12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
in Puisi
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
  • Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye

Teruslah bodoh, jangan pintar,
sebab negeri ini menyukai kepala
yang mudah mengangguk
dan punggung yang mudah membungkuk.

Jika gunung dibelah,
katakan itu pembangunan.
Jika hutan digunduli,
sebut saja pertumbuhan.
Jika tanah rakyat dirampas,
percayalah
mereka sedang dibebaskan
dari beban kepemilikan.

Di ruang persidangan itu,
keadilan duduk paling belakang.
Kursinya reyot,
pakaiannya lusuh,
dan suaranya berkali-kali dipotong
oleh ketukan palu
yang telah hafal
siapa tuannya.

Di hadapannya,
sebuah perusahaan tambang
datang dengan jas paling mahal,
pengacara paling fasih,
dan dosa-dosa
yang telah disetrika rapi.

Para aktivis membawa luka,
mereka membawa tanah berlubang,
paru-paru pekerja,
air sungai yang kehilangan kejernihan,
serta nama-nama korban
yang tak pernah masuk laporan tahunan.

Tetapi kesaksian orang kecil
memang terlalu lirih
bagi telinga kekuasaan
yang disumbat lembaran uang.

Satu demi satu saksi berdiri.
Mereka mengisahkan rumah yang retak,
keluarga yang tercerai,
lubang tambang yang menganga,
dan maut yang dibiarkan
menunggu anak-anak pulang bermain.

Namun hukum sedang sibuk
menghitung keuntungan.

Hukum tidak buta.
Ia melihat semuanya dengan terang.
Hanya saja,
ia tahu kepada siapa
matanya harus dipejamkan.

Tere Liye membangun novel ini
seperti ruang sidang panjang
yang pengap dan menyesakkan.
Lebih dari sebulan perkara bergulir,
kesaksian membuka lapis demi lapis kejahatan,
sementara pembaca dipaksa duduk
sebagai juri
yang sejak awal telah mengetahui
siapa bakal memenangkan perkara.

Alurnya sederhana,
tetapi kesederhanaan itu
menyimpan kemarahan.

Kita tidak dibawa berlari
dari satu kota ke kota lain.
Kita hanya diajak menyaksikan
betapa satu ruangan
dapat memuat seluruh kebusukan negeri.

Ada korupsi.
Ada suap.
Ada tambang ilegal.
Ada pekerja yang dikorbankan.
Ada pejabat yang menjual tanda tangan.
Ada pembangunan
yang terlalu sering meminta rakyat
menjadi tumbalnya.

Semua terasa fiksi,
sampai kita membuka berita pagi
dan menemukan
tokoh-tokohnya berganti nama.

Novel ini tidak menawarkan
pahlawan berkuda putih.
Para pembela lingkungan bergerak
dengan tenaga dan dana seadanya,
sedangkan lawannya memiliki
modal, kuasa, hukum,
bahkan pintu belakang istana.

Perlawanan mereka kadang terasa
kurang meledak,
kurang menghantam,
seolah kemarahan masih ditahan
di bawah meja persidangan.

Tetapi mungkin justru di sanalah
kepedihan novel ini bekerja.
Orang-orang baik bukan tidak berani.
Mereka hanya sedang melawan raksasa
yang memelihara hakim,
membayar penjaga,
dan menulis sendiri
aturan permainannya.

Kemenangan pun jatuh
kepada mereka yang sejak awal
telah membeli garis akhir.

Jangan terkejut.

Di negeri yang tambangnya lebih berharga
daripada nyawa manusia,
kebenaran memang sering kalah
bukan kehilangan bukti,
melainkan karena tidak memiliki rekening
sebesar milik lawannya.

Lalu novel ini berbisik
dengan suara yang lebih tajam
daripada teriakan:

Teruslah bodoh, jangan pintar.

Sebab orang bodoh
tidak akan bertanya
mengapa sungai menghitam.

Orang bodoh
tidak akan menghitung
berapa nyawa terkubur
di bawah laba perusahaan.

Orang bodoh
tidak akan memeriksa
mengapa pejabat mendadak kaya
setelah menandatangani izin.

Orang bodoh akan selamat.
Ia cukup menunduk,
menerima sembako,
bertepuk tangan,
lalu pulang membawa keyakinan
bahwa semua baik-baik saja.

Sebaliknya,
orang pintar bisa hancur lebur.

Judul buku ini bukan nasihat.
Ia tamparan.

Bukan ajakan memelihara kebodohan,
melainkan gugatan kepada sistem
yang menghukum orang-orang sadar
dan memberi karpet merah
kepada penjahat berwajah sabar.

Tere Liye sedang berkata
bahwa di bawah kekuasaan
serigala berbulu domba,
kepintaran bukan sekadar kemampuan berpikir.

Kepintaran adalah keberanian
menolak lupa.

Membaca novel ini
seperti menelan bara.
Marah, sedih, kecewa,
namun sulit berhenti
sebelum halaman terakhir.

Plot twist pada ujung cerita
memang memberi kejutan,
tetapi bukan kebahagiaan.
Ia lebih menyerupai pintu darurat
yang dibuka
setelah seluruh gedung
telanjur terbakar.

Buku ini selesai dibaca,
tetapi persoalannya
tidak selesai ditutup.

Lubang tambang masih menganga.
Modal masih pandai menyamar
sebagai pembangunan.
Kuasa masih rajin berpidato
tentang kesejahteraan
di atas tanah orang-orang
yang telah kehilangan rumah.

Maka teruslah bodoh,
jika keselamatan berarti
hidup tanpa suara.

Teruslah bodoh,
jika kepintaran hanya dipakai
menghitung laba
dan melupakan manusia.

Namun jika nurani
masih mempunyai denyut,
bukalah buku ini.

Bacalah setiap kesaksian.
Dengarkan setiap korban.
Lalu putuskan sendiri:

akan menjadi bodoh
agar selamat seorang diri,

atau menjadi pintar
meski harus berdiri
di pihak yang terkebiri.
sebab terkadang,
lebih mulia hancur bersama kebenaran
daripada hidup utuh
sebagai pelayan kejahatan.

Malang, 11 September 2026

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Next Post

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails
Next Post
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co