2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Satria Aditya by Satria Aditya
August 30, 2026
in Pameran
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Pameran karya Reka Biambara

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara Putra, dan Wahyu Simbrana menetap di Yogyakarta mengikuti program residensi Sangkring Art Space x Gurat Institute. Perjalanan itu berujung pada pameran bersama bertajuk Lelana, yang digelar di Cari Nagari, Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Di antara empat nama itu, satu yang menonjol karena memilih jalan paling personal. Ia adalah I Kadek Agus Reka Biambara Putra, kelahiran Pekutatan, 11 April 2003, yang membawa bambu, bukan sekadar sebagai material, tapi sebagai arsip ingatan masa kecilnya di Jembrana.

Reka bukan orang baru di jalur residensi maupun pameran. Dalam tiga tahun terakhir namanya tercatat di sejumlah pameran di Bali dan Yogyakarta, dari Sound of Jembrana di Anjungan Cerdas Jembrana, residensi MTN Lab “Pulang ke Palung” di Denpasar, hingga Yogya Annual Art #11 di Sangkring Art Gallery. Namun Lelana, yang berlangsung 29 Agustus–4 September 2026, terasa berbeda. Seperti menjadi titik di mana pertanyaan yang sudah lama dipendamnya, “sejauh mana kita benar-benar mengenal bambu?” akhirnya menemukan bentuk visual yang utuh.

Putu Sutawijaya—perupa asal Bali sekaligus pendiri Sangkring Art Space dan Reka Biambara

Melalui telepon WhatsApp, Reka bercerita proses di Yogyakarta, sebenarnya dimulai dari kejenuhan. Tuntutan menghasilkan banyak sketsa lewat observasi langsung membuatnya lama bekerja dengan kertas konvensional, tinta cina, dan kuas. Tapi menurutnya, media itu makin terasa generik dan berjarak dari tema yang ia angkat.

“Muncul rasa jenuh terhadap penggunaan kertas biasa yang terasa generik dan kurang memiliki kedalaman keterkaitan dengan tema yang sedang saya angkat,” katanya. “Keterbatasan ekspresi dan keterasingan media ini memicu keinginan saya untuk mencari alternatif yang lebih integral dengan fokus eksplorasi saya dengan material bambu.”

Titik baliknya datang secara tidak terduga. Dalam perjalanan menuju sebuah pameran, ia melihat sekelompok orang menyaksikan pembakaran rumpun bambu. Alih-alih mendekat, Reka memilih mengambil jarak dan mengamati.

“Apakah bambu tersebut dibakar karena sudah kehilangan nilai guna, atau justru karena keberadaannya dianggap mengganggu tatanan tertentu? Atau mungkin bambu tersebut terbakar secara alami karena paparan sinar matahari dan cuaca yang lumayan panas?” ia mempertanyakan.

Bambu terbakar

Delapan hari kemudian ia kembali ke lokasi itu untuk memotret sisa-sisa pembakaran, sebuah dokumentasi yang kelak menjadi bagian dari narasi karyanya.

Dari peristiwa itu ia sampai pada satu simpulan bahwa makna yang melekat pada bambu tidak pernah tunggal. “Pemaknaan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam bambu tidak bersifat universal. Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antar individu dan konteks ruang,” ujarnya. Dari sanalah muncul pertanyaan sekaligus solusi yang menjadi tulang punggung karyanya: mengapa tidak menciptakan kertas sendiri dari serat bambu?

Keputusan itu membawa Reka menempuh proses panjang, dari mengolah bambu utuh menjadi serat, lalu menjadi lembaran kertas, yang kemudian ia bakar secara terkendali dengan teknik pyrography. Baginya, proses pembakaran yang terkendali pada permukaan bambu dan kertas bambu itu bukan kebetulan. Ia sengaja menempatkannya sebagai dialog antara daya rusak dan daya cipta dalam hubungan manusia dengan alam, sekaligus gaung dari peristiwa pembakaran yang ia saksikan di Yogyakarta.

Bubur kertas bambu kering

Ketertarikan Reka pada bambu sendiri bukan sesuatu yang lahir mendadak selama residensi. Ia tumbuh besar di Jembrana, Bali Barat. Sebuah wilayah yang punya ikatan kuat dengan jegog, kesenian musik bambu raksasa yang menjadi bagian dari lanskap masyarakat agraris di sana. “Kedekatan saya dengan tanaman bambu berakar pada pengalaman hidup di lingkungan alam dan budaya tempat kelahiran saya di Bali. Sejak kecil, keberadaan bambu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian, baik dalam konteks pelaksanaan upacara adat maupun pemenuhan kebutuhan domestik,” katanya.

Pengamatannya terhadap sifat fisik bambu pun cukup rinci. Ia menjelaskan bahwa bambu adalah tumbuhan menahun dari famili rumput-rumputan, bukan pohon berkayu sejati—batangnya berongga dan beruas, sehingga kuat sekaligus lentur, dengan serat yang kuat ditarik memanjang namun rentan retak melintang. Pengetahuan yang tampak teknis ini, dalam karyanya, tidak berhenti sebagai catatan botani, melainkan jadi dasar metaforis: kekuatan yang berdampingan dengan kerapuhan.

Instalasi resonansi

Karya-karya Reka di Lelana disusun berdasarkan empat peran yang ia rumuskan sendiri sebagai kerangka untuk memahami bambu dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Peran pertama, Resonansi, merujuk pada jegog, alat musik bambu raksasa (bambu petung) dari Jembrana yang menurut kajian I Gede Oka Artha Negara (2016) berkembang sejak sekitar 1912 dan melewati tiga fase: era Genyor, Suprig, dan Jayus. Karya berjudul Resonansi (Pyrography on Bamboo, 105×30 cm, 2026) menempatkan rongga batang bambu bukan sebagai kekurangan, melainkan justru syarat lahirnya bunyi.

Peran kedua, Ritual, berangkat dari benda-benda upacara seperti sanggah cukcuk dan klatkat, yang bagi Reka justru menegaskan bahwa yang utama dalam ritus bukan soal daya tahan benda, melainkan niat yang dibawanya. Peran ketiga, Terapan, menyoroti fungsi praktis bambu dalam bangunan dan anyaman, sebagai contoh bagaimana kebutuhan manusia bisa dipenuhi tanpa merusak keseimbangan alam. Peran keempat, Bangkit, mengangkat bambu runcing sebagai simbol perlawanan dan kemerdekaan, “diruncingkan untuk menjaga tanah tempat kita dilahirkan.”

Ketiga karya terakhir dikerjakan dengan teknik pyrography and acrylic on bamboo paper berukuran 50×50 cm, sementara Resonansi tampil dalam format instalasi bambu bakar yang digantung dengan kain putih panjang, dipamerkan di ruang Rumaharihari, Carinagari, Yogyakarta.

Detil karya

Di balik proses panjang mengolah bambu hingga menjadi kertas dan karya jadi, Reka juga menyisipkan rasa terima kasihnya untuk Putu Sutawijaya—perupa asal Bali sekaligus pendiri Sangkring Art Space, yang menaungi program residensi ini. Baginya, dukungan itu bukan sekadar bantuan teknis, melainkan ruang dan keberanian untuk terus mencoba.

“Ia yang memberi banyak dukungan. Mulai dari peminjaman studio sampai dukungan moral untuk proses aku berkarya dan selalu bilang ‘coba saja’,” ujar Reka.

Dalam esai pengantar pameran, kurator I Made Susanta Dwitanaya menempatkan Reka sebagai representasi dari cara residensi bekerja bukan lewat penggantian medium, melainkan lewat pendalaman hubungan dengan material yang sudah lama dikenal. “Reka Biambara Putra membawa bambu dari ingatan kultural Jembrana menuju eksplorasi material baru,” tulis Susanta. Ia menyebut perpindahan bentuk material, dari batang utuh menuju serat dan lembaran kertas adalah cara Reka melihat satu bahan lewat sifat yang berbeda-beda, sekaligus cara memindahkan ingatan tentang tempat asal ke ruang kerja baru tanpa kehilangan hubungan dengan sumbernya.

Bagi Reka sendiri, pertanyaan yang mengawali seluruh proyek ini tetap menjadi penutup yang paling jujur: “Sejauh mana kita mengenal bambu, sejauh itulah kita memahami cara hidup yang benar-benar selaras dengan alam.”

Reka Biambara Putra, berdomisili di Kota Negara, Jembrana, Bali. Karya-karyanya dalam pameran Lelana—hasil residensi bersama Sangkring Art Space x Gurat Institute—dipamerkan di Cari Nagari, Yogyakarta. [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSangkring Art Space BaliSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Next Post

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

Read moreDetails

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
0
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co