SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka menunggu giliran tampil. Mereka tampak akrab karena memang tergabung dalam satu komunitas seni yang telah lama terjalin.
Sementara itu, di sisi kiri panggung, stan-stan kuliner yang menjajakan berbagai produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan sabar menunggu pembeli. Para penjaga stan tampak berbincang hangat di sela-sela menanti pengunjung.
Itulah suasana persiapan pembukaan Nusantara International Folklore Festival (NIFF) 2026 di panggung Museum Puri Lukisan, Ubud, Sabtu, 26 September 2026. Komunitas seni Bumi Bajra tengah melakukan gladi dan mendapat kesempatan tampil dalam pembukaan NIFF untuk kedua kalinya.
Gladi tersebut menjadi tontonan menarik bagi para tamu yang sedang menikmati berbagai koleksi museum. Aktivitas seni dan kunjungan museum seolah bertemu dalam satu ruang, menciptakan suasana yang berbeda dari biasanya.
Tak jauh dari sana, suasana serupa juga terasa di panggung terbuka Pasar Rakyat Ubud. Tarian perang Kapa Haka yang dibawakan oleh suku Māori dari Selandia Baru memikat para pengunjung di destinasi yang dikenal kaya akan budaya tersebut.

Wisatawan mancanegara maupun domestik memadati area panggung untuk menyaksikan pentas kesenian rakyat dalam rangkaian pembukaan NIFF. Sorak dan perhatian penonton mengikuti gerak para penampil yang membawa tradisi Māori ke ruang publik Ubud.
Penampilan Nadarzyn Orchestra asal Polandia kemudian turut memukau pengunjung yang datang ke area pasar seni tersebut. Para tamu yang hadir seolah mendapatkan pengalaman berlibur yang berbeda: menikmati Bali sekaligus menyaksikan perjumpaan kesenian rakyat dari berbagai negara.
Tarian Kapa Haka dari Selandia Baru dan penampilan Nadarzyn Orchestra Polandia menjadi dua pertunjukan yang mencuri perhatian. Musik yang menggema dan gerak tari yang dinamis menghadirkan suasana festival di tengah aktivitas Pasar Rakyat Ubud.
Festival Director & Co-Founder NIFF, Sita Tyasutami, mengatakan NIFF 2026 kembali hadir di Ubud, Bali, dengan rangkaian pertunjukan utama pada 26–27 September 2026. Festival yang mengusung tema “Global Rhythms, Shared Stories” ini mempertemukan kelompok seni dan seniman dari berbagai daerah di Indonesia dengan peserta internasional dari Jepang, Selandia Baru, Polandia, dan Thailand.
Di Ubud, NIFF 2026 menghadirkan pertunjukan, workshop, serta ruang pertemuan antarbudaya. Program festival mencakup berbagai bentuk seni tradisi, mulai dari tari Bali, Jawa, Sunda, Minangkabau, Dayak, dan tradisi Nusantara lainnya, hingga Nihon Buyo dari Jepang, musik orkestra Polandia, seni tari Thailand, serta Kapa Haka dari Selandia Baru.


NIFF merupakan kelanjutan dari perjalanan Jakarta International Folklore Festival (JIFF) yang pertama kali diselenggarakan pada 2019 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta. Setelah terhenti akibat pandemi COVID-19, festival kembali hadir secara independen melalui penyelenggaraan NIFF 2025 di Ubud. Tahun ini merupakan edisi kedua NIFF.
“NIFF pertama kali dimulai di tahun 2019 dengan nama Jakarta International Folk Festival saat itu di Lapangan Banteng. Awalnya mau terus berlanjut, tetapi dengan perubahan kepemimpinan dan kemudian pandemi COVID, akhirnya semua terhenti. Pada 2024 kami berpikir, yuk kita bikin lagi, tidak usah menunggu siapa pun, kita bikin sendiri,” ujar Sita Tyasutami.
Bali dipilih sebagai lokasi festival karena memiliki daya tarik yang kuat bagi peserta maupun penonton dari berbagai daerah dan negara. Pada awalnya, NIFF dirancang untuk berpindah dari satu kota ke kota lain setiap tahun. Namun, penyelenggara melihat bahwa festival masih membutuhkan waktu untuk membangun identitas dan jejaringnya.
“Awalnya kami memang merencanakan agar setiap tahun festival berpindah kota. Namun setelah melihat tahun lalu dan tahun ini, mungkin kami masih perlu minimal satu tahun lagi di Bali, yaitu 2027. NIFF masih baru, jadi kami perlu settle dulu secara nama dan brand agar gaungnya semakin besar sebelum kemudian pindah-pindah kota,” terang Sita Tyasutami.
Folklore sebagai Tradisi yang Terus Berkembang
Bagi NIFF, folklore tidak dipahami sebagai sesuatu yang berhenti pada bentuk tradisi masa lalu. Festival melihat folklore sebagai bagian dari kebudayaan yang terus berkembang bersama masyarakatnya.
“Folklore itu tidak berhenti pada tradisi yang begini atau begitu. Folklore adalah bagian dari kebudayaan yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan manusianya. Jadi kami tidak kaku dengan pakem. Komunitas keraton juga bagian dari folklore, komunitas rakyat juga bagian dari folklore,” ujar Curator NIFF 2026, Jasmine Okubo.
Jasmine menjelaskan bahwa keberagaman menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan program NIFF 2026. Festival tidak hanya mempertemukan tradisi dari berbagai negara, tetapi juga membuka ruang bagi kelompok seni dari berbagai daerah dan lintas generasi.
“Kami ingin menghadirkan keberagaman, baik dari berbagai negara maupun dari Indonesia sendiri. Kami juga berusaha memberikan ruang kepada teman-teman dari daerah lain dan anak-anak muda yang ingin terlibat di panggung internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Artistic Director & Co-Founder NIFF, Maria Darmaningsih, mengatakan gagasan NIFF juga berangkat dari kegelisahan melihat banyak kelompok seni Indonesia yang harus mengeluarkan biaya besar untuk mengikuti festival di luar negeri. Padahal, Indonesia sendiri memiliki banyak komunitas seni yang membutuhkan ruang tampil.

“Coba yuk kita mengangkat kesenangan mereka itu dengan membuat festival. Saya sendiri memang menari sejak umur enam tahun, jadi seni pertunjukan itu memang sudah mendarah daging. Energinya memang bergulir saja,” kata Maria.
Konsep tersebut diwujudkan melalui keterlibatan kelompok seni dari berbagai daerah. NIFF tidak hanya menghadirkan kelompok dari Bali, tetapi juga komunitas dan seniman dari Jakarta, Yogyakarta, Indramayu, Dharmasraya, Palangka Raya, dan Dompu.
Dari luar Indonesia, peserta tahun ini berasal dari Jepang, Selandia Baru, Polandia, dan Thailand. Keberagaman asal peserta tersebut menjadi bagian penting dari upaya NIFF membangun ruang perjumpaan antara tradisi Nusantara dan tradisi dari berbagai belahan dunia.
Tradisi, Kreativitas, dan Keberagaman
Sita Tyasutami menjelaskan bahwa proses pemilihan peserta dilakukan melalui submission dan pembahasan kuratorial. Tidak semua kelompok yang mendaftar otomatis diterima. Tim kurator mempertimbangkan kesiapan dan kualitas artistik setiap peserta.
“Tahun lalu ada satu grup yang sangat ingin ikut, tetapi menurut kami secara artistik sebenarnya belum bisa. Akhirnya saya dan Ibu Maria membimbing selama sekitar satu bulan sampai akhirnya mereka siap untuk tampil,” jelas Sita.
Untuk peserta internasional, prosesnya juga mempertimbangkan aspek administratif dan logistik, termasuk visa, perjalanan, dan biaya kehadiran. Jasmine menyebut sejumlah calon peserta internasional akhirnya tidak dapat hadir karena kendala biaya perjalanan.

Di sisi lain, keberadaan peserta internasional tetap menjadi bagian penting dari identitas NIFF sebagai festival folklore internasional.
“Karena kami menggunakan kata internasional, kami juga harus bertanggung jawab dengan peserta luar. Kami memang ingin sebanyak-banyaknya peserta internasional hadir,” ujar Jasmine.
Membuka Ruang Pertukaran Budaya
Pertemuan antara kelompok seni Indonesia dan internasional menjadi salah satu fokus NIFF 2026. Festival tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga workshop yang memungkinkan peserta belajar langsung dari tradisi yang berbeda.
Program workshop mencakup Solah Masolah bersama Nyoman Sudewi, Kecak Dance Collaboration bersama Prof. I Wayan Dibia, Jaimasan Dance bersama Didik Nini Thowok, Fauwn Leb (Fingernail Dance) bersama Sirisook Dance Theatre dari Thailand, serta Maori Dance & Kapa Haka bersama Wairea Performing Arts dari Selandia Baru.
Pada pertunjukan 26 September, NIFF menampilkan antara lain Legong Trance dari Panca Artha Bali, Nyawiji karya Maria Darmaningsih, Polish Regional Music Medley dari Nadarzyn Orchestra Polandia, Echigojishi dari Kimiko Wakayagi Jepang, serta Kapa Haka dari Wairea Performing Arts Selandia Baru.
Sementara itu, pada 27 September, program menghadirkan Reog Ponorogo dari PAKASA Bali, Spirit of the Thai Kingdom dari Sirisook Dance Theatre, A Prayer dari Kimiko Wakayagi, Atua Wahine – Ancient Māori Goddesses dari Wairea Performing Arts, Polonaise in A Major & Dynamic Music Showcase dari Nadarzyn Orchestra, Kecak Collaboration bersama I Wayan Dibia, hingga Closing Show oleh KunoKini.


Bagi Maria, pertemuan tersebut menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang untuk melihat persamaan manusia di tengah perbedaan budaya.
“Ketika kita menari, kita tidak menghidupkan perbedaan, tetapi justru melihat bahwa kita semua manusia sama,” ujar Maria.
Maria juga mencontohkan kehadiran Nadarzyn Orchestra dari Polandia sebagai salah satu bentuk kesenian yang memperluas pemahaman tentang folklore.
“Itu menarik sekali. Kita juga belajar dari kesenian yang lain,” paparnya.
Bali sebagai Ruang Pertemuan
Pemilihan Ubud sebagai lokasi NIFF juga membuka ruang pertemuan antara komunitas seni lokal dengan peserta dari berbagai daerah dan negara. Maria mengatakan penyelenggara berusaha membangun hubungan dengan komunitas setempat dan tidak datang sebagai pihak luar yang berdiri sendiri.
“Kami sebagai orang dari luar Bali harus menyadari bahwa kami adalah tamu. Jadi harus baik, harus seimbang. Semuanya harus selaras,” ujar Maria.

Semangat tersebut juga terlihat dari keterlibatan komunitas dan kelompok seni Bali dalam program NIFF 2026, termasuk Panca Artha, Bumi Bajra, Kerta Art, Sasi Wimba, PAKASA Bali, dan Soul of Melanesian.
Melalui pertemuan antara kelompok lokal, nasional, dan internasional, NIFF 2026 membawa kembali gagasan utama festival: tradisi tidak hanya dipelihara sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dipraktikkan, dipertukarkan, dan dikembangkan.
“Semoga ke depannya NIFF bisa terus berlanjut dengan baik, semakin banyak peserta internasional maupun dari seluruh Indonesia. Kami ingin ada yang datang dari Sabang sampai Merauke, dengan komunitas yang berbeda-beda,” ujar Sita.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































