24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Karnaval dan Kemacetan Sosial

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
in Esai
Karnaval dan Kemacetan Sosial

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang, anak-anak berlatih pawai, dan pengeras suara mulai terdengar dari berbagai penjuru kampung. Semua itu seharusnya menjadi tanda kegembiraan menyambut hari kemerdekaan.

Namun, bagi saya, suasana itu tidak selalu menghadirkan kegembiraan. Tahun ini, saya justru merasa kehilangan kemerdekaan atas jalan yang setiap hari saya gunakan. Jalan kampung yang biasanya menjadi akses warga berubah menjadi lokasi persiapan acara: peralatan dipasang, kendaraan parkir, orang berlalu-lalang, dan check sound sound horeg dilakukan berulang-ulang. Jalan yang semestinya menjadi ruang bersama mendadak terasa seperti milik panitia.

Bukan hanya sehari. Persiapannya berlangsung sampai dua hari. Suara musik yang menggelegar menjadi semacam pertunjukan tersendiri, bahkan ketika karnaval belum dimulai. Bagi mereka yang terlibat dalam acara, mungkin itu bagian dari kemeriahan Agustusan. Tetapi bagi warga yang harus bekerja, beristirahat, mengantar anak, menerima tamu, atau sekadar keluar-masuk rumah, situasinya bisa sangat berbeda.

Banyak orang merasa dirugikan. Bukan karena anti-karnaval, apalagi tidak menghargai kemerdekaan. Justru penghormatan terhadap kemerdekaan semestinya mengajarkan satu hal: jangan merayakan kebebasan dengan menghilangkan kebebasan orang lain menggunakan jalan dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Di sinilah persoalannya bergeser dari sekadar kemacetan lalu lintas menjadi “kemacetan sosial” ketika kepentingan bersama tersisih oleh kesenangan sebagian orang.

Kemacetan sosial terjadi ketika kepentingan kelompok begitu dominan hingga kepentingan warga lain dianggap tidak penting. Jalan ditutup demi acara. Akses terganggu oleh panggung. Suara diperbesar demi kemeriahan. Semua dilakukan atas nama kebersamaan. Padahal, kebersamaan semestinya memberi ruang seluas-luasnya kepada orang lain, bukan mengambil ruang publik secara sepihak.

Ada yang berubah dari cara kita merayakan Agustusan. Dulu, kemeriahan lahir dari gotong royong, permainan sederhana, dan kebersamaan warga. Kini, ukuran kemeriahan kadang bergeser: semakin besar panggung, semakin keras suara, semakin panjang karnaval, dianggap semakin meriah. Nilai kebersamaan pun berisiko berubah menjadi perlombaan kemeriahan.

Pergeseran ini bukan sekadar soal bentuk perayaan, tetapi cara kita memaknai ruang bersama. Agustusan semestinya merawat persaudaraan dan menghidupkan gotong royong, bukan mengambil ruang, mengganggu kenyamanan, atau membuat warga lain menanggung ketidaknyamanan. Jika dulu kemerdekaan dirayakan dengan berbagi kegembiraan, jangan sampai kini dirayakan dengan mengurangi kebebasan orang lain.

Menariknya, penggunaan jalan untuk kegiatan masyarakat tetap diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 127–128 membolehkan penggunaan jalan untuk kegiatan tertentu, tetapi jika sampai ditutup, wajib tersedia jalan alternatif, rambu sementara, dan izin dari kepolisian. Artinya, jalan umum tidak boleh ditutup begitu saja atas nama kegiatan masyarakat.

Aturan yang lebih spesifik terdapat dalam Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2012, yang menempatkan perayaan hari nasional, termasuk HUT Kemerdekaan RI, sebagai kegiatan yang perlu mendapat pengaturan lalu lintas. Semangat merayakan kemerdekaan tentu patut dijaga, bersamaan dengan upaya memastikan jalan tetap dapat digunakan masyarakat untuk melintas dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Peraturan tersebut juga mengatur perlunya jalan alternatif dan rambu sementara apabila penggunaan jalan berdampak pada penutupan atau pengalihan arus. Dalam pelaksanaannya, petugas ditempatkan untuk menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Penyelenggara kegiatan pun memiliki peran penting untuk memastikan penggunaan jalan tetap tertib dan tidak mengganggu fungsi utamanya sebagai ruang bersama.

Ini penting untuk ditegaskan karena kemerdekaan bukan hanya milik panitia karnaval. Kemerdekaan juga milik pedagang yang harus mengantar barang, pekerja yang harus berangkat pagi, orang sakit yang membutuhkan akses kendaraan, orang tua yang mengantar anak, dan warga yang sekadar ingin menjalankan aktivitas normal.

Polisi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Hal ini sejalan dengan UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 14, yang menempatkan kelancaran lalu lintas sebagai bagian dari tugas kepolisian. Dalam konteks ini, persoalannya barangkali bukan pada boleh atau tidaknya karnaval diselenggarakan. Karnaval merupakan bagian dari kegembiraan merayakan kemerdekaan. Yang tak kalah penting ialah bagaimana kegembiraan itu dapat berlangsung tanpa mengurangi ruang masyarakat lain untuk melintas dan menjalankan aktivitasnya.

Agustusan bisa dirayakan dengan cara yang lebih tertib dan peka terhadap lingkungan sekitar. Panggung tidak harus mengambil seluruh badan jalan, check sound dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan warga, jalur alternatif disiapkan, penutupan jalan diumumkan sebelumnya, dan petugas hadir untuk membantu memastikan akses warga tetap terbuka.

Kita tidak perlu memilih antara kemeriahan dan ketertiban. Keduanya bisa berjalan bersama. Sebab, ironis rasanya jika setiap bulan Agustus kita memasang spanduk bertuliskan “Dirgahayu Republik Indonesia”, tetapi pada saat yang sama warga harus bertanya-tanya, “Hari ini saya masih bisa lewat jalan rumah saya atau tidak?”

Kemerdekaan semestinya membuat ruang publik semakin ramah, bukan semakin sempit oleh kepentingan sebagian orang. Karnaval boleh meriah, musik boleh menggema, Merah Putih wajib berkibar. Namun, jalan tetap milik bersama. Jangan sampai atas nama merayakan kemerdekaan, kita justru membuat orang lain kehilangan kemerdekaannya untuk melintas, bekerja, dan menjalani kehidupan. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Jaswanto

Tags: HUT Kemerdekaan RIKarnaval
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co