30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Satria Aditya by Satria Aditya
August 30, 2026
in Pameran
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Pameran karya Reka Biambara

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara Putra, dan Wahyu Simbrana menetap di Yogyakarta mengikuti program residensi Sangkring Art Space x Gurat Institute. Perjalanan itu berujung pada pameran bersama bertajuk Lelana, yang digelar di Cari Nagari, Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Di antara empat nama itu, satu yang menonjol karena memilih jalan paling personal. Ia adalah I Kadek Agus Reka Biambara Putra, kelahiran Pekutatan, 11 April 2003, yang membawa bambu, bukan sekadar sebagai material, tapi sebagai arsip ingatan masa kecilnya di Jembrana.

Reka bukan orang baru di jalur residensi maupun pameran. Dalam tiga tahun terakhir namanya tercatat di sejumlah pameran di Bali dan Yogyakarta, dari Sound of Jembrana di Anjungan Cerdas Jembrana, residensi MTN Lab “Pulang ke Palung” di Denpasar, hingga Yogya Annual Art #11 di Sangkring Art Gallery. Namun Lelana, yang berlangsung 29 Agustus–4 September 2026, terasa berbeda. Seperti menjadi titik di mana pertanyaan yang sudah lama dipendamnya, “sejauh mana kita benar-benar mengenal bambu?” akhirnya menemukan bentuk visual yang utuh.

Melalui telepon WhatsApp, Reka bercerita proses di Yogyakarta, sebenarnya dimulai dari kejenuhan. Tuntutan menghasilkan banyak sketsa lewat observasi langsung membuatnya lama bekerja dengan kertas konvensional, tinta cina, dan kuas. Tapi menurutnya, media itu makin terasa generik dan berjarak dari tema yang ia angkat.

“Muncul rasa jenuh terhadap penggunaan kertas biasa yang terasa generik dan kurang memiliki kedalaman keterkaitan dengan tema yang sedang saya angkat,” katanya. “Keterbatasan ekspresi dan keterasingan media ini memicu keinginan saya untuk mencari alternatif yang lebih integral dengan fokus eksplorasi saya dengan material bambu.”

Titik baliknya datang secara tidak terduga. Dalam perjalanan menuju sebuah pameran, ia melihat sekelompok orang menyaksikan pembakaran rumpun bambu. Alih-alih mendekat, Reka memilih mengambil jarak dan mengamati.

“Apakah bambu tersebut dibakar karena sudah kehilangan nilai guna, atau justru karena keberadaannya dianggap mengganggu tatanan tertentu? Atau mungkin bambu tersebut terbakar secara alami karena paparan sinar matahari dan cuaca yang lumayan panas?” ia mempertanyakan.

Bambu terbakar

Delapan hari kemudian ia kembali ke lokasi itu untuk memotret sisa-sisa pembakaran, sebuah dokumentasi yang kelak menjadi bagian dari narasi karyanya.

Dari peristiwa itu ia sampai pada satu simpulan bahwa makna yang melekat pada bambu tidak pernah tunggal. “Pemaknaan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam bambu tidak bersifat universal. Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antar individu dan konteks ruang,” ujarnya. Dari sanalah muncul pertanyaan sekaligus solusi yang menjadi tulang punggung karyanya: mengapa tidak menciptakan kertas sendiri dari serat bambu?

Keputusan itu membawa Reka menempuh proses panjang, dari mengolah bambu utuh menjadi serat, lalu menjadi lembaran kertas, yang kemudian ia bakar secara terkendali dengan teknik pyrography. Baginya, proses pembakaran yang terkendali pada permukaan bambu dan kertas bambu itu bukan kebetulan. Ia sengaja menempatkannya sebagai dialog antara daya rusak dan daya cipta dalam hubungan manusia dengan alam, sekaligus gaung dari peristiwa pembakaran yang ia saksikan di Yogyakarta.

Bubur kertas bambu kering

Ketertarikan Reka pada bambu sendiri bukan sesuatu yang lahir mendadak selama residensi. Ia tumbuh besar di Jembrana, Bali Barat. Sebuah wilayah yang punya ikatan kuat dengan jegog, kesenian musik bambu raksasa yang menjadi bagian dari lanskap masyarakat agraris di sana. “Kedekatan saya dengan tanaman bambu berakar pada pengalaman hidup di lingkungan alam dan budaya tempat kelahiran saya di Bali. Sejak kecil, keberadaan bambu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian, baik dalam konteks pelaksanaan upacara adat maupun pemenuhan kebutuhan domestik,” katanya.

Pengamatannya terhadap sifat fisik bambu pun cukup rinci. Ia menjelaskan bahwa bambu adalah tumbuhan menahun dari famili rumput-rumputan, bukan pohon berkayu sejati—batangnya berongga dan beruas, sehingga kuat sekaligus lentur, dengan serat yang kuat ditarik memanjang namun rentan retak melintang. Pengetahuan yang tampak teknis ini, dalam karyanya, tidak berhenti sebagai catatan botani, melainkan jadi dasar metaforis: kekuatan yang berdampingan dengan kerapuhan.

Instalasi resonansi

Karya-karya Reka di Lelana disusun berdasarkan empat peran yang ia rumuskan sendiri sebagai kerangka untuk memahami bambu dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Peran pertama, Resonansi, merujuk pada jegog, alat musik bambu raksasa (bambu petung) dari Jembrana yang menurut kajian I Gede Oka Artha Negara (2016) berkembang sejak sekitar 1912 dan melewati tiga fase: era Genyor, Suprig, dan Jayus. Karya berjudul Resonansi (Pyrography on Bamboo, 105×30 cm, 2026) menempatkan rongga batang bambu bukan sebagai kekurangan, melainkan justru syarat lahirnya bunyi.

Peran kedua, Ritual, berangkat dari benda-benda upacara seperti sanggah cukcuk dan klatkat, yang bagi Reka justru menegaskan bahwa yang utama dalam ritus bukan soal daya tahan benda, melainkan niat yang dibawanya. Peran ketiga, Terapan, menyoroti fungsi praktis bambu dalam bangunan dan anyaman, sebagai contoh bagaimana kebutuhan manusia bisa dipenuhi tanpa merusak keseimbangan alam. Peran keempat, Bangkit, mengangkat bambu runcing sebagai simbol perlawanan dan kemerdekaan, “diruncingkan untuk menjaga tanah tempat kita dilahirkan.”

Ketiga karya terakhir dikerjakan dengan teknik pyrography and acrylic on bamboo paper berukuran 50×50 cm, sementara Resonansi tampil dalam format instalasi bambu bakar yang digantung dengan kain putih panjang, dipamerkan di ruang Rumaharihari, Carinagari, Yogyakarta.

Detil karya

Dalam esai pengantar pameran, kurator I Made Susanta Dwitanaya menempatkan Reka sebagai representasi dari cara residensi bekerja bukan lewat penggantian medium, melainkan lewat pendalaman hubungan dengan material yang sudah lama dikenal. “Reka Biambara Putra membawa bambu dari ingatan kultural Jembrana menuju eksplorasi material baru,” tulis Susanta. Ia menyebut perpindahan bentuk material, dari batang utuh menuju serat dan lembaran kertas adalah cara Reka melihat satu bahan lewat sifat yang berbeda-beda, sekaligus cara memindahkan ingatan tentang tempat asal ke ruang kerja baru tanpa kehilangan hubungan dengan sumbernya.

Bagi Reka sendiri, pertanyaan yang mengawali seluruh proyek ini tetap menjadi penutup yang paling jujur: “Sejauh mana kita mengenal bambu, sejauh itulah kita memahami cara hidup yang benar-benar selaras dengan alam.”

Reka Biambara Putra, berdomisili di Kota Negara, Jembrana, Bali. Karya-karyanya dalam pameran Lelana—hasil residensi bersama Sangkring Art Space x Gurat Institute—dipamerkan di Cari Nagari, Yogyakarta. [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSangkring Art Space BaliSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Next Post

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Prakriti–Pustaka–Padma 2026: Meneguhkan Seni Kriya sebagai Ruang Dialog Lintas Budaya

PAMERAN seni rupa bertajuk Prakriti–Pustaka–Padma 2026 di Museum ARMA, Ubud, menghadirkan ruang apresiasi yang kaya akan keberagaman medium, gagasan, dan...

Read moreDetails

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Adwan SA
July 6, 2026
0
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

Read moreDetails

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co