20 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ajian Jaran Goyang

Chusmeru by Chusmeru
August 20, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek. Pekerjaannya juga lumayan, meskipun bukan pegawai negeri atau BUMN. Gajinya lebih dari cukup untuk hidup sendirian.

Usia 32 tahun bagi Teguh Priyono sudah dirasa cukup umur untuk berumah tangga. Namun entah mengapa hingga kini ia masih sendiri. Pacaran pun belum pernah. Padahal teman-temannya banyak yang sudah menikah dan memiliki anak.

Konon jodoh di tangan Tuhan. Teguh Priyono tak kurang-kurang berdoa agar segera mendapat kekasih. Belum ada seorang gadis pun yang mau menjadi pacarnya. Padahal banyak gadis idaman Teguh Priyono. Ia juga tak tinggal diam. Beberapa gadis ia dekati. Tetapi tetap saja, tak ada satu pun gadis yang mau menerima cintanya.

Teguh Priyono tidak pilih-pilih gadis idamannya. Ia juga tidak membuat kriteria yang terlalu banyak untuk mendapatkan pacar. Baginya yang penting setia, jujur, dan mau menerimanya apa adanya. Soal wajah tidak begitu penting. Nanti kalau sudah menua gadis cantik pun akan kehilangan kecantikannya.

Ayahnya pernah mengenalkan seorang gadis kepada Teguh Priyono. Gadis bersahaja anak teman sekolah ayahnya. Akan tetapi perkenalan itu tidak berlanjut pada hubungan asmara selanjutnya. Gadis itu merasa kurang sreg dengan Teguh Priyono. Ia mengharap calon suaminya seorang pegawai negeri. Sedangkan Teguh Priyono karyawan swasta. Alasan yang mungkin dibuat-buat atau memang rasional.

Hingga suatu ketika Teguh Priyono bertemu Agus Setiadi, teman sekolah SD yang telah memiliki dua orang anak. Mereka mengobrol seputar pekerjaan masing-masing sampai kemudian membahas nasib Teguh Priyono yang masih menjomblo.

“Mengapa kamu belum menikah juga?” tanya Agus Setiadi.

“Entahlah, aku sudah berusaha mencari kekasih, tetapi hingga kini belum ada yang mau sama aku,” jawab Teguh Priyono dengan nada pasrah.

“Coba kamu cari ajian jaran goyang,” Agus Setiadi memberi saran.

“Ajian jaran goyang? Apa itu..??” tanya Teguh Priyono terkejut.

“Ajian untuk memikat hati perempuan,” jawab Agus Setiadi.

Teguh Priyono terdiam. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk mencari ajian jaran goyang. Ia masih ingin mencari pasangan hidup dengan caranya sendiri. Akan tetapi Agus Setiadi menjelaskan, ajian itu banyak dicari laki-laki yang kesulitan mendapatkan pacar. Apalagi ia melihat Teguh Priyono kesulitan mendapatkan kekasih.

***

Luluh juga hati Teguh Priyono. Ia mengikuti saran Agus Setiadi. Ajian jaran goyang banyak ditemukan di berbagai daerah. Atas saran teman kecilnya itu, Teguh Priyono berniat mencari ajian jaran goyang di daerah Cirebon, Jawa Barat. Ada seorang paranormal yang bisa memberi mantra ajian pemikat hati wanita itu.

Berbekal tekad untuk mendapat kekasih, Teguh Priyono menemui Mbah Galih di pelosok desa Cirebon. Ia merasa capai hati sekian lama berusaha mendapat pacar, tetapi tak kunjung datang. Jalan pintas yang ia putuskan untuk mendapat ajian jaran goyang sudah ia pikirkan secara matang. Meski ia tahu itu bukan cara yang baik untuk mendapat calon istri.

Rumah Mbah Galih menggambarkan ia seorang paranormal yang sering didatangi banyak orang. Terdapat banyak kursi di ruang tamu. Puntung rokok di asbak juga menumpuk belum sempat dibuang. Beberapa lukisan menyeramkan terpajang di dinding rumahnya. Akik besar yang dipakai Mbah Galih membuat Teguh Priyono percaya bahwa ia seorang paranormal yang hebat.

“Ingin mendapat calon istri yang seperti apa?” tanya Mbah Galih sambil menatap setelah Teguh Priyono mengutarakan kedatangannya.

“Yang penting setia, jujur, dan mau menerima saya apa adanya, Mbah,” jawab Teguh Priyono polos.

“Ada beberapa syarat yang harus dikerjakan dan mantra yang dibaca setiap malam. Sebut nama perempuan yang diharapkan jadi kekasih saat baca mantra,” ucap Mbah Galih memberi syarat.

Teguh Priyono mengangguk saja, menyanggupi beberapa syarat dan mantra yang diberikan Mbah Galih. Syaratnya cukup berat. Ia harus berpuasa mutih (hanya makan nasi putih dan air putih) dan puasa patigeni (tidak makan, minum, atau tinggal di kamar tanpa penerangan lampu) selama beberapa hari menjelang malam Jumat Kliwon.

Sedangkan mantra yang harus ia baca setiap malam juga agak asing bagi Teguh Priyono, karena berbeda dengan bahasa di daerahnya. Nama perempuan yang akan disebut dalam mantra itu juga sudah disiapkan, Sri Wahyuni. Teman kerjanya yang dari dulu ia taksir, namun ia tak berani mengutarakannya, takut mendapat penolakan.

Meski begitu Teguh Priyono siap untuk menjalankan semua syarat itu. Diawali dengan puasa mutih yang ia lakukan mulai hari Senin. Terasa berat dan membuat tubuhnya lemas. Seharian ia hanya makan nasi putih dan minum air putih saja. Padahal setiap hari ia biasa minum kopi dan merokok. Ia nyaris putus asa dan menyerah. Namun demi mendapatkan gadis idamannya ia lakukan semua itu.

Tahap selanjutnya Teguh Priyono harus menjalani patigeni di malam Jumat Kliwon, berdiam diri di dalam kamar tanpa kegiatan dan tanpa penerangan. Mirip seperti orang bersemedi di dalam gua yang gelap. Awalnya ia merasa pengap, sulit bernapas dalam kegelapan.

Perlahan, dengan perasaan berdebar dan suasana mencekam ia baca mantra ajian jaran goyang. Aura mistis ia rasakan di dalam kamar. Sekujur tubuh Teguh Priyono merinding. Mantra itu ia baca berulang kali. Dan setiap selesai dibaca, suasana di dalam kamar semakin mencekam.

***

Sebulan sudah Teguh Priyono menjalankan ajian jarang goyang. Namun belum ada tanda-tanda Sri Wahyuni membuka hati untuknya. Teguh Priyono sudah mencoba melakukan pendekatan. Mengajak makan siang di saat istirahat kerja. Tapi Sri Wahyuni selalu menolak dengan berbagai alasan. Teguh Priyono jadi bingung. Apa yang salah dari ajian jaran goyang yang ia dapatkan dari Mbah Galih?

Menjelang malam Jumat Kliwon, entah mengapa perasaan Teguh Priyono kurang enak. Ia merenung di kamarnya. Mendadak tercium aroma bunga mawar. Teguh Priyono terkejut. Ia pandangi sekeliling kamar. Bau bunga mawar itu semakin menyengat. Bulu kuduknya berdiri. Saat dilanda ketakutan, pintu kamarnya terbuka sendiri. Padahal ia merasa sudah menguncinya.

Teguh Priyono melompat mundur ketika hendak menutup pintu kamar. Di depannya berdiri perempuan bergaun putih dengan tatapan kosong. Kaki Teguh Priyono gemetaran. Ia ingin berteriak, tapi kerongkongannya kering. Perempuan itu terus menatap Teguh Priyono. Cukup lama, hingga kemudian menghilang begitu saja.

Pintu kamar segera ditutup. Teguh Priyono menghempaskan diri ke tempat tidur. Dadanya masih berdebar menahan rasa takut. Ia telah kedatangan hantu perempuan di kamarnya. Tak habis pikir mengapa ada hantu perempuan setelah ia melakukan ritual ajian jaran goyang.

Segelas air putih belum mampu mengurangi perasaan mencekam yang dialami Teguh Priyono. Ia menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba terdengur pintu kamar diketuk. Teguh Priyono tidak segera beranjak untuk membuka pintu. Ia masih diselimuti rasa takut.

“Mas Teguh…,” terdengar suara perempuan memanggil namanya.

Teguh Priyono mencermati suara itu. Ia merasa asing dengan suara perempuan itu. Suara ibunya maupun adik perempuannya tidak seperti itu. Kembali rasa takut menghinggapi. Suara siapakah di luar kamarnya?.

“Mas…,” kembali terdengar suara perempuan. Kali ini suaranya menyeramkan. Aroma bunga kenanga tercium di dalam kamar. Teguh Priyono gemetaran. Namun ia merasa penasaran. Ia ingin melihat siapa yang memanggilnya.

Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Teguh Priyono membuka pintu kamar. Seketika ia nyaris pingsan. Seorang perempuan berambut panjang menyeramkan berdiri di depan pintu kamar. Wajahnya seperti kuntilanak yang sering tampil di film-film. Perempuan itu tertawa nyaring, menakutkan. Teguh Priyono secepat kilat membanting pintu kamar, dan mengucinya. Keringat dingin mengucur di kening dan ketiaknya.

Dua kali dalam semalam Teguh Priyono didatangi makhluk halus perempuan. Ia merasa ada yang tidak beres. Esoknya ia mendatangi rumah Agus Setiadi, temannya. Ia ceritakan peristiwa semalam. Agus Setiadi tampak terkejut. Ia tanyakan Teguh Priyono rangkaian ritual ajian jaran goyang yang disarankan Mbah Galih. Teguh Priyono mengatakan telah melakukan semua saran Mbah Galih.

“Mungkin kamu salah baca mantranya,” kata Agus Setiadi mencoba menebak.

“Salah bagaimana?” tanya Teguh Priyono tak mengerti.

Kemudian Agus Setiadi meminta Teguh Priyono untuk mengucapkan mantra ajian jaran goyang yang diberikan Mbah Galih.

“Nah itu dia… Kamu salah membaca mantranya. Ada yang kurang kamu sebutkan,” kata Agus Setiadi setelah mendengar mantra ajian jaran goyang yang diucapkan Teguh Priyono.

“Apa yang kurang?” tanya Teguh Priyono masih belum paham.

“Kamu tidak menyebutkan kata jabang bayi Sri Wahyuni. Maka yang mendekat kepadamu bukan Sri Wahyuni, tetapi makhluk halus, arwah penasaran, dan hantu gentayangan,” terang Agus Setiadi.

“Waduuhhh…,” Teguh Priyono kaget. Ternyata ia lupa menyebut nama Sri Wahyuni dalam mantra yang ia ucapkan.

“Terus aku harus bagaimana?” tanya Teguh Priyono dengan wajah pucat ketakutan.

Agus Setiadi tidak segera menjawab. Ia mencoba berpikir solusi untuk teman kecilnya itu. Agus Setiadi sendiri sebetulnya kurang paham tentang ajian jaran goyang. Ia hanya mendengar cerita dari teman-teman kerjanya. Perempuan yang kini menjadi istrinya bukan hasil ajian jaran goyang. Istrinya memang telah ia kenal lama dan mereka saling mencintai.

“Coba kamu ulangi lagi ritual ajian jarang goyang dari awal, atau kamu datangi lagi Mbah Galih di Cirebon,” saran Agus Setiadi.

Teguh Priyono terdiam. Ia bingung atas saran temannya itu. Ritual ajian jaran goyang sudah sangat menyita energi banyak, tenaga, pikiran, dan perasaan. Ia takut akan ada hal lain yang ia lupakan saat menjalani ritual itu. Sedangkan bila harus mendatangi kembali Mbah Galih ia malu.

Cukup lama Teguh Priyono merenung. Sampai akhirnya ia mengambil keputusan. Ia menghentikan ritual ajian jaran goyang. Teguh Priyono tak ingin mendapatkan kekasih hati dengan jalan tak rasional. Ia ingin seorang istri yang benar-benar mencintainya dengan tulus, bukan dengan ajian. Entah sampai kapan ia akan dapatkan. Ia tak peduli. Teguh Priyono akan tetap menunggu. Siapa tahu suatu saat Sri Wahyuni membuka pintu hati untuknya.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

Tags: cerita misterihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

Next Post

Lampu Merah dan Mental Menerabas

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Lampu Merah dan Mental Menerabas

Lampu Merah dan Mental Menerabas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang
Pendidikan

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

 “Gelar ini bukan untuk dipajang tapi untuk dibuktikan dengan karya.” Pesan Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta,...

by Dede Putra Wiguna
August 19, 2026
Merawat Warisan Budaya Kolonial…
Esai

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

by Pande Susan
August 19, 2026
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         
Khas

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris
Pendidikan

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

DENPASAR | TATKALA.CO -- Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group...

by Dewi Yulianti
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co