12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 12, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu Panggelaran), sebuah karya sastra Jawa Pertengahan berbentuk prosa. Kitab ini diperkirakan ditulis pada masa akhir kerajaan Majapahit sekitar abad ke-15 Masehi. Meskipun demikian, salinan kolofon tertua yang ditemukan memiliki angka tahun 1557 Saka atau 1635 Masehi. Secara tradisional pustaka lontar ini berfungsi sebagai teks keagamaan esoteris, panduan ritual, sekaligus mitologi kosmologi masyarakat Jawa kuno mengenai asal-usul penataan Pulau Jawa.

Berangkat dari Mandala Pertapaan di Gunung Hyang

Tersebutlah seorang brahmana Jawa bernama Mpu Bharang yang menguasai berbagai kitab esoteris Tantra dan melakukan tapa di Gunung Hyang. Dalam khazanah kitab kuno Jawa, Gunung Hyang (sekarang dikenal sebagai Pegunungan Hyang-Argapura adalah kompleks pegunungan vulkanik tua yang membentang di wilayah Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, dan Situbondo, Jawa Timur. Kata “Hyang” berarti leluhur, dewa, atau entitas ilahi. Dalam pustaka lontar kuno, kawasan ini diidentifikasi sebagai pusat Mandala Kedewaguruan (wilayah suci pendidikan spiritual) kuno yang sepi dan jauh dari keramaian. Di lerengnya terdapat kuburan kembar bernama Kalyasem, tempat Mpu Bharang melakukan laku spiritual ekstrem penganut aliran Bhairawa-Saiwa.

Setelah menyelesaikan pertapaannya, Mpu Bharang berkeinginan meninggalkan Gunung Hyang untuk pergi menuju tanah India (Bhumi Jambudwipa). Sebelum berangkat, beliau menggubah sebuah kitab suci pedoman mistis bernama Hadidrawa / Adhiarwa beserta sebuah jubah kebesaran, yang sengaja ditinggalkan di dalam sanggar pemujaan.

Mpu Bharang kemudian berangkat menuju India terbang melintasi angkasa (ambaramargga). Perjalanan ini diikuti oleh dua pendeta Buddha (Sogata) yang membersamai perjalanannya, yaitu  Mpu Tapa-wangkĕng (dianggap titisan Dewa Brahma) dan Mpu Tapa-palet (dianggap titisan Dewa Wisnu).

Sesaat setelah mendarat di Bhumi Jambudwipa, Mpu Bharang menemui sekitar seribu orang brahmana lokal yang tengah melangsungkan pemujaan agung kepada Dewa Haricaṇḍana. Ketika Mpu Bharang melangkah mendekat dan membungkuk memberikan hormat, sebuah keajaiban mistis terjadi: bumi berguncang dahsyat oleh gempa (lindhu Batara Prathiwi) dan arca Batara Haricaṇḍana yang suci mendadak hancur terbelah dua.

Menyaksikan mukjizat dan kesaktian supranatural yang luar biasa dari pendeta Jawa ini, para brahmana India tercengang dan kagum. Mereka berbalik memuja Mpu Bharang serta menghadiahi beliau aneka harta mulia berupa emas, merah delima, ratna mutu manikam, dan intan. Namun, Mpu Bharang menolak seluruh harta duniawi tersebut. Beliau hanya meminta bertukar abu suci ritual (bhasma). Abu milik Mpu Bharang yang harum (ganta) ditukarkan dengan abu sewarna permata (ratnadwada) milik brahmana India. Semenjak peristiwa itu, abu Mpu Bharang diangkat menjadi abu kebesaran para penasihat suci di sana. Abu suci atau bhasma dari India dibawa oleh Mpu Bharang.

Membawa Arca Wisnu ke Jawa

Kabar kepanditaan Mpu Bharang terdengar oleh penguasa India saat itu, Sri Maharaja Cakrawati. Sang raja datang bersujud menghadap Mpu Bharang seraya mempersembahkan kain indah (dodot malit), emas, dan permata rajayogya. Mpu Bharang kembali menolaknya dan justru meminta benda yang paling disembah oleh sang raja. Tanpa ragu, Raja Cakrawati memperlihatkan sebuah arca emas perwujudan Batara Wisnu yang menjadi replika sesembahan utama di Jambudwipa. Mpu Bharang tidak mengambil arca asli tersebut, melainkan meniru rancang bangun dan detail ikonografinya untuk dibawa pulang ke tanah Jawa.

Mpu Bharang bersama  Mpu Tapa-wangkĕng dan Mpu Tapa-palet terbang kembali melintasi cakrawala menuju Pulau Jawa (Yawadwipa). Mereka memilih menetap di Gunung Brahma (Bromo), sebuah tempat sakral yang dalam mitologi Jawa kuno merupakan lokasi bertakhtanya Dewa Brahma sebagai pandai besi kosmik. Di tempat suci ini, ketiga mpu mendalami tiga ajaran rahasia: Mpu Bharang mempelajari ajaran Tigarahaṣya, Mpu Tapa-wangkĕng mempelajari ajaran Tigalana, dan Mpu Tapa-palet mempelajari ajaran Tigatĕpĕt

Di kaldera Gunung Bromo inilah, Mpu Bharang mulai menempa emas murni untuk memahat sebuah replika arca Wisnu berdasarkan ingatan visual yang didapatnya dari India. Proses pemahatan dibantu oleh Mpu Tapa-wangkĕng dan Mpu Tapa-palet. Sisa serpihan emas yang terkikis saat proses mengukir memercik ke mana-mana bagai air dan seketika menjelma menjadi hamparan pasir hitam (kriśna)—sebuah mitos asal-usul yang melandasi keberadaan lautan pasir hitam di kaldera Bromo hingga hari ini. Setelah selesai, arca emas Wisnu tersebut disemayamkan di puncak Gunung Sundawini.

Arca Wisnu Turun-Temurun Dipuja Pewaris Tahta Kerajaan Daha

Kabar tentang keberadaan arca emas Batara Wisnu yang sangat indah di puncak Gunung Sundawini akhirnya sampai ke telinga Sri Maharaja Taki di Daha. Sang raja segera mengirimkan utusan resmi istana untuk mengundang Mpu Bharang beserta kedua mpu pengikutnya ke ibu kota.

Para utusan menghaturkan sembah: “Hamba sekalian utusan dari Baginda Raja di Daha, memohon kehadiran Sang Pendeta Agung untuk sudi datang ke ibu kota, Gusti.”

Mpu Bharang menyambut baik undangan tersebut. Ketiga pendeta suci itu terbang melewati angkasa dan mendarat di ibu kota Kerajaan Daha untuk menghadap Sri Maharaja Taki. Ketika sang raja memohon agar arca emas Wisnu tersebut diserahkan kepada pihak istana, Mpu Bharang dengan ikhlas memberikannya. Dikisahkan, peristiwa spiritual inilah yang melandasi mengapa arca emas suci peniru rupa India tersebut secara turun-temurun diangkat menjadi objek kultus pemujaan serta sesembahan utama (isthadewata) dari Sri Maharaja di Daha hingga generasi-generasi penguasa selanjutnya.

Dalam sejatah Jawa Kuno, yang dimaksud dengan Kerajaan Daha (Kediri/Panjalu) adalah kerajaan besar di Jawa Timur yang berpusat di tepi Sungai Brantas. Kerajaan ini eksis dalam rentang garis waktu abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi (1042–1222 M), dan Raja Airlangga membelah kerajaannya menjadi Janggala dan Kadiri (Daha). Tokoh raja yang disebutkan dalam teks, Sri Maharaja Toki (atau Taki), digambarkan dalam teks Tantu Pagelaran sebagai penguasa Daha pada era klasik tersebut, kemungkinan merujuk pada sosok pemimpin sebelum Raja Airlangga?

Kisah mitologis Mpu Bharang ini membawa secercah garis silsilah dan alasan kuat mengapa dinasti penguasa Daha (Kediri) dan para keturunannya di kemudian hari menjadi penganut setia aliran Wisnu (Waisnawa).

Secara arkeologis dan epigrafi, klaim spiritual di dalam teks Tantu Pagelaran ini berjalan beriringan (sejalan) dengan bukti-bukti otentik di lapangan: Pertama, Garudamukha dipakai sebagai stempel Airlangga. Airlangga, yang merupakan leluhur pembentuk Kerajaan Daha/Kediri, menggunakan lencana kerajaan berupa Garudamukha (wujud Garuda kendaraan Wisnu). Stempel ini digunakan dalam berbagai prasasti resminya sebagai legitimasi bahwa raja adalah titisan Dewa Wisnu (Wisnu-awatara) yang bertugas memelihara kedamaian dunia. Kedua, secara ikonografi, Raja-Raja Kediri dan para penerus takhta Daha seperti Raja Jayabhaya dan Raja Kameswara, secara konsisten digambarkan di dalam karya sastra Kakawin sezaman sebagai titisan Wisnu.

Hal krusial yang perlu dicatat dari naskah ini adalah penegasan bahwa paham “Wisnu” atau adopsi arca Wisnu, dalam konteks pustaka lontar Tantu Pagelaran, disebutkkan tidak dibawa oleh pendeta asing dari India, melainkan dijemput, ditiru, dan dibawa sendiri ke Jawa oleh Brahmana asli Jawa yang berkunjung ke India. Ini menunjukkan adanya proses seleksi budaya yang aktif (local genius) di mana orang Jawa kuno melakukan kunjungan ziarah ke pusat keagamaan ke Bhumi Jambudwipa, lalu membawa pulang esensi ajarannya untuk diterapkan pada kebudayaan lokal di Jawa. [T]

Tags: hinduindiajawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co