SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara Putra, dan Wahyu Simbrana menetap di Yogyakarta mengikuti program residensi Sangkring Art Space x Gurat Institute. Perjalanan itu berujung pada pameran bersama bertajuk Lelana, yang digelar di Cari Nagari, Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Di antara empat nama itu, satu yang menonjol karena memilih jalan paling personal. Ia adalah I Kadek Agus Reka Biambara Putra, kelahiran Pekutatan, 11 April 2003, yang membawa bambu, bukan sekadar sebagai material, tapi sebagai arsip ingatan masa kecilnya di Jembrana.
Reka bukan orang baru di jalur residensi maupun pameran. Dalam tiga tahun terakhir namanya tercatat di sejumlah pameran di Bali dan Yogyakarta, dari Sound of Jembrana di Anjungan Cerdas Jembrana, residensi MTN Lab “Pulang ke Palung” di Denpasar, hingga Yogya Annual Art #11 di Sangkring Art Gallery. Namun Lelana, yang berlangsung 29 Agustus–4 September 2026, terasa berbeda. Seperti menjadi titik di mana pertanyaan yang sudah lama dipendamnya, “sejauh mana kita benar-benar mengenal bambu?” akhirnya menemukan bentuk visual yang utuh.
Melalui telepon WhatsApp, Reka bercerita proses di Yogyakarta, sebenarnya dimulai dari kejenuhan. Tuntutan menghasilkan banyak sketsa lewat observasi langsung membuatnya lama bekerja dengan kertas konvensional, tinta cina, dan kuas. Tapi menurutnya, media itu makin terasa generik dan berjarak dari tema yang ia angkat.
“Muncul rasa jenuh terhadap penggunaan kertas biasa yang terasa generik dan kurang memiliki kedalaman keterkaitan dengan tema yang sedang saya angkat,” katanya. “Keterbatasan ekspresi dan keterasingan media ini memicu keinginan saya untuk mencari alternatif yang lebih integral dengan fokus eksplorasi saya dengan material bambu.”
Titik baliknya datang secara tidak terduga. Dalam perjalanan menuju sebuah pameran, ia melihat sekelompok orang menyaksikan pembakaran rumpun bambu. Alih-alih mendekat, Reka memilih mengambil jarak dan mengamati.
“Apakah bambu tersebut dibakar karena sudah kehilangan nilai guna, atau justru karena keberadaannya dianggap mengganggu tatanan tertentu? Atau mungkin bambu tersebut terbakar secara alami karena paparan sinar matahari dan cuaca yang lumayan panas?” ia mempertanyakan.

Delapan hari kemudian ia kembali ke lokasi itu untuk memotret sisa-sisa pembakaran, sebuah dokumentasi yang kelak menjadi bagian dari narasi karyanya.
Dari peristiwa itu ia sampai pada satu simpulan bahwa makna yang melekat pada bambu tidak pernah tunggal. “Pemaknaan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam bambu tidak bersifat universal. Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antar individu dan konteks ruang,” ujarnya. Dari sanalah muncul pertanyaan sekaligus solusi yang menjadi tulang punggung karyanya: mengapa tidak menciptakan kertas sendiri dari serat bambu?
Keputusan itu membawa Reka menempuh proses panjang, dari mengolah bambu utuh menjadi serat, lalu menjadi lembaran kertas, yang kemudian ia bakar secara terkendali dengan teknik pyrography. Baginya, proses pembakaran yang terkendali pada permukaan bambu dan kertas bambu itu bukan kebetulan. Ia sengaja menempatkannya sebagai dialog antara daya rusak dan daya cipta dalam hubungan manusia dengan alam, sekaligus gaung dari peristiwa pembakaran yang ia saksikan di Yogyakarta.

Ketertarikan Reka pada bambu sendiri bukan sesuatu yang lahir mendadak selama residensi. Ia tumbuh besar di Jembrana, Bali Barat. Sebuah wilayah yang punya ikatan kuat dengan jegog, kesenian musik bambu raksasa yang menjadi bagian dari lanskap masyarakat agraris di sana. “Kedekatan saya dengan tanaman bambu berakar pada pengalaman hidup di lingkungan alam dan budaya tempat kelahiran saya di Bali. Sejak kecil, keberadaan bambu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian, baik dalam konteks pelaksanaan upacara adat maupun pemenuhan kebutuhan domestik,” katanya.
Pengamatannya terhadap sifat fisik bambu pun cukup rinci. Ia menjelaskan bahwa bambu adalah tumbuhan menahun dari famili rumput-rumputan, bukan pohon berkayu sejati—batangnya berongga dan beruas, sehingga kuat sekaligus lentur, dengan serat yang kuat ditarik memanjang namun rentan retak melintang. Pengetahuan yang tampak teknis ini, dalam karyanya, tidak berhenti sebagai catatan botani, melainkan jadi dasar metaforis: kekuatan yang berdampingan dengan kerapuhan.

Karya-karya Reka di Lelana disusun berdasarkan empat peran yang ia rumuskan sendiri sebagai kerangka untuk memahami bambu dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Peran pertama, Resonansi, merujuk pada jegog, alat musik bambu raksasa (bambu petung) dari Jembrana yang menurut kajian I Gede Oka Artha Negara (2016) berkembang sejak sekitar 1912 dan melewati tiga fase: era Genyor, Suprig, dan Jayus. Karya berjudul Resonansi (Pyrography on Bamboo, 105×30 cm, 2026) menempatkan rongga batang bambu bukan sebagai kekurangan, melainkan justru syarat lahirnya bunyi.
Peran kedua, Ritual, berangkat dari benda-benda upacara seperti sanggah cukcuk dan klatkat, yang bagi Reka justru menegaskan bahwa yang utama dalam ritus bukan soal daya tahan benda, melainkan niat yang dibawanya. Peran ketiga, Terapan, menyoroti fungsi praktis bambu dalam bangunan dan anyaman, sebagai contoh bagaimana kebutuhan manusia bisa dipenuhi tanpa merusak keseimbangan alam. Peran keempat, Bangkit, mengangkat bambu runcing sebagai simbol perlawanan dan kemerdekaan, “diruncingkan untuk menjaga tanah tempat kita dilahirkan.”
Ketiga karya terakhir dikerjakan dengan teknik pyrography and acrylic on bamboo paper berukuran 50×50 cm, sementara Resonansi tampil dalam format instalasi bambu bakar yang digantung dengan kain putih panjang, dipamerkan di ruang Rumaharihari, Carinagari, Yogyakarta.

Dalam esai pengantar pameran, kurator I Made Susanta Dwitanaya menempatkan Reka sebagai representasi dari cara residensi bekerja bukan lewat penggantian medium, melainkan lewat pendalaman hubungan dengan material yang sudah lama dikenal. “Reka Biambara Putra membawa bambu dari ingatan kultural Jembrana menuju eksplorasi material baru,” tulis Susanta. Ia menyebut perpindahan bentuk material, dari batang utuh menuju serat dan lembaran kertas adalah cara Reka melihat satu bahan lewat sifat yang berbeda-beda, sekaligus cara memindahkan ingatan tentang tempat asal ke ruang kerja baru tanpa kehilangan hubungan dengan sumbernya.
Bagi Reka sendiri, pertanyaan yang mengawali seluruh proyek ini tetap menjadi penutup yang paling jujur: “Sejauh mana kita mengenal bambu, sejauh itulah kita memahami cara hidup yang benar-benar selaras dengan alam.”
Reka Biambara Putra, berdomisili di Kota Negara, Jembrana, Bali. Karya-karyanya dalam pameran Lelana—hasil residensi bersama Sangkring Art Space x Gurat Institute—dipamerkan di Cari Nagari, Yogyakarta. [T]
Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole



















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









