalu mengolah pengalaman menjadi makna.
Sebab monumen terbaik dari sebuah perjalanan bukanlah bangunan yang kita tinggalkan di suatu tempat, melainkan kesadaran yang kita bawa pulang.

Dan barangkali itulah perjalanan yang paling jauh: dari tempat menuju makna, dari pengalaman menuju kesadaran, dari kenangan menuju pengetahuan, lalu dari dunia yang kita jelajahi menuju diri yang akhirnya kita kenali kembali.
Traveling With Soul adalah buku tentang perjalanan yang tidak selesai ketika langkah berhenti. Ia terus berjalan di dalam ingatan, bekerja di dalam kesadaran, dan meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada jejak kaki: sebuah warisan pengalaman yang dapat dibaca kembali oleh siapa pun yang ingin memahami bahwa hidup pun sesungguhnya adalah perjalanan.
Ada satu hal yang nyaris terlupa saya masukkan dalam pembacaan buku ini: saya bukan hanya pembaca, tetapi juga termasuk teman seperjalanan. Saya berada di antara langkah-langkah yang dituliskan, ikut menyusuri jalan, merasakan lelah, berjalan pelan ketika tubuh mulai meminta jeda, berhenti untuk mengabadikan momen, dan sesekali berada di barisan belakang. Pada usia yang tak lagi muda, perjalanan menemukan maknanya sendiri. Kami tidak sedang berlomba menjadi yang pertama sampai. Kami belajar bahwa berjalan pelan pun memiliki keindahan, bahwa melepas lelah adalah bagian dari perjalanan, dan bahwa kebersamaan sering kali justru tumbuh dalam jeda-jeda sederhana yang tidak direncanakan.
Barangkali kelak yang paling dikenang bukan hanya puncak yang berhasil dicapai, lanskap yang terbentang, atau foto-foto yang tersimpan dalam gawai, melainkan proses menuju ke sana. Langkah yang ditempuh bersama, percakapan di tengah perjalanan, tubuh yang sama-sama lelah, tawa yang muncul di sela napas panjang, dan keputusan untuk tetap berjalan meski perlahan. Sebab perjalanan pada akhirnya bukan hanya tentang ke mana kita sampai, tetapi tentang siapa kita ketika sedang menuju. Dan mungkin, pada usia tertentu, justru proses menuju itulah yang menjadi tujuan paling sunyi sekaligus paling bermakna.
Bacalah buku ini. Milikilah. Bukan semata untuk mengetahui ke mana Meilani pernah pergi, melainkan untuk menemukan pertanyaan yang mungkin sedang menunggu kita sendiri: setelah sejauh ini berjalan, apa yang sesungguhnya kita bawa pulang?[T]
Jakarta, Oktober 2026
Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole






























