- Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di Rumah Tumbuh Kembang Plaju Kota Palembang.
MENJELANG Nonton Bersama (Nobar) pertunjukan Rawa Gambut produksi Teater Potlot melalui tayangan Youtube, 5 September 2026, saya ingin membagikan fragmen ingatan yang masih melekat dari pengalaman menyaksikan langsung pertunjukan naskah karya Conie Sema di Taman Budaya Lampung pada Oktober 2017.
Sebelumnya, pertunjukan tersebut telah dipentaskan di Palembang pada Maret 2017. Setahun kemudian, pada Oktober 2018, produksi yang juga disutradarai oleh Conie Sema itu kembali dipentaskan di Jambi.
Ada paradoks yang masih berakar kuat. Paradoks yang tumbuh di antara sinaps-sinaps ingatan saya, disesaki kabut asap. Ia menjelma humor yang terus berulang, seolah mengajak kau dan aku untuk tetap setia menjadi warga di sebuah tempat kacau yang mereka sepakati sebagai negara.
Sepenggal dialog itu besok penting untuk dipahami kembali bersama Komunitas Opus Sastra, menonton rekaman pertunjukan yang lahir dari gagasan Teater Potlot, komunitas teater yang berdiri sejak 1984 dan saya anggap sebagai laboratorium pemikiran. Melalui kerja-kerja teater, Potlot mengolah beragam persoalan sosial dan budaya. Selama sekitar 15 tahun, hingga wafatnya Conie Sema pada September 2022, Potlot memberi perhatian khusus pada isu lingkungan. Berangkat dari realitas ekologis Sumatera Selatan, Potlot mengeksplorasi berbagai persoalan tersebut melalui pendekatan ekodramaturgi.
Pertunjukan Rawa Gambut telah usai dalam sorotan lampu panggung. Kini, gerak dan dialog para pemainnya diabadikan di platform media sosial. Bagi saya, rekaman pertunjukan itu menjadi peristiwa yang jauh lebih penting daripada menyaksikan sosialisasi proposal pengadaan masker.
Saya menyaksikan Rawa Gambut bersama almarhum Filuz Mursalin dan almarhum Ajong, kawan sekaligus guru kesenian saya. Kami berangkat dari Stasiun Kertapati Palembang, seminggu sebelum riuh tepuk tangan penonton mengapresiasi permainan yang dilakoni mahasiswa Lampung.
Tentu, ingatan itu tidak utuh. Ingatan tidak pernah benar-benar setia pada setiap detail. Yang tersisa bukanlah susunan adegan secara lengkap, melainkan fragmen-fragmen. Panggung, tubuh para aktor, bunyi yang menghadirkan suasana lebak, cahaya, serta percakapan Gambut yang seolah memberi kesaksian tentang luka kepada kami yang duduk di hadapannya.
“Lahan Gambut, rawa lebak adalah aku. Juga dirimu!”
Satu kutipan dialog para Gambut dalam pertunjukan tersebut. Kalimat itu menjadi riwayat yang terus relevan, terutama ketika humor kabut asap setiap tahun. Gambut memang tidak memiliki KTP seperti aku dan kau, tetapi ia adalah subjek yang turut membangun peradaban jauh sebelum kota, mesin, dan buku-buku hadir. Namun, menjelang era Orde Baru berakhir. Sejak dekade 1990-an, alih fungsi Gambut berlangsung masif. Lahan dibuka, kanal-kanal digali, dan perkebunan tumbuh. Gambut pun dianggap sebagai objek di luar dari diri manusia, dijadikan sebagai benda-benda yang diperjual belikan untuk dikeringkan, dan dialihfungsikan.

Jason W. Moore menawarkan pendekatan melalui gagasan web of life untuk membaca Gambut. Ia mengajak untuk berhenti membayangkan manusia dan alam sebagai dua dunia yang terpisah. Dalam pandangan Moore, kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi yang kemudian menimbulkan dampak bagi lingkungan. Kapitalisme bekerja dengan mengatur hubungan antara alam, kekuasaan, tenaga kerja, dan kehidupan sehari-hari dalam satu kesatuan. Artinya, Gambut bukan latar belakang kehidupan manusia. Ia bukan sebidang tanah kosong yang bisa disertifikasi halal oleh segelintir kelompok. Gambut adalah bagian dari jaring kehidupan yang menghubungkan air, tumbuhan, mikroorganisme, pangan, perkebunan, kesehatan, udara, dan sejarah kebudayaan.
Jika ekosistem Gambut rusak, manusia beserta makhluk hidup lainnya juga mengalami kehancuran. Kau juga aku sedang menyaksikan film horor di sebuah bioskop api. Kabut asap, hewan-hewan terpanggang, pohon-pohon menangis, desa menjadi rumah sakit yang dipaksa merawat kota. Dan masa depan jutaan anak-anak didongengkan suara-suara ompreng.
Setidaknya besok melalui menonton ulang Rawa Gambut, saya tidak sedang meromantisasi peristiwa ingatan dari menonton pertunjukan Rawa Gambut. Melainkan, membuat daftar pertanyaan untuk merenungkan teks cuplikan dialog Gambut sembari memandangi wajah kekasih di musim kabut asap hari ini. “Kau tak usah sibuk mengurus kami. Kami bisa mengurus diri kami sendiri. Kau urus saja dirimu.” [T]



























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)



