14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

Faikar Ramadhan by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
in Esai
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia, muncul sebuah paradoks sosial yang cukup menyayat hati: generasi muda yang terdidik dan berada di usia produktif justru mengekspresikan kecemasan mendalam hingga rasa ‘takut’ untuk memiliki anak.  

Fenomena childfree—keputusan sukarela untuk tidak memiliki keturunan dalam pernikahan—yang semula dianggap sekadar ‘skandal moral’ atau gaya hidup eksentrik segelintir figur publik, kini bertransformasi menjadi kalkulasi rasional yang masif di tengah himpitan ekonomi struktural.

Berdasarkan riset berbasis Computational Social Science(CSS) terhadap 11.062 unggahan valid di platform X (Twitter) rentang 2021–2025, publik Indonesia sebenarnya tidak dalam kondisi terpolarisasi secara ekstrem. Percakapan justru didominasi mutlak oleh kelompok Netral (66,06%), diselingi kelompok Positif/Pro (25,39%), dan kelompok Negatif/Kontra yang hanya mencakup 8,54%. Dominasi sentimen netral ini membuktikan teori objektivasi realitas sosial Berger dan Luckmann: isu childfree telah terobjektivikasi dari wacana tabu menjadi pengetahuan umum sehari-hari (recipe knowledge) yang mendasari diskusi pra-nikah, jajak pendapat finansial, hingga lelucon pop culture.

Kalkulasi Survival di Tengah Himpitan Ekonomi dan Janji 19 Juta Lapangan Kerja

Perjalanan longitudinal data X periode 2021 hingga 2025 mengungkapkan pergeseran motivasi yang sangat mendasar. Pada gelombang pertama di tahun 2021 (puncak 3.458 tweet), wacana dihela oleh isu figur publik (seperti Gita Savitri Devi) yang mengusung tema Hak Otonomi Tubuh dan Kebebasan Reproduksi Perempuan (489 tweet). Saat itu, perdebatan meletup sebagai benturan ideologis antara hak individu melawan dogma keagamaan dan hukum fiqih tradisional (198 tweet penolakan).

Menariknya, memasuki periode 2024–2025 (puncak tertinggi 4.240 tweet pada 2025), narasi ideologis tersebut terdesak secara signifikan. Alasan utama kelompok pro-childfree melesat menjadi Kesiapan Finansial dan Tingginya Biaya Hidup (In This Economy) yang mencapai 461 tweet pada 2025 (kumulatif 1.058 tweet). Mengapa kecemasan ekonomi ini mampu melumpuhkan keinginan biologis alami untuk berketurunan?

Jawabannya terletak pada jurang pemisah antara realitas ekonomi warga dengan janji-janji kebijakan publik pemerintah. Narasi skeptisme publik yang mengemuka di media sosial kerap mengaitkan kecemasan finansial ini dengan kegagalan struktural pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja yang berkualitas—termasuk sorotan tajam terhadap janji penciptaan 19 juta lapangan kerja yang dinilai belum terealisasi secara inklusif bagi generasi muda. Di tengah tingkat inflasi pendidikan yang melangit, lonjakan harga hunian yang tak masuk akal, serta dominasi lapangan kerja informal bernilai tambah rendah, Generasi Milenial dan Gen Z merasa tidak memiliki jaring pengaman sosial yang memadai untuk “beranak-pinak”.

Analisis terhadap sentimen negatif (8,54%) memperlihatkan pergeseran yang sangat instruktif. Kelompok penolak childfree yang semula didominasi sentimen keagamaan kaku (yang justru menyusut drastis dari 198 tweet di 2021 menjadi hanya 71 tweet di 2025), kini bergeser ke argumen moralis sekuler, seperti tuduhan ‘egois’ (307 tweet di 2025)—serta kekhawatiran teknokratis atas ancaman depopulasi (108 tweet di 2025).

Publik merasa gusar karena di satu sisi negara dan kelompok moralis menuntut warga untuk terus melahirkan demi bonus demografi, namun di sisi lain negara dinilai alpa menghadirkan jaminan kepastian ekonomi, ruang kerja layak, dan fasilitas pengasuhan yang terjangkau. Memelihara anak pun tidak lagi dipandang sekadar ibadah atau tugas biologis, melainkan sebuah pertaruhan finansial berpajak tinggi (high-cost financial risk).

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 memperkuat temuan ini: tercatat sedikitnya 71.000 perempuan Indonesia usia 15–49 tahun secara terbuka menyatakan tidak ingin memiliki anak. Data Susenas BPS menunjukkan bahwa fenomena ini terkonsentrasi pada dua kutub: perempuan berpendidikan tinggi yang mengejar karier/otonomi, dan perempuan berpendidikan menengah ke bawah yang tercekik kesulitan ekonomi. Dampaknya langsung berimbas pada penurunan Total Fertility Rate (TFR) nasional menjadi 2,14, bahkan wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta telah merosot ke angka 1,98—berada di bawah tingkat penggantian populasi (replacement level 2,1).

Cermin Buram Negara Tetangga: Dari Ancaman Depopulasi ke Redefinisi Etika Pengasuhan

Ketakutan generasi muda Indonesia untuk berketurunan bukanlah fenomena yang “tiba-tiba gendut”. Jika Indonesia tidak membenahi akar masalah ekonomi struktural ini, Indonesia sedang berjalan menuju jebakan depopulasi yang telah memukul negara-negara maju di Asia Timur, seperti Jepang dan Korea Selatan.  

Di Korea Selatan, TFR telah anjlok hingga tingkat mengkhawatirkan (sekitar 0,72), memicu fenomena penutupan ribuan sekolah, krisis tenaga kerja produktif, serta beban jaminan sosial yang membengkak akibat struktur populasi piramida terbalik (lansia melimpah, generasi muda menyusut). Begitu pula di Jepang, tren resesi seks dan childless yang berlangsung dekade demi dekade terbukti melumpuhkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam konteks keindonesiaan, fenomena childfree berbenturan keras dengan benteng budaya lokal dan ajaran agama. Pada masyarakat Batak Toba, misalnya, keturunan adalah pilar utama kehidupan yang terangkum dalam filosofi hagabeon (memiliki banyak anak) dan anakkonhi do hamoraon di au (anak adalah kekayaan terunggul).

Ketiadaan anak—terutama anak laki-laki sebagai penerus marga—dianggap dapat memutus silsilah patrilineal dan mengurangi posisi sosial keluarga. Begitu pula dalam perspektif Hukum Islam, meskipun UU Perkawinan No. 1/1974 dan UU No. 52/2009 mendefinisikan keluarga secara fleksibel (unit bahagia yang dapat terdiri dari suami-istri saja), teori Maslahah Mursalah menempatkan perlindungan keturunan (hifz al-nasl) sebagai kebutuhan primer (dharuriyah) demi kelangsungan umat.

Kendati demikian, benturan tradisi dan norma ini tidak lantas membuat anak muda tunduk begitu saja. Generasi Milenial dan Gen Z justru melakukan redefinisi etika moralitas pengasuhan. Melalui internalisasi kesadaran subjektif, mereka mengubah dogma lama: dari “orang bermoral wajib memiliki anak” menjadi “orang tua bermoral adalah mereka yang siap secara mental, emosional, dan finansial demi memutus trauma lintas generasi” (generational trauma). Memilih tidak punya anak dipandang lebih bertanggung jawab secara etis daripada melahirkan anak ke dunia yang tidak siap dijamin kesejahteraan dan kasih sayangnya.

Merespons dinamika ini, pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN mulai meluncurkan langkah intervensi adaptif, seperti program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) untuk meringankan beban pengasuhan bagi ibu bekerja. Namun, intervensi di hilir saja tidak akan cukup selama persoalan hulu—yakni ketidakpastian lapangan kerja, beban ganda perempuan di bawah sistem patriarki, serta ketimpangan ekonomi—belum diselesaikan secara sistemik.

Pada akhirnya, maraknya tren childfree di Indonesia bukanlah bentuk ‘pembangkangan ugal-ugalan’ terhadap fitrah biologis maupun nilai keluarga. Ini adalah sebuah sinyal bahaya (alarm bell) yang rasional dari warga negara. Ketika anak muda merasa takut untuk berketurunan, negara tidak boleh sekadar menghakimi secara moralis.

Negara harus hadir memenuhi janji kontrak sosialnya: menyediakan lapangan kerja yang layak, kepastian ekonomi, dan lingkungan hidup yang kondusif agar generasi mendatang tidak ragu untuk meneruskan kehidupan. Karena pada dasarnya, dalam lanskap sosial kontemporer, individu atau pasangan yang memilih childfree hari ini bisa jadi justru adalah mereka yang secara moral dan etis paling layak menjadi orang tua. (Dianalisis berbasis Data X 2021–2025, Susenas BPS, dan Studi Komparatif). [T]

Penulis: Faikar Ramadhan
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomifinansial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

Faikar Ramadhan

Faikar Ramadhan

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co