Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII, seluruh areal Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali, menggema dengan lagu-lagu suci. Jika duduk di tepi-tepi taman itu, tembang-tembang atau kata-kata suci yang sarat arti dan penuh makna terdengar saling bersahutan dari segala penjuru. Hari itu, pusat kesenian di Bali tersebut bagai tempat pelaksanaan upacara adat Bali.
Itulah suasana Taman Budaya, Jumat, 11 September 2026 siang, ketika lomba-lomba mulai digelar. Orang-orang yang hadir mengenakan busana adat, seperti masyarakat Hindu di Bali yang sedang melakukan kegiatan di banjar atau pura. Utsawa Dharmagita yang mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, yang bermakna Menuntun Jiwa Menuju Kesucian, itu dimulai dengan berbagai lomba yang didominasi oleh peserta putri.
Utsawa Dharmagita XXXIII yang digelar selama lima hari, mulai 11–16 September 2026, diawali dengan enam lomba. Lomba Membaca Sloka yang diikuti anak-anak putri berlangsung di Gedung Kriya; lomba Kidung di Gedung Ksirarnawa; lomba membaca Palawakya remaja putri di Kalangan Angsoka; lomba membaca Kakawin remaja putri di Kalangan Ayodya; lomba menghafal Sloka anak-anak putri di Wantilan; dan lomba Dharmawacana Bahasa Bali kategori anak-anak putri di Kalangan Ratna Kanda.
Pada saat itu, pengunjung, khususnya para pencinta budaya Bali, sepertinya sulit memilih lomba yang ingin disaksikan. Sebab, semuanya menarik, ditampilkan secara maksimal, dan memikat. Dari sekian lomba tersebut, lomba Dharmawacana Bahasa Bali kategori anak-anak putri menjadi yang paling awal selesai. Maklum, lomba ini hanya diikuti oleh tiga peserta, yaitu duta Kabupaten Gianyar, Kabupaten Badung, dan Kota Denpasar.

Lomba Dharmawacana Bahasa Bali kategori anak-anak ini memang menjadi program teranyar dalam pelaksanaan Utsawa Dharmagita tahun 2026. Pada tahun-tahun sebelumnya, yang dilombakan hanya kategori remaja dan anak-anak. “Lomba Dharmawacana Bahasa Bali kategori anak-anak ini dilaksanakan di Bali karena lomba ini juga digelar di tingkat nasional. Bali menyesuaikan semua materi dengan Utsawa Dharmagita di tingkat nasional,” kata salah satu dewan juri Lomba Dharmawacana Bahasa Bali kategori anak-anak, Drs. I Gusti Lanang Subamya, MM.Pd.
Ketika peserta lomba naik ke atas panggung, mereka tampak bersemangat, berpenampilan rapi, dan tetap terlihat mungil. Setelah mencoba mikrofon, mereka kemudian berbicara, berceramah, atau berkomunikasi secara lisan dengan menyampaikan ajaran, nilai-nilai, adat, serta filosofi agama Hindu. Terkadang, mereka mengupas tentang manusia yang memiliki bayu, sabda, dan idep. Mungkin karena tergolong baru, penampilan anak-anak ketika berdharmawacana terkesan wayah.
Lanang Subamya mengatakan, Dharmawacana memang sedikit sulit karena akan mengutip beberapa materi dari lomba-lomba sebelumnya. Topik yang dibicarakan bisa diambil dari lomba Sloka, Palawakya, Kakawin, dan lainnya. “Memang sedikit sulit, tetapi setelah dicoba dan dimotivasi, anak-anak pasti senang dan tidak pernah kekurangan peserta dalam setiap lombanya,” ungkap Lanang Subamya.


Lanang Subamya menjelaskan, anak-anak yang biasa tampil dalam dharmawacana akan memiliki bekal untuk ke depannya. Namun, yang penting, penulisan naskah harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak-anak. Jika naskah yang berat diberikan kepada anak-anak, tentu penampilannya akan terlihat wayah dan bahkan mereka tidak akan mau ikut. Karena itu, naskah harus disesuaikan. Anak-anak dapat belajar dari kutipan-kutipan yang dicari sebelumnya untuk melengkapi naskah tersebut. “Ini penting untuk melatih mental anak-anak dalam berbahasa Bali yang menjadi warisan yang harus tetap dilestarikan,” sebutnya.
Pengunjung yang menyaksikan Lomba Membaca Sloka yang diikuti anak-anak putri di Gedung Kriya mendapatkan sesuatu yang lebih. Mereka tidak hanya dapat menyaksikan kemampuan anak-anak membaca sloka, tetapi juga melihat pameran lukisan yang sedang berlangsung di gedung tersebut. Terutama pengunjung anak-anak, remaja, dan pelajar yang tetap menyempatkan diri melihat-lihat karya lukis yang dipajang dengan rapi. Lomba ini diikuti peserta dari Kabupaten Badung, Gianyar, Jembrana, Tabanan, Kota Denpasar, dan Kabupaten Karangasem.

Lomba-lomba dalam Utsawa Dharmagita tahun 2026 di hari pertama ini memang tidak semua lomba diikuti oleh seluruh kabupaten dan kota di Bali. Jika semua daerah mengirimkan dutanya, semestinya ada sebanyak sembilan peserta di masing-masing kategori yang mengadu kemampuan dalam menekuni sastra dan budaya Bali. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























