BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh lebih luas. Ia juga menunjuk pada ketidakpuasan, ketidakpastian, perubahan, dan kenyataan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya dapat menggenggam hidup sesuai keinginannya.
Di rumah sakit, gagasan itu terasa begitu dekat. Tubuh yang sakit, waktu yang tertunda, antrean, kecemasan, dan kabar dari dokter membuat manusia berhadapan dengan sesuatu yang selama ini sering ingin kita hindari.
Namun, beberapa hari terakhir saya melihat sisi lain dari rumah sakit. Di antara wajah-wajah lelah para pasien, saya menemukan wajah-wajah optimis para penunggu. Mereka adalah keluarga, pasangan, anak, saudara, atau orang-orang terdekat yang dengan penuh cinta berada di sisi pasien. Sebagian bertahan sejak malam hingga pagi, tidur seadanya di kursi atau tempat yang tidak dirancang untuk beristirahat. Mereka menunggu obat bekerja, menunggu dokter datang, menunggu hasil pemeriksaan, bahkan sekadar menunggu pasien tertidur dengan tenang.
Saya memperhatikan bagaimana malam di rumah sakit berjalan. Tidak seperti malam di rumah sendiri yang biasanya memiliki batas jelas antara aktivitas dan tidur, malam di rumah sakit terasa seperti perpanjangan dari siang. Lampu tetap menyala. Perawat datang memeriksa kondisi pasien. Bunyi roda tempat tidur sesekali terdengar dari lorong. Orang-orang berbicara dengan suara yang ditahan. Ada yang tidur, ada yang terjaga, ada yang melihat layar telepon genggam.
Sebelum tidur, beberapa orang memutar video atau lagu yang lucu untuk membunuh rasa penat. Sesekali terdengar tawa kecil. Saya menyukai momen seperti itu karena ia terasa begitu manusiawi. Di tengah ruang yang dipenuhi istilah medis, jarum infus, obat-obatan, hasil laboratorium, dan kecemasan, seseorang masih membutuhkan sesuatu yang sederhana, yakni, tertawa.
Humor tentu tidak menyembuhkan kanker. Ia tidak menggantikan kemoterapi, operasi, radioterapi, ataupun obat yang diberikan dokter. Tetapi humor memberi jeda. Beberapa menit tawa dapat membuat malam yang panjang terasa sedikit lebih manusiawi. Lagu juga demikian. Ia tidak mengubah hasil pemeriksaan, tetapi dapat membuat seseorang sejenak lupa bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.
Barangkali di situlah saya mulai melihat dukkha dari sisi yang berbeda. Penderitaan memang hadir, tetapi manusia tidak selalu menghadapinya dengan wajah muram. Di dalam penderitaan, manusia masih bisa bercanda, mencintai, berharap, dan mencari hal-hal kecil yang membuat kehidupan terasa normal.
Rumah sakit bukan hanya tempat penyakit diperiksa dan tubuh dirawat. Ia juga menjadi ruang tempat hubungan antarmanusia terlihat dengan sangat jelas. Ketika tubuh seseorang menjadi lemah, perhatian orang lain sering kali menjadi sumber kekuatan yang tidak tercatat dalam hasil laboratorium.
Kemoterapi menjadi contoh menarik tentang bagaimana bayangan mengenai sebuah pengobatan dapat memengaruhi pengalaman seseorang terhadap penyakit. Bagi banyak orang, kata “kemoterapi” saja sudah terdengar menyeramkan. Gambaran tentang rambut rontok, tubuh lemah, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan berbagai efek samping telah begitu kuat melekat dalam imajinasi publik.
Bahkan sebelum seseorang menjalani kemoterapi, ia mungkin sudah mempunyai gambaran tertentu tentang apa yang akan terjadi pada tubuhnya. Ia mungkin pernah melihat film tentang pasien kanker, atau membaca kisah penyintas di media sosial. Ia mungkin mendengar pengalaman kerabat atau tetangga. Semua cerita tersebut kemudian bertumpuk menjadi semacam gambaran kolektif tentang kemoterapi.
Ketakutan terhadap kemoterapi karena itu tidak selalu berasal dari obatnya. Sebagian berasal dari imajinasi kita tentang obat tersebut. Kita takut terhadap sesuatu yang belum dialami karena sudah lebih dahulu mendengar kisah orang lain.
Di ruang tunggu rumah sakit, cerita semacam itu dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. Seorang pasien bercerita tentang mual, pasien lain tentang rambut yang rontok, keluarga lain tentang tubuh yang lemah. Pengalaman-pengalaman itu kemudian membentuk semacam pengetahuan bersama.
Pengetahuan tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Efek samping kemoterapi memang nyata. Tetapi pengalaman satu tubuh tidak otomatis menjadi pengalaman tubuh lainnya. Jenis kanker, obat yang digunakan, dosis, kondisi tubuh, respons terhadap terapi, serta pengobatan pendukung dapat membuat pengalaman kemoterapi sangat berbeda.
Di sinilah antropologi kesehatan menjadi menarik. Antropologi tidak melihat sakit semata-mata sebagai persoalan biologis. Penyakit memang memiliki proses biologis yang dapat dijelaskan melalui ilmu kedokteran, tetapi pengalaman menjadi orang sakit berlangsung di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Kita memberi nama pada penyakit. Kita membuat cerita tentangnya. Kita menentukan apa yang dianggap menakutkan, apa yang dianggap wajar, siapa yang dipercaya untuk mengobatinya, dan bagaimana seseorang yang sakit seharusnya bersikap.
Karena itu, kanker bukan hanya persoalan sel yang tumbuh tidak terkendali. Bagi manusia yang mengalaminya, kanker adalah diagnosis yang membawa banyak makna. Ia dapat berarti ancaman terhadap kehidupan, perubahan penampilan tubuh, gangguan pekerjaan, beban ekonomi, perubahan hubungan keluarga, bahkan perubahan cara seseorang melihat masa depannya.
Kemoterapi kemudian ikut membawa beban simbolik tersebut. Sorang penyintas kanker tidak hanya berhadapan dengan penyakit yang berada di dalam tubuhnya. Ia juga berhadapan dengan bayangan sosial mengenai kanker. Pertanyaan orang lain, tatapan orang lain, nasihat orang lain, dan cerita tentang pasien lain dapat ikut masuk ke dalam pengalaman sakitnya.
Ada orang yang bermaksud menguatkan tetapi justru membuat pasien semakin takut. Ada yang mengatakan bahwa seseorang harus kuat. Ada yang menceritakan kisah pasien lain dengan kondisi yang lebih buruk. Ada pula yang memberikan berbagai nasihat pengobatan berdasarkan pengalaman pribadi.
Semua itu memperlihatkan bahwa penyakit tidak pernah sepenuhnya menjadi urusan pribadi. Dalam antropologi kesehatan dikenal pembedaan antara disease, illness, dan sickness. Secara sederhana, disease merujuk pada kondisi patologis yang dipahami secara medis. Illness lebih dekat dengan pengalaman subjektif seseorang ketika merasakan dan memaknai sakit. Sementara sickness berkaitan dengan bagaimana penyakit ditempatkan dalam kehidupan sosial.
Pembedaan ini membantu menjelaskan mengapa dua orang dengan diagnosis medis yang sama dapat mengalami sakit dengan cara yang berbeda. Secara medis mereka mungkin mempunyai penyakit yang serupa, tetapi pengalaman batin dan kehidupan sosial mereka belum tentu sama.
Seorang pasien mungkin memandang kemoterapi sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengobatan. Pasien lain mungkin melihatnya sebagai sesuatu yang sangat menakutkan. Keduanya dapat sama-sama memahami penjelasan dokter, tetapi membawa sejarah, pengalaman, keluarga, keyakinan, dan pengetahuan yang berbeda ke dalam ruang pengobatan.
Maka, ketika kita berbicara tentang kemoterapi, kita sebaiknya tidak hanya berbicara tentang obat dan efek samping. Kita juga perlu melihat bagaimana gambaran tentang kemoterapi dibentuk.
Film dan televisi mempunyai peran besar dalam membangun imajinasi tersebut. Begitu pula media sosial. Foto pasien sebelum dan sesudah pengobatan, cerita tentang efek samping, pengalaman buruk yang dibagikan secara emosional, dan berbagai kisah kesembuhan dapat membentuk pemahaman masyarakat.
Masalahnya, cerita yang paling mudah diingat biasanya adalah cerita yang paling emosional.seorang mungkin tidak mengingat penjelasan panjang tentang mekanisme kerja obat, tetapi ia mengingat wajah seorang pasien yang kehilangan rambut dalam sebuah film. Ia mungkin lupa penjelasan tentang variasi respons tubuh terhadap pengobatan, tetapi mengingat cerita seseorang yang mengalami mual berat.
Ingatan manusia memang tidak bekerja seperti jurnal ilmiah. Ia menyimpan pengalaman melalui cerita, gambar, emosi, dan asosiasi. Karena itu, gambaran tentang kemoterapi dapat menjadi lebih besar daripada kemoterapi itu sendiri.
Bagi penyintas kanker, pengalaman kemudian menjadi lebih kompleks. Mereka tidak hanya menjalani pengobatan, tetapi juga harus hidup dengan tubuh yang berubah. Rambut mungkin tumbuh kembali, berat badan dapat berubah, tenaga tidak selalu sama, dan rutinitas kehidupan harus disesuaikan. Ada masa ketika tubuh terasa seperti milik sendiri, tetapi sekaligus terasa asing.
Di sinilah saya melihat pentingnya tidak mereduksi pasien kanker menjadi penyakitnya. Pasien tetaplah manusia yang mempunyai selera humor, makanan kesukaan, musik yang ingin didengar, percakapan yang ingin dibicarakan, pekerjaan yang ingin dilakukan, dan orang-orang yang dicintai. Diagnosis tidak menghapus kehidupan yang sebelumnya sudah ada.
Mungkin kita terlalu sering membayangkan pasien kanker hanya sebagai tubuh yang sedang mengalami kerusakan. Padahal, di balik tubuh yang menjalani pengobatan itu tetap ada kehidupan sehari-hari. Ada percakapan, makanan, pekerjaan yang tertunda, pesan dari teman, tontonan sebelum tidur, dan keinginan untuk menjalani hari sebagaimana biasanya.
Ketika seseorang memutar video lucu di samping ranjang pasien, misalnya, ia sedang mengembalikan sedikit suasana normal ke dalam ruang yang penuh dengan istilah medis.
Hal kecil semacam itu menarik perhatian saya. Humor tidak menyembuhkan kanker, tetapi ia dapat memberi jarak sejenak dari penyakit. Lagu tidak mengubah hasil pemeriksaan, tetapi dapat membuat sebuah malam terasa tidak terlalu panjang. Percakapan ringan mungkin tidak mempunyai nilai klinis, tetapi bagi orang yang sedang menunggu hasil laboratorium, beberapa menit berbicara tentang hal biasa dapat menjadi bagian penting dari hari itu.
Di rumah sakit, kehidupan ternyata tidak berhenti hanya karena seseorang sedang sakit. Keluarga juga berada di dalam pengalaman tersebut. Mereka menunggu hasil pemeriksaan, mengingat jadwal pengobatan, membeli obat, mencari makanan yang dianggap sesuai, dan sesekali mencoba membuat pasien tertawa. Penyakit seseorang akhirnya menjadi pengalaman bersama.
Yang satu merasakan sakit melalui tubuh, yang lain merasakannya melalui kecemasan dan penantian. Saya teringat kembali pada dukkha. Selama ini saya mungkin terlalu cepat menerjemahkannya sebagai penderitaan. Padahal, jika rumah sakit diamati lebih lama, dukkha justru tampak sebagai keadaan manusia yang selalu berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Kita ingin sehat, tetapi tubuh dapat sakit. Kita ingin hidup lama, tetapi kematian mempunyai waktunya sendiri. Kita ingin orang yang kita cintai baik-baik saja, tetapi kita tidak dapat mengambil rasa sakitnya dan memindahkannya ke tubuh kita sendiri.
Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam ketidakmampuan itu, bahwa kita tetap berada di sana. Kita mungkin tidak dapat menggantikan rasa sakit seseorang atau mengetahui hasil pemeriksaan esok hari, tetapi kita dapat hadir di sampingnya, membantu hal-hal kecil, berbagi percakapan, atau sekadar membuat malam terasa sedikit lebih ringan.
Barangkali cinta di rumah sakit memang lebih sering hadir dalam bentuk-bentuk sederhana seperti itu. Rumah sakit mungkin salah satu tempat terbaik untuk melihat manusia tanpa banyak lapisan. Status sosial, pekerjaan, kekayaan, dan berbagai identitas yang biasanya kita gunakan untuk membedakan satu sama lain menjadi kurang penting ketika seseorang sedang menunggu hasil pemeriksaan.
Tubuh menjadi pengingat bahwa kita semua memiliki keterbatasan yang serupa. Ketika keterbatasan itu muncul, kita kembali membutuhkan orang lain. Karena itu, saya mulai melihat rumah sakit bukan hanya sebagai tempat orang datang untuk mencari kesembuhan. Rumah sakit juga merupakan tempat manusia belajar tentang ketidakpastian.
Kita datang dengan harapan bahwa pengobatan akan berhasil, tetapi tidak pernah mempunyai seluruh kepastian tentang hasilnya. Kita menjalani satu tahap, lalu menunggu tahap berikutnya. Ada hasil laboratorium yang harus ditunggu, ada jadwal terapi berikutnya, ada pemeriksaan lanjutan.
Hidup di rumah sakit seolah menjadi hidup dalam potongan-potongan waktu yang pendek; sampai obat habis, sampai dokter datang, sampai hasil keluar, sampai besok pagi. Mungkin karena itu kemoterapi juga perlu dilihat bukan hanya sebagai sebuah prosedur medis, tetapi sebagai pengalaman hidup. Di balik istilah yang terdengar begitu berat itu ada seseorang yang tetap mempunyai selera humor, keluarga yang tetap bercanda, dan rutinitas kecil yang tetap dijaga.
Penyakit memang mengambil banyak hal dari kehidupan seseorang, tetapi tidak selalu mengambil semuanya. Saya masih melihat dukkha di rumah sakit. Tetapi sekarang saya juga melihat sesuatu yang berjalan bersamanya; kemampuan manusia untuk menciptakan ruang kecil bagi kehidupan di tengah ketidakpastian.
Ada tawa di antara kecemasan. Ada tidur di antara penantian. Ada percakapan di antara pemeriksaan. Ada lagu yang diputar sebelum tidur. Ada layar telepon genggam yang menjadi jendela kecil menuju dunia di luar rumah sakit.
Semua itu mungkin terlihat sepele jika diukur dengan ukuran medis. Namun kehidupan manusia tidak seluruhnya dapat diukur dengan angka laboratorium. Mungkin rumah sakit bukan hanya tempat kita melihat bagaimana tubuh dapat sakit. Ia juga tempat kita melihat bagaimana kehidupan terus berlangsung bahkan ketika tubuh sedang tidak baik-baik saja.
Di sana saya melihat bahwa dukkha bukan hanya tentang rasa sakit. Ia juga tentang ketidakpastian yang menyertai kehidupan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi malam ini masih bisa diisi dengan percakapan. Kita tidak tahu bagaimana hasil pengobatan, tetapi sebuah lagu masih bisa diputar. Kita tidak dapat menghapus penyakit, tetapi kita masih dapat tertawa. Dan mungkin itu yang membuat saya terus memandang wajah-wajah di sana. Mereka tidak sedang menyangkal dukkha. Mereka hanya tidak membiarkan dukkha menjadi satu-satunya cerita tentang hidup mereka. Sebab bahkan di rumah sakit, di tempat yang begitu dekat dengan sakit dan kematian, kehidupan ternyata masih menemukan caranya sendiri untuk hadir. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole































