TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu Panggelaran), sebuah karya sastra Jawa Pertengahan berbentuk prosa. Kitab ini diperkirakan ditulis pada masa akhir kerajaan Majapahit sekitar abad ke-15 Masehi. Meskipun demikian, salinan kolofon tertua yang ditemukan memiliki angka tahun 1557 Saka atau 1635 Masehi. Secara tradisional pustaka lontar ini berfungsi sebagai teks keagamaan esoteris, panduan ritual, sekaligus mitologi kosmologi masyarakat Jawa kuno mengenai asal-usul penataan Pulau Jawa.
Berangkat dari Mandala Pertapaan di Gunung Hyang
Tersebutlah seorang brahmana Jawa bernama Mpu Bharang yang menguasai berbagai kitab esoteris Tantra dan melakukan tapa di Gunung Hyang. Dalam khazanah kitab kuno Jawa, Gunung Hyang (sekarang dikenal sebagai Pegunungan Hyang-Argapura adalah kompleks pegunungan vulkanik tua yang membentang di wilayah Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, dan Situbondo, Jawa Timur. Kata “Hyang” berarti leluhur, dewa, atau entitas ilahi. Dalam pustaka lontar kuno, kawasan ini diidentifikasi sebagai pusat Mandala Kedewaguruan (wilayah suci pendidikan spiritual) kuno yang sepi dan jauh dari keramaian. Di lerengnya terdapat kuburan kembar bernama Kalyasem, tempat Mpu Bharang melakukan laku spiritual ekstrem penganut aliran Bhairawa-Saiwa.
Setelah menyelesaikan pertapaannya, Mpu Bharang berkeinginan meninggalkan Gunung Hyang untuk pergi menuju tanah India (Bhumi Jambudwipa). Sebelum berangkat, beliau menggubah sebuah kitab suci pedoman mistis bernama Hadidrawa / Adhiarwa beserta sebuah jubah kebesaran, yang sengaja ditinggalkan di dalam sanggar pemujaan.
Mpu Bharang kemudian berangkat menuju India terbang melintasi angkasa (ambaramargga). Perjalanan ini diikuti oleh dua pendeta Buddha (Sogata) yang membersamai perjalanannya, yaitu Mpu Tapa-wangkĕng (dianggap titisan Dewa Brahma) dan Mpu Tapa-palet (dianggap titisan Dewa Wisnu).
Sesaat setelah mendarat di Bhumi Jambudwipa, Mpu Bharang menemui sekitar seribu orang brahmana lokal yang tengah melangsungkan pemujaan agung kepada Dewa Haricaṇḍana. Ketika Mpu Bharang melangkah mendekat dan membungkuk memberikan hormat, sebuah keajaiban mistis terjadi: bumi berguncang dahsyat oleh gempa (lindhu Batara Prathiwi) dan arca Batara Haricaṇḍana yang suci mendadak hancur terbelah dua.
Menyaksikan mukjizat dan kesaktian supranatural yang luar biasa dari pendeta Jawa ini, para brahmana India tercengang dan kagum. Mereka berbalik memuja Mpu Bharang serta menghadiahi beliau aneka harta mulia berupa emas, merah delima, ratna mutu manikam, dan intan. Namun, Mpu Bharang menolak seluruh harta duniawi tersebut. Beliau hanya meminta bertukar abu suci ritual (bhasma). Abu milik Mpu Bharang yang harum (ganta) ditukarkan dengan abu sewarna permata (ratnadwada) milik brahmana India. Semenjak peristiwa itu, abu Mpu Bharang diangkat menjadi abu kebesaran para penasihat suci di sana. Abu suci atau bhasma dari India dibawa oleh Mpu Bharang.
Membawa Arca Wisnu ke Jawa
Kabar kepanditaan Mpu Bharang terdengar oleh penguasa India saat itu, Sri Maharaja Cakrawati. Sang raja datang bersujud menghadap Mpu Bharang seraya mempersembahkan kain indah (dodot malit), emas, dan permata rajayogya. Mpu Bharang kembali menolaknya dan justru meminta benda yang paling disembah oleh sang raja. Tanpa ragu, Raja Cakrawati memperlihatkan sebuah arca emas perwujudan Batara Wisnu yang menjadi replika sesembahan utama di Jambudwipa. Mpu Bharang tidak mengambil arca asli tersebut, melainkan meniru rancang bangun dan detail ikonografinya untuk dibawa pulang ke tanah Jawa.
Mpu Bharang bersama Mpu Tapa-wangkĕng dan Mpu Tapa-palet terbang kembali melintasi cakrawala menuju Pulau Jawa (Yawadwipa). Mereka memilih menetap di Gunung Brahma (Bromo), sebuah tempat sakral yang dalam mitologi Jawa kuno merupakan lokasi bertakhtanya Dewa Brahma sebagai pandai besi kosmik. Di tempat suci ini, ketiga mpu mendalami tiga ajaran rahasia: Mpu Bharang mempelajari ajaran Tigarahaṣya, Mpu Tapa-wangkĕng mempelajari ajaran Tigalana, dan Mpu Tapa-palet mempelajari ajaran Tigatĕpĕt
Di kaldera Gunung Bromo inilah, Mpu Bharang mulai menempa emas murni untuk memahat sebuah replika arca Wisnu berdasarkan ingatan visual yang didapatnya dari India. Proses pemahatan dibantu oleh Mpu Tapa-wangkĕng dan Mpu Tapa-palet. Sisa serpihan emas yang terkikis saat proses mengukir memercik ke mana-mana bagai air dan seketika menjelma menjadi hamparan pasir hitam (kriśna)—sebuah mitos asal-usul yang melandasi keberadaan lautan pasir hitam di kaldera Bromo hingga hari ini. Setelah selesai, arca emas Wisnu tersebut disemayamkan di puncak Gunung Sundawini.
Arca Wisnu Turun-Temurun Dipuja Pewaris Tahta Kerajaan Daha
Kabar tentang keberadaan arca emas Batara Wisnu yang sangat indah di puncak Gunung Sundawini akhirnya sampai ke telinga Sri Maharaja Taki di Daha. Sang raja segera mengirimkan utusan resmi istana untuk mengundang Mpu Bharang beserta kedua mpu pengikutnya ke ibu kota.
Para utusan menghaturkan sembah: “Hamba sekalian utusan dari Baginda Raja di Daha, memohon kehadiran Sang Pendeta Agung untuk sudi datang ke ibu kota, Gusti.”
Mpu Bharang menyambut baik undangan tersebut. Ketiga pendeta suci itu terbang melewati angkasa dan mendarat di ibu kota Kerajaan Daha untuk menghadap Sri Maharaja Taki. Ketika sang raja memohon agar arca emas Wisnu tersebut diserahkan kepada pihak istana, Mpu Bharang dengan ikhlas memberikannya. Dikisahkan, peristiwa spiritual inilah yang melandasi mengapa arca emas suci peniru rupa India tersebut secara turun-temurun diangkat menjadi objek kultus pemujaan serta sesembahan utama (isthadewata) dari Sri Maharaja di Daha hingga generasi-generasi penguasa selanjutnya.
Dalam sejatah Jawa Kuno, yang dimaksud dengan Kerajaan Daha (Kediri/Panjalu) adalah kerajaan besar di Jawa Timur yang berpusat di tepi Sungai Brantas. Kerajaan ini eksis dalam rentang garis waktu abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi (1042–1222 M), dan Raja Airlangga membelah kerajaannya menjadi Janggala dan Kadiri (Daha). Tokoh raja yang disebutkan dalam teks, Sri Maharaja Toki (atau Taki), digambarkan dalam teks Tantu Pagelaran sebagai penguasa Daha pada era klasik tersebut, kemungkinan merujuk pada sosok pemimpin sebelum Raja Airlangga?
Kisah mitologis Mpu Bharang ini membawa secercah garis silsilah dan alasan kuat mengapa dinasti penguasa Daha (Kediri) dan para keturunannya di kemudian hari menjadi penganut setia aliran Wisnu (Waisnawa).
Secara arkeologis dan epigrafi, klaim spiritual di dalam teks Tantu Pagelaran ini berjalan beriringan (sejalan) dengan bukti-bukti otentik di lapangan: Pertama, Garudamukha dipakai sebagai stempel Airlangga. Airlangga, yang merupakan leluhur pembentuk Kerajaan Daha/Kediri, menggunakan lencana kerajaan berupa Garudamukha (wujud Garuda kendaraan Wisnu). Stempel ini digunakan dalam berbagai prasasti resminya sebagai legitimasi bahwa raja adalah titisan Dewa Wisnu (Wisnu-awatara) yang bertugas memelihara kedamaian dunia. Kedua, secara ikonografi, Raja-Raja Kediri dan para penerus takhta Daha seperti Raja Jayabhaya dan Raja Kameswara, secara konsisten digambarkan di dalam karya sastra Kakawin sezaman sebagai titisan Wisnu.
Hal krusial yang perlu dicatat dari naskah ini adalah penegasan bahwa paham “Wisnu” atau adopsi arca Wisnu, dalam konteks pustaka lontar Tantu Pagelaran, disebutkkan tidak dibawa oleh pendeta asing dari India, melainkan dijemput, ditiru, dan dibawa sendiri ke Jawa oleh Brahmana asli Jawa yang berkunjung ke India. Ini menunjukkan adanya proses seleksi budaya yang aktif (local genius) di mana orang Jawa kuno melakukan kunjungan ziarah ke pusat keagamaan ke Bhumi Jambudwipa, lalu membawa pulang esensi ajarannya untuk diterapkan pada kebudayaan lokal di Jawa. [T]





























